AGUSTINUS WIBOWO: "TURIS" SEBAGAI PILIHAN KARIR

Selimut Debu, Garis Batas, dan Titik Nol adalah sebuah karya yang hadir dari seorang Agustinus Wibowo, seorang travel-writer dan fotografer dari Indonesia yang telah menjelajah dari Afghanistan, Central Asia, dan China. Destinasi-destinasi yang tidak umum dikunjungi orang kebanyakan hanya untuk mewujudkan mimpinya keliling dunia dan berbagi cerita-cerita inspiratif ke semua orang. Semua hal yang ia alami selama perjalanan itu ia tulis dengan lengkap disertai beberapa foto didalam buku-buku yang telah ia tulis.

Laksana kepompong yang keluar dari perlindungannya usai tidur panjang, seperti itulah hidup Agustinus Wibowo sejak 10 tahun silam. Kutubuku canggung yang jarang keluar rumah dan takut panas, kini telah berkelana ke negara-negara yang  mungkin luput dari daftar tujuan traveler kebanyakan. Agustinus kecil bercita-cita menjadi seorang turis. Bukan polisi, dokter, atau profesi-profesi lain yang dianggap mulia dan menjadi tolak ukur kesuksesan. Ia rela melepaskan modal masa depan sebagai lulusan universitas terbaik di Beijing, Cina, demi mengunjungi negara-negara yang dulu hanya bisa ia intip dari koleksi perangkonya.

Semua berawal ketika Agustinus menjadi sukarelawan tsunami di Aceh pada Januari 2005. Di daerah yang luluh lantak akibat terjangan gelombang dahsyat tersebut, ia justru melihat semangat warga yang kuat untuk bangkit kembali. Agustinus yang saat itu baru lulus dari jurusan Komputer, bertekad banting setir menjadi seorang jurnalis. Tujuannya hanya satu, bisa mengunjungi tempat-tempat yang tak biasa dikunjungi, untuk menyebarkan cerita-cerita inspiratif.

Rencana perjalanannya jelas, bahwa ia akan melakukan perjalanan dari Beijing hingga ke Afrika Selatan dengan menggunakan jalur darat. Yang cukup mengejutkan dari perjalanan yang ia lakukan ini ialah tidak mendapat restu dari orang tua sehingga ia membiayai semua perjalanan ini dengan uang pribadinya. Perjalanan akbarnya dimulai dari Stasiun Kereta Api Beijing, Cina, pada bulan Juli 2005. Dari sana, ia menanjak ke Tibet, menyeberang ke Nepal, lalu menuju India, kemudian menembus Pakistan, Afghanistan, Iran, hingga akhirnya masuk ke negeri-negeri ‘Stan’ di Asia Tengah, yaitu Tajikistan, Kyrgyzstan, Kazakhstan, hingga asmpai Uzbekistan dan Turkmenistan. Ada kepuasan tersendiri yang ia peroleh saat ia sukses “menaklukan” Tibet, menaklukan perasaaan takutnya sendiri. Ia merasa apabila bisa menaklukan sebuah tempat dengan budget seminim mungkin, itu adalah sebuah kebanggaan. 

Menurutnya, yang paling penting dari sebuah perjalanan adalah sejauh mana kita terhubung dengan tempat itu. Itu sebabnya ia tidak mengejar destinasi, apalagi menghitung jumlah negara yang ia kunjungi. Pria kelahiran Lumajang, Jawa Timur, ini pun berteori bahwa seseorang baru dapat dikatakan sudah melebur dengan masyarakat lokal jika bisa tertawa mendengar joke mereka. Dan hal yang menarik lain dari perjalanannya adalah demi berpindah dari satu tempat ke tempat lain, Agustinus menggunakan berbagai macam alat transportasi, mulai dari kereta api, bus, truk, hingga menumpang kuda dan keledai, dan diselingi dengan berjalan kaki.

