AGAMA DAN DILEMA DUNIA KERJA

          Kebutuhan manusia akan agama adalah mutlak. Eksistensi Tuhan, kehidupan setelah kematian, dan kebutuhan spiritual lainnya hanya dapat dijawab oleh agama. Namun tidak hanya sampai disitu, seringkali kita juga menggunakan agama dalam berbagai segi kehidupan kita. Mungkin secara tidak sadar kita lebih memilih berteman dengan mereka yang seagama. Dalam hal memilih pemimpin, tentu kita tidak lupa kisah Ahok, Gubernur DKI Jakarta itu. Lalu bagaimana dengan dunia kerja yang seringkali kita dapati penerimaan karyawan dan penentuan jabatannya didasari oleh sebuah agama tertentu? Setuju kah kita?

          Maret 2015 lalu masyarakat heboh dengan lowongan kerja MNC Sky Vision Surabaya yang mengutamakan non-muslim dalam deskripsinya. Sempat ada demo yang memprotes hal ini. Kemudian di tahun yang sama PT. Sushantco Indonesia juga memberi syarat laki-laki muslim bagi para pelamar kerjanya. Tahun 2016 pemilik Hawaii Group menandatangani surat permohonan maaf atas iklan lowongan kerja yang diposting managementnya di Facebook. Pada iklan tersebut Hawaii Group memberi keterangan yang mengutamakan calon pekerja non-Hindu untuk posisi cook. Dan masih banyak lagi lowongan pekerjaan dengan syarat agama yang tidak diblow-up media.

          Sebelum kita mulai menghakimi para pemilik usaha dan managementnya atas syarat agama dalam lowongan pekerjaan mereka ada baiknya kita merenungkan ini. Cara hidup seseorang ditentukan oleh lingkungan, latar belakang suku, budaya dan tidak terkecuali agama. Muslim melakukan shalat sebanyak lima kali dalam sehari, Kristen pergi ke gereja setiap hari Minggu. Umat Hindu sembahyang Trisandya yaitu sebanyak tiga kali pada pagi, siang, dan sore. Tiap agama memiliki waktu dan intensitas yang berbeda dalam beribadah. Maka dalam bekerja pun agama juga punya pengaruh karena merupakan gaya hidup seseorang, setidaknya dalam hal waktu.

          Secara hukum di Indonesia, menggunakan agama sebagai syarat penerimaan pegawai merupakan sebuah pelanggaran. Pasal 5 UU Ketenagakerjaan (UU no.13 tahun 2003) mengatakan “Setiap tenaga kerja memiliki kesempatan yang sama tanpa diskriminasi untuk memperoleh pekerjaan”. Tetapi beberapa perkecualian seharusnya bisa kita buat. Bukankah sebuah restoran masakan China yang mengandung babi tak sepantasnya mempekerjakan seorang muslim untuk memasak? Tentu saja hal ini bukan sebuah tindakan diskriminatif karena seorang muslim diharamkan mengkonsumsi dan bahkan menyentuh babi.

          Pasal 6 UU Ketenagakerjaan juga menjamin para pegawai untuk mendapat hak dan kewajiban yang sama tanpa melihat jenis kelamin, suku, warna kulit, dan lain sebagainya termasuk agama. Promosi dan jabatan adalah hak semua pegawai yang bekerja keras dan kompeten. Namun bukan berarti kita tidak boleh membuat perkecualian dengan syarat agama untuk jabatan tertentu. Karena tiap agama berbeda pengajarannya dalam doktrin, konsep teologis maupun praktis. Kita tentu patut bertanya jika sebuah universitas Kristen dengan visi, misi, dan nilai-nilainya yang Alkitabiah dipimpin oleh seorang rektor beragama Buddha.

          Bukan berarti UU Ketenagakerjaan Pasal 5 dan 6 itu salah. Aturan itu perlu ada untuk meminimalisir hal-hal seperti “Aku bosnya, aku Kristen, karena kamu Konfusian tidak bisa kerja disini” , atau “kamu kurang cantik jadi aku tidak bisa angkat kamu jadi head manager” dan semacamnya. Meskipun pada dasarnya memang itu adalah hak dari para pemilik usaha atau pihak lain yang berwenang. Tapi tanpa alasan yang logis, kuat, dan benar maka para pemilik usaha sebenarnya telah melanggar hak para pegawai atau calon pegawai.

