Visiting Day C2O Library & Collabtive

Berawal dari melihat postingan seorang teman di line, saya mengetahui jika Pusat Karir UK Petra mengadakan acara ‘Petra Goes To C2O Library & Collabtive’. Keingintahuan saya tentang perpustakaan ini semakin tinggi setelah salah satu dosen menceritakan tentang perpustakaan ini. Karena tertarik, saya segera mendaftarkan diri menjadi salah satu peserta. Bermodalkan browsingdi internet saya mendapatkan sedikit gambaran tentang C2O Library, karena saat awal mendengar istilah C2O saya merasa sedikit asing dan tidak menyangka bahwa perpustakaan ini sudah ada di Surabaya.

Jumat, 27 Mei 2016 saya beserta peserta lain sudah siap di selasar gedung P1 untuk berangkat bersama-sama ke C2O Library. Sesampainya disana, kami disambut hangat oleh Kak Yuli dari pihak C2O Library. Kami berkumpul di salah satu tempat seperti aula untuk mendengarkan penjelasan dansharing mengenai perpustakan tersebut. Banyak hal baru yang saya dapatkan dari cerita-cerita Kak Yuli. Berawal dari founder yang merelakan koleksi buku dan tempat tinggalnya untuk dinikmati oleh masyarakat umum, perpustakan ini didirikan. Seiring berjalannya waktu, perpustakan ini semakin dikenal dan dapat menyewa sebuah rumah yang lebih besar. Disana terdapat koleksi buku, jurnal baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris yang terfokus mengenai kebudayaan Indonesia, sejarah, seni dan sastra. Tak hanya menyediakan koleksi buku saja, perpustakaan ini juga menyediakan kegiatan-kegiatan yang menarik. Seperti pelatihan tentang seni, menilik sejarah yang ada di Surabaya, diskusi mengenai buku, musik, melakukan penelitian dan masih banyak lagi.

Setelah kami mendengar dan menanyakan berbagai seluk beluk dari C2O Library, kami diajak untuk berkeliling. Selain tempat untuk membaca buku, disana terdapat ruang meeting untuk disewakan. Suasana di perpustakaan ini sangat nyaman, terutama di lantai atas. Di perpustakaan ini juga menjual produk-produk titipan dari masyarakat umum, baik berupa buku, jurnal, kaos, makanan, maupun yang lainnya.

Saat siang menjelang kami pun kembali ke kampus. Menurut saya, kunjungan ini sangat menyenangkan. Selain saya menemukan tempat yang baru di Surabaya, saya juga mendapatkan banyak pengetahuan. Dari kunjungan ini saya menyadari bahwa hal kecil jika dimanfaatkan dengan sangat baik maka hasilnya menjadi luar biasa. Saya salut dengan pendiri C2O Library, mereka dengan ‘nekat’ mendirikan perpustakaan ini dengan bermodal buku yang dimiliki dan pendanaan yang berasal dari swadaya. Namun, mereka tetap semangat mengajak masyarakat untuk berkonstribusi dalam kegiatan mereka. Mereka memberikan kesempatan bagi kita yang memiliki hobi menulis, mendesain, fotografi untuk menyalurkan hobi kita. Dari C2O Library ini, banyak masyarakat terutama anak muda yang mengetahui jejak sejarah di Indonesia, serta dari kegiatannya dapat sekaligus membuka wisata baru bagi orang-orang yang berminat mengetahui sejarah, khususnya sejarah di Surabaya. Dari C2O Library juga saya belajar bahwa dalam membangun usaha tidak hanya memikirkan keuntungan semata, namun dengan usaha yang kita bangun seharusnya juga membangun masyarakat sekitar.

 

Ditulis oleh:
Wahyuning Dyah Puspitasari
21414195

ARTIKEL LAIN

My Business, My Contribution to the Nation

Kalau Petra Career Camp (PCC) tahun 2015 yang lalu mengusung tema “Many Dreams, One Team”, tahun 2017 ini Camp tersebut membawa tema yang berbeda yaitu “Your Business, Your Contribution to the Nation” dan akan banyak membahas hal mengenai sociopreneurship. Kali ini, PCC bahkan bekerja sama dengan Pusat Karir Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS). Ketertarikan saya dengan Career Camp ini sangatlah besar, walaupun saya masih belum mengetahui temanya, karena isu tempat pelaksanaannya sudah menarik perhatian saya, yaitu Bandung!

