Berkarya Tanpa Batas

Mungkin, darah seni telah mengalir pada dirinya sejak ia kecil. Darah seni yang mengarahkannya pada bisnis yang ia tekuni saat ini.

Petra Dewi Handayani namanya. Wanita yang akrab disapa Petra ini merupakan alumni Program Studi (Prodi) Teknik Arsitektur angkatan 1997. Sebagai lulusan Prodi Teknik Arsitektur, Petra memilih tidak berkarier dalam bidang arsitektur. Berbekal passion dalam bidang seni, kini Petra berprofesi sebagai clay-artist, seorang yang berkarya menciptakan kerajinan tangan berbahan dasar clay.

2004 menjadi tahap awal yang berkesan bagi perempuan kelahiran Semarang, 22 Februari 1980 ini. Waktu itu, Petra mengajar kursus piano di rumah seorang muridnya. Muridnya ini, memiliki sebuah clay art. Seolah telah ‘jatuh cinta pada pandangan pertama’,  Petra mulai bertanya-tanya di manakah ia dapat membelinya. Bak bulu yang menggelitik kaki, jiwa seni Petra tergelitik untuk menghasilkan clay art.

Inilah awal bagi Petra untuk mulai mencoba membuat clay art. Percobaan demi percobaan terus ia lakukan untuk menciptakan clay art-nya tampak hidup. Tidak ada satupun kursus membuat clay art yang pernah ia ikuti. Semua ia pelajari secara otodidak serta penuh ketekunan. Petra terus mengasah kemampuannya membuat clay art agar menghasilkan karya yang semakin bagus. Tanpa disangka, ada teman yang tertarik untuk memesan clay art karya Petra. Akhirnya, pada 2011, ibu dua anak ini memberanikan diri memasarkan clay art dengan bentuk berdasarkan request pemesan. 

Setahun memasarkan karya clay-nya, 2012 Petra membuat blog bernama piets-art.com untuk memublikasikan serta memasarkan clay art. Masih pada tahun yang sama, kisah dan karya clay art wanita yang hobi menggambar sejak kecil ini diliput Jawa Pos dengan judul ‘Bercerita Lewat Clay’. Tak berhenti sampai di sana, sebuah buku yang ia tulis berjudul ‘Clay dalam Bingkai’ diterbitkan Tiara Aksa. Buku ini berisi petunjuk membuat clay art tahap demi tahap. Pada 2013, kembali bersama Tiara Aksa, Petra menerbitkan buku keduanya dengan judul ‘Clay Figure’.

Clay art yang dihasilkan Petra beragam, mulai dari clay figure, clay dalam bingkai, clay jewelery, clay untuk topping cake, hingga clay diorama. Tema yang dibawakan beragam, namun yang menjadi kesukaannya adalah dunia fantasi. “Bertemakan fantasi, aku dapat menciptakan bentuk apapun yang aku mau,” katanya.

Saat ini, clay art yang dihasilkan Petra telah dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia. Berbeda dengan clay artist lainnya, Petra tidak memproduksi clay art dalam jumlah banyak.  Alasannya, clay art terutama dalam bentuk 3D membutuhkan detail yang perlu diperhatikan secara khusus. Jika diproduksi secara massal, bisa saja standar detail yang Petra tetapkan tidak dapat tercapai. Apalagi, ia mengerjakan semua pesanan pelanggannya sendiri. Petra juga tidak berani memasarkan karyanya hingga mancanegara, khawatir terjadinya kerusakan clay art semasa pengiriman. Tetapi, buku yang diterbitkannya telah dijual hingga Malaysia, Filipina, dan India.

Tak hanya clay art yang telah beredar ke berbagai daerah di Indonesia serta buku yang telah melancong hingga mancanegara. Tercatat, dua prestasi telah diraih perempuan berlesung pipit ini. Pada 2010, Petra meraih juara ketiga kategori Sculptural Figures-Beginner yang diadakan International Polymer Clay Association (IPCA). Awal tahun ini, Petra kembali menyadang gelar juara pada kompetisi yang diadakan TV Champion Indonesia.

