GALAILA KAREN AGUSTIAWAN: SRIKANDI INDONESIA DI KANCAH DUNIA

Sosoknya yang ramah dan lembut tak menjadikan beliau terlihat lemah saat mengerjakan tugas-tugasnya, meskipun, beliau bekerja di bidang industri migas yang katanya merupakan pekerjaan para pria. Galaila Karen Agustiawan, yang akrab di sapa Karen, merupakan salah satu lulusan perguruan tinggi Institut Teknologi Bandung, yang berhasil menduduki jabatan nomor satu di perusahaan BUMN PT. Pertamina. Dia adalah perempuan pertama yang berhasil meraih posisi tertinggi dalam perusahaan milik negara tersebut. Karen yang lulus pada tahun 1983 dari jurusan teknik fisika, memulai karirnya sejak beliau lulus.

Tempat pertama yang menjadi pilihannya adalah PT. Mobil Oil Indonesia hingga tahun 1986, sebagai analis dan programmer dalam pemetaan sistem eksplorasi. Melalui kemampuan dan kecerdasannya, Karen berpindah posisi menjadi seismic processor and quality controlle rselama 2 tahun dan dipercaya menangani beberapa proyek seismik di Rokan, Sumatera Utara dan Madura. Prestasi Karen terus menanjak hingga beliau pernah bekerja pada beberapa perusahaan seperti CGG Petrosystems Indonesia, Landmark Concurrent Solusi Indonesia, dan Halliburton Indonesia.

Berkat pengalamannya yang baik, pemerintah Indonesia mulai melirik dan meminta Karen bekerja di PT. Pertamina pada tahun 2006 sebagai staf ahli direktur utama bidang hulu. Dua tahun berselang, Karen pun menaiki tangga karir yang lebih tinggi, sebagai Direktur Hulu PT PERTAMINA (PERSERO), periode Maret 2008 – 5 Februari 2009. Puncaknya adalah ketika Pertamina memilih Karen sebagai pengganti Ari H. Soemarno, Dirut Pertamina periode sebelumnya.

            Sepenggal kisah di atas mencerminkan bahwa sebenarnya wanita juga memiliki kemampuan yang sama dengan kaum pria. Sayangnya pandangan masyarakat menjadikan wanita kurang mendapat kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya dalam bidang pekerjaan yang identic dengan para pria. Sosok Galaila Karen Agustiawan mewakili wanita yang mampu mematahkan pandangan bahwa wanita hanya berperan sebagai ibu rumah tangga saja dan tidak mampu bekerja secara profesional. Dengan rekam jejaknya yang begitu baik, beliau dapat menjadi panutan bagi banyak wanita di luar sana yang belum mendapatkan kesempatan bekerja.

Tak hanya, kemampuan, Galaila Karen Agustiawan juga memiliki kepribadian yang baik dan dapat menginspirasi semua kaum wanita yang bekerja secara profesional dan juga memiliki tanggung jawab untuk mengurus keluarga. Meskipun beliau bekerja di perusahaan pemerintah, tak pernah sedikitpun beliau melupakan tugasnya sebagai seorang istri dan seorang ibu. Tentunya tidak mudah menjadi seorang wanita yang harus bekerja dan melakukan kewajiban sebagai seorang istri dan ibu. Ada pengorbanan yang harus dilakukan. Pada saat anak pertama dan keduanya masih kecil, Galaila Karen Agustiawan harus menitipkan mereka kepada saudara dan babysitter. Tetapi ketika anak ketiga lahir, beliau merawatnya sendiri dan memutuskan berhenti bekerja. Setelah anak bungsunya masuk taman kanak-kanak, barulah Karen kembali bekerja. Adanya pengalaman mengasuh anak, membuat Karen berpendapat bahwa pekerjaan sebagai ibu rumah tangga tak kalah berat dengan pekerjaan di kantor. Sebagai istri, Karen menjadi seorang istri yang taat dan menjadikan suaminya sebagai pemimpin keluarga. Tidak pernah ada keluhan dari suaminya tentang pekerjaannya yang banyak didominasi oleh kaum pria. Sang suami, Prof. Dr. Herman Agustiawan memberikan dukungan penuh terhadap pekerjaan yang dipilih olehnya. Sejak mereka berdua berkuliah di Institut Teknologi Bandung, sang suami sudah mengenal dan mengerti kondisi pekerjaan Karen. Bahkan adanya anggapan bahwa Karen memiliki karier yang lebih berhasil daripada suaminya, tidak membuatnya mundur dari pekerjaannya. Sang suami, yang bekerja sebagai anggota Dewan Energi Nasional, berpendapat mereka berdua memiliki kelebihan di bidang masing-masing, sehingga tidak perlu ada yang dipersoalkan.

