SOCIOPRENEUR: ABSOLUTELY YAY!

            ABSOLUTELY YAY! Dua kata untuk sociopreneur. Sociopreneur, sebuah kosakata yang mungkin masih asing ditelinga sebagian besar orang. Tetapi, mungkin secara tidak sadar kita telah sering melihat kegiatan tersebut, atau bahkan terlibat di dalamnya. Secara sederhana, sociopreneur dapat dimengerti sebagai suatu usaha dengan basis bisnis namun mengedepankan sisi sosial, yaitu untuk menciptakan dampak positif bagi masyarakat sekitar.

            Bagi saya, seorang sociopreneur adalah pahlawan di masa kemerdekaan ini. Seorang pahlawan, karena ia membawa perubahan yang nyata bagi masyarakat sekitar, terutama mereka dengan kekuatan ekonomi di bawah rata-rata. Tidak semua orang memiliki niat dan panggilan untuk melakukan pekerjaan sosial yang dapat menolong sesamanya tersebut. Berbagai tantangan dan halangan silih berganti. Menurut saya pribadi, orang-orang yang mau menjadi seorang sociopreneur harus dihargai dan didukung dalam segala usahanya dibidang sosial.

            Menjadi seorang sociopreneur ini seharusnya menjadi kesempatan yang terbuka lebar untuk kita sebagai generasi muda Indonesia. Seperti yang kita ketahui, Indonesia yang sangat luas ini terdiri dari 250 juta rakyat dengan latar belakangnya masing-masing. Tidak semua orang Indonesia berada pada kondisi ekonomi berkecukupan. Bahkan, semakin lama angka pengangguran di Indonesia semakin meningkat.

            Contoh sociopreneur adalah Nadiem Makarim. Namanya memang tidak terlalu populer di telinga kita. Namun, pria berusia 32 tahun tersebut memiliki jasa yang besar, tidak hanya bagi mereka yang membutuhkan pekerjaan tapi juga bagi mereka yang membutuhkan kecepatan waktu, Yap, GO-JEK. Melalui ide kreatifnya, Nadiem Makarim membantu banyak orang. Yang patut disoroti di sini adalah ide kreatifnya untuk membuat sebuah ojek online. Ketika sebagian besar putra bangsa yang menimba ilmu di luar negeri memutuskan untuk berkarir di sana, Nadiem Makarim mengambil keputusan berbeda, yaitu kembali ke Indonesia dan memberdayakan masyarakat kelas bawah melalui aplikasi ojek online yang memudahkan supir ojek mendapatkan pelanggannya.

            Sociopreneur merupakan langkah yang tepat untuk membawa perubahan bangsa Indonesia ini. Selama ini, masyarakat Indonesia sering kali dimanjakan dengan bantuan-bantuan secara langsung (bantuan tunai) dari pemerintah, yang justru merusak mental mereka. Tak sedikit dari mereka yang memilih untuk bertahan hidup dengan mengandalkan bantuan dari pemerintah ketimbang bekerja sendiri. Di sinilah poin utama yang harus diatasi.

            Dengan adanya sociopreneur, perekonomian masyarakat dapat mengalami peningkatan. Di sisi lain, mereka dapat memupuk skill melalui pekerjaan yang dijalani. Secara tidak langsung, mental mereka yang awalnya mungkin hanya berpasarah pada nasib serta bantuan yang diterima, juga akan beralih menjadi semakin semangat dalam mengusahakan yang terbaik bagi kelangsungan kehidupannya dan kehidupan keluarganya.

            Usia bukanlah halangan bagi kita sebagai seorang mahasiswa untuk memulai langkah tepat menjadi seorang sociopreneur. Yang penting bukanlah seberapa besar yang kita lakukan, tapi seberapa besar dampak yang dapat kita hasilkan bagi sesama.