Berkelana ke banyak negara selama bertahun-tahun membuatnya tidak cuma sekali dua kali mengalami kejadian-kejadian naas. Berbagai marabahaya pernah ia hadapi, mulai dari ditangkap polisi, dirampok, dipukul preman, ditahan agen rahasia, dan kelaparan. Belum lagi perasaan rindu pulang ke rumah. Seperti pada saat di Tibet, titik awal perjalanannya, dia masuk ke negeri atap dunia dengan cara menyelundup karena tak mengantongi izin masuk yang biayanya tentu saja dia tidak sanggup membayarnya. Satu bulan di Tibet dijalanni dengan penuh rasa takut akan diciduk polisi, dipenjara dan lain – lain. Tetapi meskipun sempat bertemu polisi berkali-kali dengan keberuntungan setinggi Tibet itu ia berhasil lolos dari semua polisi yang ada. Namun menurut dia kesulitan yang dirasa paling mengganggu adalah soal birokrasi. Berkaitan dengan masa visa yang habis dan belum mendapat kepastian visa untuk negara selanjutnya. Contohnya ketika ia menanti kepastian di India untuk mendapatkan visa perjalanan selanjutnya menuju Pakistan, ia berkali-kali ditolak oleh pihak imigrasi. Tapi ia tetap dengan gigih memperjuangkan kelanjutan perjalanannya itu. Dan akhirnya ia pun mendapatkan kesempatan untuk mengurus visanya tersebut meskipun harus menanti berminggu – minggu. Ia berada di India dengan berjuta masalah sosial lingkungan disekitar tempat ia menginap – menanti kepastian dan harapan untuk melanjutkan perjalanannya menuju Afrika Selatan yang masih sangat jauh.  Keadaan terkatung-katung tanpa kepastian ini yang paling ditakutkan oleh Agustinus. Dari hal ini Agustinus sadar bahwa pilihan hidup yang ia ambil bukan tanpa halangan atau resiko. Semua hal yang bisa dibilang hampir merenggut nyawa dan masa depannya telah ia alami tetapi ia yakin akan tujuannya untuk terus melanjutkan perjalanan keliling dunia sebagai jalan hidupnya. 

Kisah perjalanan dari negeri Tibet hingga Iran tersebut diterbitkan menjadi sebuah buku berjudul Titik Nol. Penerbitnya sama dengan yang menerbitkan dua buku terdahulunya, Selimut Debu dan Garis Batas. Dimana kedua buku sebelum Titik Nol tersebut adalah kelanjutan perjalanannya ke negeri “Stan”. Versi buku setebal 552 halaman ini berbeda dengan versi artikel berseri terdahulu. Agustinus menambahkan kisah personal antara ia dan sang ibu, yang saat itu tengah berjuang melawan penyakit. Baginya, ini adalah buku paling personal yang pernah ia buat. Di dalamnya terdapat momen saat ia kembali ke wajah-wajah familiar setelah belasan tahun meninggalkan rumah.

Agustinus saat ini menetap di Ibukota untuk sementara. Tapi bagi dia, ia takkan tinggal diam karena perjalanan bukan sekedar liburan untuk melarikan diri sejenak dari rutinitas, perjalanan sudah menjadi hidup itu sendiri. Seperti yang ia tuliskan dalam Titik Nol:, “‘Rumah’-ku sekarang adalah jalanan yang membentang. Aku adalah nomad, napasku adalah perpindahan.”. 

Hidup itu adalah pilihan menjadi manusia pada umumnya atau memilih jalan yang berbeda dimana orang lain menganggap bahwa hidupnya sangat penuh resiko seperti Agustinus Wibowo. Tapi setiap profesi akan selalu memiliki resiko dan akibat yang akan kita terima. Karena sukses bukan sekedar berbicara tentang materi atau uang tetapi juga pengalaman,meskipun pengalaman tersebut tidak semuanya pengalaman baik seperti yang kita harapkan. Dan dari banyak pengalaman yang Agustinus peroleh, bisa dibilang ia sukses dengan buku-buku yang telah ia hasilkan yang telah menginspirasi banyak orang.

Oleh karena itu pilihlah jalan hidupmu sendiri, tapi bersiaplah juga dengan semua resiko dan kesuksesan didalamnya, karena yang menjalani kamu.

