My Business, My Contribution to the Nation

Kalau Petra Career Camp (PCC) tahun 2015 yang lalu mengusung tema “Many Dreams, One Team”, tahun 2017 ini Camp tersebut membawa tema yang berbeda yaitu “Your Business, Your Contribution to the Nation” dan akan banyak membahas hal mengenai sociopreneurship. Kali ini, PCC bahkan bekerja sama dengan Pusat Karir Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS). Ketertarikan saya dengan Career Camp ini sangatlah besar, walaupun saya masih belum mengetahui temanya, karena isu tempat pelaksanaannya sudah menarik perhatian saya, yaitu Bandung!

Briefing peserta dan pembagian kelompok adalah salah satu hal yang paling ditunggu-tunggu. Yang paling menyenangkan dari hal ini adalah karena panitia membagi kelompok secara acak sehingga bisa membuat peserta Career Camp dari UK Petra dan UKWMS bisa saling mengenal lebih dekat. Nama-nama kelompok yang digunakan pada acara ini disesuaikan dengan nama lembaga-lembaga sociopreneur yang akan dikunjungi. Kelompoknya dibagi menjadi 5 yang terdiri dari traditional games, drugs addiction, environmental issue, city heritage 1 dan 2. Kakak-kakak observer di acara PCC juga bisa mencairkan suasana “malu-malu” yang pastinya terjadi di setiap kelompok ketika pertama kali berkenalan. Rasanya sudah tidak sabar lagi untuk langsung berangkat ke Bandung dan belajar banyak hal mengenai sociopreneurship.

Time flies so fast, setelah menempuh perjalanan panjang selama kurang lebih 13 jam ke Bandung dengan Kereta Api, setibanya di kota ini, serangkaian acara sudah menanti. Sesi yang pertama yaitu “On Being Sociopreneur”, dibawakan oleh ibu Veronica Colondam sebagai Founder and CEO dari Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB). Beliau berbagi kisah tentang awal mulanya beliau menggeluti dunia social sekaligus entepreneurship ini, dikatakan social karena munculnya beberapa unit koperasi untuk membantu anak-anak putus sekolah. YCAB merupakan model bisnis yang berkelanjutan yang mampu menjangkau lebih dari tiga juta anak muda. Hal ini dicapai melalui pemberdayaan dalam bidang pendidikan dan ekonomi untuk anak kurang mampu dan keluarganya. Selain cantik, beliau juga sangat pintar bisa dilihat dari beberapa gelar yang beliau miliki di belakang namanya.

Setelah sesi 1 selesai peserta mendapat pengarahan tentang tantangan selama beberapa hari ke depan. Sebenarnya tantangan ini gampang-gampang susah bagi peserta yang baru pertama kali ikut, karena tantangan terbesarnya adalah mengatur keuangan kelompok. Jadi setiap kelompok diberikan sejumlah uang, lalu kelompok tersebut berhak untuk mengelola uang tersebut untuk kegiatan bersama selama di Bandung. Kelompok saya memutuskan untuk melakukan penghematan selama awal-awal perjalanan dengan makan makanan yang murah-murah, menaiki kendaraan dengan nominal yang semurah-murahnya. Di hari pertama, kelompok saya melakukan penghematan dengan menempuh jarak yang kira-kira 8 kilometer dengan jumlah 8 peserta, 1 observer dan 1 panitia yang mendokumentasikan semua aktifitas kami dengan menaiki hanya 1 mobil. Terbayang kan bagaimana jauhnya perjalanan yang ditempuh belum lagi dengan jalanan yang berkelok-kelok? Perjalanan pertama kami yaitu ke Komunitas Hong yang letaknya di daerah Dago Pakar.