 

 

Referensi

http://www.slideshare.net/NadyaSyabillaA/makalah-sociopreneur

https://sosiopreneur.wordpress.com/tag/ciri-ciri-sociopreneur/

https://pararawendy.wordpress.com/2016/02/07/sociopreneur-dan-dua-contoh-hebatnya/

 

 

oleh:

Regina Bella Rosari (51416001)

m51416001@john.petra.ac.id

ARTIKEL LAIN

AGAMA DAN DILEMA DUNIA KERJA

          Kebutuhan manusia akan agama adalah mutlak. Eksistensi Tuhan, kehidupan setelah kematian, dan kebutuhan spiritual lainnya hanya dapat dijawab oleh agama. Namun tidak hanya sampai disitu, seringkali kita juga menggunakan agama dalam berbagai segi kehidupan kita. Mungkin secara tidak sadar kita lebih memilih berteman dengan mereka yang seagama. Dalam hal memilih pemimpin, tentu kita tidak lupa kisah Ahok, Gubernur DKI Jakarta itu. Lalu bagaimana dengan dunia kerja yang seringkali kita dapati penerimaan karyawan dan penentuan jabatannya didasari oleh sebuah agama tertentu? Setuju kah kita?

          Maret 2015 lalu masyarakat heboh dengan lowongan kerja MNC Sky Vision Surabaya yang mengutamakan non-muslim dalam deskripsinya. Sempat ada demo yang memprotes hal ini. Kemudian di tahun yang sama PT. Sushantco Indonesia juga memberi syarat laki-laki muslim bagi para pelamar kerjanya. Tahun 2016 pemilik Hawaii Group menandatangani surat permohonan maaf atas iklan lowongan kerja yang diposting managementnya di Facebook. Pada iklan tersebut Hawaii Group memberi keterangan yang mengutamakan calon pekerja non-Hindu untuk posisi cook. Dan masih banyak lagi lowongan pekerjaan dengan syarat agama yang tidak diblow-up media.

          Sebelum kita mulai menghakimi para pemilik usaha dan managementnya atas syarat agama dalam lowongan pekerjaan mereka ada baiknya kita merenungkan ini. Cara hidup seseorang ditentukan oleh lingkungan, latar belakang suku, budaya dan tidak terkecuali agama. Muslim melakukan shalat sebanyak lima kali dalam sehari, Kristen pergi ke gereja setiap hari Minggu. Umat Hindu sembahyang Trisandya yaitu sebanyak tiga kali pada pagi, siang, dan sore. Tiap agama memiliki waktu dan intensitas yang berbeda dalam beribadah. Maka dalam bekerja pun agama juga punya pengaruh karena merupakan gaya hidup seseorang, setidaknya dalam hal waktu.

          Secara hukum di Indonesia, menggunakan agama sebagai syarat penerimaan pegawai merupakan sebuah pelanggaran. Pasal 5 UU Ketenagakerjaan (UU no.13 tahun 2003) mengatakan “Setiap tenaga kerja memiliki kesempatan yang sama tanpa diskriminasi untuk memperoleh pekerjaan”. Tetapi beberapa perkecualian seharusnya bisa kita buat. Bukankah sebuah restoran masakan China yang mengandung babi tak sepantasnya mempekerjakan seorang muslim untuk memasak? Tentu saja hal ini bukan sebuah tindakan diskriminatif karena seorang muslim diharamkan mengkonsumsi dan bahkan menyentuh babi.

          Pasal 6 UU Ketenagakerjaan juga menjamin para pegawai untuk mendapat hak dan kewajiban yang sama tanpa melihat jenis kelamin, suku, warna kulit, dan lain sebagainya termasuk agama. Promosi dan jabatan adalah hak semua pegawai yang bekerja keras dan kompeten. Namun bukan berarti kita tidak boleh membuat perkecualian dengan syarat agama untuk jabatan tertentu. Karena tiap agama berbeda pengajarannya dalam doktrin, konsep teologis maupun praktis. Kita tentu patut bertanya jika sebuah universitas Kristen dengan visi, misi, dan nilai-nilainya yang Alkitabiah dipimpin oleh seorang rektor beragama Buddha.

