Visiting Day C2O Library & Collabtive

Berawal dari melihat postingan seorang teman di line, saya mengetahui jika Pusat Karir UK Petra mengadakan acara ‘Petra Goes To C2O Library & Collabtive’. Keingintahuan saya tentang perpustakaan ini semakin tinggi setelah salah satu dosen menceritakan tentang perpustakaan ini. Karena tertarik, saya segera mendaftarkan diri menjadi salah satu peserta. Bermodalkan browsingdi internet saya mendapatkan sedikit gambaran tentang C2O Library, karena saat awal mendengar istilah C2O saya merasa sedikit asing dan tidak menyangka bahwa perpustakaan ini sudah ada di Surabaya.

Jumat, 27 Mei 2016 saya beserta peserta lain sudah siap di selasar gedung P1 untuk berangkat bersama-sama ke C2O Library. Sesampainya disana, kami disambut hangat oleh Kak Yuli dari pihak C2O Library. Kami berkumpul di salah satu tempat seperti aula untuk mendengarkan penjelasan dansharing mengenai perpustakan tersebut. Banyak hal baru yang saya dapatkan dari cerita-cerita Kak Yuli. Berawal dari founder yang merelakan koleksi buku dan tempat tinggalnya untuk dinikmati oleh masyarakat umum, perpustakan ini didirikan. Seiring berjalannya waktu, perpustakan ini semakin dikenal dan dapat menyewa sebuah rumah yang lebih besar. Disana terdapat koleksi buku, jurnal baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris yang terfokus mengenai kebudayaan Indonesia, sejarah, seni dan sastra. Tak hanya menyediakan koleksi buku saja, perpustakaan ini juga menyediakan kegiatan-kegiatan yang menarik. Seperti pelatihan tentang seni, menilik sejarah yang ada di Surabaya, diskusi mengenai buku, musik, melakukan penelitian dan masih banyak lagi.

Setelah kami mendengar dan menanyakan berbagai seluk beluk dari C2O Library, kami diajak untuk berkeliling. Selain tempat untuk membaca buku, disana terdapat ruang meeting untuk disewakan. Suasana di perpustakaan ini sangat nyaman, terutama di lantai atas. Di perpustakaan ini juga menjual produk-produk titipan dari masyarakat umum, baik berupa buku, jurnal, kaos, makanan, maupun yang lainnya.

Saat siang menjelang kami pun kembali ke kampus. Menurut saya, kunjungan ini sangat menyenangkan. Selain saya menemukan tempat yang baru di Surabaya, saya juga mendapatkan banyak pengetahuan. Dari kunjungan ini saya menyadari bahwa hal kecil jika dimanfaatkan dengan sangat baik maka hasilnya menjadi luar biasa. Saya salut dengan pendiri C2O Library, mereka dengan ‘nekat’ mendirikan perpustakaan ini dengan bermodal buku yang dimiliki dan pendanaan yang berasal dari swadaya. Namun, mereka tetap semangat mengajak masyarakat untuk berkonstribusi dalam kegiatan mereka. Mereka memberikan kesempatan bagi kita yang memiliki hobi menulis, mendesain, fotografi untuk menyalurkan hobi kita. Dari C2O Library ini, banyak masyarakat terutama anak muda yang mengetahui jejak sejarah di Indonesia, serta dari kegiatannya dapat sekaligus membuka wisata baru bagi orang-orang yang berminat mengetahui sejarah, khususnya sejarah di Surabaya. Dari C2O Library juga saya belajar bahwa dalam membangun usaha tidak hanya memikirkan keuntungan semata, namun dengan usaha yang kita bangun seharusnya juga membangun masyarakat sekitar.