Di Komunitas Hong, kami bertemu dengan founder-nya yaitu Kang Zaini Alif yang juga dijuluki Bapak Permainan Tradisional Indonesia. Di sini, kami disambut dengan musik khas Sunda dan suasana sejuk menyegarkan. Ternyata, masing-masing permainan tradisional Indonesia itu bermakna lho. Hompimpa, misalnya. Siapa yang tahu makna dibalik permainan sederhana ini adalah: Dari Tuhan Kembali ke Tuhan? Keren ya? Pantas saja Kang Zaini bilang yang seperti ini nih yang harus dilestarikan untuk generasi-generasi berikutnya

Setelah dari Komunitas Hong lanjutlah perjalanan yaitu ke Rumah Cemara. Rumah Cemara ini bukan hanya tempat bagi para pecandu narkoba tapi juga mereka yang pernah terlibat narkoba meski belum menjadi pecandu dan ingin dipulihkan. Disini mereka diberi kesempatan untuk mengembangkan bakat terpendam yang mereka punya, khususnya di bidang olahraga seperti tinju, sepakbola, dan masih banyak yang lainnya. Tim sepakbola dari Rumah Cemara ini bahkan pernah pergi ke luar negeri untuk bertanding dan menang lho!

Malam harinya sekembalinya dari Rumah Cemara, kami melanjutkan sesi bersama kak Tian yang merupakan Chief Environmental Officer of Greeneration Foundation. Greeneration Foundation yang merupakan bagian dari Greeneration Indonesia ini bergerak di bidang lingkungan yang mengkampanyekan pengurangan penggunaan kantong plastik dan diganti dengan tas ramah lingkungan. Selain itu, bisnis mereka juga berkecimpung pada pengelolaan limbah dan sampah. Sangat menginspirasi sekali ya?

Hari kedua adalah kunjungan ke Bandung Creative City Forum atau yang biasa dikenal dengan BCCF. BCCF ini merupakan forum komunitas-komunitas kreatif untuk mengembangkan identitas kota Bandung sehingga menjadi kota kreatif. BCCF bertujuan untuk menghasilkan hal-hal yang signifikan dan meninggalkan jejak sosial yang menjadi ruang model masyarakat bandung. Beberapa program utama mereka seperti Helar Fest, kampung kreatif dan design activity melibatkan anak-anak muda Bandung dan warga-warga kampung.

Di BCCF, kami berkenalan dengan Bu Tita Larasati, General Secretary of BCCF yang juga mengajar sebagai dosen di Institut Teknologi Bandung (ITB). Dalam sesinya, Bu Tita menjelaskan apa yang menjadi kebutuhan masyarakat dan masalah apa saja yang sedang dihadapi masyarakat terkait dengan pengembangan kota Bandung. Bagaimana menyediakan tempat sampah yang bagus setelah melalui proses diskusi dengan warga sekitar supaya menjaga kebersihan dan kerapian lingkungan mereka masing-masing.

Selain Ibu Tita Larasati, kami dapat banyak ilmu yang dikembangkan oleh Kang Fiki Satari, Chief of BCCF yang juga Founder of Airplane System Clothing dan dosen di Universitas Padjadjaran untuk mengembangkan kota Bandung menjadi lebih baik dan lebih indah lagi. Di BCCF ini, Kang Fiki menggantikan posisi Ridwan Kamil (walikota Bandung sekarang -Red) yang juga merupakan salah satu pendirinya. Mengutip dari perkataan Kang Fiki “Kunci utama dalam bisnis adalah kreativitas”, demikian juga bisnis sosial yang melibatkan masyarakat sekitar. Beliau juga mengatakan bahwa untuk menjaga kreativitas supaya tidak mati, perlu selalu membuka pintu kolaborasi dengan masyarakat. Maka jika ingin maju, kami harus mencari relasi sebanyak-banyaknya dan berjejaring. Yang tak kalah serunya waktu di BCCF, kita diberi tugas untuk bikin video seputar BCCF dan harus di-share di media sosial kami untuk dinilai oleh panitia.