            Sebagai seorang istri dan ibu, Karen benar-benar harus mengatur waktu yang dimilikinya. Beliau selalu mengutamakan keluarga daripada pekerjaannya dan juga berusaha menghabiskan waktu bersama keluarga bila memiliki waktu kosong. Bahkan sesaat sebelum mengikuti meeting di Arab Saudi, Karen menyempatkan diri untuk menaikan ibadah umrah bersama anak-anaknya. Prinsip yang diajarkan kepada anak-anaknya yaitu kualitas pertemuan dalam sebuah keluarga. Oleh karena itu, Karen berusaha untuk masuk ke dalam kesibukan ketiga anaknya dan begitu pula sebaliknya. Ketiga anaknya kini telah memilih bidangnya masing-masing karena sejak awal Karen tidak menginginkan anak-anaknya mengikuti jejak orangtua. “Kamu akan menjadi orang yang sukses saat kamu menjadi dirimu sendiri” adalah kalimat yang diajarkan kepada ketiga anaknya saat mereka masih kecil.

            Ketika wanita menjadi pemimpin dalam bidang yang didominasi kaum pria, itu bukanlah hal yang mudah untuk dijalankan. Kejadian tak mengenakkan pun tak dapat dihindari oleh Karen. Beliau harus memikul beban yang berat sebagai pimpinan perusahaan milik negara, yang seringkali dijadikan kambing hitam atas semua masalah yang terjadi di Indonesia. Mulai dari banyaknya kasus tabung elpiji 3 kilogram yang meledak hingga proses distribusi solar dan bensin yang seringkali macet dan langka di pasaran. Cercaan dan serangan secara verbal sudah menjadi makanan sehari-hari baginya. Bukan pekerjaan mudah menjadi pemegang kekuasaan tertinggi di Pertamina, tetapi Karen terus berusaha dan melakukan yang terbaik sehingga beliau mampu menjadi The Most Achievement Inspiring Woman in BUMN 2013. Banyak hal yang dilakukan Karen agar dapat membawa Pertamina mencapai prestasi hingga saat sebelum dirinya mengundurkan diri. Memiliki visi dan misi yang terarah bagi Pertamina adalah salah satu hal yang ditunjukkan Karen. Tetapi hal ini tidak hanya membawa kebanggaan bagi Karen, tetapi juga banyaknya kesulitan yang dihadapi. Selain adanya tekanan politik, beliau juga harus mampu membagi waktunya dengan keluarga. Menjadi ibu, istri, dan pimpinan tertinggi dalam perusahaan pemerintah bukanlah hal yang mudah.

Masyarakat umumnya masih memandang bahwa wanita hanya bisa menjadi ibu rumah tangga, mengurus rumah dan anak-anak, melayani suami, dan sebagainya. Tetapi di zaman sekarang, peran wanita tidak hanya sebagai ibu rumah tangga saja melainkan juga sebagai wanita yang bekerja atau memiliki karier. Adanya tuntutan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang semakin besar dalam sebuah keluarga, mau tidak mau wanita juga harus membantu suami dalam bekerja. Terlebih jika bidang pekerjaan yang digeluti adalah bidang yang didominasi kaum pria menjadikan wanita seringkali diragukan kemampuannya. Tetapi kisah sukses Galaila Karen Agustiawan, yang juga mendapat penghargaan sebagai wanita paling berpengaruh ke-6 di dunia versi majalah Fortune, di atas dapat menjadi inspirasi bagi kita kaum wanita yang saat ini sedang bekerja atau para mahasiswi yang akan memasuki dunia bekerja. Tak ada yang tak bisa kita lakukan meskipun kita adalah kaum wanita. Tak ada hal yang mustahil bagi kita kaum wanita dan tak ada perbedaan yang signifikan antara kita kaum wanita dan pria. Raihlah apa yang menjadi impianmu, berusahalah untuk mencapainya, dan tetaplah menjadi dirimu.