 

Ditulis oleh:
Wahyuning Dyah Puspitasari
21414195

ARTIKEL LAIN

One in a Million

            Terdapat banyak pengalaman yang dapat kita peroleh dari waktu ke waktu. Namun, beberapa pengalaman yang unik dan menarik, mungkin hanya akan dijumpai sekali seumur hidup. Salah satu pengalaman yang unik ini adalah saat saya mengikuti Creative Writing. Berawal dari rasa penasaran saya terhadap menulis dan dorongan dari teman saya untuk memperdalam keahlian menulis, saya pun mengikuti kegiatan ini. Tak disangka, kegiatan ini memberikan saya banyak inspirasi dan motivasi untuk lebih menjiwai menulis. Untuk mengetahui bahwa menulis bukan hanya merangkai huruf, namun lebih dari itu, menulis berarti menjiwai setiap kata dan memadu-madankannya sehingga menjadi sebuah kalimat yang utuh.

            Bersama dengan Ang Tek Khun, saya dan para peserta Creative Writing diajak menyusuri genre tulisan, setting, hingga karakter yang ada dalam sebuah tulisan. Tak lupa, plot yang membuat semuanya bergabung dan berjalan beriringan juga dijelaskan secara detail oleh beliau. “Ide itu tidak terlalu penting, eksekusinyalah yang penting,” sebut Ang Tek Khun. Memang patut disadari, bahwa beberapa orang memiliki ide fantastis, namun ketika dihadapkan pada realisasi, merekatidak dapat menghadapinya. Beberapa penggambaran yang dinyatakan oleh Ang Tek Khun cukup membuat kami berpikir kembali dan akhirnya mengangguk-angguk menyetujuinya. Beliau mengatakan, apabila Tukul Arwana dan Adam Levine dimasukkan dalam mesin X-Ray, maka yang terlihat hanyalah tulang-tulangnya saja dan mereka hampir tidak dapat dibedakan. Berbeda dengan melihat mereka tanpa mesin X-Ray, mereka akan terlihat dengan dagingnya, dan amatlah mudah membedakan mereka. Sama seperti tulisan, pembaca tidak butuh ‘tulang’ (ide, red) yang luar biasa, tapi yang dilihat adalah ‘daging’-nya (kata-kata, red). Itulah penggambaran yang disebutkan beliau dalam sesinya.

            Selain Ang Tek Khun, kegiatan ini juga mengundang seorang pembicara yang tak kalah hebatnya, dia adalah Brilliant Yotenaga,founder dari nulisbuku.com. Brilliant boleh dibilang sangat berpengalaman masalah online self publishing berikut tempat untuk self publishing itu sendiri. Mendengar beliau bercerita, membuat saya sadar, bahwa ketika jaman beralih ke era modern, ada banyak hal yang dapat dikembangkan, begitu pula dalam bidang menulis.

            Menulis bukan lagi hanya sekedar di atas kertas, namun menulis dapat dilakukan di media online juga. Banyak sekali hal yang lebih dipermudah dengan adanya media online ini. Ketika menulis sudah tidak berbatas pada media, terkadang kita sendirilah yang membatasinya. Oleh karena itu, menulis butuh passion dan kemauan yang kuat. Alasan Brilliant mulai menulis adalah agar tulisannya bisa diwariskan ke anak-cucunya. Supaya apa yang telah kita tulis, entah tentang masalah atau kesusahan, dapat menjadi saran untuk anak-cucu kita. Demikianlah sesi Creative Writing ditutup.

            Tak berakhir disana, saya dan para peserta diminta untuk membuat draft tentang tulisan yang ingin kami buat. Dari draft tersebut, sepuluh karya terbaik akan dipilih oleh para juri dan diterbitkan menjadi sebuah buku. Benar-benar kesempatan emas yang tidak boleh dilewatkan. Pengumuman kesepuluh pemenang mejadi puncak acara sekaligus akhir Creative Writing. Semoga menulis menjadi semangat dan kekuatan bagi orang-orang yang mendedikasikan diri padanya.