Briefing peserta dan pembagian kelompok adalah salah satu hal yang paling ditunggu-tunggu. Yang paling menyenangkan dari hal ini adalah karena panitia membagi kelompok secara acak sehingga bisa membuat peserta Career Camp dari UK Petra dan UKWMS bisa saling mengenal lebih dekat. Nama-nama kelompok yang digunakan pada acara ini disesuaikan dengan nama lembaga-lembaga sociopreneur yang akan dikunjungi. Kelompoknya dibagi menjadi 5 yang terdiri dari traditional games, drugs addiction, environmental issue, city heritage 1 dan 2. Kakak-kakak observer di acara PCC juga bisa mencairkan suasana “malu-malu” yang pastinya terjadi di setiap kelompok ketika pertama kali berkenalan. Rasanya sudah tidak sabar lagi untuk langsung berangkat ke Bandung dan belajar banyak hal mengenai sociopreneurship.

Time flies so fast, setelah menempuh perjalanan panjang selama kurang lebih 13 jam ke Bandung dengan Kereta Api, setibanya di kota ini, serangkaian acara sudah menanti. Sesi yang pertama yaitu “On Being Sociopreneur”, dibawakan oleh ibu Veronica Colondam sebagai Founder and CEO dari Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB). Beliau berbagi kisah tentang awal mulanya beliau menggeluti dunia social sekaligus entepreneurship ini, dikatakan social karena munculnya beberapa unit koperasi untuk membantu anak-anak putus sekolah. YCAB merupakan model bisnis yang berkelanjutan yang mampu menjangkau lebih dari tiga juta anak muda. Hal ini dicapai melalui pemberdayaan dalam bidang pendidikan dan ekonomi untuk anak kurang mampu dan keluarganya. Selain cantik, beliau juga sangat pintar bisa dilihat dari beberapa gelar yang beliau miliki di belakang namanya.

Setelah sesi 1 selesai peserta mendapat pengarahan tentang tantangan selama beberapa hari ke depan. Sebenarnya tantangan ini gampang-gampang susah bagi peserta yang baru pertama kali ikut, karena tantangan terbesarnya adalah mengatur keuangan kelompok. Jadi setiap kelompok diberikan sejumlah uang, lalu kelompok tersebut berhak untuk mengelola uang tersebut untuk kegiatan bersama selama di Bandung. Kelompok saya memutuskan untuk melakukan penghematan selama awal-awal perjalanan dengan makan makanan yang murah-murah, menaiki kendaraan dengan nominal yang semurah-murahnya. Di hari pertama, kelompok saya melakukan penghematan dengan menempuh jarak yang kira-kira 8 kilometer dengan jumlah 8 peserta, 1 observer dan 1 panitia yang mendokumentasikan semua aktifitas kami dengan menaiki hanya 1 mobil. Terbayang kan bagaimana jauhnya perjalanan yang ditempuh belum lagi dengan jalanan yang berkelok-kelok? Perjalanan pertama kami yaitu ke Komunitas Hong yang letaknya di daerah Dago Pakar.

Di Komunitas Hong, kami bertemu dengan founder-nya yaitu Kang Zaini Alif yang juga dijuluki Bapak Permainan Tradisional Indonesia. Di sini, kami disambut dengan musik khas Sunda dan suasana sejuk menyegarkan. Ternyata, masing-masing permainan tradisional Indonesia itu bermakna lho. Hompimpa, misalnya. Siapa yang tahu makna dibalik permainan sederhana ini adalah: Dari Tuhan Kembali ke Tuhan? Keren ya? Pantas saja Kang Zaini bilang yang seperti ini nih yang harus dilestarikan untuk generasi-generasi berikutnya

Setelah dari Komunitas Hong lanjutlah perjalanan yaitu ke Rumah Cemara. Rumah Cemara ini bukan hanya tempat bagi para pecandu narkoba tapi juga mereka yang pernah terlibat narkoba meski belum menjadi pecandu dan ingin dipulihkan. Disini mereka diberi kesempatan untuk mengembangkan bakat terpendam yang mereka punya, khususnya di bidang olahraga seperti tinju, sepakbola, dan masih banyak yang lainnya. Tim sepakbola dari Rumah Cemara ini bahkan pernah pergi ke luar negeri untuk bertanding dan menang lho!