          Dilema agama dalam dunia kerja harus dilihat dari kacamata yang baru dan berbeda. Mulailah dari bertanya apakah pekerjaan atau jabatan itu baik dan benar untuk saya sebagai penganut agama ini? Ketika saya menganut agama Hindu maka lebih baik saya tidak menjadi juru masak sebuah restoran yang menyediakan daging sapi. Atau saya muslim seharusnya saya tidak bekerja di sebuah restoran yang menyediakan daging babi. Ada restoran lain yang tepat buat saya sebagai juru masak untuk bekerja tanpa melanggar ajaran agama saya. Bukan salah restorannya jika mereka memberi syarat non-Hindu dan menolak saya penganut Hindu jika mereka menyediakan hidangan daging sapi. Lain cerita jika saya ditolak jadi dosen seni lukis oleh sebuah universitas Kristen karena saya seorang Buddhis. Tapi tidak tau diri namanya ketika saya seorang Kristen mengajukan diri sebagai rektor di sebuah universitas Islam.

          Maka sejatinya boleh saja menjadikan agama sebagai syarat diterima atau tidaknya seseorang dalam pekerjaan atau jabatan. Selama itu sebenarnya bertujuan untuk kebaikan bersama. Jangan kita mudah menghakimi meskipun banyak ketidakadilan atas nama agama yang memang terjadi di dunia kerja. Lebih penting bagi kita mempersiapkan diri dan bekerja sebaik-baiknya. Tuhan tidak tidur, jika kita setia dan bersungguh-sungguh maka pekerjaan yang baik dan jabatan yang kita impikan akan diberikan juga pada kita.

 

Referensi :

http://candrawiguna.com/komentar-kasus-diskriminasi-lowongan-kerja-di-mnc/

http://www.jogjakarir.com/2015/03/lowongan-kerja-di-pt-sushantco.html

https://student.unud.ac.id/febiani98/news/4690

 

Oleh :

Hendro Richard (42416052)

ARTIKEL LAIN

Antonius Widjaya: Fotografer Arsitektur yang Masih Mencari Kesempurnaan

Antonius Widjaya mungkin nama yang masih terdengar asing di telinga kita namun terkenal di kalangan Architecture Photographer di Surabaya. Lulus menyandang gelar S. Ds. dari Universitas Kristen Petra pada 2006, ia langsung membuka konsultan desain interior bersama dengan beberapa teman. Seiring waktu berjalan, mereka menyadari bahwa konsultan desain yang mereka dirikan bukanlah jalan terbaik, melihat kurangnya pengalaman bekerja yang mereka miliki sebagai fresh graduate.

Pria asal Surabaya ini kemudian memfokuskan diri dalam dunia 3D rendering yang telah dikuasainya sejak lama. 3D rendering sendiri merupakan proses menghasilkan gambar berdasar gambar 3 dimensi yang mirip dengan fotografi atau sinematografi. Karirnya berjalan cukup baik dengan klien dari luar negeri yang merupakan pelanggannya saat masih bekerja sebagai konsultan. Namun, ia menyadari bahwa tidak dapat terus berada di zona nyaman dan bergantung hanya pada klien yang sama. Mendapat inspirasi saat mengerjakan 3D rendering dan berbekal hobi fotografi dan ilmu interior yang dimilikinya, pria kelahiran 21 Januari 1984 ini kemudian memberanikan diri masuk ke dalam dunia fotografi sebagai architecture and interior photographer pada 2014.

Berjuang dengan sangat keras, Antonius mulai membeli tutorial online dan bahkan rela memfotokan teman dengan harga hampir gratis di awal karirnya. Bukan usaha yang sia-sia, ia sekarang menjadi salah satu architecture photographer yang dicari. Beberapa klien yang telah memakai jasanya antara lain, PT Sinar Galaxy dan Indonesia Design Magazine. Berbicara mengenai apakah bakat fotografi menjadi salah satu kunci kesuksesannya, mantan ketua Persekutuan Program Studi ini menjawab, “Bagi saya, bakat itu tidak ada; yang ada itu passion. (Saya) menghabiskan banyak waktu di bidang tersebut sampai menjadi bakat. Passion pasti membuka banyak jalan,” tegasnya.

Ketika diitanya mengenai suka duka dalam bidang pekerjaannya, pemilik studio Arch-viz ini mengatakan bahwa pekerjaan ini tidak seperti bekerja karena merupakan hobinya. Di sisi lain, pekerjaan ini juga merupakan bidang pekerjaan baru sehingga belum banyak saingan. Meski demikian, terdapat pula tantangan-tantangan yang berat seperti harus membangun brand sendiri dan banyak orang awam yang kurang paham mengenai dunia architecture photography. “Banyak orang Surabaya yang sulit menerima hal baru. Mereka berpikir kenapa foto arsitektur dan interior harus pakai jasa orang. Difoto sendiri kan bisa,” jelasnya.