 

Ditulis: Felicia Yanto (25414015)

 

           

Creativity for MEA

Masyarakat Ekonomi ASEAN yang akrab disebut MEA adalah salah satu gerakan baru dalam sektor ekonomi yang mengintegrasikan negara-negara di Asia Tenggara dengan cara membentuk sistem perdagangan bebas atau free trade. Free trade yang kita bicarakan ini bukan sembarang pasar bebas, namun berupa pengurangan hambatan besar-besaran untuk lintas investasi dan perdagangan antar negara ASEAN. Beberapa perubahan yang diprediksi antara lain arus bebas tenaga kerja terampil, pariwisata, logistik, bahkan tenaga kesehatan. MEA akan menyulap kawasan ASEAN seakan menjadi suatu negara amat besar di mana penduduknya dapat pergi ke manapun tanpa halangan berarti. Bahkan perusahaan-perusahaan dapat dengan mudah membangun pabriknya di negara lain. Bayangkan, dengan adanya MEA ini anda bahkan tidak perlu passport atau segala jenis surat birokrasi lain untuk bisa bekerja di negara ASEAN seperti Malaysia atau Singapura. Sebaliknya, perusahaan-perusahaan besar di negara lain seperti pertanian Singapura bisa membuka lahannya dengan mudah di tanah Jawa. Seperti itulah gambaran MEA ke depannya

Nah, sebenarnya, mengapa MEA ini akhirnya harus dibentuk? Ada beberapa target atau tujuan utama dibentuknya MEA bagi para anggota negara ASEAN sendiri. Yang terutama adalah membentuk stabilitas ekonomi antar negara ASEAN dapat mengatasi kesenjangan pembangunan di berbagai daerah tertinggal seperti di kawasan Laos, Kamboja, dan Myanmar. Cara yang ditempuh oleh MEA tentunya dengan degradasi hambatan dalam sektor ekonomi yang memungkinkan perputaran ekonomi berlangsung secepat-cepatnya sehingga diharapkan stabilitas ekonomi dapat merambah ke daerah berkembang.

Bagaimana kebebasan perdagangan ini dapat membantu ekonomi di suatu negara bertumbuh pesat dan signifikan? Misalkan saja ada sebuah industri lokal batik tulis di Solo biasanya mendapatkan orderan sebanyak 100 lembar baju per bulan dari seluruh pasar di Indonesia. Dengan keadaan demikian, industri kecil tersebut sudah mampu mempekerjakan 10 orang per bulan dengan gaji cukup. Nah, bayangkan jika pasar bagi industri lokal tersebut terbuka bebas bagi orang Malaysia, Filipina, Vietnam dan lain-lain. Permintaan yang diterima industri tersebut bisa naik hingga 3x lipat! Tentunya dengan permintaan yang naik 3x lipat, dibutuhkan pekerja lebih dari 10 orang, mungkin bisa 30 orang. Bayangkan! Bukan sekedar profit perusahaan saja yang bertambah, namun jumlah pekerja akan bertambah. Dengan demikian jumlah angka pengangguran akan semakin berkurang. Berkurangnya angka pengangguran tentunya ekuivalen dengan peningkatan kesejahteraan penduduk. Bayangkan jika hal tersebut diimplementasikan pada banyak perusahaan! Perubahan yang terjadi akan semakin drastis. Angka pengangguran semakin tertolong, dan pegawai lainnya pun sangat mungkin menerima kenaikan gaji hingga di atas batas UMR. Inilah yang diincar program MEA.

Negara Indonesia, selaku salah satu founder ASEAN, adalah bagian besar dari free trade MEA ini. Tentu saja output yang kita harapkan dengan tereksposnya negara kita dengan MEA adalah output yang positif bagi negara kita. Kalau bisa, pertumbuhan stabilitas ekonomi yang sepesat mungkin. Kalau bisa, daerah-daerah di Indonesia yang belum terlalu berkembangpun dapat merasakan dampaknya dan ikut berkembang juga. Namun yang menjadi pertanyaan besar adalah : sudah siapkah Indonesia mengahadapi MEA? Apakah pada akhirnya MEA ini akan membawa lebih banyak keuntungan daripada kerugian.