Malam harinya sekembalinya dari Rumah Cemara, kami melanjutkan sesi bersama kak Tian yang merupakan Chief Environmental Officer of Greeneration Foundation. Greeneration Foundation yang merupakan bagian dari Greeneration Indonesia ini bergerak di bidang lingkungan yang mengkampanyekan pengurangan penggunaan kantong plastik dan diganti dengan tas ramah lingkungan. Selain itu, bisnis mereka juga berkecimpung pada pengelolaan limbah dan sampah. Sangat menginspirasi sekali ya?

Hari kedua adalah kunjungan ke Bandung Creative City Forum atau yang biasa dikenal dengan BCCF. BCCF ini merupakan forum komunitas-komunitas kreatif untuk mengembangkan identitas kota Bandung sehingga menjadi kota kreatif. BCCF bertujuan untuk menghasilkan hal-hal yang signifikan dan meninggalkan jejak sosial yang menjadi ruang model masyarakat bandung. Beberapa program utama mereka seperti Helar Fest, kampung kreatif dan design activity melibatkan anak-anak muda Bandung dan warga-warga kampung.

Di BCCF, kami berkenalan dengan Bu Tita Larasati, General Secretary of BCCF yang juga mengajar sebagai dosen di Institut Teknologi Bandung (ITB). Dalam sesinya, Bu Tita menjelaskan apa yang menjadi kebutuhan masyarakat dan masalah apa saja yang sedang dihadapi masyarakat terkait dengan pengembangan kota Bandung. Bagaimana menyediakan tempat sampah yang bagus setelah melalui proses diskusi dengan warga sekitar supaya menjaga kebersihan dan kerapian lingkungan mereka masing-masing.

Selain Ibu Tita Larasati, kami dapat banyak ilmu yang dikembangkan oleh Kang Fiki Satari, Chief of BCCF yang juga Founder of Airplane System Clothing dan dosen di Universitas Padjadjaran untuk mengembangkan kota Bandung menjadi lebih baik dan lebih indah lagi. Di BCCF ini, Kang Fiki menggantikan posisi Ridwan Kamil (walikota Bandung sekarang -Red) yang juga merupakan salah satu pendirinya. Mengutip dari perkataan Kang Fiki “Kunci utama dalam bisnis adalah kreativitas”, demikian juga bisnis sosial yang melibatkan masyarakat sekitar. Beliau juga mengatakan bahwa untuk menjaga kreativitas supaya tidak mati, perlu selalu membuka pintu kolaborasi dengan masyarakat. Maka jika ingin maju, kami harus mencari relasi sebanyak-banyaknya dan berjejaring. Yang tak kalah serunya waktu di BCCF, kita diberi tugas untuk bikin video seputar BCCF dan harus di-share di media sosial kami untuk dinilai oleh panitia.

Setelah kami berkegiatan di BCCF, kami berkunjung ke Kedai Preanger yang merupakan tempat untuk menikmati kopi dan teh dari berbagai penjuru nusantara. Disini juga lah komunitas Aleut biasa nongkrong. Komunitas Aleut adalah komunitas yang peduli terhadap tempat-tempat dan benda-benda bersejarah di Bandung dan sekitarnya. Kang Ridwan Hutagalung selaku pemilik dari Kedai Preanger dan juga pengurus komunitas Aleut berbagi pengalaman dengan kami. Selain memperkenalkan kopi dan teh nusantara yang memiliki cita rasa yang berbeda dari setiap daerah tempat kopi dan teh tersebut berasal, Kang Ridwan juga menyisihkan pendapatannya untuk membiayai kegiatan-kegiatan komunitas Aleut. Salah satu kegiatan yang sering diadakan adalah kelas literasi, dimana kegiatan ini merupakan wadah diskusi dalam banyak hal seperti pembahasan film-film yang terkait dengan sejarah bangsa kita, sejarah perkebunan teh, dll.

Pada hari ketiga di Bandung peserta Career Camp hanya mendengarkan sesi di hotel. Sesi pertama kami dapat dari Bapak Murpin Josua yang banyak berbagi tentang Financial Planning - dimana dalam menjalankan bisnis, dalam hal ini bisnis sosial, kami harus sangat memperhatikan hal tersebut supaya tidak terjadi kekeliruan dalam penyajian laporan keuangan yang berdampak dengan keberlanjutan bisnis yang dijalankan.

