AGUSTINUS WIBOWO: "TURIS" SEBAGAI PILIHAN KARIR

Selimut Debu, Garis Batas, dan Titik Nol adalah sebuah karya yang hadir dari seorang Agustinus Wibowo, seorang travel-writer dan fotografer dari Indonesia yang telah menjelajah dari Afghanistan, Central Asia, dan China. Destinasi-destinasi yang tidak umum dikunjungi orang kebanyakan hanya untuk mewujudkan mimpinya keliling dunia dan berbagi cerita-cerita inspiratif ke semua orang. Semua hal yang ia alami selama perjalanan itu ia tulis dengan lengkap disertai beberapa foto didalam buku-buku yang telah ia tulis.

Laksana kepompong yang keluar dari perlindungannya usai tidur panjang, seperti itulah hidup Agustinus Wibowo sejak 10 tahun silam. Kutubuku canggung yang jarang keluar rumah dan takut panas, kini telah berkelana ke negara-negara yang  mungkin luput dari daftar tujuan traveler kebanyakan. Agustinus kecil bercita-cita menjadi seorang turis. Bukan polisi, dokter, atau profesi-profesi lain yang dianggap mulia dan menjadi tolak ukur kesuksesan. Ia rela melepaskan modal masa depan sebagai lulusan universitas terbaik di Beijing, Cina, demi mengunjungi negara-negara yang dulu hanya bisa ia intip dari koleksi perangkonya.

Semua berawal ketika Agustinus menjadi sukarelawan tsunami di Aceh pada Januari 2005. Di daerah yang luluh lantak akibat terjangan gelombang dahsyat tersebut, ia justru melihat semangat warga yang kuat untuk bangkit kembali. Agustinus yang saat itu baru lulus dari jurusan Komputer, bertekad banting setir menjadi seorang jurnalis. Tujuannya hanya satu, bisa mengunjungi tempat-tempat yang tak biasa dikunjungi, untuk menyebarkan cerita-cerita inspiratif.

Rencana perjalanannya jelas, bahwa ia akan melakukan perjalanan dari Beijing hingga ke Afrika Selatan dengan menggunakan jalur darat. Yang cukup mengejutkan dari perjalanan yang ia lakukan ini ialah tidak mendapat restu dari orang tua sehingga ia membiayai semua perjalanan ini dengan uang pribadinya. Perjalanan akbarnya dimulai dari Stasiun Kereta Api Beijing, Cina, pada bulan Juli 2005. Dari sana, ia menanjak ke Tibet, menyeberang ke Nepal, lalu menuju India, kemudian menembus Pakistan, Afghanistan, Iran, hingga akhirnya masuk ke negeri-negeri ‘Stan’ di Asia Tengah, yaitu Tajikistan, Kyrgyzstan, Kazakhstan, hingga asmpai Uzbekistan dan Turkmenistan. Ada kepuasan tersendiri yang ia peroleh saat ia sukses “menaklukan” Tibet, menaklukan perasaaan takutnya sendiri. Ia merasa apabila bisa menaklukan sebuah tempat dengan budget seminim mungkin, itu adalah sebuah kebanggaan. 

Menurutnya, yang paling penting dari sebuah perjalanan adalah sejauh mana kita terhubung dengan tempat itu. Itu sebabnya ia tidak mengejar destinasi, apalagi menghitung jumlah negara yang ia kunjungi. Pria kelahiran Lumajang, Jawa Timur, ini pun berteori bahwa seseorang baru dapat dikatakan sudah melebur dengan masyarakat lokal jika bisa tertawa mendengar joke mereka. Dan hal yang menarik lain dari perjalanannya adalah demi berpindah dari satu tempat ke tempat lain, Agustinus menggunakan berbagai macam alat transportasi, mulai dari kereta api, bus, truk, hingga menumpang kuda dan keledai, dan diselingi dengan berjalan kaki.