Menurut beberapa artikel dan berita, Indonesia sendiri masih terjangkit berbagai masalah yang berimbas pada ketidaksiapan menghadapi MEA. Beberapa masalah itu seperti rendahnya mutu pendidikan tenaga kerja manusia di Indonesia (berpendidikan SMP atau dibawahnya tercatat sebanyak 76,4 juta orang atau sekitar 64 persen dari total 118 juta pekerja di Indonesia). Juga kurangnya infrastruktur di Indonesia yang menyebabkan arus barang dan jasa terhambat. Lagi di bidang industri yang masih kekurangan pasokan energi atau bahan baku lain yang masih harus impor dan masih belum bisa menyaingi produk impor lain, seperti barang-barang murah dari Cina yang membanjiri pasar Indonesia sendiri.

Tentu berbagai masalah di atas tidak bisa dengan mudah diselesaikan. Kalaupun harus dituntaskan, tentu pihak yang bergerak adalah dari pemerintahan sendiri, di luar kapasitas kita selaku mahasiswa. Namun, sebagai mahasiswa yang dididik untuk berpikir kritis dan inovatif, tentunya masih ada banyak hal yang bisa kita perbuat dan persiapkan dalam menyikapi MEA ini, khususnya sebagai rakyat Indonesia dalam kondisi masalah sekarang.

Hal yang bisa mulai kita lirik adalah dunia industri kreatif. Mengapa industri kreatif adalah cara strategis untuk menjajaki persaingan MEA? Industri kreatif adalah industri yang berasal dari pemanfaatan kreativitas, keterampilan serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan dengan menghasilkan dan mengeksploitasi daya kreasi dan daya cipta individu tersebut. Industri kreatif bisa lahir dari segala aspek kehidupan dan tidak harus memerlukan banyak modal atau sumber daya untuk memulainya. Mengapa hal ini menguntungkan?

Mari kita analisa. Masalah yang membuat Indonesia seakan tidak siap menghadapi persaingan terbuka adalah kurangnya kualitas sumber daya manusia maupun kuantitas sumber daya lainnya seperti pasokan energi. Nah, dalam industri kreatif, kita sebenarnya tidak terikat dengan kebtuhan kualitas maupun kuantitas sumber daya. Kita bisa memakai hal-hal sederhana yang sebenarnya sudah ada di kehidupan sehari-hari lalu menyulapnya menjadi lahan bisnis.

Contohnya industri kreatif GO-JEK. Kita tahu cara kerja GO-JEK, perusahaan yang beregerak di bidang transportasi publik ini sama sekali tidak menyediakan kendaraan baru kan untuk memulai bisnisnya? Bahkan GO-JEK juga tidak perlu merekrut supir. GO-JEK hanya menyediakan platform berupa aplikasi yang memungkinkan pelanggan menghubungi sendiri ojek yang tersedia. Malahan ojek online yang disediakan GO-JEK ini jadi lebih efektif dan efisien daripada ojek konvensional. Karena melalui aplikasi GO-JEK yang bisa melakukan tracking lokasi, pelanggan bisa mendapatkan supir ojek terdekat sehingga waktu untuk menunggu kehadiran ojek bisa dipersingkat. Begitu pula hal ini menguntungkan supir karena menghemat bensin si supir kalau pelanggang yang dijemput tidak jauh dari lokasinya berada. Nah, yang dilakukan GO-JEK sebenarnya hanyalah menyediakan ide dan merealisasikannya. GO-JEK mempertemukan kebutuhan publik dengan ketersediaan yang ada dengan cara yang efektif, efisien, dan ekonomis. Itulah inti dari sebuah industri kreatif yang harus kita gali untuk mengatasi keterbatasan Indonesia mengahadapi MEA.