Setelah kami berkegiatan di BCCF, kami berkunjung ke Kedai Preanger yang merupakan tempat untuk menikmati kopi dan teh dari berbagai penjuru nusantara. Disini juga lah komunitas Aleut biasa nongkrong. Komunitas Aleut adalah komunitas yang peduli terhadap tempat-tempat dan benda-benda bersejarah di Bandung dan sekitarnya. Kang Ridwan Hutagalung selaku pemilik dari Kedai Preanger dan juga pengurus komunitas Aleut berbagi pengalaman dengan kami. Selain memperkenalkan kopi dan teh nusantara yang memiliki cita rasa yang berbeda dari setiap daerah tempat kopi dan teh tersebut berasal, Kang Ridwan juga menyisihkan pendapatannya untuk membiayai kegiatan-kegiatan komunitas Aleut. Salah satu kegiatan yang sering diadakan adalah kelas literasi, dimana kegiatan ini merupakan wadah diskusi dalam banyak hal seperti pembahasan film-film yang terkait dengan sejarah bangsa kita, sejarah perkebunan teh, dll.

Pada hari ketiga di Bandung peserta Career Camp hanya mendengarkan sesi di hotel. Sesi pertama kami dapat dari Bapak Murpin Josua yang banyak berbagi tentang Financial Planning - dimana dalam menjalankan bisnis, dalam hal ini bisnis sosial, kami harus sangat memperhatikan hal tersebut supaya tidak terjadi kekeliruan dalam penyajian laporan keuangan yang berdampak dengan keberlanjutan bisnis yang dijalankan.

Sesi dari Pak Murpin dilanjutkan dengan sesi dari Brilliant Yotenega yang merupakan CEO & Co-Founder of Zeta Media Network. Beliau berkisah bagaimana beliau bisa jadi seperti sekarang tidak luput dari dukungan kawan-kawannya. Oleh karena itu, kami lagi-lagi diingatkan bahwa berjejaring dan menjalin relasi yang baik dengan kenalan-kenalan dan kawan-kawan itu sangat penting untuk menghindari kesan ‘hanya baik jika butuh’.

Dari awal, kami sudah diberitahu oleh panitia bahwa setiap kelompok akan membuat project untuk lembaga-lembaga dan komunitas yang dikunjungi. Setiap malam masing-masing kelompok diberi kesempatan untuk berkumpul dengan observer-nya untuk membahas project akhir apa yang akan dilakukan terhadap masing-masing lembaga yang memilik masalahnya sendiri. Keceriaan tidak bisa dipisahkan dari setiap individu dalam setiap kelompok. Walaupun baru pertama kali mengenal namun setiap kelompok selalu memiliki keceraian dan candaannya masing-masing ditiap sela diskusi dalam kelompok.

Melalui diskusi kelompok, setiap kelompok berusaha untuk memecahkan masalah/ tantangan setiap komunitas sehingga bisa membuat solusi project terbaik demi kemajuan komunitasnya. Pada hari terakhir setiap kelompok kembali menuju komunitas mereka masing-masing dan mempresentasikan hasil dari diskusi kelompok. Usulan, ide, dan teknis-teknis telah dibahas dengan matang oleh tiap kelompok sehingga setiap komunitas mendapatkan berbagai macam masukan. Presentasi ini juga dinilai oleh setiap komunitas sehingga panitia bisa mendapatkan kelompok dengan hasil ide yang terbaik. Kelompok City Heritage 2 akhirnya keluar sebagai pemenang dalam acara Career Camp.