 

Referensi

http://www.wego.co.id/berita/agustinus-wibowo-pengelana-negeri-tak-terjamah/

Ditulis oleh :

Gabriel Rizkiawan / 26410114

ARTIKEL LAIN

AGAMA DAN DILEMA DUNIA KERJA

          Kebutuhan manusia akan agama adalah mutlak. Eksistensi Tuhan, kehidupan setelah kematian, dan kebutuhan spiritual lainnya hanya dapat dijawab oleh agama. Namun tidak hanya sampai disitu, seringkali kita juga menggunakan agama dalam berbagai segi kehidupan kita. Mungkin secara tidak sadar kita lebih memilih berteman dengan mereka yang seagama. Dalam hal memilih pemimpin, tentu kita tidak lupa kisah Ahok, Gubernur DKI Jakarta itu. Lalu bagaimana dengan dunia kerja yang seringkali kita dapati penerimaan karyawan dan penentuan jabatannya didasari oleh sebuah agama tertentu? Setuju kah kita?

          Maret 2015 lalu masyarakat heboh dengan lowongan kerja MNC Sky Vision Surabaya yang mengutamakan non-muslim dalam deskripsinya. Sempat ada demo yang memprotes hal ini. Kemudian di tahun yang sama PT. Sushantco Indonesia juga memberi syarat laki-laki muslim bagi para pelamar kerjanya. Tahun 2016 pemilik Hawaii Group menandatangani surat permohonan maaf atas iklan lowongan kerja yang diposting managementnya di Facebook. Pada iklan tersebut Hawaii Group memberi keterangan yang mengutamakan calon pekerja non-Hindu untuk posisi cook. Dan masih banyak lagi lowongan pekerjaan dengan syarat agama yang tidak diblow-up media.

          Sebelum kita mulai menghakimi para pemilik usaha dan managementnya atas syarat agama dalam lowongan pekerjaan mereka ada baiknya kita merenungkan ini. Cara hidup seseorang ditentukan oleh lingkungan, latar belakang suku, budaya dan tidak terkecuali agama. Muslim melakukan shalat sebanyak lima kali dalam sehari, Kristen pergi ke gereja setiap hari Minggu. Umat Hindu sembahyang Trisandya yaitu sebanyak tiga kali pada pagi, siang, dan sore. Tiap agama memiliki waktu dan intensitas yang berbeda dalam beribadah. Maka dalam bekerja pun agama juga punya pengaruh karena merupakan gaya hidup seseorang, setidaknya dalam hal waktu.

          Secara hukum di Indonesia, menggunakan agama sebagai syarat penerimaan pegawai merupakan sebuah pelanggaran. Pasal 5 UU Ketenagakerjaan (UU no.13 tahun 2003) mengatakan “Setiap tenaga kerja memiliki kesempatan yang sama tanpa diskriminasi untuk memperoleh pekerjaan”. Tetapi beberapa perkecualian seharusnya bisa kita buat. Bukankah sebuah restoran masakan China yang mengandung babi tak sepantasnya mempekerjakan seorang muslim untuk memasak? Tentu saja hal ini bukan sebuah tindakan diskriminatif karena seorang muslim diharamkan mengkonsumsi dan bahkan menyentuh babi.

          Pasal 6 UU Ketenagakerjaan juga menjamin para pegawai untuk mendapat hak dan kewajiban yang sama tanpa melihat jenis kelamin, suku, warna kulit, dan lain sebagainya termasuk agama. Promosi dan jabatan adalah hak semua pegawai yang bekerja keras dan kompeten. Namun bukan berarti kita tidak boleh membuat perkecualian dengan syarat agama untuk jabatan tertentu. Karena tiap agama berbeda pengajarannya dalam doktrin, konsep teologis maupun praktis. Kita tentu patut bertanya jika sebuah universitas Kristen dengan visi, misi, dan nilai-nilainya yang Alkitabiah dipimpin oleh seorang rektor beragama Buddha.

          Bukan berarti UU Ketenagakerjaan Pasal 5 dan 6 itu salah. Aturan itu perlu ada untuk meminimalisir hal-hal seperti “Aku bosnya, aku Kristen, karena kamu Konfusian tidak bisa kerja disini” , atau “kamu kurang cantik jadi aku tidak bisa angkat kamu jadi head manager” dan semacamnya. Meskipun pada dasarnya memang itu adalah hak dari para pemilik usaha atau pihak lain yang berwenang. Tapi tanpa alasan yang logis, kuat, dan benar maka para pemilik usaha sebenarnya telah melanggar hak para pegawai atau calon pegawai.