Mungkin untuk mulai membentuk sebuah company seperti GO-JEK masih terlalu dini untuk ukuran mahasiswa. Lalu sebagai mahasiswa, langkah realistis apa yang bisa kita ambil? Mari kita analisa. Dalam membentuk sebuah industri kreatif diperlukan kemampuan entrepreneurship yang tinggi. Untungnya, sebagai mahasiswa, kita memiliki kesempatan yang sangat luas untuk mengembangkan diri dalam bidang ini. Mengapa? Karena dalam universitas kita memiliki banyak kesempatan untuk belajar. Baik itu mengenai bisnis, ekonomi, teknik, maupun sosial. Terlebih lagi, kita memiliki kesempatan luas untuk berorganisasi atau tergabung dalam kepanitiaan. Dalam organisasi, kita belajar bekerja sama, berinteraksi dengan orang lain, dan merembuk ide untuk mewujudkan suatu kegiatan. Hal-hal mendasar yang amat diperlukan seorang entrepreneur. Khususnya yang akan memasuki ladang industri kreaitf.

Penting halnya bagi kita untuk mulai memaksimalkan diri dalam kegiatan seperti organisasi  dan kepanitiaan. Ketika memasuki kegiatan tersebut, kita dituntut untuk dapat berpikir kreatif, inovatif, dan bertindak cepat. Mengapa hal tersebut penting? Karena dalam membentuk usaha industri kreatif baru, kita akan memerlukan kepekaan tinggi dalam menemukan masalah dalam masyarakat. Begitu pula dengan solusi yang realistis. Ketika tergabung dalam panitia, kita akan terbiasa menghadapi masalah serta tantangan dan berusaha menyelesaikannya. Sehingga hal ini menjadi dasar memasuki dunia kerja nanti. Dalam kepanitiaan kita juga dituntut untuk bekerja sama dengan banyak orang yang memiliki karakteristik berbeda-beda. Kita dituntut untuk memahami perbedaan itu dan mencari celah agar tetap dapat optimal bekerja sama meski dengan kesenjangan sifat. Hal ini juga sangat penting bagi kita. Karena dalam ranah industri kreatif, kita harus bekerja sama dengan banyak jenis orang. Contohnya, orang yang ahli di bidangnya. Seperti GO-JEK company tadi. Satu orang yang berhasil menemukan ide tidak mungkin merealisasikan idenya sendiri. Ia akan dibantu oleh orang lain yang expert di bidangnya lalu membentuk tim. Mungkin dia harus bekerja sama dengan expert di bidang IT yang akan membuat aplikasi. Kemudian dia harus mengajak orang marketing untuk melakukan riset pasar. Kemudian dia harus lagi mencari orang design untuk memasarkan produknya. Bahkan dalam usahanya memfasilitasi calon GO-JEK driver, ia mungkin harus melobby perusahaan grosir jaket dan helm agar mau memberi harga murah. Di sini kemampuan sosial alias soft skill sangat diperlukan. Dalam menjalankan detail, kita perlu pengalaman yang banyak. Universitas atau kampus adalah lahan yang sangat baik untuk memulai. Karena sebagai mahasiswa yang belum berpengalaman, kita bisa ‘uji coba’ dengan mengikuti kegiatan dalam lingkup kampus di mana ketika kita melakukan kesalahan, masih ada mentor yang bsia membimbing. Daripada kita harus terjun dalam kehidupan nyata dengan tangan kosong.

Yang kedua, luaskan koneksi dan lingkar pertemanan kita. Hal ini sangat mungkin dilaukan di kampus mengingat banyaknya mahasiswa lain yang sebaya dengan kita. Jangan merasa gengsi untuk berkenalan. Dalam hal ini, mengikuti organisasi atau kepanitiaan sekali lagi bisa membantu karena kita dituntut untuk berkomunikasi dengan semua anggota.

Yang ketiga, penting bagi kita untuk membekali diri dengan beberapa teori bisnis dasar untuk mengurangi error ketika memulai usaha sendiri. kita bisa mulai mengikuti seminar industri kreatif ataupun bisnis yang diadakan di kampus. Biasanya seminar yang diadakan kampus tidak memungut biaya atau biayanya sangat murah. Ini kesempatan baik bagi mahasiswa, khususnya yang tidak mengambil fakultas ekonomi.