Sampailah kami dihari terakhir, dimana kegiatan ini ditutup oleh closing ceremony, sebuah model penutupan yang unik dan keren buat kami peserta Career Camp. Waktu itu kami sempat bingung dengan adanya gelas sejumlah peserta Career Camp beserta air minum untuk dituangkan yang tertata di depan ruang pertemuan. Waktu itu kak Jessie menjelaskan makna closing ceremony tersebut, dimana ketika kami sama-sama berangkat dari Surabaya untuk kegiatan ini diibaratkan sebuah gelas kosong, dimana pengetahuan kami masih dangkal dengan apa itu Sociopreneur. Lalu air minum yang akan dituangkan ke dalam gelas merupakan ilmu beserta pengalaman-pengalaman berharga yang kami dapat selama berproses di Bandung. Oia, kami semua diminta agar menuangkan air minum ke dalam gelas yang tersedia dengan takaran yang sama loh tapi tidak boleh sampai penuh. Hal ini dimaksudkan bahwa kita sudah mendapatkan ilmu dan pengalaman selama di Bandung sebagai bekal untuk terjun langsung ke dalam bisnis Sociopreneur, oleh sebab itu air tidak diisi penuh. Tugas kita sebagai Sociopreneur mudahlah yang membuat gelas tersebut penuh, dengan terjun langsung membangun bisnis-bisnis sosial dengan memberdayakan masyarakat sekitar kita. Secara umum kegiatan Career Camp  membuat kami sadar, bahwa ketika kita semua membuat bisnis, buatlah bisnis yang memberdayakan masyarakat, bangunlah Indonesia menjadi lebih baik.

 

By : Yessy Elfira (32414059)

ARTIKEL LAIN

Pengumuman Pemenang Undian Souvenir Tracer Study 2018

Tim Tracer Study UK Petra mengirimkan Kuesioner Online Tracer Study pada lulusan 2016 pada tanggal 26 Maret 2018 yang lalu. Sebagai ungkapan terimakasih, UK Petra menyediakan souvenir berupa voucher belanja MAP yang diundi dengan ketentuan sebagai berikut :
- 50 pemenang dari 150 pengisi pertama mendapatkan voucher sejumlah Rp 200.000
- 50 pemenang dari 150 pengisi berikutnya mendapatkan voucher sejumlah Rp 100.000

Periode survey telah ditutup pada tanggal 29 Maret 2018 lalu dan pengundian telah dilakukan pada tanggal 07 September 2018.


Pengundian dilakukan dengan memberikan nomor undian pada setiap responden secara urut berdasarkan waktu pengisian. Rumus pengundian dibuat di Ms Excel untuk mengeluarkan 50 angka acak dari angka 1 - 150. 50 Angka acak yang keluar adalah 50 pemenang undian voucher. Proses tersebut dilakukan untuk 150 pengisi pertama, dan juga 150 pengisi berikutnya.


Berikut adalah nama pemenang undian Voucher Rp 200.000 :
CHRISTIAN FEBRIONO SUSANTO - 22412112
SAMUEL TIMOTIUS SUHENRI - 11412001
PATRICIA PUTRI TJAHJONO - 51412071
JEANNY FLORENCIA HALIM - 41412031
RANDY REINALDO - 34412053
SELLA ANDRIANI OENTUNG - 41412029
STEFANI NATALIA HENDRATHA - 26412007
YVONNE NATHANIA - 26412121
FABIOLA ROSALIA SANTOSO - 51411014
JEFFREY HARTO MUNTJANG DISURJA - 26412038
LEONARD FRANS ARDIANTO - 21412115
KEVIN CHEVALIA DARMADJI - 25412010
YENNY SETIAWAN - 37412044
CHRISTIN ANA WIJAYA - 42410136

APFIA PRISKILA - 25412062
EVELIN LARISA SANDY - 21412053
YOSUA LEWI - 24412026
DAVID THEODORE ANGGONO - 34412011
ANASTASIA IRAWATI PURWANTO - 42412008
MICHAEL STEVEN MAGALINE - 26412064
ASTRID VIVI PICAL - 21412178
BENEDICTA BEATA NATTAYA - 51412078
FENNY VABIOLA PRASETYA - 34412071
MICHAEL RICHARDO HARTONO - 34412067
DESY SASTRAHO - 41412122
FREDRICK WAHYU CHRISTIANTO - 21412083
ADELIA MARCELINA SURIANI - 41412099
LAVENIA - 32412209
HENDRY NUGROHO ANGGONO - 3514031
RINALDI WIJAYA THE - 21411018
KEVIN CLEMENT TJAHJADI - 34412014
VALENT KO - 33412022
ALEXANDER RICHARD - 21412022
STEFANI - 42412041
CLARISSA SUWIJONO - 42412010
JEMMY KRISTIANTO - 21410021
ANTHONY WASISTO - 25410036
ARDIAN KURNIAWAN - 32412041
WILLY SANTOSO - 26412058
DELLA EMILY SANTOSO - 35411021
KESSI HOFANY - 26412169
EVELINE HARSONO - 32412138
MARCELLINA HARIYANTO - 32412032
MADELINE KARTIKA TEDJA - 41412014
JESSICA BELINDA KAYA - 51412124
ARIF PRIYATA SETIAWAN - 26412141
STEPHANNY NATALIA CHANDRA - 35412012
WIDYANINGSIH GUNAWAN WIDJAJA - 22411036
YELIANA - 22412047
KURNIAWAN - 21412158