Memperluas koneksi melalui teman dan kenalan dari bidang interior merupakan salah satu cara yang ditempuh oleh mantan ketua hima ini. Salah satunya didapat dari melakukan barter dengan temannya, yaitu ia memfotokan dengan cuma-cuma dan hasil fotonya dapat digunakannya untuk promosi. Di sisi lain, memperkuat branding dengan membuat portofolio dan melakukan seminar juga dilakukannya. Salah satu seminarnya adalah seminar workshop fotografi arsitektur yang bekerjasama dengan Vasa Hotel dan Sony.

 Suka duka dan tantangan-tantangan telah dilaluinya dengan berbagai cara hingga sukses. Namun, meskipun telah sukses di usianya yang masih muda, tidak ada sedikitpun rasa sombong dan puas diri. “Selalu rendah hati dan mau belajar, karena saya percaya dalam mencari kesempurnaan merupakan sesuatu yang never ending (tak pernah berakhir –red),” tutupnya saat ditanya mengenai moto hidup.

 

Ditulis oleh :

Maria Cornelia Susanto (22416053)

Maria Olivia Budiman : Penukar Budaya Indonesia dan Korea Selatan

Siapa yang tidak menggemari budaya pop Korea Selatan saat ini? Dari film drama, musik Kpop, dan makanan sudah menjadi hal yang sangat digemari oleh masyarakat Indonesia dari berbagai kalangan. Dapat dipastikan dari semua penggemar Kpop ingin bertemu dengan idolanya. Tetapi sedikit yang membayangkan untuk bisa menjadi seorang idola itu sendiri. Lalu bagaimana jika kita benar-benar bisa menjadi idola?

Belajar kebudayaan lain merupakan hal yang disukai Maria Olivia Budiman, atau yang akrab disapa Maria, alumni Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) UK Petra tahun 2007. Ia pernah menjadi leader salah satu girlband Korea pada tahun 2013 yang bernama Sensation of Stage (S.O.S). Wanita asal Surabaya ini dikenal dengan nama Mary ketika menjadi leader di girlband tersebut.

Awalnya, menjadi seorang idola bukanlah karir yang terpikirkan oleh Maria. Perjalanan karirnya dimulai saat Maria bekerja pada sebuah Advertising Agency di Jakarta. Setelah lima bulan bekerja, seorang teman mengajaknya untuk mengikuti audisi idola K-Pop yang diadakan oleh salah satu stasiun TV ternama. Berkat bujukan temannya, Maria mendaftarkan dirinya untuk mengikuti audisi. “Kesempatan tidak datang dua kali, makanya harus digunakan sebaik mungkin,” terangnya. Maria lolos hingga seleksi di Jakarta dan terpilih menjadi bagian dalam 12 finalis acara tersebut.

Kesempatan tersebut benar-benar tidak disia-siakan oleh Maria. Kesukaannya untuk belajar budaya lain membuatnya menandatangani kontrak dengan pihak penyelenggara acara. Maria lantas mendapatkan banyak pengalaman dan wawasan dari perjalanannya di Korea. Setelah mendapatkan pelatihan selama enam bulan, para finalis yang berangkat ke Korea pun dibuatkan girlgroup dan album sesuai dengan kesepakatan awal. Akhirnya pada 2013, S.O.S memulai debutnya dengan status sebagai bintang internasional dibawah Sony Music South Korea.

Tidak hanya menjadi personil sebuah girlband, Maria juga terpilih menjadi Korean Tourism Ambassador perwakilan Indonesia menggantikan Sandra Dewi. Tugas utamanya saat itu adalah memperkenalkan budaya Indonesia sebagai bentuk pertukaran budaya Indonesia dengan budaya Korea. “Dari beberapa hal yang saya jalani di Korea, banyak budaya yang saya pelajari seperti contohnya kedisiplinan, persepsi tentang waktu dan stereotip yang ada tentang masyarakat Korea,” tukasnya. Maria mengaku juga senang bisa belajar budaya dengan masyarakat Korea secara langsung dan dapat membagikannya kepada masyarakat Indonesia.