Sesi dari Pak Murpin dilanjutkan dengan sesi dari Brilliant Yotenega yang merupakan CEO & Co-Founder of Zeta Media Network. Beliau berkisah bagaimana beliau bisa jadi seperti sekarang tidak luput dari dukungan kawan-kawannya. Oleh karena itu, kami lagi-lagi diingatkan bahwa berjejaring dan menjalin relasi yang baik dengan kenalan-kenalan dan kawan-kawan itu sangat penting untuk menghindari kesan ‘hanya baik jika butuh’.

Dari awal, kami sudah diberitahu oleh panitia bahwa setiap kelompok akan membuat project untuk lembaga-lembaga dan komunitas yang dikunjungi. Setiap malam masing-masing kelompok diberi kesempatan untuk berkumpul dengan observer-nya untuk membahas project akhir apa yang akan dilakukan terhadap masing-masing lembaga yang memilik masalahnya sendiri. Keceriaan tidak bisa dipisahkan dari setiap individu dalam setiap kelompok. Walaupun baru pertama kali mengenal namun setiap kelompok selalu memiliki keceraian dan candaannya masing-masing ditiap sela diskusi dalam kelompok.

Melalui diskusi kelompok, setiap kelompok berusaha untuk memecahkan masalah/ tantangan setiap komunitas sehingga bisa membuat solusi project terbaik demi kemajuan komunitasnya. Pada hari terakhir setiap kelompok kembali menuju komunitas mereka masing-masing dan mempresentasikan hasil dari diskusi kelompok. Usulan, ide, dan teknis-teknis telah dibahas dengan matang oleh tiap kelompok sehingga setiap komunitas mendapatkan berbagai macam masukan. Presentasi ini juga dinilai oleh setiap komunitas sehingga panitia bisa mendapatkan kelompok dengan hasil ide yang terbaik. Kelompok City Heritage 2 akhirnya keluar sebagai pemenang dalam acara Career Camp.

Sampailah kami dihari terakhir, dimana kegiatan ini ditutup oleh closing ceremony, sebuah model penutupan yang unik dan keren buat kami peserta Career Camp. Waktu itu kami sempat bingung dengan adanya gelas sejumlah peserta Career Camp beserta air minum untuk dituangkan yang tertata di depan ruang pertemuan. Waktu itu kak Jessie menjelaskan makna closing ceremony tersebut, dimana ketika kami sama-sama berangkat dari Surabaya untuk kegiatan ini diibaratkan sebuah gelas kosong, dimana pengetahuan kami masih dangkal dengan apa itu Sociopreneur. Lalu air minum yang akan dituangkan ke dalam gelas merupakan ilmu beserta pengalaman-pengalaman berharga yang kami dapat selama berproses di Bandung. Oia, kami semua diminta agar menuangkan air minum ke dalam gelas yang tersedia dengan takaran yang sama loh tapi tidak boleh sampai penuh. Hal ini dimaksudkan bahwa kita sudah mendapatkan ilmu dan pengalaman selama di Bandung sebagai bekal untuk terjun langsung ke dalam bisnis Sociopreneur, oleh sebab itu air tidak diisi penuh. Tugas kita sebagai Sociopreneur mudahlah yang membuat gelas tersebut penuh, dengan terjun langsung membangun bisnis-bisnis sosial dengan memberdayakan masyarakat sekitar kita. Secara umum kegiatan Career Camp  membuat kami sadar, bahwa ketika kita semua membuat bisnis, buatlah bisnis yang memberdayakan masyarakat, bangunlah Indonesia menjadi lebih baik.

 

By : Yessy Elfira (32414059)

One in a Million

            Terdapat banyak pengalaman yang dapat kita peroleh dari waktu ke waktu. Namun, beberapa pengalaman yang unik dan menarik, mungkin hanya akan dijumpai sekali seumur hidup. Salah satu pengalaman yang unik ini adalah saat saya mengikuti Creative Writing. Berawal dari rasa penasaran saya terhadap menulis dan dorongan dari teman saya untuk memperdalam keahlian menulis, saya pun mengikuti kegiatan ini. Tak disangka, kegiatan ini memberikan saya banyak inspirasi dan motivasi untuk lebih menjiwai menulis. Untuk mengetahui bahwa menulis bukan hanya merangkai huruf, namun lebih dari itu, menulis berarti menjiwai setiap kata dan memadu-madankannya sehingga menjadi sebuah kalimat yang utuh.