Kemudian, berikut adalah nama pemenang undian Voucher Rp 100.000 :
AMANDA LUCRECIA SIGIT SIDHARTA - 42412025
MARISCA NATHASIA VLEORINE KAILOLA - 32411129
KRISTINA HALIM - 25412029
ELIZABETH CHANING - 22411009

BERNARD THREDY WILLIAM WIJAYA - 21412033
FENDI PRAMONO - 25412023
RUDI HARTANTO - 11411044
ADRIAN HARTANTO KURNIAWAN - 21411001
NOVIA ANASTASTYA - 42412078
FELINA LIMANTORO - 51411064
LYDIA CHRISTIANTI - 33412135
STEFANIA SUPANGAT - 11412006
HARTMANN HARDYANTO NGONO - 3515017
NOVIA ANDRIANI WIJAYA - 41412085
DEFTA JAYESENA VALRISANO - 26412075
MICHELLE GLORIA PUDJIANTO - 33412083
YUVITO SANDYTIA RATAG - 33411160
DEVINA FLORENTINA - 33412029
YOHANES ADITYA SUHENDAR - 22412044
SELLY METTA UTOMO - 22412029
RYAN LENGKONG - 25411005
IRENE FELITA - 31412039
HENGKY SUTANDRIO - 37410002
WAHYU CIPTARANI PRANOTO - 22412089
JESSICA VALENCIA - 31412045
ELIA STESIANA KODIAT - 33412060
FRANSISCA XAVERIA VANIA CHRISTINE SETIADIE - 32412004
PUTRI
MONICA RUDY TULUS 37412074
LEONITA THEODORE - 22412068
ERIC WIBISONO WARDAYA - 32411153
JIMMY EFFENDY SUKAMTO - 22412054
CHRISTIAN BUDI SANTOSO - 24411014
PATRICIA ANTONIA SETIADJI - 33412079
MELVIN VALENTINO RUMPUIN - 31409289
TABITHA EUODIA SUSANTO - 51411001
JESSICA OLGA VERBY SOESANTO - 31412023
SIENY LAUW - 32412144
DIANDRA SHAVIRA HARSONO - 51412033
CHRISTIAN ADIE VERNATHA - 21412122
DAVID LAURENTIUS - 37411055
IWAN SOETANTO - 31411293
KEVIN YANWAR - 26412084
LISA MARITSEDA PRAKARSA - 32412097
MARGARETHA LINDA SAMANTHA - 51412085
WILLIAM ONNYXIFORUS PURNOMO - 26412042
STEFANI HARDJOSINGGIH - 22412025
JEMMY WIJAYA SHALIM - 34412040

OLIVIA THEODORE - 35411031
SELVIE OCTAVIA. L - 22412070
TIFFANY NOVITA SETJOADI - 33412038

Pusat Karir akan menghubungi para pemenang untuk menanyakan alamat pengiriman souvenir dan segera mengirimkan souvenir kepada yang bersangkutan.


Selamat untuk para pemenang undian, dan terimakasih atas partisipasinya dalam Tracer Study 2018.