Berkelana ke banyak negara selama bertahun-tahun membuatnya tidak cuma sekali dua kali mengalami kejadian-kejadian naas. Berbagai marabahaya pernah ia hadapi, mulai dari ditangkap polisi, dirampok, dipukul preman, ditahan agen rahasia, dan kelaparan. Belum lagi perasaan rindu pulang ke rumah. Seperti pada saat di Tibet, titik awal perjalanannya, dia masuk ke negeri atap dunia dengan cara menyelundup karena tak mengantongi izin masuk yang biayanya tentu saja dia tidak sanggup membayarnya. Satu bulan di Tibet dijalanni dengan penuh rasa takut akan diciduk polisi, dipenjara dan lain – lain. Tetapi meskipun sempat bertemu polisi berkali-kali dengan keberuntungan setinggi Tibet itu ia berhasil lolos dari semua polisi yang ada. Namun menurut dia kesulitan yang dirasa paling mengganggu adalah soal birokrasi. Berkaitan dengan masa visa yang habis dan belum mendapat kepastian visa untuk negara selanjutnya. Contohnya ketika ia menanti kepastian di India untuk mendapatkan visa perjalanan selanjutnya menuju Pakistan, ia berkali-kali ditolak oleh pihak imigrasi. Tapi ia tetap dengan gigih memperjuangkan kelanjutan perjalanannya itu. Dan akhirnya ia pun mendapatkan kesempatan untuk mengurus visanya tersebut meskipun harus menanti berminggu – minggu. Ia berada di India dengan berjuta masalah sosial lingkungan disekitar tempat ia menginap – menanti kepastian dan harapan untuk melanjutkan perjalanannya menuju Afrika Selatan yang masih sangat jauh.  Keadaan terkatung-katung tanpa kepastian ini yang paling ditakutkan oleh Agustinus. Dari hal ini Agustinus sadar bahwa pilihan hidup yang ia ambil bukan tanpa halangan atau resiko. Semua hal yang bisa dibilang hampir merenggut nyawa dan masa depannya telah ia alami tetapi ia yakin akan tujuannya untuk terus melanjutkan perjalanan keliling dunia sebagai jalan hidupnya. 

Kisah perjalanan dari negeri Tibet hingga Iran tersebut diterbitkan menjadi sebuah buku berjudul Titik Nol. Penerbitnya sama dengan yang menerbitkan dua buku terdahulunya, Selimut Debu dan Garis Batas. Dimana kedua buku sebelum Titik Nol tersebut adalah kelanjutan perjalanannya ke negeri “Stan”. Versi buku setebal 552 halaman ini berbeda dengan versi artikel berseri terdahulu. Agustinus menambahkan kisah personal antara ia dan sang ibu, yang saat itu tengah berjuang melawan penyakit. Baginya, ini adalah buku paling personal yang pernah ia buat. Di dalamnya terdapat momen saat ia kembali ke wajah-wajah familiar setelah belasan tahun meninggalkan rumah.

Agustinus saat ini menetap di Ibukota untuk sementara. Tapi bagi dia, ia takkan tinggal diam karena perjalanan bukan sekedar liburan untuk melarikan diri sejenak dari rutinitas, perjalanan sudah menjadi hidup itu sendiri. Seperti yang ia tuliskan dalam Titik Nol:, “‘Rumah’-ku sekarang adalah jalanan yang membentang. Aku adalah nomad, napasku adalah perpindahan.”. 

Hidup itu adalah pilihan menjadi manusia pada umumnya atau memilih jalan yang berbeda dimana orang lain menganggap bahwa hidupnya sangat penuh resiko seperti Agustinus Wibowo. Tapi setiap profesi akan selalu memiliki resiko dan akibat yang akan kita terima. Karena sukses bukan sekedar berbicara tentang materi atau uang tetapi juga pengalaman,meskipun pengalaman tersebut tidak semuanya pengalaman baik seperti yang kita harapkan. Dan dari banyak pengalaman yang Agustinus peroleh, bisa dibilang ia sukses dengan buku-buku yang telah ia hasilkan yang telah menginspirasi banyak orang.

