PANDJI PRAGIWAKSONO

Karena keinginan saya untuk sukses lebih besar daripada ketakutan saya untuk gagal. Kalimat itu keluar dari seorang bernama Pandji Pragiwaksono seorang yang dulunya populer karena sebuah acara reality show berjudul “Kena Deh” pada sebuah stasiun TV swasta pada Tahun 2006. Tidak banyak orang tau bahwa Pandji memulai karir sebagai penyiar radio di Hard Rock FM pada tahun 2001 hingga 2003 bersama Tike Priatnakusumah, kemudian melanjutkan kembali masih sebagai penyiar radio di Hard Rock FM Jakarta selama tiga tahun Karirnya berjalan cukup menarik karena tidak hanya menggeluti bidang penyiaran dan presenter saja. Ia juga menggeluti bidang lain seperti sebagai illustrator di Kolamkomik.com dengan menghasilkan sebuah komik berjudul Degalings, menjadi penyanyi rap dengan mengeluarkan beberap album salah satunya berjudul Provoactive Proactive, Menjadi pembawa acara yang terbaru di Kompas TV “Sebelas Dua Belas”, dan sebuah bidang yang mulai menjadi popular saat ini ada “Stand Up Comedy”.

Berawal dari minat atau hobi di bidang basket, Pandji hanya bisa bermimpi menjadi pemain basket, semakin besar ia merasa main basket tidak terlalu bisa dipakai dan kemudian ia melihat Ary Sudarsono (presenter Olahraga RCTI saat itu), Dia pakai jas, rambut klimis, wangi, di ruangan ber AC, berbicara mengenai basket dan DIBAYAR. Menurut Pandji itu ada pekerjaan keren dan dari situ dia menetapkan mimpi dan cita-citanya. Bukan jalan yang mudah sampai dia mendapatkan cita-citanya itu, ikut casting dibanyak tempat, hingga kesempatan itu datang dan tantangan lain datang ketika ia sempat gagap dalam komunikasa, namun seiring kesempatan datang dan latian terus untuk mengurangi gagap tersebut, Pandji mulai terbiasa. Hal yang memotivasi dirinya untuk menjadi lebih baik di bidang presenter adalah pujian dari orang-orang disekitarnya. Pujian – pujian yang diperolehnya membuat ia menjadi semakin percaya diri. Hingga saat ini menjadi presenter yang memiliki program televise sendiri.

Berawal dari mimpi menjadi presenter olahraga tersebut. Pandji mulai memikirkan bidang lain yang dipandang “asing” bagi banyak orang. Bidang Rap, Membuat acara TV INDONESIA:, dan yang paling populer adalah Stand Up Comedy. Pandji Pragiwaksono adalah Satu-satunya Stand Up Comedy an atau biasa disebut Comic Indonesia yang telah mengadakan tur stand up keliling dunia yang bernama Mesakke Bangsaku World Tour. Melalui pertunjukan “Mesakke Bangsaku” World Tour 2014, Pandji membagikan hasil pengamatan maupun pengalamannya mengenai Indonesia untuk mengajak masyarakat Indonesia yang tinggal di luar negeri, baik dari kalangan pelajar maupun profesional, agar kembali peduli dengan situasi dan kondisi bangsa saat ini dengan cara yang jenaka. Pandji berharap tur keliling dunia ini dapat menjadi cara bagi Warga Negara Indonesia yang ada di luar negeri untuk mendapatkan update akan Indonesia. Lebih jauh, tur ini diharapkan dapat menjadi inspirasi untuk siapapun di Indonesia, bahwa dengan kerja keras dan dengan melewati proses yang benar, apa yang diimpikan bisa terwujud sebagaimana mimpi untuk melakukan tur keliling dunia ini dapat terwujud dengan dukungan sponsor terkait.