Antonius Widjaya: Fotografer Arsitektur yang Masih Mencari Kesempurnaan

Antonius Widjaya mungkin nama yang masih terdengar asing di telinga kita namun terkenal di kalangan Architecture Photographer di Surabaya. Lulus menyandang gelar S. Ds. dari Universitas Kristen Petra pada 2006, ia langsung membuka konsultan desain interior bersama dengan beberapa teman. Seiring waktu berjalan, mereka menyadari bahwa konsultan desain yang mereka dirikan bukanlah jalan terbaik, melihat kurangnya pengalaman bekerja yang mereka miliki sebagai fresh graduate.

Pria asal Surabaya ini kemudian memfokuskan diri dalam dunia 3D rendering yang telah dikuasainya sejak lama. 3D rendering sendiri merupakan proses menghasilkan gambar berdasar gambar 3 dimensi yang mirip dengan fotografi atau sinematografi. Karirnya berjalan cukup baik dengan klien dari luar negeri yang merupakan pelanggannya saat masih bekerja sebagai konsultan. Namun, ia menyadari bahwa tidak dapat terus berada di zona nyaman dan bergantung hanya pada klien yang sama. Mendapat inspirasi saat mengerjakan 3D rendering dan berbekal hobi fotografi dan ilmu interior yang dimilikinya, pria kelahiran 21 Januari 1984 ini kemudian memberanikan diri masuk ke dalam dunia fotografi sebagai architecture and interior photographer pada 2014.

Berjuang dengan sangat keras, Antonius mulai membeli tutorial online dan bahkan rela memfotokan teman dengan harga hampir gratis di awal karirnya. Bukan usaha yang sia-sia, ia sekarang menjadi salah satu architecture photographer yang dicari. Beberapa klien yang telah memakai jasanya antara lain, PT Sinar Galaxy dan Indonesia Design Magazine. Berbicara mengenai apakah bakat fotografi menjadi salah satu kunci kesuksesannya, mantan ketua Persekutuan Program Studi ini menjawab, “Bagi saya, bakat itu tidak ada; yang ada itu passion. (Saya) menghabiskan banyak waktu di bidang tersebut sampai menjadi bakat. Passion pasti membuka banyak jalan,” tegasnya.

Ketika diitanya mengenai suka duka dalam bidang pekerjaannya, pemilik studio Arch-viz ini mengatakan bahwa pekerjaan ini tidak seperti bekerja karena merupakan hobinya. Di sisi lain, pekerjaan ini juga merupakan bidang pekerjaan baru sehingga belum banyak saingan. Meski demikian, terdapat pula tantangan-tantangan yang berat seperti harus membangun brand sendiri dan banyak orang awam yang kurang paham mengenai dunia architecture photography. “Banyak orang Surabaya yang sulit menerima hal baru. Mereka berpikir kenapa foto arsitektur dan interior harus pakai jasa orang. Difoto sendiri kan bisa,” jelasnya.

Memperluas koneksi melalui teman dan kenalan dari bidang interior merupakan salah satu cara yang ditempuh oleh mantan ketua hima ini. Salah satunya didapat dari melakukan barter dengan temannya, yaitu ia memfotokan dengan cuma-cuma dan hasil fotonya dapat digunakannya untuk promosi. Di sisi lain, memperkuat branding dengan membuat portofolio dan melakukan seminar juga dilakukannya. Salah satu seminarnya adalah seminar workshop fotografi arsitektur yang bekerjasama dengan Vasa Hotel dan Sony.

 Suka duka dan tantangan-tantangan telah dilaluinya dengan berbagai cara hingga sukses. Namun, meskipun telah sukses di usianya yang masih muda, tidak ada sedikitpun rasa sombong dan puas diri. “Selalu rendah hati dan mau belajar, karena saya percaya dalam mencari kesempurnaan merupakan sesuatu yang never ending (tak pernah berakhir –red),” tutupnya saat ditanya mengenai moto hidup.