Oleh karena itu pilihlah jalan hidupmu sendiri, tapi bersiaplah juga dengan semua resiko dan kesuksesan didalamnya, karena yang menjalani kamu.

 

Referensi

http://www.wego.co.id/berita/agustinus-wibowo-pengelana-negeri-tak-terjamah/

Ditulis oleh :

Gabriel Rizkiawan / 26410114

ARTIKEL LAIN

Antonius Widjaya: Fotografer Arsitektur yang Masih Mencari Kesempurnaan

Antonius Widjaya mungkin nama yang masih terdengar asing di telinga kita namun terkenal di kalangan Architecture Photographer di Surabaya. Lulus menyandang gelar S. Ds. dari Universitas Kristen Petra pada 2006, ia langsung membuka konsultan desain interior bersama dengan beberapa teman. Seiring waktu berjalan, mereka menyadari bahwa konsultan desain yang mereka dirikan bukanlah jalan terbaik, melihat kurangnya pengalaman bekerja yang mereka miliki sebagai fresh graduate.

Pria asal Surabaya ini kemudian memfokuskan diri dalam dunia 3D rendering yang telah dikuasainya sejak lama. 3D rendering sendiri merupakan proses menghasilkan gambar berdasar gambar 3 dimensi yang mirip dengan fotografi atau sinematografi. Karirnya berjalan cukup baik dengan klien dari luar negeri yang merupakan pelanggannya saat masih bekerja sebagai konsultan. Namun, ia menyadari bahwa tidak dapat terus berada di zona nyaman dan bergantung hanya pada klien yang sama. Mendapat inspirasi saat mengerjakan 3D rendering dan berbekal hobi fotografi dan ilmu interior yang dimilikinya, pria kelahiran 21 Januari 1984 ini kemudian memberanikan diri masuk ke dalam dunia fotografi sebagai architecture and interior photographer pada 2014.

Berjuang dengan sangat keras, Antonius mulai membeli tutorial online dan bahkan rela memfotokan teman dengan harga hampir gratis di awal karirnya. Bukan usaha yang sia-sia, ia sekarang menjadi salah satu architecture photographer yang dicari. Beberapa klien yang telah memakai jasanya antara lain, PT Sinar Galaxy dan Indonesia Design Magazine. Berbicara mengenai apakah bakat fotografi menjadi salah satu kunci kesuksesannya, mantan ketua Persekutuan Program Studi ini menjawab, “Bagi saya, bakat itu tidak ada; yang ada itu passion. (Saya) menghabiskan banyak waktu di bidang tersebut sampai menjadi bakat. Passion pasti membuka banyak jalan,” tegasnya.

Ketika diitanya mengenai suka duka dalam bidang pekerjaannya, pemilik studio Arch-viz ini mengatakan bahwa pekerjaan ini tidak seperti bekerja karena merupakan hobinya. Di sisi lain, pekerjaan ini juga merupakan bidang pekerjaan baru sehingga belum banyak saingan. Meski demikian, terdapat pula tantangan-tantangan yang berat seperti harus membangun brand sendiri dan banyak orang awam yang kurang paham mengenai dunia architecture photography. “Banyak orang Surabaya yang sulit menerima hal baru. Mereka berpikir kenapa foto arsitektur dan interior harus pakai jasa orang. Difoto sendiri kan bisa,” jelasnya.

Memperluas koneksi melalui teman dan kenalan dari bidang interior merupakan salah satu cara yang ditempuh oleh mantan ketua hima ini. Salah satunya didapat dari melakukan barter dengan temannya, yaitu ia memfotokan dengan cuma-cuma dan hasil fotonya dapat digunakannya untuk promosi. Di sisi lain, memperkuat branding dengan membuat portofolio dan melakukan seminar juga dilakukannya. Salah satu seminarnya adalah seminar workshop fotografi arsitektur yang bekerjasama dengan Vasa Hotel dan Sony.