Maju terus wanita Indonesia, hidup wanita Indonesia!

 

Ditulis oleh:
Vania Christiana Lie
31411074

ARTIKEL LAIN

Antonius Widjaya: Fotografer Arsitektur yang Masih Mencari Kesempurnaan

Antonius Widjaya mungkin nama yang masih terdengar asing di telinga kita namun terkenal di kalangan Architecture Photographer di Surabaya. Lulus menyandang gelar S. Ds. dari Universitas Kristen Petra pada 2006, ia langsung membuka konsultan desain interior bersama dengan beberapa teman. Seiring waktu berjalan, mereka menyadari bahwa konsultan desain yang mereka dirikan bukanlah jalan terbaik, melihat kurangnya pengalaman bekerja yang mereka miliki sebagai fresh graduate.

Pria asal Surabaya ini kemudian memfokuskan diri dalam dunia 3D rendering yang telah dikuasainya sejak lama. 3D rendering sendiri merupakan proses menghasilkan gambar berdasar gambar 3 dimensi yang mirip dengan fotografi atau sinematografi. Karirnya berjalan cukup baik dengan klien dari luar negeri yang merupakan pelanggannya saat masih bekerja sebagai konsultan. Namun, ia menyadari bahwa tidak dapat terus berada di zona nyaman dan bergantung hanya pada klien yang sama. Mendapat inspirasi saat mengerjakan 3D rendering dan berbekal hobi fotografi dan ilmu interior yang dimilikinya, pria kelahiran 21 Januari 1984 ini kemudian memberanikan diri masuk ke dalam dunia fotografi sebagai architecture and interior photographer pada 2014.

Berjuang dengan sangat keras, Antonius mulai membeli tutorial online dan bahkan rela memfotokan teman dengan harga hampir gratis di awal karirnya. Bukan usaha yang sia-sia, ia sekarang menjadi salah satu architecture photographer yang dicari. Beberapa klien yang telah memakai jasanya antara lain, PT Sinar Galaxy dan Indonesia Design Magazine. Berbicara mengenai apakah bakat fotografi menjadi salah satu kunci kesuksesannya, mantan ketua Persekutuan Program Studi ini menjawab, “Bagi saya, bakat itu tidak ada; yang ada itu passion. (Saya) menghabiskan banyak waktu di bidang tersebut sampai menjadi bakat. Passion pasti membuka banyak jalan,” tegasnya.

Ketika diitanya mengenai suka duka dalam bidang pekerjaannya, pemilik studio Arch-viz ini mengatakan bahwa pekerjaan ini tidak seperti bekerja karena merupakan hobinya. Di sisi lain, pekerjaan ini juga merupakan bidang pekerjaan baru sehingga belum banyak saingan. Meski demikian, terdapat pula tantangan-tantangan yang berat seperti harus membangun brand sendiri dan banyak orang awam yang kurang paham mengenai dunia architecture photography. “Banyak orang Surabaya yang sulit menerima hal baru. Mereka berpikir kenapa foto arsitektur dan interior harus pakai jasa orang. Difoto sendiri kan bisa,” jelasnya.

Memperluas koneksi melalui teman dan kenalan dari bidang interior merupakan salah satu cara yang ditempuh oleh mantan ketua hima ini. Salah satunya didapat dari melakukan barter dengan temannya, yaitu ia memfotokan dengan cuma-cuma dan hasil fotonya dapat digunakannya untuk promosi. Di sisi lain, memperkuat branding dengan membuat portofolio dan melakukan seminar juga dilakukannya. Salah satu seminarnya adalah seminar workshop fotografi arsitektur yang bekerjasama dengan Vasa Hotel dan Sony.