Sebuah pencapaian yang luar biasa dan belum bisa disamai oleh Comic Indonesia yang lain saat ini. Bisa dibilang Pandji adalah pelopor muncul dan populernya stand up comedy di Indonesia saat ini. Dia menggagas acara stand up comedy Indonesia atauyang  bisa dikenal dengan SUCI yang tanyang pada Kompas TV. Melalui acara itu muncul profesi baru di ranah hiburan Indonesia saat ini yaitu menjadi seorang stand up comedy an atau yang biasa disebut Comic. Nama baru mulai muncul mulai dari Ernest Prakarsa, Gee Pamungkas hingga Dodit Mulyanto, orang-orang ini yang dulunya mungkin tidak berpikir bahwa melalui stand up comedy ini bisa menjadi sebuah lahan untuk mencari rejeki. Pandji sadar bahwa bekerja di industri kreatif akan penuh tantangan terhadap perkembangan jaman saat ini. Maka dari itu ia sangat aktif melakukan tur stand up untuk memperkenalkan stand up ke tempat yang dia datangi. Dari tour tour yang sudah dia lakukan pandji yang juga memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi, menerbitkan sebuah buku yang berjudul NASIONAL.IS.ME. Sebuah buku yang menceritakan tentang pengalaman tentang tur stand up keliling nusantaranya di berbagai daerah di Indonesia dan juga berisi tulisan – tulisannya pada blog Pandji itu sendiri yaitu www.pandji.com.Dalam bukunya diceritakan tentang rasa optimistis tentang negeri Indonesia ini. Ketika orang lain berpikir bahwa negeri ini tidak punya harapan, Pandji berpikir lain, pandji menilai orang – orang hanya melihat Indonesia dari kacamata kecilnya saja, Indonesia itu luas dan terdiri dari ribuan pulau. Kalau mau menilai Indonesia itu seperti apa, maka kunjungilah semua pelosok negeri ini dan Pandji sadar bahwa negeri ini punya harapan dan masa depan yang cerah.

Dalam melakukan stand up show nya, tidak semua orang dapat menerima materi yang dibicarakan oleh Pandji. Tak sedikit juga yang bilang bahwa stand up Pandji tidak lucu dan cenderung terlalu berat dibandingkan dengan comic yang lain. Materi Pandji memang kebanyakan berkaitan dengan isu sosial politik serta pengalaman kehidupan sehari – harinya. Bagi Pandji sendirisetiap kritik dan saran yang ditujukan kepadanya dianggap wajar mengingat berkarir didunia publik figur yang sering sekali muncul di layar kaca masyarakat. Pandji menegaskan bahwa yang membuat dia makin percaya diri dan berkembang hingga saat ini adalah kemampuan memotivasi diri yang dia dapat dari pujian yang sedikit demi sedikit meskipun tentunya kritik dan cacian sering datang menghampiri. Mampu mengontrol masukan yang datang membuat Pandji semakin percaya diri terhadap karirnya termasuk di dunia stand up comedy yang terbukti dari ajang kompetisi yang sekarang sudah memasuki musim ke lima.

Setiap melakukan show stand up di berbagai kota Pandji meyempatkan untuk sekedar berinteraksi dengan para penggemar atau fans nya melalui twitter dengan mengadakan sebuah acara yang unik yaitu olahraga bareng. Dalam hal ini olahraga yang dimaksud biasanya adalah sepakbola, basket, dan futsal, antusiasme dari para penggemar Pandji pun sangat tinggi hingga tidak semua yang mendaftar dapat ikut berolahraga bersama. Hal ini selain dimaksudkan untuk menjalin hubungan yang baik antara Pandji dengan penggemar, digunakan juga untuk mempromosikan kegiatan atau hal yang sedang Pandji lakukan saat ini, mulai dari show stand up, buku, album rap hingga kegiatan – kegiatan lainnya. Pandji menganggap dengan makin sering berinteraksi dengan banyak orang dapat membuka wawasan lebih jauh dan juga dapat menemukan materi baru yang dapat ia gunakan sebagai bahan tambahan dalam show stand up maupun tulisan yang nanti akan dimasukkan kedalam blog atau bukunya. Banyak hal menarik yang ia temui selama berinteraksi dengan banyak orang tersebut, mulai dari banyak yang tidak tahu nama Pandji itu sendiri, hingga ada yang menyebut dirinya dengan nama artis lain. Namun yang paling melekat pada diri seorang Pandji adalah trademark pembawa acara “Kena Deh”, banyak orang lebih mengenal Pandji dari acara tersebut dan setiap kali bertemu sering sekali Pandji hanya dipanggil dengan nama “Kena Deh” tanpa tau nama asli Pandji itu siapa. Hal ini sering ia utarakan sebagai bahan stand up comedynya yang tentunya mengundan tawa bagi yang mendengarkan. Hal – hal yang terjadi di sekitar diolah menjadi sedemikian rupam oleh Pandji yang secara tidak langsung menjadi pundi – pundi uang bagi diri dan karirnya kedepan.