 Suka duka dan tantangan-tantangan telah dilaluinya dengan berbagai cara hingga sukses. Namun, meskipun telah sukses di usianya yang masih muda, tidak ada sedikitpun rasa sombong dan puas diri. “Selalu rendah hati dan mau belajar, karena saya percaya dalam mencari kesempurnaan merupakan sesuatu yang never ending (tak pernah berakhir –red),” tutupnya saat ditanya mengenai moto hidup.

 

Ditulis oleh :

Maria Cornelia Susanto (22416053)

Maria Olivia Budiman : Penukar Budaya Indonesia dan Korea Selatan

Siapa yang tidak menggemari budaya pop Korea Selatan saat ini? Dari film drama, musik Kpop, dan makanan sudah menjadi hal yang sangat digemari oleh masyarakat Indonesia dari berbagai kalangan. Dapat dipastikan dari semua penggemar Kpop ingin bertemu dengan idolanya. Tetapi sedikit yang membayangkan untuk bisa menjadi seorang idola itu sendiri. Lalu bagaimana jika kita benar-benar bisa menjadi idola?

Belajar kebudayaan lain merupakan hal yang disukai Maria Olivia Budiman, atau yang akrab disapa Maria, alumni Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) UK Petra tahun 2007. Ia pernah menjadi leader salah satu girlband Korea pada tahun 2013 yang bernama Sensation of Stage (S.O.S). Wanita asal Surabaya ini dikenal dengan nama Mary ketika menjadi leader di girlband tersebut.

Awalnya, menjadi seorang idola bukanlah karir yang terpikirkan oleh Maria. Perjalanan karirnya dimulai saat Maria bekerja pada sebuah Advertising Agency di Jakarta. Setelah lima bulan bekerja, seorang teman mengajaknya untuk mengikuti audisi idola K-Pop yang diadakan oleh salah satu stasiun TV ternama. Berkat bujukan temannya, Maria mendaftarkan dirinya untuk mengikuti audisi. “Kesempatan tidak datang dua kali, makanya harus digunakan sebaik mungkin,” terangnya. Maria lolos hingga seleksi di Jakarta dan terpilih menjadi bagian dalam 12 finalis acara tersebut.

Kesempatan tersebut benar-benar tidak disia-siakan oleh Maria. Kesukaannya untuk belajar budaya lain membuatnya menandatangani kontrak dengan pihak penyelenggara acara. Maria lantas mendapatkan banyak pengalaman dan wawasan dari perjalanannya di Korea. Setelah mendapatkan pelatihan selama enam bulan, para finalis yang berangkat ke Korea pun dibuatkan girlgroup dan album sesuai dengan kesepakatan awal. Akhirnya pada 2013, S.O.S memulai debutnya dengan status sebagai bintang internasional dibawah Sony Music South Korea.

Tidak hanya menjadi personil sebuah girlband, Maria juga terpilih menjadi Korean Tourism Ambassador perwakilan Indonesia menggantikan Sandra Dewi. Tugas utamanya saat itu adalah memperkenalkan budaya Indonesia sebagai bentuk pertukaran budaya Indonesia dengan budaya Korea. “Dari beberapa hal yang saya jalani di Korea, banyak budaya yang saya pelajari seperti contohnya kedisiplinan, persepsi tentang waktu dan stereotip yang ada tentang masyarakat Korea,” tukasnya. Maria mengaku juga senang bisa belajar budaya dengan masyarakat Korea secara langsung dan dapat membagikannya kepada masyarakat Indonesia.

Hingga pada 2015, Maria memutuskan untuk keluar dari S.O.S karena mulai merasakan ketidakpastian pada masa depannya. Meskipun sudah keluar dari S.O.S, Maria tetap melanjutkan tugasnya sebagai Korean Tourism Ambassador hingga 2016. Setelah Maria melanjutkan karirnya sebagai Social Media Manajer di IDN Media selama dua tahun, ia sekarang merupakan Project Manajer di IDN Media.

Dari berbagai pengalaman jatuh bangun yang ia jalani, Maria menyadari satu hal. Ia mengutip dari Steve Jobs “Connecting the dots”, yang berarti hidup kita adalah titik-titik hitam yang perlu disambung menjadi sebuah gambar besar. Mantan wakil ketua BEM UK Petra periode 2010/2011 ini pun berpesan kepada teman-teman mahasiswa UK Petra untuk meyakini bahwa Tuhan pasti sudah menyiapkan rencana yang baik untuk kita semua.