Yang keempat, kita bisa mulai mencoba bisnis kecil-kecilan yang tidak menyita banyak modal maupun waktu (karena tugas utama kita memang berkuliah). Usaha kecil itu bisa berupa online shop dengan metode dropship di mana kita hanya bertindak sebagai makelar untuk supplier kita sehingga kita tidak diribetkan lagi dengan stok barang dan pengiriman. Hal ini bisa menajamkan sense kita di bidang bisnis.

Yang kelima, mulai berintegritas dalam hal kejujuran dan kedisipilinan. Mungkin tidak nampak relevan dengan topik industri kreatif maupun MEA, namun sebenarnya penting untuk jangka panjang. Mengapa? Karena dibukanya MEA berarti kita akan bekerja dalam ranah internasional. Orang luar sangat menghargai kejujuran dan kedisiplinan. Orang Indonesia dikenal suka molor dan kadang kurang jujur dalam berbisnis. Jika kita tidak mematahkan stereotype ini, akan susah bagi Indonesia untuk melesat dalam kompetisi internasional.

Nah, di tengah berbagai tantangan (thread) yang dimunculkan MEA, tentunya ada banyak peluang (opportunity) yang bisa dikembangkan. Pilihan ada di tangan kita, apakah kita mau menjalankan strategi yang baik ataukah tidak. Sebagai mahasiswa, saatnya kita meningkatkan kualitas diri agar siap sedia menghadapi MEA.

 

Referensi

http://www.seputarukm.com/penjabaran-mengenai-mea-masyarakat-ekonomi-asean/

http://pengertian.website/pengertian-mea-dan-ciri-ciri-masyarakat-ekonomi-asean/

http://krjogja.com/liputan-khusus/analisis/2078/menyongsong-masyarakat-ekonomi-asean-2015.kr

 

https://id.wikipedia.org/wiki/Industri_kreatif

By: CLARENCE REBEKA( 21415078)

Kerja Tidak Sesuai dengan Jurusan?

Setelah lulus dari dunia perkuliahan, para fresh graduate pasti akan menghadapi tiga pilihan yaitu lanjut sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, menikah, atau bekerja. Bekerja adalah salah satu dilemma yang dihadapi oleh fresh graduate. Banyak orang tua mendesak anaknya setelah lulus kuliah harus mencari pekerjaan. Namun, mencari pekerjaan juga tidaklah mudah, lagi pula jumlah lulusan lebih banyak daripada jumlah pekerjaan yang ada. Lagipula masih banyak fresh graduate yang masih bingung ingin mencari pekerjaan seperti apa. Hal ini dikarenakan mereka masih belum punya arah dan tujuan, mereka juga tidak tahu ingin mau jadi apa dimasa depan. Tentunya mereka akan dihadapkan oleh pekerjaan yang sesuai dengan jurusan atau mereka akan mencari kerja yang tidak sesuai dengan jurusan selama kuliah. Mencari pekerjaan yang tidak sesuai dengan latar belakang jurusan yang pernah diambil tentunya tidak salah.

Mencari pekerjaan yang tidak sesuai dengan latar pendidikan dapat membuat fresh graduate belajar hal-hal baru. Semasa di bangku perkuliahan, mahasiswa mungkin merasa bosan dengan kegiatan-kegiatan di kelas ataupun di luar kelas. Dengan bekerja yang tidak sesuai jurusan, fresh graduate akan mempelajari hal baru dengan semangat yang baru pula. Sebagai contoh, kuliah jurusan sastra inggris, lulusan sastra inggris tidaklah harus menjadi guru di sekolahan atau les-lesan. Bisa saja bekerja di perusahaan multinasional, bank, ataupun di hotel. Pada akhirnya, fresh graduate pasti semangat untuk mendapatkan hal-hal yang tidak pernah diajarkan selama di bangku kuliah. Para fresh graduate akan belajar mulai dari awal dan secara otomatis fresh graduate juga bisa menggali potensi yang ada pada dirinya dibidang pekerjaan yang baru.