Alm. Ayah Pandji pernah bilang, jangan pernah membunuh mimpi, karena mimpi nggak pernah mati. If you will stay on the back, you will stay on your mind. Waktu itu Pandji pernah tinggal sama orang yang kerjanya hanya menyesal. Membayangkan hidup dengan orang yang tiap hari nyesel terus.Dulu kalau om gini, mungkin udah kayak gini, dulu kalau om gitu, mungkin udah kayak gitu, dst. Hal itu menempel terus di benak Pandji.Dari hal itu Pandjitidak mau jadi orang yang kayak seperti itu (suka menyesal). “Gue harus lakukan sesuatu. So i have a large of dream, i don’t to kill it. I go for it. Karena keinginan saya untuk sukses lebih besar daripada ketakutan saya untuk gagal” ucap Pandji.

 

Penulis ,

Gaby

ARTIKEL LAIN

Antonius Widjaya: Fotografer Arsitektur yang Masih Mencari Kesempurnaan

Antonius Widjaya mungkin nama yang masih terdengar asing di telinga kita namun terkenal di kalangan Architecture Photographer di Surabaya. Lulus menyandang gelar S. Ds. dari Universitas Kristen Petra pada 2006, ia langsung membuka konsultan desain interior bersama dengan beberapa teman. Seiring waktu berjalan, mereka menyadari bahwa konsultan desain yang mereka dirikan bukanlah jalan terbaik, melihat kurangnya pengalaman bekerja yang mereka miliki sebagai fresh graduate.

Pria asal Surabaya ini kemudian memfokuskan diri dalam dunia 3D rendering yang telah dikuasainya sejak lama. 3D rendering sendiri merupakan proses menghasilkan gambar berdasar gambar 3 dimensi yang mirip dengan fotografi atau sinematografi. Karirnya berjalan cukup baik dengan klien dari luar negeri yang merupakan pelanggannya saat masih bekerja sebagai konsultan. Namun, ia menyadari bahwa tidak dapat terus berada di zona nyaman dan bergantung hanya pada klien yang sama. Mendapat inspirasi saat mengerjakan 3D rendering dan berbekal hobi fotografi dan ilmu interior yang dimilikinya, pria kelahiran 21 Januari 1984 ini kemudian memberanikan diri masuk ke dalam dunia fotografi sebagai architecture and interior photographer pada 2014.

Berjuang dengan sangat keras, Antonius mulai membeli tutorial online dan bahkan rela memfotokan teman dengan harga hampir gratis di awal karirnya. Bukan usaha yang sia-sia, ia sekarang menjadi salah satu architecture photographer yang dicari. Beberapa klien yang telah memakai jasanya antara lain, PT Sinar Galaxy dan Indonesia Design Magazine. Berbicara mengenai apakah bakat fotografi menjadi salah satu kunci kesuksesannya, mantan ketua Persekutuan Program Studi ini menjawab, “Bagi saya, bakat itu tidak ada; yang ada itu passion. (Saya) menghabiskan banyak waktu di bidang tersebut sampai menjadi bakat. Passion pasti membuka banyak jalan,” tegasnya.

Ketika diitanya mengenai suka duka dalam bidang pekerjaannya, pemilik studio Arch-viz ini mengatakan bahwa pekerjaan ini tidak seperti bekerja karena merupakan hobinya. Di sisi lain, pekerjaan ini juga merupakan bidang pekerjaan baru sehingga belum banyak saingan. Meski demikian, terdapat pula tantangan-tantangan yang berat seperti harus membangun brand sendiri dan banyak orang awam yang kurang paham mengenai dunia architecture photography. “Banyak orang Surabaya yang sulit menerima hal baru. Mereka berpikir kenapa foto arsitektur dan interior harus pakai jasa orang. Difoto sendiri kan bisa,” jelasnya.