Aktivitasnya dalam dunia clay art ini tidak hanya berkutat soal bisnis. Ia pun juga mengadakan workshop di berbagai tempat, seperti event, sekolah, maupun kelompok yang memiliki minat terhadap clay art, serta di rumahnya. Petra juga aktif dalam Komunitas Seni Clay Indonesia (KSCI) dengan media utamanya Facebook.

Baginya, berkarya lewat clay art bukan melulu tentang seberapa besar keuntungan yang dapat diraup. “Target utamaku dalam menghasilkan clay art ini adalah kepuasan diri, berkreasi, mengajar, serta mengenal clay,” ungkapnya. Petra pun berpesan, agar setiap kita tidak takut dalam memulai sesuatu yang baru. “Jangan pernah mengatakan ‘tidak bisa’ sebelum kita mencoba. Terus galilah apa yang ada dalam dirimu,” cetusnya.

 

Ditulis oleh:

Regina Bella Rosari (51416001)

ARTIKEL LAIN

Antonius Widjaya: Fotografer Arsitektur yang Masih Mencari Kesempurnaan

Antonius Widjaya mungkin nama yang masih terdengar asing di telinga kita namun terkenal di kalangan Architecture Photographer di Surabaya. Lulus menyandang gelar S. Ds. dari Universitas Kristen Petra pada 2006, ia langsung membuka konsultan desain interior bersama dengan beberapa teman. Seiring waktu berjalan, mereka menyadari bahwa konsultan desain yang mereka dirikan bukanlah jalan terbaik, melihat kurangnya pengalaman bekerja yang mereka miliki sebagai fresh graduate.

Pria asal Surabaya ini kemudian memfokuskan diri dalam dunia 3D rendering yang telah dikuasainya sejak lama. 3D rendering sendiri merupakan proses menghasilkan gambar berdasar gambar 3 dimensi yang mirip dengan fotografi atau sinematografi. Karirnya berjalan cukup baik dengan klien dari luar negeri yang merupakan pelanggannya saat masih bekerja sebagai konsultan. Namun, ia menyadari bahwa tidak dapat terus berada di zona nyaman dan bergantung hanya pada klien yang sama. Mendapat inspirasi saat mengerjakan 3D rendering dan berbekal hobi fotografi dan ilmu interior yang dimilikinya, pria kelahiran 21 Januari 1984 ini kemudian memberanikan diri masuk ke dalam dunia fotografi sebagai architecture and interior photographer pada 2014.

Berjuang dengan sangat keras, Antonius mulai membeli tutorial online dan bahkan rela memfotokan teman dengan harga hampir gratis di awal karirnya. Bukan usaha yang sia-sia, ia sekarang menjadi salah satu architecture photographer yang dicari. Beberapa klien yang telah memakai jasanya antara lain, PT Sinar Galaxy dan Indonesia Design Magazine. Berbicara mengenai apakah bakat fotografi menjadi salah satu kunci kesuksesannya, mantan ketua Persekutuan Program Studi ini menjawab, “Bagi saya, bakat itu tidak ada; yang ada itu passion. (Saya) menghabiskan banyak waktu di bidang tersebut sampai menjadi bakat. Passion pasti membuka banyak jalan,” tegasnya.

Ketika diitanya mengenai suka duka dalam bidang pekerjaannya, pemilik studio Arch-viz ini mengatakan bahwa pekerjaan ini tidak seperti bekerja karena merupakan hobinya. Di sisi lain, pekerjaan ini juga merupakan bidang pekerjaan baru sehingga belum banyak saingan. Meski demikian, terdapat pula tantangan-tantangan yang berat seperti harus membangun brand sendiri dan banyak orang awam yang kurang paham mengenai dunia architecture photography. “Banyak orang Surabaya yang sulit menerima hal baru. Mereka berpikir kenapa foto arsitektur dan interior harus pakai jasa orang. Difoto sendiri kan bisa,” jelasnya.

Memperluas koneksi melalui teman dan kenalan dari bidang interior merupakan salah satu cara yang ditempuh oleh mantan ketua hima ini. Salah satunya didapat dari melakukan barter dengan temannya, yaitu ia memfotokan dengan cuma-cuma dan hasil fotonya dapat digunakannya untuk promosi. Di sisi lain, memperkuat branding dengan membuat portofolio dan melakukan seminar juga dilakukannya. Salah satu seminarnya adalah seminar workshop fotografi arsitektur yang bekerjasama dengan Vasa Hotel dan Sony.