 Suka duka dan tantangan-tantangan telah dilaluinya dengan berbagai cara hingga sukses. Namun, meskipun telah sukses di usianya yang masih muda, tidak ada sedikitpun rasa sombong dan puas diri. “Selalu rendah hati dan mau belajar, karena saya percaya dalam mencari kesempurnaan merupakan sesuatu yang never ending (tak pernah berakhir –red),” tutupnya saat ditanya mengenai moto hidup.

 

Ditulis oleh :

Maria Cornelia Susanto (22416053)

Maria Olivia Budiman : Penukar Budaya Indonesia dan Korea Selatan

Siapa yang tidak menggemari budaya pop Korea Selatan saat ini? Dari film drama, musik Kpop, dan makanan sudah menjadi hal yang sangat digemari oleh masyarakat Indonesia dari berbagai kalangan. Dapat dipastikan dari semua penggemar Kpop ingin bertemu dengan idolanya. Tetapi sedikit yang membayangkan untuk bisa menjadi seorang idola itu sendiri. Lalu bagaimana jika kita benar-benar bisa menjadi idola?

Belajar kebudayaan lain merupakan hal yang disukai Maria Olivia Budiman, atau yang akrab disapa Maria, alumni Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) UK Petra tahun 2007. Ia pernah menjadi leader salah satu girlband Korea pada tahun 2013 yang bernama Sensation of Stage (S.O.S). Wanita asal Surabaya ini dikenal dengan nama Mary ketika menjadi leader di girlband tersebut.

Awalnya, menjadi seorang idola bukanlah karir yang terpikirkan oleh Maria. Perjalanan karirnya dimulai saat Maria bekerja pada sebuah Advertising Agency di Jakarta. Setelah lima bulan bekerja, seorang teman mengajaknya untuk mengikuti audisi idola K-Pop yang diadakan oleh salah satu stasiun TV ternama. Berkat bujukan temannya, Maria mendaftarkan dirinya untuk mengikuti audisi. “Kesempatan tidak datang dua kali, makanya harus digunakan sebaik mungkin,” terangnya. Maria lolos hingga seleksi di Jakarta dan terpilih menjadi bagian dalam 12 finalis acara tersebut.

Kesempatan tersebut benar-benar tidak disia-siakan oleh Maria. Kesukaannya untuk belajar budaya lain membuatnya menandatangani kontrak dengan pihak penyelenggara acara. Maria lantas mendapatkan banyak pengalaman dan wawasan dari perjalanannya di Korea. Setelah mendapatkan pelatihan selama enam bulan, para finalis yang berangkat ke Korea pun dibuatkan girlgroup dan album sesuai dengan kesepakatan awal. Akhirnya pada 2013, S.O.S memulai debutnya dengan status sebagai bintang internasional dibawah Sony Music South Korea.

Tidak hanya menjadi personil sebuah girlband, Maria juga terpilih menjadi Korean Tourism Ambassador perwakilan Indonesia menggantikan Sandra Dewi. Tugas utamanya saat itu adalah memperkenalkan budaya Indonesia sebagai bentuk pertukaran budaya Indonesia dengan budaya Korea. “Dari beberapa hal yang saya jalani di Korea, banyak budaya yang saya pelajari seperti contohnya kedisiplinan, persepsi tentang waktu dan stereotip yang ada tentang masyarakat Korea,” tukasnya. Maria mengaku juga senang bisa belajar budaya dengan masyarakat Korea secara langsung dan dapat membagikannya kepada masyarakat Indonesia.

Hingga pada 2015, Maria memutuskan untuk keluar dari S.O.S karena mulai merasakan ketidakpastian pada masa depannya. Meskipun sudah keluar dari S.O.S, Maria tetap melanjutkan tugasnya sebagai Korean Tourism Ambassador hingga 2016. Setelah Maria melanjutkan karirnya sebagai Social Media Manajer di IDN Media selama dua tahun, ia sekarang merupakan Project Manajer di IDN Media.