            Bersama dengan Ang Tek Khun, saya dan para peserta Creative Writing diajak menyusuri genre tulisan, setting, hingga karakter yang ada dalam sebuah tulisan. Tak lupa, plot yang membuat semuanya bergabung dan berjalan beriringan juga dijelaskan secara detail oleh beliau. “Ide itu tidak terlalu penting, eksekusinyalah yang penting,” sebut Ang Tek Khun. Memang patut disadari, bahwa beberapa orang memiliki ide fantastis, namun ketika dihadapkan pada realisasi, merekatidak dapat menghadapinya. Beberapa penggambaran yang dinyatakan oleh Ang Tek Khun cukup membuat kami berpikir kembali dan akhirnya mengangguk-angguk menyetujuinya. Beliau mengatakan, apabila Tukul Arwana dan Adam Levine dimasukkan dalam mesin X-Ray, maka yang terlihat hanyalah tulang-tulangnya saja dan mereka hampir tidak dapat dibedakan. Berbeda dengan melihat mereka tanpa mesin X-Ray, mereka akan terlihat dengan dagingnya, dan amatlah mudah membedakan mereka. Sama seperti tulisan, pembaca tidak butuh ‘tulang’ (ide, red) yang luar biasa, tapi yang dilihat adalah ‘daging’-nya (kata-kata, red). Itulah penggambaran yang disebutkan beliau dalam sesinya.

            Selain Ang Tek Khun, kegiatan ini juga mengundang seorang pembicara yang tak kalah hebatnya, dia adalah Brilliant Yotenaga,founder dari nulisbuku.com. Brilliant boleh dibilang sangat berpengalaman masalah online self publishing berikut tempat untuk self publishing itu sendiri. Mendengar beliau bercerita, membuat saya sadar, bahwa ketika jaman beralih ke era modern, ada banyak hal yang dapat dikembangkan, begitu pula dalam bidang menulis.

            Menulis bukan lagi hanya sekedar di atas kertas, namun menulis dapat dilakukan di media online juga. Banyak sekali hal yang lebih dipermudah dengan adanya media online ini. Ketika menulis sudah tidak berbatas pada media, terkadang kita sendirilah yang membatasinya. Oleh karena itu, menulis butuh passion dan kemauan yang kuat. Alasan Brilliant mulai menulis adalah agar tulisannya bisa diwariskan ke anak-cucunya. Supaya apa yang telah kita tulis, entah tentang masalah atau kesusahan, dapat menjadi saran untuk anak-cucu kita. Demikianlah sesi Creative Writing ditutup.

            Tak berakhir disana, saya dan para peserta diminta untuk membuat draft tentang tulisan yang ingin kami buat. Dari draft tersebut, sepuluh karya terbaik akan dipilih oleh para juri dan diterbitkan menjadi sebuah buku. Benar-benar kesempatan emas yang tidak boleh dilewatkan. Pengumuman kesepuluh pemenang mejadi puncak acara sekaligus akhir Creative Writing. Semoga menulis menjadi semangat dan kekuatan bagi orang-orang yang mendedikasikan diri padanya.

 

Ditulis: Felicia Yanto (25414015)

 

           

Creativity for MEA

Masyarakat Ekonomi ASEAN yang akrab disebut MEA adalah salah satu gerakan baru dalam sektor ekonomi yang mengintegrasikan negara-negara di Asia Tenggara dengan cara membentuk sistem perdagangan bebas atau free trade. Free trade yang kita bicarakan ini bukan sembarang pasar bebas, namun berupa pengurangan hambatan besar-besaran untuk lintas investasi dan perdagangan antar negara ASEAN. Beberapa perubahan yang diprediksi antara lain arus bebas tenaga kerja terampil, pariwisata, logistik, bahkan tenaga kesehatan. MEA akan menyulap kawasan ASEAN seakan menjadi suatu negara amat besar di mana penduduknya dapat pergi ke manapun tanpa halangan berarti. Bahkan perusahaan-perusahaan dapat dengan mudah membangun pabriknya di negara lain. Bayangkan, dengan adanya MEA ini anda bahkan tidak perlu passport atau segala jenis surat birokrasi lain untuk bisa bekerja di negara ASEAN seperti Malaysia atau Singapura. Sebaliknya, perusahaan-perusahaan besar di negara lain seperti pertanian Singapura bisa membuka lahannya dengan mudah di tanah Jawa. Seperti itulah gambaran MEA ke depannya