          Dilema agama dalam dunia kerja harus dilihat dari kacamata yang baru dan berbeda. Mulailah dari bertanya apakah pekerjaan atau jabatan itu baik dan benar untuk saya sebagai penganut agama ini? Ketika saya menganut agama Hindu maka lebih baik saya tidak menjadi juru masak sebuah restoran yang menyediakan daging sapi. Atau saya muslim seharusnya saya tidak bekerja di sebuah restoran yang menyediakan daging babi. Ada restoran lain yang tepat buat saya sebagai juru masak untuk bekerja tanpa melanggar ajaran agama saya. Bukan salah restorannya jika mereka memberi syarat non-Hindu dan menolak saya penganut Hindu jika mereka menyediakan hidangan daging sapi. Lain cerita jika saya ditolak jadi dosen seni lukis oleh sebuah universitas Kristen karena saya seorang Buddhis. Tapi tidak tau diri namanya ketika saya seorang Kristen mengajukan diri sebagai rektor di sebuah universitas Islam.

          Maka sejatinya boleh saja menjadikan agama sebagai syarat diterima atau tidaknya seseorang dalam pekerjaan atau jabatan. Selama itu sebenarnya bertujuan untuk kebaikan bersama. Jangan kita mudah menghakimi meskipun banyak ketidakadilan atas nama agama yang memang terjadi di dunia kerja. Lebih penting bagi kita mempersiapkan diri dan bekerja sebaik-baiknya. Tuhan tidak tidur, jika kita setia dan bersungguh-sungguh maka pekerjaan yang baik dan jabatan yang kita impikan akan diberikan juga pada kita.

 

Referensi :

http://candrawiguna.com/komentar-kasus-diskriminasi-lowongan-kerja-di-mnc/

http://www.jogjakarir.com/2015/03/lowongan-kerja-di-pt-sushantco.html

https://student.unud.ac.id/febiani98/news/4690

 

Oleh :

Hendro Richard (42416052)

SOCIOPRENEUR: ABSOLUTELY YAY!

            ABSOLUTELY YAY! Dua kata untuk sociopreneur. Sociopreneur, sebuah kosakata yang mungkin masih asing ditelinga sebagian besar orang. Tetapi, mungkin secara tidak sadar kita telah sering melihat kegiatan tersebut, atau bahkan terlibat di dalamnya. Secara sederhana, sociopreneur dapat dimengerti sebagai suatu usaha dengan basis bisnis namun mengedepankan sisi sosial, yaitu untuk menciptakan dampak positif bagi masyarakat sekitar.

            Bagi saya, seorang sociopreneur adalah pahlawan di masa kemerdekaan ini. Seorang pahlawan, karena ia membawa perubahan yang nyata bagi masyarakat sekitar, terutama mereka dengan kekuatan ekonomi di bawah rata-rata. Tidak semua orang memiliki niat dan panggilan untuk melakukan pekerjaan sosial yang dapat menolong sesamanya tersebut. Berbagai tantangan dan halangan silih berganti. Menurut saya pribadi, orang-orang yang mau menjadi seorang sociopreneur harus dihargai dan didukung dalam segala usahanya dibidang sosial.

            Menjadi seorang sociopreneur ini seharusnya menjadi kesempatan yang terbuka lebar untuk kita sebagai generasi muda Indonesia. Seperti yang kita ketahui, Indonesia yang sangat luas ini terdiri dari 250 juta rakyat dengan latar belakangnya masing-masing. Tidak semua orang Indonesia berada pada kondisi ekonomi berkecukupan. Bahkan, semakin lama angka pengangguran di Indonesia semakin meningkat.

            Contoh sociopreneur adalah Nadiem Makarim. Namanya memang tidak terlalu populer di telinga kita. Namun, pria berusia 32 tahun tersebut memiliki jasa yang besar, tidak hanya bagi mereka yang membutuhkan pekerjaan tapi juga bagi mereka yang membutuhkan kecepatan waktu, Yap, GO-JEK. Melalui ide kreatifnya, Nadiem Makarim membantu banyak orang. Yang patut disoroti di sini adalah ide kreatifnya untuk membuat sebuah ojek online. Ketika sebagian besar putra bangsa yang menimba ilmu di luar negeri memutuskan untuk berkarir di sana, Nadiem Makarim mengambil keputusan berbeda, yaitu kembali ke Indonesia dan memberdayakan masyarakat kelas bawah melalui aplikasi ojek online yang memudahkan supir ojek mendapatkan pelanggannya.