 

Ditulis oleh :

Maria Cornelia Susanto (22416053)

Maria Olivia Budiman : Penukar Budaya Indonesia dan Korea Selatan

Siapa yang tidak menggemari budaya pop Korea Selatan saat ini? Dari film drama, musik Kpop, dan makanan sudah menjadi hal yang sangat digemari oleh masyarakat Indonesia dari berbagai kalangan. Dapat dipastikan dari semua penggemar Kpop ingin bertemu dengan idolanya. Tetapi sedikit yang membayangkan untuk bisa menjadi seorang idola itu sendiri. Lalu bagaimana jika kita benar-benar bisa menjadi idola?

Belajar kebudayaan lain merupakan hal yang disukai Maria Olivia Budiman, atau yang akrab disapa Maria, alumni Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) UK Petra tahun 2007. Ia pernah menjadi leader salah satu girlband Korea pada tahun 2013 yang bernama Sensation of Stage (S.O.S). Wanita asal Surabaya ini dikenal dengan nama Mary ketika menjadi leader di girlband tersebut.

Awalnya, menjadi seorang idola bukanlah karir yang terpikirkan oleh Maria. Perjalanan karirnya dimulai saat Maria bekerja pada sebuah Advertising Agency di Jakarta. Setelah lima bulan bekerja, seorang teman mengajaknya untuk mengikuti audisi idola K-Pop yang diadakan oleh salah satu stasiun TV ternama. Berkat bujukan temannya, Maria mendaftarkan dirinya untuk mengikuti audisi. “Kesempatan tidak datang dua kali, makanya harus digunakan sebaik mungkin,” terangnya. Maria lolos hingga seleksi di Jakarta dan terpilih menjadi bagian dalam 12 finalis acara tersebut.

Kesempatan tersebut benar-benar tidak disia-siakan oleh Maria. Kesukaannya untuk belajar budaya lain membuatnya menandatangani kontrak dengan pihak penyelenggara acara. Maria lantas mendapatkan banyak pengalaman dan wawasan dari perjalanannya di Korea. Setelah mendapatkan pelatihan selama enam bulan, para finalis yang berangkat ke Korea pun dibuatkan girlgroup dan album sesuai dengan kesepakatan awal. Akhirnya pada 2013, S.O.S memulai debutnya dengan status sebagai bintang internasional dibawah Sony Music South Korea.

Tidak hanya menjadi personil sebuah girlband, Maria juga terpilih menjadi Korean Tourism Ambassador perwakilan Indonesia menggantikan Sandra Dewi. Tugas utamanya saat itu adalah memperkenalkan budaya Indonesia sebagai bentuk pertukaran budaya Indonesia dengan budaya Korea. “Dari beberapa hal yang saya jalani di Korea, banyak budaya yang saya pelajari seperti contohnya kedisiplinan, persepsi tentang waktu dan stereotip yang ada tentang masyarakat Korea,” tukasnya. Maria mengaku juga senang bisa belajar budaya dengan masyarakat Korea secara langsung dan dapat membagikannya kepada masyarakat Indonesia.

Hingga pada 2015, Maria memutuskan untuk keluar dari S.O.S karena mulai merasakan ketidakpastian pada masa depannya. Meskipun sudah keluar dari S.O.S, Maria tetap melanjutkan tugasnya sebagai Korean Tourism Ambassador hingga 2016. Setelah Maria melanjutkan karirnya sebagai Social Media Manajer di IDN Media selama dua tahun, ia sekarang merupakan Project Manajer di IDN Media.

Dari berbagai pengalaman jatuh bangun yang ia jalani, Maria menyadari satu hal. Ia mengutip dari Steve Jobs “Connecting the dots”, yang berarti hidup kita adalah titik-titik hitam yang perlu disambung menjadi sebuah gambar besar. Mantan wakil ketua BEM UK Petra periode 2010/2011 ini pun berpesan kepada teman-teman mahasiswa UK Petra untuk meyakini bahwa Tuhan pasti sudah menyiapkan rencana yang baik untuk kita semua.

 

Ditulis oleh :

Hans Christian (51415007)