Nah, sebenarnya, mengapa MEA ini akhirnya harus dibentuk? Ada beberapa target atau tujuan utama dibentuknya MEA bagi para anggota negara ASEAN sendiri. Yang terutama adalah membentuk stabilitas ekonomi antar negara ASEAN dapat mengatasi kesenjangan pembangunan di berbagai daerah tertinggal seperti di kawasan Laos, Kamboja, dan Myanmar. Cara yang ditempuh oleh MEA tentunya dengan degradasi hambatan dalam sektor ekonomi yang memungkinkan perputaran ekonomi berlangsung secepat-cepatnya sehingga diharapkan stabilitas ekonomi dapat merambah ke daerah berkembang.

Bagaimana kebebasan perdagangan ini dapat membantu ekonomi di suatu negara bertumbuh pesat dan signifikan? Misalkan saja ada sebuah industri lokal batik tulis di Solo biasanya mendapatkan orderan sebanyak 100 lembar baju per bulan dari seluruh pasar di Indonesia. Dengan keadaan demikian, industri kecil tersebut sudah mampu mempekerjakan 10 orang per bulan dengan gaji cukup. Nah, bayangkan jika pasar bagi industri lokal tersebut terbuka bebas bagi orang Malaysia, Filipina, Vietnam dan lain-lain. Permintaan yang diterima industri tersebut bisa naik hingga 3x lipat! Tentunya dengan permintaan yang naik 3x lipat, dibutuhkan pekerja lebih dari 10 orang, mungkin bisa 30 orang. Bayangkan! Bukan sekedar profit perusahaan saja yang bertambah, namun jumlah pekerja akan bertambah. Dengan demikian jumlah angka pengangguran akan semakin berkurang. Berkurangnya angka pengangguran tentunya ekuivalen dengan peningkatan kesejahteraan penduduk. Bayangkan jika hal tersebut diimplementasikan pada banyak perusahaan! Perubahan yang terjadi akan semakin drastis. Angka pengangguran semakin tertolong, dan pegawai lainnya pun sangat mungkin menerima kenaikan gaji hingga di atas batas UMR. Inilah yang diincar program MEA.

Negara Indonesia, selaku salah satu founder ASEAN, adalah bagian besar dari free trade MEA ini. Tentu saja output yang kita harapkan dengan tereksposnya negara kita dengan MEA adalah output yang positif bagi negara kita. Kalau bisa, pertumbuhan stabilitas ekonomi yang sepesat mungkin. Kalau bisa, daerah-daerah di Indonesia yang belum terlalu berkembangpun dapat merasakan dampaknya dan ikut berkembang juga. Namun yang menjadi pertanyaan besar adalah : sudah siapkah Indonesia mengahadapi MEA? Apakah pada akhirnya MEA ini akan membawa lebih banyak keuntungan daripada kerugian.

Menurut beberapa artikel dan berita, Indonesia sendiri masih terjangkit berbagai masalah yang berimbas pada ketidaksiapan menghadapi MEA. Beberapa masalah itu seperti rendahnya mutu pendidikan tenaga kerja manusia di Indonesia (berpendidikan SMP atau dibawahnya tercatat sebanyak 76,4 juta orang atau sekitar 64 persen dari total 118 juta pekerja di Indonesia). Juga kurangnya infrastruktur di Indonesia yang menyebabkan arus barang dan jasa terhambat. Lagi di bidang industri yang masih kekurangan pasokan energi atau bahan baku lain yang masih harus impor dan masih belum bisa menyaingi produk impor lain, seperti barang-barang murah dari Cina yang membanjiri pasar Indonesia sendiri.

Tentu berbagai masalah di atas tidak bisa dengan mudah diselesaikan. Kalaupun harus dituntaskan, tentu pihak yang bergerak adalah dari pemerintahan sendiri, di luar kapasitas kita selaku mahasiswa. Namun, sebagai mahasiswa yang dididik untuk berpikir kritis dan inovatif, tentunya masih ada banyak hal yang bisa kita perbuat dan persiapkan dalam menyikapi MEA ini, khususnya sebagai rakyat Indonesia dalam kondisi masalah sekarang.