 Suka duka dan tantangan-tantangan telah dilaluinya dengan berbagai cara hingga sukses. Namun, meskipun telah sukses di usianya yang masih muda, tidak ada sedikitpun rasa sombong dan puas diri. “Selalu rendah hati dan mau belajar, karena saya percaya dalam mencari kesempurnaan merupakan sesuatu yang never ending (tak pernah berakhir –red),” tutupnya saat ditanya mengenai moto hidup.

 

Ditulis oleh :

Maria Cornelia Susanto (22416053)

Maria Olivia Budiman : Penukar Budaya Indonesia dan Korea Selatan

Siapa yang tidak menggemari budaya pop Korea Selatan saat ini? Dari film drama, musik Kpop, dan makanan sudah menjadi hal yang sangat digemari oleh masyarakat Indonesia dari berbagai kalangan. Dapat dipastikan dari semua penggemar Kpop ingin bertemu dengan idolanya. Tetapi sedikit yang membayangkan untuk bisa menjadi seorang idola itu sendiri. Lalu bagaimana jika kita benar-benar bisa menjadi idola?

Belajar kebudayaan lain merupakan hal yang disukai Maria Olivia Budiman, atau yang akrab disapa Maria, alumni Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) UK Petra tahun 2007. Ia pernah menjadi leader salah satu girlband Korea pada tahun 2013 yang bernama Sensation of Stage (S.O.S). Wanita asal Surabaya ini dikenal dengan nama Mary ketika menjadi leader di girlband tersebut.

Awalnya, menjadi seorang idola bukanlah karir yang terpikirkan oleh Maria. Perjalanan karirnya dimulai saat Maria bekerja pada sebuah Advertising Agency di Jakarta. Setelah lima bulan bekerja, seorang teman mengajaknya untuk mengikuti audisi idola K-Pop yang diadakan oleh salah satu stasiun TV ternama. Berkat bujukan temannya, Maria mendaftarkan dirinya untuk mengikuti audisi. “Kesempatan tidak datang dua kali, makanya harus digunakan sebaik mungkin,” terangnya. Maria lolos hingga seleksi di Jakarta dan terpilih menjadi bagian dalam 12 finalis acara tersebut.

Kesempatan tersebut benar-benar tidak disia-siakan oleh Maria. Kesukaannya untuk belajar budaya lain membuatnya menandatangani kontrak dengan pihak penyelenggara acara. Maria lantas mendapatkan banyak pengalaman dan wawasan dari perjalanannya di Korea. Setelah mendapatkan pelatihan selama enam bulan, para finalis yang berangkat ke Korea pun dibuatkan girlgroup dan album sesuai dengan kesepakatan awal. Akhirnya pada 2013, S.O.S memulai debutnya dengan status sebagai bintang internasional dibawah Sony Music South Korea.

Tidak hanya menjadi personil sebuah girlband, Maria juga terpilih menjadi Korean Tourism Ambassador perwakilan Indonesia menggantikan Sandra Dewi. Tugas utamanya saat itu adalah memperkenalkan budaya Indonesia sebagai bentuk pertukaran budaya Indonesia dengan budaya Korea. “Dari beberapa hal yang saya jalani di Korea, banyak budaya yang saya pelajari seperti contohnya kedisiplinan, persepsi tentang waktu dan stereotip yang ada tentang masyarakat Korea,” tukasnya. Maria mengaku juga senang bisa belajar budaya dengan masyarakat Korea secara langsung dan dapat membagikannya kepada masyarakat Indonesia.

Hingga pada 2015, Maria memutuskan untuk keluar dari S.O.S karena mulai merasakan ketidakpastian pada masa depannya. Meskipun sudah keluar dari S.O.S, Maria tetap melanjutkan tugasnya sebagai Korean Tourism Ambassador hingga 2016. Setelah Maria melanjutkan karirnya sebagai Social Media Manajer di IDN Media selama dua tahun, ia sekarang merupakan Project Manajer di IDN Media.