          Bukan berarti UU Ketenagakerjaan Pasal 5 dan 6 itu salah. Aturan itu perlu ada untuk meminimalisir hal-hal seperti “Aku bosnya, aku Kristen, karena kamu Konfusian tidak bisa kerja disini” , atau “kamu kurang cantik jadi aku tidak bisa angkat kamu jadi head manager” dan semacamnya. Meskipun pada dasarnya memang itu adalah hak dari para pemilik usaha atau pihak lain yang berwenang. Tapi tanpa alasan yang logis, kuat, dan benar maka para pemilik usaha sebenarnya telah melanggar hak para pegawai atau calon pegawai.

          Dilema agama dalam dunia kerja harus dilihat dari kacamata yang baru dan berbeda. Mulailah dari bertanya apakah pekerjaan atau jabatan itu baik dan benar untuk saya sebagai penganut agama ini? Ketika saya menganut agama Hindu maka lebih baik saya tidak menjadi juru masak sebuah restoran yang menyediakan daging sapi. Atau saya muslim seharusnya saya tidak bekerja di sebuah restoran yang menyediakan daging babi. Ada restoran lain yang tepat buat saya sebagai juru masak untuk bekerja tanpa melanggar ajaran agama saya. Bukan salah restorannya jika mereka memberi syarat non-Hindu dan menolak saya penganut Hindu jika mereka menyediakan hidangan daging sapi. Lain cerita jika saya ditolak jadi dosen seni lukis oleh sebuah universitas Kristen karena saya seorang Buddhis. Tapi tidak tau diri namanya ketika saya seorang Kristen mengajukan diri sebagai rektor di sebuah universitas Islam.

          Maka sejatinya boleh saja menjadikan agama sebagai syarat diterima atau tidaknya seseorang dalam pekerjaan atau jabatan. Selama itu sebenarnya bertujuan untuk kebaikan bersama. Jangan kita mudah menghakimi meskipun banyak ketidakadilan atas nama agama yang memang terjadi di dunia kerja. Lebih penting bagi kita mempersiapkan diri dan bekerja sebaik-baiknya. Tuhan tidak tidur, jika kita setia dan bersungguh-sungguh maka pekerjaan yang baik dan jabatan yang kita impikan akan diberikan juga pada kita.

 

Referensi :

http://candrawiguna.com/komentar-kasus-diskriminasi-lowongan-kerja-di-mnc/

http://www.jogjakarir.com/2015/03/lowongan-kerja-di-pt-sushantco.html

https://student.unud.ac.id/febiani98/news/4690

 

Oleh :

Hendro Richard (42416052)

Pengumuman Pemenang Undian Souvenir Tracer Study 2017

Tim Tracer Study UK Petra mengirimkan Kuesioner Online Tracer Study pada lulusan 2015 pada tanggal 12 Juli 2017 yang lalu. Sebagai ungkapan terimakasih, UK Petra menyediakan souvenir berupa voucher belanja MAP yang diundi dengan ketentuan sebagai berikut:

  • 50 pemenang dari 150 pengisi pertama mendapatkan voucher sejumlah Rp 200.000
  • 50 pemenang dari 150 pengisi berikutnya mendapatkan voucher sejumlah Rp 100.000

Periode survey telah ditutup pada tanggal 28 Juli 2017 lalu dan pengundian telah dilakukan pada tanggal 1 Agustus 2017.

Pengundian dilakukan dengan memberikan nomor undian pada setiap responden secara urut berdasarkan waktu pengisian. Rumus pengundian dibuat di Ms Excel untuk mengeluarkan 50 angka acak dari angka 1 - 150. 50 Angka acak yang keluar adalah 50 pemenang undian voucher. Proses tersebut dilakukan untuk 150 pengisi pertama, dan juga 150 pengisi berikutnya.