            Sociopreneur merupakan langkah yang tepat untuk membawa perubahan bangsa Indonesia ini. Selama ini, masyarakat Indonesia sering kali dimanjakan dengan bantuan-bantuan secara langsung (bantuan tunai) dari pemerintah, yang justru merusak mental mereka. Tak sedikit dari mereka yang memilih untuk bertahan hidup dengan mengandalkan bantuan dari pemerintah ketimbang bekerja sendiri. Di sinilah poin utama yang harus diatasi.

            Dengan adanya sociopreneur, perekonomian masyarakat dapat mengalami peningkatan. Di sisi lain, mereka dapat memupuk skill melalui pekerjaan yang dijalani. Secara tidak langsung, mental mereka yang awalnya mungkin hanya berpasarah pada nasib serta bantuan yang diterima, juga akan beralih menjadi semakin semangat dalam mengusahakan yang terbaik bagi kelangsungan kehidupannya dan kehidupan keluarganya.

            Usia bukanlah halangan bagi kita sebagai seorang mahasiswa untuk memulai langkah tepat menjadi seorang sociopreneur. Yang penting bukanlah seberapa besar yang kita lakukan, tapi seberapa besar dampak yang dapat kita hasilkan bagi sesama.

 

 

Referensi

http://www.slideshare.net/NadyaSyabillaA/makalah-sociopreneur

https://sosiopreneur.wordpress.com/tag/ciri-ciri-sociopreneur/

https://pararawendy.wordpress.com/2016/02/07/sociopreneur-dan-dua-contoh-hebatnya/

 

 

oleh:

Regina Bella Rosari (51416001)

m51416001@john.petra.ac.id

Pengumuman Pemenang Undian Souvenir Tracer Study 2017

Tim Tracer Study UK Petra mengirimkan Kuesioner Online Tracer Study pada lulusan 2015 pada tanggal 12 Juli 2017 yang lalu. Sebagai ungkapan terimakasih, UK Petra menyediakan souvenir berupa voucher belanja MAP yang diundi dengan ketentuan sebagai berikut:

  • 50 pemenang dari 150 pengisi pertama mendapatkan voucher sejumlah Rp 200.000
  • 50 pemenang dari 150 pengisi berikutnya mendapatkan voucher sejumlah Rp 100.000

Periode survey telah ditutup pada tanggal 28 Juli 2017 lalu dan pengundian telah dilakukan pada tanggal 1 Agustus 2017.

Pengundian dilakukan dengan memberikan nomor undian pada setiap responden secara urut berdasarkan waktu pengisian. Rumus pengundian dibuat di Ms Excel untuk mengeluarkan 50 angka acak dari angka 1 - 150. 50 Angka acak yang keluar adalah 50 pemenang undian voucher. Proses tersebut dilakukan untuk 150 pengisi pertama, dan juga 150 pengisi berikutnya.

 

Berikut adalah nama pemenang undian Voucher MAP Rp 200.000 :