Dari berbagai pengalaman jatuh bangun yang ia jalani, Maria menyadari satu hal. Ia mengutip dari Steve Jobs “Connecting the dots”, yang berarti hidup kita adalah titik-titik hitam yang perlu disambung menjadi sebuah gambar besar. Mantan wakil ketua BEM UK Petra periode 2010/2011 ini pun berpesan kepada teman-teman mahasiswa UK Petra untuk meyakini bahwa Tuhan pasti sudah menyiapkan rencana yang baik untuk kita semua.

 

Ditulis oleh :

Hans Christian (51415007)

Natalia Tanan : Menjadi PNS yang Melayani

Tidak tebersit dalam bayangan Natalia Tanan, atau yang akrab disapa Lia untuk menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS). Salah satu alumni Program Studi Teknik Sipil Universitas Kristen Petra tahun 1996 ini awalnya sangat ingin bercita-cita untuk menjadi seorang misionaris. Namun ternyata Tuhan punya rencana lain menempatkan Lia dalam dunia yang lebih sekuler. Lia berhasil menyelesaikan gelar masternya tepat pada saat sedang dibuka kembali lowongan menjadi PNS setelah sekian lama mengalami moratorium. Lia pun mendaftar, mengikuti tes, dan akhirnya diterima sebagai PNS.

Pekerjaan yang diambil oleh Lia sebenarnya tidak sesuai dengan cita-cita awalnya yaitu menjadi misionaris. Namun, wanita kelahiran Makalela, Sulawesi Selatan ini tetap sejalan dengan mimpinya untuk melayani masyarakat, meskipun di bidang yang berbeda. Saat ini Lia ditugaskan di Pusat Jalan dan Jembatan (PUSJATAN) Bandung dan menjabat sebagai Kepala Seksi Layanan di Balai Sistem dan Teknik Lalu Lintas. Sebagai pusat Penelitian dan Pengembangan (Litbang), pekerjaan utama Lia adalah memantau perkembangan dari penelitian peneliti-peneliti yang ada di Balai Sistem dan Teknik Lalu Lintas. Hobinya membaca membantunya dalam menyelesaikan penelitiannya selama bekerja. Selain itu, Lia juga bertugas menjadi konsultan untuk daerah-daerah yang membutuhkan bantuan. Oleh karena itu Lia seringkali berkeliling Indonesia untuk memantau kebutuhan pembangunan di daerah-daerah dari Sabang sampai Merauke.

Selama bekerja, Lia masih memiliki sesuatu yang ingin segera ia wujudkan. Lia ingin membangun kota yang ramah anak. Menurutnya, saat ini rawan untuk anak bisa berada di jalan sendiri melihat kondisi jalan yang tidak kondusif. Banyak pengendara yang membahayakan dan tidak menghargai hak pejalan dan pengguna non-kendaraan bermotor. Padahal, ketika dirinya masih berusia muda, ia bisa berjalan di jalan tanpa takut sesuatu terjadi padanya. Maka dari itu, Lia ingin memanusiakan lalu lintas dengan menertibkan jalan agar semua pengguna jalan termasuk anak-anak dapat menikmati fasilitas jalan dengan tenang dan tidak khawatir bahaya. Bagi Lia, jika kota tersebut ramah anak, pastilah akan ramah dengan semua pihak.

Berkat kerja kerasnya, Lia meraih penghargaan peneliti terbaik 2013 dalam internal PUSJATAN, dan menjadi peneliti terbaik 2015 se-Kementerian Pekerjaan Umum karena menggugat hak pejalan kaki. Lia berharap mahasiswa UK Petra tidak lagi takut untuk masuk dalam ranah pemerintahan. Terlepas dari stereotip yang ada, bidang yang ditekuni Lia saat ini masih dapat mempertahankan idealismenya tanpa terkena KKN dan pikiran kotor lainnya. “Selama bekerja d isini, saya tetap diberikan kesempatan untuk mempertahankan idealisme saya agar tidak terpengaruh hal yang buruk,” pungkasnya. “Ketika pertama kali masuk ke dunia yang heterogen dari tempat yang homogen memang tidak mudah. Tetapi Puji Tuhan tidak ada teman-teman disini yang mendiskriminasi saya,” tuturnya.

 

Ditulis oleh:

Hans Christian (51415007)