 

Berikut adalah nama pemenang undian Voucher MAP Rp 200.000 :

  1. JESSICA - 25411017
  2. KEVIN WIBOWO - 35411007
  3. AGUSTINUS GANDAWIDJAJA - 26411013
  4. JESSICA WIJAYA LOUIS - 22411015
  5. GABRIEL RIZKIAWAN SANTOSO - 26410114
  6. ENRICO VARIAN ONGGO - 42411065
  7. AILIN EASTERINA - 22410097
  8. WILLIAM WIBISONO - 21411046
  9. MONICA OKTAVIA - 32410053
  10. DICKY LIENARDO LIE - 22411096
  11. RATNA ANGGRAINI - 42411079
  12. DAVID RICHARDO - 33411147
  13. STEFFI THANISSA HALIM - 12410008
  14. VALENTINA WINDA KRISTIANTI - 26410048
  15. IRENE SUSILO - 36411015
  16. ALFINDO JANANTO - 35410023
  17. MARCHELLYN SOENJAYA - 33411057
  18. FERNALDI KURNIAWAN - 34411044
  19. ARDELIA WIDYANATA TJOA - 42411215
  20. BOBBY WILLIAM THERRY - 26411011
  21. YESHINTA TRIVENA DEWI - 32411140
  22. JIMMY MULIAWAN - 26411044
  23. NENCY - 35411035
  24. STEPHANIE VICTORIA WIJAYA - 31411248
  25. RICHARD PANGALILA - 26411081
  26. BELINDA TEDJOKUSUMO - 22410017
  27. FERDIARTO LIMANTORO - 25411031
  28. ELSA ONGKOWIJOYO - 32411056
  29. JANE ANDOKO - 33411043
  30. KEVIN WILLYANTO - 21411075
  31. YEFTA GAVRA GARLAND PERSADA - 21411155
  32. RENDY YUWONO - 24411049
  33. YENNY - 11409013
  34. DANNY TANTRA - 26411040
  35. MARIA VIONITA W. - 22411111
  36. JANET GEORGINA ANDRETA MANOPPO - 32410141
  37. TEGUH WIBISONO SANTOSA - 36411039
  38. JOHANES JOVIAL KOOSWANTORO - 22410107
  39. PAULINA KRISTIANI - 31411025
  40. ANDY JACKSON - 31411111
  41. BRYAN WIDARNO - 21411068
  42. BUDI TIRTO HANTORO - 35410030
  43. FELLY LILIYANA SOENYOTO - 34411048
  44. IRISA CHRISTY OCTAVIA SOEDIMO - 22411063
  45. NONY KEZIA MARCHYTA - 37411045
  46. JESSICA HELENA SUTEDJO - 32410051
  47. DAVID TANUJAYA - 26411043
  48. MARCHELLIA PRASETYA - 42411146
  49. CHRISTIAN YOKO WIJAYA - 25410024
  50. ALBERT BUDIANTO LIADI - 42411114

 

 

Kemudian, berikut adalah nama pemenang undian Voucher MAP Rp 100.000 :