Memperluas koneksi melalui teman dan kenalan dari bidang interior merupakan salah satu cara yang ditempuh oleh mantan ketua hima ini. Salah satunya didapat dari melakukan barter dengan temannya, yaitu ia memfotokan dengan cuma-cuma dan hasil fotonya dapat digunakannya untuk promosi. Di sisi lain, memperkuat branding dengan membuat portofolio dan melakukan seminar juga dilakukannya. Salah satu seminarnya adalah seminar workshop fotografi arsitektur yang bekerjasama dengan Vasa Hotel dan Sony.

 Suka duka dan tantangan-tantangan telah dilaluinya dengan berbagai cara hingga sukses. Namun, meskipun telah sukses di usianya yang masih muda, tidak ada sedikitpun rasa sombong dan puas diri. “Selalu rendah hati dan mau belajar, karena saya percaya dalam mencari kesempurnaan merupakan sesuatu yang never ending (tak pernah berakhir –red),” tutupnya saat ditanya mengenai moto hidup.

 

Ditulis oleh :

Maria Cornelia Susanto (22416053)

Maria Olivia Budiman : Penukar Budaya Indonesia dan Korea Selatan

Siapa yang tidak menggemari budaya pop Korea Selatan saat ini? Dari film drama, musik Kpop, dan makanan sudah menjadi hal yang sangat digemari oleh masyarakat Indonesia dari berbagai kalangan. Dapat dipastikan dari semua penggemar Kpop ingin bertemu dengan idolanya. Tetapi sedikit yang membayangkan untuk bisa menjadi seorang idola itu sendiri. Lalu bagaimana jika kita benar-benar bisa menjadi idola?

Belajar kebudayaan lain merupakan hal yang disukai Maria Olivia Budiman, atau yang akrab disapa Maria, alumni Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) UK Petra tahun 2007. Ia pernah menjadi leader salah satu girlband Korea pada tahun 2013 yang bernama Sensation of Stage (S.O.S). Wanita asal Surabaya ini dikenal dengan nama Mary ketika menjadi leader di girlband tersebut.

Awalnya, menjadi seorang idola bukanlah karir yang terpikirkan oleh Maria. Perjalanan karirnya dimulai saat Maria bekerja pada sebuah Advertising Agency di Jakarta. Setelah lima bulan bekerja, seorang teman mengajaknya untuk mengikuti audisi idola K-Pop yang diadakan oleh salah satu stasiun TV ternama. Berkat bujukan temannya, Maria mendaftarkan dirinya untuk mengikuti audisi. “Kesempatan tidak datang dua kali, makanya harus digunakan sebaik mungkin,” terangnya. Maria lolos hingga seleksi di Jakarta dan terpilih menjadi bagian dalam 12 finalis acara tersebut.

Kesempatan tersebut benar-benar tidak disia-siakan oleh Maria. Kesukaannya untuk belajar budaya lain membuatnya menandatangani kontrak dengan pihak penyelenggara acara. Maria lantas mendapatkan banyak pengalaman dan wawasan dari perjalanannya di Korea. Setelah mendapatkan pelatihan selama enam bulan, para finalis yang berangkat ke Korea pun dibuatkan girlgroup dan album sesuai dengan kesepakatan awal. Akhirnya pada 2013, S.O.S memulai debutnya dengan status sebagai bintang internasional dibawah Sony Music South Korea.

Tidak hanya menjadi personil sebuah girlband, Maria juga terpilih menjadi Korean Tourism Ambassador perwakilan Indonesia menggantikan Sandra Dewi. Tugas utamanya saat itu adalah memperkenalkan budaya Indonesia sebagai bentuk pertukaran budaya Indonesia dengan budaya Korea. “Dari beberapa hal yang saya jalani di Korea, banyak budaya yang saya pelajari seperti contohnya kedisiplinan, persepsi tentang waktu dan stereotip yang ada tentang masyarakat Korea,” tukasnya. Maria mengaku juga senang bisa belajar budaya dengan masyarakat Korea secara langsung dan dapat membagikannya kepada masyarakat Indonesia.

Hingga pada 2015, Maria memutuskan untuk keluar dari S.O.S karena mulai merasakan ketidakpastian pada masa depannya. Meskipun sudah keluar dari S.O.S, Maria tetap melanjutkan tugasnya sebagai Korean Tourism Ambassador hingga 2016. Setelah Maria melanjutkan karirnya sebagai Social Media Manajer di IDN Media selama dua tahun, ia sekarang merupakan Project Manajer di IDN Media.