Dari berbagai pengalaman jatuh bangun yang ia jalani, Maria menyadari satu hal. Ia mengutip dari Steve Jobs “Connecting the dots”, yang berarti hidup kita adalah titik-titik hitam yang perlu disambung menjadi sebuah gambar besar. Mantan wakil ketua BEM UK Petra periode 2010/2011 ini pun berpesan kepada teman-teman mahasiswa UK Petra untuk meyakini bahwa Tuhan pasti sudah menyiapkan rencana yang baik untuk kita semua.

 

Ditulis oleh :

Hans Christian (51415007)

Natalia Tanan : Menjadi PNS yang Melayani

Tidak tebersit dalam bayangan Natalia Tanan, atau yang akrab disapa Lia untuk menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS). Salah satu alumni Program Studi Teknik Sipil Universitas Kristen Petra tahun 1996 ini awalnya sangat ingin bercita-cita untuk menjadi seorang misionaris. Namun ternyata Tuhan punya rencana lain menempatkan Lia dalam dunia yang lebih sekuler. Lia berhasil menyelesaikan gelar masternya tepat pada saat sedang dibuka kembali lowongan menjadi PNS setelah sekian lama mengalami moratorium. Lia pun mendaftar, mengikuti tes, dan akhirnya diterima sebagai PNS.

Pekerjaan yang diambil oleh Lia sebenarnya tidak sesuai dengan cita-cita awalnya yaitu menjadi misionaris. Namun, wanita kelahiran Makalela, Sulawesi Selatan ini tetap sejalan dengan mimpinya untuk melayani masyarakat, meskipun di bidang yang berbeda. Saat ini Lia ditugaskan di Pusat Jalan dan Jembatan (PUSJATAN) Bandung dan menjabat sebagai Kepala Seksi Layanan di Balai Sistem dan Teknik Lalu Lintas. Sebagai pusat Penelitian dan Pengembangan (Litbang), pekerjaan utama Lia adalah memantau perkembangan dari penelitian peneliti-peneliti yang ada di Balai Sistem dan Teknik Lalu Lintas. Hobinya membaca membantunya dalam menyelesaikan penelitiannya selama bekerja. Selain itu, Lia juga bertugas menjadi konsultan untuk daerah-daerah yang membutuhkan bantuan. Oleh karena itu Lia seringkali berkeliling Indonesia untuk memantau kebutuhan pembangunan di daerah-daerah dari Sabang sampai Merauke.

Selama bekerja, Lia masih memiliki sesuatu yang ingin segera ia wujudkan. Lia ingin membangun kota yang ramah anak. Menurutnya, saat ini rawan untuk anak bisa berada di jalan sendiri melihat kondisi jalan yang tidak kondusif. Banyak pengendara yang membahayakan dan tidak menghargai hak pejalan dan pengguna non-kendaraan bermotor. Padahal, ketika dirinya masih berusia muda, ia bisa berjalan di jalan tanpa takut sesuatu terjadi padanya. Maka dari itu, Lia ingin memanusiakan lalu lintas dengan menertibkan jalan agar semua pengguna jalan termasuk anak-anak dapat menikmati fasilitas jalan dengan tenang dan tidak khawatir bahaya. Bagi Lia, jika kota tersebut ramah anak, pastilah akan ramah dengan semua pihak.

Berkat kerja kerasnya, Lia meraih penghargaan peneliti terbaik 2013 dalam internal PUSJATAN, dan menjadi peneliti terbaik 2015 se-Kementerian Pekerjaan Umum karena menggugat hak pejalan kaki. Lia berharap mahasiswa UK Petra tidak lagi takut untuk masuk dalam ranah pemerintahan. Terlepas dari stereotip yang ada, bidang yang ditekuni Lia saat ini masih dapat mempertahankan idealismenya tanpa terkena KKN dan pikiran kotor lainnya. “Selama bekerja d isini, saya tetap diberikan kesempatan untuk mempertahankan idealisme saya agar tidak terpengaruh hal yang buruk,” pungkasnya. “Ketika pertama kali masuk ke dunia yang heterogen dari tempat yang homogen memang tidak mudah. Tetapi Puji Tuhan tidak ada teman-teman disini yang mendiskriminasi saya,” tuturnya.

 

Ditulis oleh:

Hans Christian (51415007)