  1. VINCENT CHIPTODJOJO - 26410005
  2. JUWITA PRISCELLA KWONG - 41411067
  3. CLAUDIA PRICILIA CHANDRA - 34411026
  4. ADITYA FERRYANTO - 32411048
  5. ANGGA PRABOWO - 51410139
  6. MARIA CAROLINA PUDJIHARDJO - 33411078
  7. SELIECIA ENDY KRISTANTI - 33410069
  8. ALBERT LEONARD GEJALI - 31411075
  9. ANTHONY NUGROHO - 24411055
  10. JANE LEVINA - 35411015
  11. GRACE HANYTASARI - 42411063
  12. FREDY SUGIMAN - 33410077
  13. OKTAVIA KRISTIN SURYANINGRUM - 22410019
  14. WIDIAWATI LIMANTO - 42410270
  15. RIZKY ALIM SUSANTO - 41410117
  16. SETYAYUDHA LEMBONO - 22410023
  17. ANNEKE DEBORA KUNCORO - 22411044
  18. ARIELLA CORNELIA ANGGONO - 33411024
  19. JEFFRAN STEVANUS GUNAWAN - 33411054
  20. WILSON KONG - 31411237
  21. ELIZABETH NATHANIA WITANTO - 26411113
  22. MICHAEL SUTRISNO - 31411079
  23. MICHAEL - 33410119
  24. CINDY FRANSISCA TANRIM - 22411018
  25. MELANIA WINARTA - 31411133
  26. JESSICA ARIYANTI JASAHARTANA - 32411070
  27. LISA VALENTINE - 32411080
  28. BIANDA VERSA - 36411053
  29. YOHANA ZERLINDA PRANOTO - 42411093
  30. MARITA WIJAYA - 31411287
  31. ANGELINE THRESDY WIJAYA - 22410068
  32. HENDRA WENNADY WIJOYO - 26411063
  33. INDRAWAN ANGGRADINATA - 21411124
  34. PAMELA FELITA - 31410072
  35. WANDA WIJAYA - 42411059
  36. MARVIN EDWAR LESMANA - 22411147
  37. NIO NERISSA ARVIANA BUNTORO - 42411086
  38. YESIKA HARTANTO KARJODIHARDJO - 41411001
  39. AYU ABRIYANTI CHANDRA DEWI - 36411084
  40. NATALI DEVIANA SUTANTO - 41411032
  41. BRIAN SURYANATA - 41410064
  42. STELLA FRANCISS MULIANTO - 32411053
  43. ROSELINEE NATHANIA HALIM - 42411103
  44. ESTEFAN JUNAYDI WICAKSONO - 32411105
  45. AGNES YUSTIVANI DE SIRAT - 26411145
  46. KLEMENS PRAMUDITA - 42411053
  47. STEVEN GUNAWAN - 42411081
  48. TOMMY PRAYOGO - 22410036
  49. JOVITA KOLIN SETIADI - 41411038
  50. RENATA ODILIA HANDOJO - 22410053

 

Pusat Karir akan menghubungi para pemenang untuk menanyakan alamat pengiriman souvenir dan segera mengirimkan souvenir kepada yang bersangkutan.

Selamat untuk para pemenang undian, dan terimakasih atas partisipasinya dalam Tracer Study 2017.

My Business, My Contribution to the Nation

Kalau Petra Career Camp (PCC) tahun 2015 yang lalu mengusung tema “Many Dreams, One Team”, tahun 2017 ini Camp tersebut membawa tema yang berbeda yaitu “Your Business, Your Contribution to the Nation” dan akan banyak membahas hal mengenai sociopreneurship. Kali ini, PCC bahkan bekerja sama dengan Pusat Karir Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS). Ketertarikan saya dengan Career Camp ini sangatlah besar, walaupun saya masih belum mengetahui temanya, karena isu tempat pelaksanaannya sudah menarik perhatian saya, yaitu Bandung!

Briefing peserta dan pembagian kelompok adalah salah satu hal yang paling ditunggu-tunggu. Yang paling menyenangkan dari hal ini adalah karena panitia membagi kelompok secara acak sehingga bisa membuat peserta Career Camp dari UK Petra dan UKWMS bisa saling mengenal lebih dekat. Nama-nama kelompok yang digunakan pada acara ini disesuaikan dengan nama lembaga-lembaga sociopreneur yang akan dikunjungi. Kelompoknya dibagi menjadi 5 yang terdiri dari traditional games, drugs addiction, environmental issue, city heritage 1 dan 2. Kakak-kakak observer di acara PCC juga bisa mencairkan suasana “malu-malu” yang pastinya terjadi di setiap kelompok ketika pertama kali berkenalan. Rasanya sudah tidak sabar lagi untuk langsung berangkat ke Bandung dan belajar banyak hal mengenai sociopreneurship.