Dari berbagai pengalaman jatuh bangun yang ia jalani, Maria menyadari satu hal. Ia mengutip dari Steve Jobs “Connecting the dots”, yang berarti hidup kita adalah titik-titik hitam yang perlu disambung menjadi sebuah gambar besar. Mantan wakil ketua BEM UK Petra periode 2010/2011 ini pun berpesan kepada teman-teman mahasiswa UK Petra untuk meyakini bahwa Tuhan pasti sudah menyiapkan rencana yang baik untuk kita semua.

 

Ditulis oleh :

Hans Christian (51415007)

Natalia Tanan : Menjadi PNS yang Melayani

Tidak tebersit dalam bayangan Natalia Tanan, atau yang akrab disapa Lia untuk menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS). Salah satu alumni Program Studi Teknik Sipil Universitas Kristen Petra tahun 1996 ini awalnya sangat ingin bercita-cita untuk menjadi seorang misionaris. Namun ternyata Tuhan punya rencana lain menempatkan Lia dalam dunia yang lebih sekuler. Lia berhasil menyelesaikan gelar masternya tepat pada saat sedang dibuka kembali lowongan menjadi PNS setelah sekian lama mengalami moratorium. Lia pun mendaftar, mengikuti tes, dan akhirnya diterima sebagai PNS.

Pekerjaan yang diambil oleh Lia sebenarnya tidak sesuai dengan cita-cita awalnya yaitu menjadi misionaris. Namun, wanita kelahiran Makalela, Sulawesi Selatan ini tetap sejalan dengan mimpinya untuk melayani masyarakat, meskipun di bidang yang berbeda. Saat ini Lia ditugaskan di Pusat Jalan dan Jembatan (PUSJATAN) Bandung dan menjabat sebagai Kepala Seksi Layanan di Balai Sistem dan Teknik Lalu Lintas. Sebagai pusat Penelitian dan Pengembangan (Litbang), pekerjaan utama Lia adalah memantau perkembangan dari penelitian peneliti-peneliti yang ada di Balai Sistem dan Teknik Lalu Lintas. Hobinya membaca membantunya dalam menyelesaikan penelitiannya selama bekerja. Selain itu, Lia juga bertugas menjadi konsultan untuk daerah-daerah yang membutuhkan bantuan. Oleh karena itu Lia seringkali berkeliling Indonesia untuk memantau kebutuhan pembangunan di daerah-daerah dari Sabang sampai Merauke.

Selama bekerja, Lia masih memiliki sesuatu yang ingin segera ia wujudkan. Lia ingin membangun kota yang ramah anak. Menurutnya, saat ini rawan untuk anak bisa berada di jalan sendiri melihat kondisi jalan yang tidak kondusif. Banyak pengendara yang membahayakan dan tidak menghargai hak pejalan dan pengguna non-kendaraan bermotor. Padahal, ketika dirinya masih berusia muda, ia bisa berjalan di jalan tanpa takut sesuatu terjadi padanya. Maka dari itu, Lia ingin memanusiakan lalu lintas dengan menertibkan jalan agar semua pengguna jalan termasuk anak-anak dapat menikmati fasilitas jalan dengan tenang dan tidak khawatir bahaya. Bagi Lia, jika kota tersebut ramah anak, pastilah akan ramah dengan semua pihak.

Berkat kerja kerasnya, Lia meraih penghargaan peneliti terbaik 2013 dalam internal PUSJATAN, dan menjadi peneliti terbaik 2015 se-Kementerian Pekerjaan Umum karena menggugat hak pejalan kaki. Lia berharap mahasiswa UK Petra tidak lagi takut untuk masuk dalam ranah pemerintahan. Terlepas dari stereotip yang ada, bidang yang ditekuni Lia saat ini masih dapat mempertahankan idealismenya tanpa terkena KKN dan pikiran kotor lainnya. “Selama bekerja d isini, saya tetap diberikan kesempatan untuk mempertahankan idealisme saya agar tidak terpengaruh hal yang buruk,” pungkasnya. “Ketika pertama kali masuk ke dunia yang heterogen dari tempat yang homogen memang tidak mudah. Tetapi Puji Tuhan tidak ada teman-teman disini yang mendiskriminasi saya,” tuturnya.

 

Ditulis oleh:

Hans Christian (51415007)