 

Ditulis oleh :

Hans Christian (51415007)

Natalia Tanan : Menjadi PNS yang Melayani

Tidak tebersit dalam bayangan Natalia Tanan, atau yang akrab disapa Lia untuk menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS). Salah satu alumni Program Studi Teknik Sipil Universitas Kristen Petra tahun 1996 ini awalnya sangat ingin bercita-cita untuk menjadi seorang misionaris. Namun ternyata Tuhan punya rencana lain menempatkan Lia dalam dunia yang lebih sekuler. Lia berhasil menyelesaikan gelar masternya tepat pada saat sedang dibuka kembali lowongan menjadi PNS setelah sekian lama mengalami moratorium. Lia pun mendaftar, mengikuti tes, dan akhirnya diterima sebagai PNS.

Pekerjaan yang diambil oleh Lia sebenarnya tidak sesuai dengan cita-cita awalnya yaitu menjadi misionaris. Namun, wanita kelahiran Makalela, Sulawesi Selatan ini tetap sejalan dengan mimpinya untuk melayani masyarakat, meskipun di bidang yang berbeda. Saat ini Lia ditugaskan di Pusat Jalan dan Jembatan (PUSJATAN) Bandung dan menjabat sebagai Kepala Seksi Layanan di Balai Sistem dan Teknik Lalu Lintas. Sebagai pusat Penelitian dan Pengembangan (Litbang), pekerjaan utama Lia adalah memantau perkembangan dari penelitian peneliti-peneliti yang ada di Balai Sistem dan Teknik Lalu Lintas. Hobinya membaca membantunya dalam menyelesaikan penelitiannya selama bekerja. Selain itu, Lia juga bertugas menjadi konsultan untuk daerah-daerah yang membutuhkan bantuan. Oleh karena itu Lia seringkali berkeliling Indonesia untuk memantau kebutuhan pembangunan di daerah-daerah dari Sabang sampai Merauke.

Selama bekerja, Lia masih memiliki sesuatu yang ingin segera ia wujudkan. Lia ingin membangun kota yang ramah anak. Menurutnya, saat ini rawan untuk anak bisa berada di jalan sendiri melihat kondisi jalan yang tidak kondusif. Banyak pengendara yang membahayakan dan tidak menghargai hak pejalan dan pengguna non-kendaraan bermotor. Padahal, ketika dirinya masih berusia muda, ia bisa berjalan di jalan tanpa takut sesuatu terjadi padanya. Maka dari itu, Lia ingin memanusiakan lalu lintas dengan menertibkan jalan agar semua pengguna jalan termasuk anak-anak dapat menikmati fasilitas jalan dengan tenang dan tidak khawatir bahaya. Bagi Lia, jika kota tersebut ramah anak, pastilah akan ramah dengan semua pihak.

Berkat kerja kerasnya, Lia meraih penghargaan peneliti terbaik 2013 dalam internal PUSJATAN, dan menjadi peneliti terbaik 2015 se-Kementerian Pekerjaan Umum karena menggugat hak pejalan kaki. Lia berharap mahasiswa UK Petra tidak lagi takut untuk masuk dalam ranah pemerintahan. Terlepas dari stereotip yang ada, bidang yang ditekuni Lia saat ini masih dapat mempertahankan idealismenya tanpa terkena KKN dan pikiran kotor lainnya. “Selama bekerja d isini, saya tetap diberikan kesempatan untuk mempertahankan idealisme saya agar tidak terpengaruh hal yang buruk,” pungkasnya. “Ketika pertama kali masuk ke dunia yang heterogen dari tempat yang homogen memang tidak mudah. Tetapi Puji Tuhan tidak ada teman-teman disini yang mendiskriminasi saya,” tuturnya.

 

Ditulis oleh:

Hans Christian (51415007)