Time flies so fast, setelah menempuh perjalanan panjang selama kurang lebih 13 jam ke Bandung dengan Kereta Api, setibanya di kota ini, serangkaian acara sudah menanti. Sesi yang pertama yaitu “On Being Sociopreneur”, dibawakan oleh ibu Veronica Colondam sebagai Founder and CEO dari Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB). Beliau berbagi kisah tentang awal mulanya beliau menggeluti dunia social sekaligus entepreneurship ini, dikatakan social karena munculnya beberapa unit koperasi untuk membantu anak-anak putus sekolah. YCAB merupakan model bisnis yang berkelanjutan yang mampu menjangkau lebih dari tiga juta anak muda. Hal ini dicapai melalui pemberdayaan dalam bidang pendidikan dan ekonomi untuk anak kurang mampu dan keluarganya. Selain cantik, beliau juga sangat pintar bisa dilihat dari beberapa gelar yang beliau miliki di belakang namanya.

Setelah sesi 1 selesai peserta mendapat pengarahan tentang tantangan selama beberapa hari ke depan. Sebenarnya tantangan ini gampang-gampang susah bagi peserta yang baru pertama kali ikut, karena tantangan terbesarnya adalah mengatur keuangan kelompok. Jadi setiap kelompok diberikan sejumlah uang, lalu kelompok tersebut berhak untuk mengelola uang tersebut untuk kegiatan bersama selama di Bandung. Kelompok saya memutuskan untuk melakukan penghematan selama awal-awal perjalanan dengan makan makanan yang murah-murah, menaiki kendaraan dengan nominal yang semurah-murahnya. Di hari pertama, kelompok saya melakukan penghematan dengan menempuh jarak yang kira-kira 8 kilometer dengan jumlah 8 peserta, 1 observer dan 1 panitia yang mendokumentasikan semua aktifitas kami dengan menaiki hanya 1 mobil. Terbayang kan bagaimana jauhnya perjalanan yang ditempuh belum lagi dengan jalanan yang berkelok-kelok? Perjalanan pertama kami yaitu ke Komunitas Hong yang letaknya di daerah Dago Pakar.

Di Komunitas Hong, kami bertemu dengan founder-nya yaitu Kang Zaini Alif yang juga dijuluki Bapak Permainan Tradisional Indonesia. Di sini, kami disambut dengan musik khas Sunda dan suasana sejuk menyegarkan. Ternyata, masing-masing permainan tradisional Indonesia itu bermakna lho. Hompimpa, misalnya. Siapa yang tahu makna dibalik permainan sederhana ini adalah: Dari Tuhan Kembali ke Tuhan? Keren ya? Pantas saja Kang Zaini bilang yang seperti ini nih yang harus dilestarikan untuk generasi-generasi berikutnya

Setelah dari Komunitas Hong lanjutlah perjalanan yaitu ke Rumah Cemara. Rumah Cemara ini bukan hanya tempat bagi para pecandu narkoba tapi juga mereka yang pernah terlibat narkoba meski belum menjadi pecandu dan ingin dipulihkan. Disini mereka diberi kesempatan untuk mengembangkan bakat terpendam yang mereka punya, khususnya di bidang olahraga seperti tinju, sepakbola, dan masih banyak yang lainnya. Tim sepakbola dari Rumah Cemara ini bahkan pernah pergi ke luar negeri untuk bertanding dan menang lho!