Hal yang bisa mulai kita lirik adalah dunia industri kreatif. Mengapa industri kreatif adalah cara strategis untuk menjajaki persaingan MEA? Industri kreatif adalah industri yang berasal dari pemanfaatan kreativitas, keterampilan serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan dengan menghasilkan dan mengeksploitasi daya kreasi dan daya cipta individu tersebut. Industri kreatif bisa lahir dari segala aspek kehidupan dan tidak harus memerlukan banyak modal atau sumber daya untuk memulainya. Mengapa hal ini menguntungkan?

Mari kita analisa. Masalah yang membuat Indonesia seakan tidak siap menghadapi persaingan terbuka adalah kurangnya kualitas sumber daya manusia maupun kuantitas sumber daya lainnya seperti pasokan energi. Nah, dalam industri kreatif, kita sebenarnya tidak terikat dengan kebtuhan kualitas maupun kuantitas sumber daya. Kita bisa memakai hal-hal sederhana yang sebenarnya sudah ada di kehidupan sehari-hari lalu menyulapnya menjadi lahan bisnis.

Contohnya industri kreatif GO-JEK. Kita tahu cara kerja GO-JEK, perusahaan yang beregerak di bidang transportasi publik ini sama sekali tidak menyediakan kendaraan baru kan untuk memulai bisnisnya? Bahkan GO-JEK juga tidak perlu merekrut supir. GO-JEK hanya menyediakan platform berupa aplikasi yang memungkinkan pelanggan menghubungi sendiri ojek yang tersedia. Malahan ojek online yang disediakan GO-JEK ini jadi lebih efektif dan efisien daripada ojek konvensional. Karena melalui aplikasi GO-JEK yang bisa melakukan tracking lokasi, pelanggan bisa mendapatkan supir ojek terdekat sehingga waktu untuk menunggu kehadiran ojek bisa dipersingkat. Begitu pula hal ini menguntungkan supir karena menghemat bensin si supir kalau pelanggang yang dijemput tidak jauh dari lokasinya berada. Nah, yang dilakukan GO-JEK sebenarnya hanyalah menyediakan ide dan merealisasikannya. GO-JEK mempertemukan kebutuhan publik dengan ketersediaan yang ada dengan cara yang efektif, efisien, dan ekonomis. Itulah inti dari sebuah industri kreatif yang harus kita gali untuk mengatasi keterbatasan Indonesia mengahadapi MEA.

Mungkin untuk mulai membentuk sebuah company seperti GO-JEK masih terlalu dini untuk ukuran mahasiswa. Lalu sebagai mahasiswa, langkah realistis apa yang bisa kita ambil? Mari kita analisa. Dalam membentuk sebuah industri kreatif diperlukan kemampuan entrepreneurship yang tinggi. Untungnya, sebagai mahasiswa, kita memiliki kesempatan yang sangat luas untuk mengembangkan diri dalam bidang ini. Mengapa? Karena dalam universitas kita memiliki banyak kesempatan untuk belajar. Baik itu mengenai bisnis, ekonomi, teknik, maupun sosial. Terlebih lagi, kita memiliki kesempatan luas untuk berorganisasi atau tergabung dalam kepanitiaan. Dalam organisasi, kita belajar bekerja sama, berinteraksi dengan orang lain, dan merembuk ide untuk mewujudkan suatu kegiatan. Hal-hal mendasar yang amat diperlukan seorang entrepreneur. Khususnya yang akan memasuki ladang industri kreaitf.