Ilmu yang didapat semasa kuliah bisa diarahkan untuk pekerjaan yang kelihatannya tidak sesuai dengan jurusan. Dalam masa kuliah, mahasiswa mempelajari hardskill dan softskill. Hardskill merupakan pengetahuan yang didapat dari pendidikan formal selama kuliah, contohnya kemampuan dibidang desain, informatika, atau robotik. Sedangkan softskill merupakan kemampuan dan keahlian yang didapat dari kegiatan-kegiatan informal semasa  kuliah, contohnya kemampuan komunikasi, kepemimpinan, atau kerjasama tim.  Softskill Inilah yang seringkali menjadi bekal dalam menjalani dunia kerja. Menurut Bambang Wibawarta, Wakil Rektor Universitas Indonesia, bekerja itu tidaklah harus sesuai dengan bidang yang sama ketika di perguruan tinggi, karena kerja dimanapun yang diperlukan itu adalah pola pikir dan perspektif1. Jadi, pekerjaan yang didapat tidak sama dengan jurusan di kuliah itu bukan berarti ilmu yang didapatkan tidak dapat digunakan. Disamping itu, lapangan pekerjaan yang tersedia tidak sesuai dengan jurusan. Banyak perusahan yang tidak terlalu mementingkan spesifikasi khusus, sehingga fresh graduate bebas memilih pekerjaan yang dia inginkan walaupun tidak sesuai dengan jurusan. Meskipun bekerja mulai dari awal, ilmu yang didapatkan di bangku perkuliahan tidaklah sia-sia di dunia kerja.

Salah satu alasan mencari pekerjaan yang tidak sesuai pendidikan adalah jurusan yang diambil semasa kuliah tidak sesuai dengan passion. Menurut Bernadia Arimurti, Kepala Seksi Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Univeristas Gadjah Mada, lebih baik fresh graduate bekerja sesuai dengan ilmunya. Dengan demikian, apa yang dipelajari selama kuliah akan lebih terasa manfaatnya. Terkadang ada yang memilih jurusan karena dorongan dari orang tua, bukan karena keinginannya sendiri2. Jadi, tidak semua mahasiswa memilih jurusan yang ia sukai. Walaupun mereka tidak kuliah sesuai dengan jurusan yang mereka inginkan, mereka tetap berusaha sebaik mungkin menjalaninya. Lalu, mereka akan lebih memilih bekerja yang tidak sesuai pendidikan agar tidak menjadi beban di hati dan pikiran. Jadi, tidak masalah jika bekerja tidak sesuai jurusan jika suka dan bisa menguasai bidang yang diminatinya

Sebagai kesimpulan, pekerjaan yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan tidaklah salah. Fresh graduate yang bekerja tidak sesuai dengan jurusan sewaktu dibangku kuliah bisa mendapatkan pengalaman baru. Belajar mulai dari awal juga tidak masalah, asalakan mau belajar semuanya pasti bisa dilalui. Kemudian, ilmu yang dipelajari tidak semuanya sia-sia, lagipula ilmu yang didapatkan semasa kuliah bisa diterapkan diluar pekerjaan seperti diwaktu luang atau hobi. Yang terakhir, kerja tidak akan menjadi beban jika memang suka dalam bidang pekerjaan yang digeluti atau memang menguasai bidang tersebut.


Ditulis oleh :
Lia Margaretha
11411032

 

References

 
Anwar Waliyudin (2015). 5 Keuntungan Yang Bisa Kamu Dapat Jika Bekerja Tidak Sesuai Jurusan Kuliah. Retrieved August 26, 2015, from https://kabardigital.com/613/5-keuntungan-yang-bisa-kamu-dapat-jika-bekerja-tidak-sesuai-jurusan-kuliah.html
 
2Ratih Wilda O. (2015) Karirku Beda dengan Jurusanku Dulu! So?. Retrieved August 26, 2015, from http://careernews.id/issues/view/2750-Karirku-Beda-dengan-Jurusanku-Dulu-So
 
1Sentraloker(2013).Cari Kerja Tidak Selalu Harus Sesuai Dengan Jurusan. Retrieved August 26, 2015, from http://sentraloker.net/cari-kerja-tidak-selalu-harus-sesuai-dengan-jurusan.html