Malam harinya sekembalinya dari Rumah Cemara, kami melanjutkan sesi bersama kak Tian yang merupakan Chief Environmental Officer of Greeneration Foundation. Greeneration Foundation yang merupakan bagian dari Greeneration Indonesia ini bergerak di bidang lingkungan yang mengkampanyekan pengurangan penggunaan kantong plastik dan diganti dengan tas ramah lingkungan. Selain itu, bisnis mereka juga berkecimpung pada pengelolaan limbah dan sampah. Sangat menginspirasi sekali ya?

Hari kedua adalah kunjungan ke Bandung Creative City Forum atau yang biasa dikenal dengan BCCF. BCCF ini merupakan forum komunitas-komunitas kreatif untuk mengembangkan identitas kota Bandung sehingga menjadi kota kreatif. BCCF bertujuan untuk menghasilkan hal-hal yang signifikan dan meninggalkan jejak sosial yang menjadi ruang model masyarakat bandung. Beberapa program utama mereka seperti Helar Fest, kampung kreatif dan design activity melibatkan anak-anak muda Bandung dan warga-warga kampung.

Di BCCF, kami berkenalan dengan Bu Tita Larasati, General Secretary of BCCF yang juga mengajar sebagai dosen di Institut Teknologi Bandung (ITB). Dalam sesinya, Bu Tita menjelaskan apa yang menjadi kebutuhan masyarakat dan masalah apa saja yang sedang dihadapi masyarakat terkait dengan pengembangan kota Bandung. Bagaimana menyediakan tempat sampah yang bagus setelah melalui proses diskusi dengan warga sekitar supaya menjaga kebersihan dan kerapian lingkungan mereka masing-masing.

Selain Ibu Tita Larasati, kami dapat banyak ilmu yang dikembangkan oleh Kang Fiki Satari, Chief of BCCF yang juga Founder of Airplane System Clothing dan dosen di Universitas Padjadjaran untuk mengembangkan kota Bandung menjadi lebih baik dan lebih indah lagi. Di BCCF ini, Kang Fiki menggantikan posisi Ridwan Kamil (walikota Bandung sekarang -Red) yang juga merupakan salah satu pendirinya. Mengutip dari perkataan Kang Fiki “Kunci utama dalam bisnis adalah kreativitas”, demikian juga bisnis sosial yang melibatkan masyarakat sekitar. Beliau juga mengatakan bahwa untuk menjaga kreativitas supaya tidak mati, perlu selalu membuka pintu kolaborasi dengan masyarakat. Maka jika ingin maju, kami harus mencari relasi sebanyak-banyaknya dan berjejaring. Yang tak kalah serunya waktu di BCCF, kita diberi tugas untuk bikin video seputar BCCF dan harus di-share di media sosial kami untuk dinilai oleh panitia.

Setelah kami berkegiatan di BCCF, kami berkunjung ke Kedai Preanger yang merupakan tempat untuk menikmati kopi dan teh dari berbagai penjuru nusantara. Disini juga lah komunitas Aleut biasa nongkrong. Komunitas Aleut adalah komunitas yang peduli terhadap tempat-tempat dan benda-benda bersejarah di Bandung dan sekitarnya. Kang Ridwan Hutagalung selaku pemilik dari Kedai Preanger dan juga pengurus komunitas Aleut berbagi pengalaman dengan kami. Selain memperkenalkan kopi dan teh nusantara yang memiliki cita rasa yang berbeda dari setiap daerah tempat kopi dan teh tersebut berasal, Kang Ridwan juga menyisihkan pendapatannya untuk membiayai kegiatan-kegiatan komunitas Aleut. Salah satu kegiatan yang sering diadakan adalah kelas literasi, dimana kegiatan ini merupakan wadah diskusi dalam banyak hal seperti pembahasan film-film yang terkait dengan sejarah bangsa kita, sejarah perkebunan teh, dll.