Hingga pada 2015, Maria memutuskan untuk keluar dari S.O.S karena mulai merasakan ketidakpastian pada masa depannya. Meskipun sudah keluar dari S.O.S, Maria tetap melanjutkan tugasnya sebagai Korean Tourism Ambassador hingga 2016. Setelah Maria melanjutkan karirnya sebagai Social Media Manajer di IDN Media selama dua tahun, ia sekarang merupakan Project Manajer di IDN Media.

Dari berbagai pengalaman jatuh bangun yang ia jalani, Maria menyadari satu hal. Ia mengutip dari Steve Jobs “Connecting the dots”, yang berarti hidup kita adalah titik-titik hitam yang perlu disambung menjadi sebuah gambar besar. Mantan wakil ketua BEM UK Petra periode 2010/2011 ini pun berpesan kepada teman-teman mahasiswa UK Petra untuk meyakini bahwa Tuhan pasti sudah menyiapkan rencana yang baik untuk kita semua.

 

Ditulis oleh :

Hans Christian (51415007)

Natalia Tanan : Menjadi PNS yang Melayani

Tidak tebersit dalam bayangan Natalia Tanan, atau yang akrab disapa Lia untuk menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS). Salah satu alumni Program Studi Teknik Sipil Universitas Kristen Petra tahun 1996 ini awalnya sangat ingin bercita-cita untuk menjadi seorang misionaris. Namun ternyata Tuhan punya rencana lain menempatkan Lia dalam dunia yang lebih sekuler. Lia berhasil menyelesaikan gelar masternya tepat pada saat sedang dibuka kembali lowongan menjadi PNS setelah sekian lama mengalami moratorium. Lia pun mendaftar, mengikuti tes, dan akhirnya diterima sebagai PNS.

Pekerjaan yang diambil oleh Lia sebenarnya tidak sesuai dengan cita-cita awalnya yaitu menjadi misionaris. Namun, wanita kelahiran Makalela, Sulawesi Selatan ini tetap sejalan dengan mimpinya untuk melayani masyarakat, meskipun di bidang yang berbeda. Saat ini Lia ditugaskan di Pusat Jalan dan Jembatan (PUSJATAN) Bandung dan menjabat sebagai Kepala Seksi Layanan di Balai Sistem dan Teknik Lalu Lintas. Sebagai pusat Penelitian dan Pengembangan (Litbang), pekerjaan utama Lia adalah memantau perkembangan dari penelitian peneliti-peneliti yang ada di Balai Sistem dan Teknik Lalu Lintas. Hobinya membaca membantunya dalam menyelesaikan penelitiannya selama bekerja. Selain itu, Lia juga bertugas menjadi konsultan untuk daerah-daerah yang membutuhkan bantuan. Oleh karena itu Lia seringkali berkeliling Indonesia untuk memantau kebutuhan pembangunan di daerah-daerah dari Sabang sampai Merauke.

Selama bekerja, Lia masih memiliki sesuatu yang ingin segera ia wujudkan. Lia ingin membangun kota yang ramah anak. Menurutnya, saat ini rawan untuk anak bisa berada di jalan sendiri melihat kondisi jalan yang tidak kondusif. Banyak pengendara yang membahayakan dan tidak menghargai hak pejalan dan pengguna non-kendaraan bermotor. Padahal, ketika dirinya masih berusia muda, ia bisa berjalan di jalan tanpa takut sesuatu terjadi padanya. Maka dari itu, Lia ingin memanusiakan lalu lintas dengan menertibkan jalan agar semua pengguna jalan termasuk anak-anak dapat menikmati fasilitas jalan dengan tenang dan tidak khawatir bahaya. Bagi Lia, jika kota tersebut ramah anak, pastilah akan ramah dengan semua pihak.

Berkat kerja kerasnya, Lia meraih penghargaan peneliti terbaik 2013 dalam internal PUSJATAN, dan menjadi peneliti terbaik 2015 se-Kementerian Pekerjaan Umum karena menggugat hak pejalan kaki. Lia berharap mahasiswa UK Petra tidak lagi takut untuk masuk dalam ranah pemerintahan. Terlepas dari stereotip yang ada, bidang yang ditekuni Lia saat ini masih dapat mempertahankan idealismenya tanpa terkena KKN dan pikiran kotor lainnya. “Selama bekerja d isini, saya tetap diberikan kesempatan untuk mempertahankan idealisme saya agar tidak terpengaruh hal yang buruk,” pungkasnya. “Ketika pertama kali masuk ke dunia yang heterogen dari tempat yang homogen memang tidak mudah. Tetapi Puji Tuhan tidak ada teman-teman disini yang mendiskriminasi saya,” tuturnya.

 

Ditulis oleh:

Hans Christian (51415007)