Penting halnya bagi kita untuk mulai memaksimalkan diri dalam kegiatan seperti organisasi  dan kepanitiaan. Ketika memasuki kegiatan tersebut, kita dituntut untuk dapat berpikir kreatif, inovatif, dan bertindak cepat. Mengapa hal tersebut penting? Karena dalam membentuk usaha industri kreatif baru, kita akan memerlukan kepekaan tinggi dalam menemukan masalah dalam masyarakat. Begitu pula dengan solusi yang realistis. Ketika tergabung dalam panitia, kita akan terbiasa menghadapi masalah serta tantangan dan berusaha menyelesaikannya. Sehingga hal ini menjadi dasar memasuki dunia kerja nanti. Dalam kepanitiaan kita juga dituntut untuk bekerja sama dengan banyak orang yang memiliki karakteristik berbeda-beda. Kita dituntut untuk memahami perbedaan itu dan mencari celah agar tetap dapat optimal bekerja sama meski dengan kesenjangan sifat. Hal ini juga sangat penting bagi kita. Karena dalam ranah industri kreatif, kita harus bekerja sama dengan banyak jenis orang. Contohnya, orang yang ahli di bidangnya. Seperti GO-JEK company tadi. Satu orang yang berhasil menemukan ide tidak mungkin merealisasikan idenya sendiri. Ia akan dibantu oleh orang lain yang expert di bidangnya lalu membentuk tim. Mungkin dia harus bekerja sama dengan expert di bidang IT yang akan membuat aplikasi. Kemudian dia harus mengajak orang marketing untuk melakukan riset pasar. Kemudian dia harus lagi mencari orang design untuk memasarkan produknya. Bahkan dalam usahanya memfasilitasi calon GO-JEK driver, ia mungkin harus melobby perusahaan grosir jaket dan helm agar mau memberi harga murah. Di sini kemampuan sosial alias soft skill sangat diperlukan. Dalam menjalankan detail, kita perlu pengalaman yang banyak. Universitas atau kampus adalah lahan yang sangat baik untuk memulai. Karena sebagai mahasiswa yang belum berpengalaman, kita bisa ‘uji coba’ dengan mengikuti kegiatan dalam lingkup kampus di mana ketika kita melakukan kesalahan, masih ada mentor yang bsia membimbing. Daripada kita harus terjun dalam kehidupan nyata dengan tangan kosong.

Yang kedua, luaskan koneksi dan lingkar pertemanan kita. Hal ini sangat mungkin dilaukan di kampus mengingat banyaknya mahasiswa lain yang sebaya dengan kita. Jangan merasa gengsi untuk berkenalan. Dalam hal ini, mengikuti organisasi atau kepanitiaan sekali lagi bisa membantu karena kita dituntut untuk berkomunikasi dengan semua anggota.

Yang ketiga, penting bagi kita untuk membekali diri dengan beberapa teori bisnis dasar untuk mengurangi error ketika memulai usaha sendiri. kita bisa mulai mengikuti seminar industri kreatif ataupun bisnis yang diadakan di kampus. Biasanya seminar yang diadakan kampus tidak memungut biaya atau biayanya sangat murah. Ini kesempatan baik bagi mahasiswa, khususnya yang tidak mengambil fakultas ekonomi.

Yang keempat, kita bisa mulai mencoba bisnis kecil-kecilan yang tidak menyita banyak modal maupun waktu (karena tugas utama kita memang berkuliah). Usaha kecil itu bisa berupa online shop dengan metode dropship di mana kita hanya bertindak sebagai makelar untuk supplier kita sehingga kita tidak diribetkan lagi dengan stok barang dan pengiriman. Hal ini bisa menajamkan sense kita di bidang bisnis.

Yang kelima, mulai berintegritas dalam hal kejujuran dan kedisipilinan. Mungkin tidak nampak relevan dengan topik industri kreatif maupun MEA, namun sebenarnya penting untuk jangka panjang. Mengapa? Karena dibukanya MEA berarti kita akan bekerja dalam ranah internasional. Orang luar sangat menghargai kejujuran dan kedisiplinan. Orang Indonesia dikenal suka molor dan kadang kurang jujur dalam berbisnis. Jika kita tidak mematahkan stereotype ini, akan susah bagi Indonesia untuk melesat dalam kompetisi internasional.

Nah, di tengah berbagai tantangan (thread) yang dimunculkan MEA, tentunya ada banyak peluang (opportunity) yang bisa dikembangkan. Pilihan ada di tangan kita, apakah kita mau menjalankan strategi yang baik ataukah tidak. Sebagai mahasiswa, saatnya kita meningkatkan kualitas diri agar siap sedia menghadapi MEA.

 

Referensi

http://www.seputarukm.com/penjabaran-mengenai-mea-masyarakat-ekonomi-asean/

http://pengertian.website/pengertian-mea-dan-ciri-ciri-masyarakat-ekonomi-asean/

http://krjogja.com/liputan-khusus/analisis/2078/menyongsong-masyarakat-ekonomi-asean-2015.kr

 

https://id.wikipedia.org/wiki/Industri_kreatif

By: CLARENCE REBEKA( 21415078)