Pada hari ketiga di Bandung peserta Career Camp hanya mendengarkan sesi di hotel. Sesi pertama kami dapat dari Bapak Murpin Josua yang banyak berbagi tentang Financial Planning - dimana dalam menjalankan bisnis, dalam hal ini bisnis sosial, kami harus sangat memperhatikan hal tersebut supaya tidak terjadi kekeliruan dalam penyajian laporan keuangan yang berdampak dengan keberlanjutan bisnis yang dijalankan.

Sesi dari Pak Murpin dilanjutkan dengan sesi dari Brilliant Yotenega yang merupakan CEO & Co-Founder of Zeta Media Network. Beliau berkisah bagaimana beliau bisa jadi seperti sekarang tidak luput dari dukungan kawan-kawannya. Oleh karena itu, kami lagi-lagi diingatkan bahwa berjejaring dan menjalin relasi yang baik dengan kenalan-kenalan dan kawan-kawan itu sangat penting untuk menghindari kesan ‘hanya baik jika butuh’.

Dari awal, kami sudah diberitahu oleh panitia bahwa setiap kelompok akan membuat project untuk lembaga-lembaga dan komunitas yang dikunjungi. Setiap malam masing-masing kelompok diberi kesempatan untuk berkumpul dengan observer-nya untuk membahas project akhir apa yang akan dilakukan terhadap masing-masing lembaga yang memilik masalahnya sendiri. Keceriaan tidak bisa dipisahkan dari setiap individu dalam setiap kelompok. Walaupun baru pertama kali mengenal namun setiap kelompok selalu memiliki keceraian dan candaannya masing-masing ditiap sela diskusi dalam kelompok.

Melalui diskusi kelompok, setiap kelompok berusaha untuk memecahkan masalah/ tantangan setiap komunitas sehingga bisa membuat solusi project terbaik demi kemajuan komunitasnya. Pada hari terakhir setiap kelompok kembali menuju komunitas mereka masing-masing dan mempresentasikan hasil dari diskusi kelompok. Usulan, ide, dan teknis-teknis telah dibahas dengan matang oleh tiap kelompok sehingga setiap komunitas mendapatkan berbagai macam masukan. Presentasi ini juga dinilai oleh setiap komunitas sehingga panitia bisa mendapatkan kelompok dengan hasil ide yang terbaik. Kelompok City Heritage 2 akhirnya keluar sebagai pemenang dalam acara Career Camp.

Sampailah kami dihari terakhir, dimana kegiatan ini ditutup oleh closing ceremony, sebuah model penutupan yang unik dan keren buat kami peserta Career Camp. Waktu itu kami sempat bingung dengan adanya gelas sejumlah peserta Career Camp beserta air minum untuk dituangkan yang tertata di depan ruang pertemuan. Waktu itu kak Jessie menjelaskan makna closing ceremony tersebut, dimana ketika kami sama-sama berangkat dari Surabaya untuk kegiatan ini diibaratkan sebuah gelas kosong, dimana pengetahuan kami masih dangkal dengan apa itu Sociopreneur. Lalu air minum yang akan dituangkan ke dalam gelas merupakan ilmu beserta pengalaman-pengalaman berharga yang kami dapat selama berproses di Bandung. Oia, kami semua diminta agar menuangkan air minum ke dalam gelas yang tersedia dengan takaran yang sama loh tapi tidak boleh sampai penuh. Hal ini dimaksudkan bahwa kita sudah mendapatkan ilmu dan pengalaman selama di Bandung sebagai bekal untuk terjun langsung ke dalam bisnis Sociopreneur, oleh sebab itu air tidak diisi penuh. Tugas kita sebagai Sociopreneur mudahlah yang membuat gelas tersebut penuh, dengan terjun langsung membangun bisnis-bisnis sosial dengan memberdayakan masyarakat sekitar kita. Secara umum kegiatan Career Camp  membuat kami sadar, bahwa ketika kita semua membuat bisnis, buatlah bisnis yang memberdayakan masyarakat, bangunlah Indonesia menjadi lebih baik.

 

By : Yessy Elfira (32414059)