  1. JESSICA - 25411017
  2. KEVIN WIBOWO - 35411007
  3. AGUSTINUS GANDAWIDJAJA - 26411013
  4. JESSICA WIJAYA LOUIS - 22411015
  5. GABRIEL RIZKIAWAN SANTOSO - 26410114
  6. ENRICO VARIAN ONGGO - 42411065
  7. AILIN EASTERINA - 22410097
  8. WILLIAM WIBISONO - 21411046
  9. MONICA OKTAVIA - 32410053
  10. DICKY LIENARDO LIE - 22411096
  11. RATNA ANGGRAINI - 42411079
  12. DAVID RICHARDO - 33411147
  13. STEFFI THANISSA HALIM - 12410008
  14. VALENTINA WINDA KRISTIANTI - 26410048
  15. IRENE SUSILO - 36411015
  16. ALFINDO JANANTO - 35410023
  17. MARCHELLYN SOENJAYA - 33411057
  18. FERNALDI KURNIAWAN - 34411044
  19. ARDELIA WIDYANATA TJOA - 42411215
  20. BOBBY WILLIAM THERRY - 26411011
  21. YESHINTA TRIVENA DEWI - 32411140
  22. JIMMY MULIAWAN - 26411044
  23. NENCY - 35411035
  24. STEPHANIE VICTORIA WIJAYA - 31411248
  25. RICHARD PANGALILA - 26411081
  26. BELINDA TEDJOKUSUMO - 22410017
  27. FERDIARTO LIMANTORO - 25411031
  28. ELSA ONGKOWIJOYO - 32411056
  29. JANE ANDOKO - 33411043
  30. KEVIN WILLYANTO - 21411075
  31. YEFTA GAVRA GARLAND PERSADA - 21411155
  32. RENDY YUWONO - 24411049
  33. YENNY - 11409013
  34. DANNY TANTRA - 26411040
  35. MARIA VIONITA W. - 22411111
  36. JANET GEORGINA ANDRETA MANOPPO - 32410141
  37. TEGUH WIBISONO SANTOSA - 36411039
  38. JOHANES JOVIAL KOOSWANTORO - 22410107
  39. PAULINA KRISTIANI - 31411025
  40. ANDY JACKSON - 31411111
  41. BRYAN WIDARNO - 21411068
  42. BUDI TIRTO HANTORO - 35410030
  43. FELLY LILIYANA SOENYOTO - 34411048
  44. IRISA CHRISTY OCTAVIA SOEDIMO - 22411063
  45. NONY KEZIA MARCHYTA - 37411045
  46. JESSICA HELENA SUTEDJO - 32410051
  47. DAVID TANUJAYA - 26411043
  48. MARCHELLIA PRASETYA - 42411146
  49. CHRISTIAN YOKO WIJAYA - 25410024
  50. ALBERT BUDIANTO LIADI - 42411114

 

 

Kemudian, berikut adalah nama pemenang undian Voucher MAP Rp 100.000 :

  1. VINCENT CHIPTODJOJO - 26410005
  2. JUWITA PRISCELLA KWONG - 41411067
  3. CLAUDIA PRICILIA CHANDRA - 34411026
  4. ADITYA FERRYANTO - 32411048
  5. ANGGA PRABOWO - 51410139
  6. MARIA CAROLINA PUDJIHARDJO - 33411078
  7. SELIECIA ENDY KRISTANTI - 33410069
  8. ALBERT LEONARD GEJALI - 31411075
  9. ANTHONY NUGROHO - 24411055
  10. JANE LEVINA - 35411015
  11. GRACE HANYTASARI - 42411063
  12. FREDY SUGIMAN - 33410077
  13. OKTAVIA KRISTIN SURYANINGRUM - 22410019
  14. WIDIAWATI LIMANTO - 42410270
  15. RIZKY ALIM SUSANTO - 41410117
  16. SETYAYUDHA LEMBONO - 22410023
  17. ANNEKE DEBORA KUNCORO - 22411044
  18. ARIELLA CORNELIA ANGGONO - 33411024
  19. JEFFRAN STEVANUS GUNAWAN - 33411054
  20. WILSON KONG - 31411237
  21. ELIZABETH NATHANIA WITANTO - 26411113
  22. MICHAEL SUTRISNO - 31411079
  23. MICHAEL - 33410119
  24. CINDY FRANSISCA TANRIM - 22411018
  25. MELANIA WINARTA - 31411133
  26. JESSICA ARIYANTI JASAHARTANA - 32411070
  27. LISA VALENTINE - 32411080
  28. BIANDA VERSA - 36411053
  29. YOHANA ZERLINDA PRANOTO - 42411093
  30. MARITA WIJAYA - 31411287
  31. ANGELINE THRESDY WIJAYA - 22410068
  32. HENDRA WENNADY WIJOYO - 26411063
  33. INDRAWAN ANGGRADINATA - 21411124
  34. PAMELA FELITA - 31410072
  35. WANDA WIJAYA - 42411059
  36. MARVIN EDWAR LESMANA - 22411147
  37. NIO NERISSA ARVIANA BUNTORO - 42411086
  38. YESIKA HARTANTO KARJODIHARDJO - 41411001
  39. AYU ABRIYANTI CHANDRA DEWI - 36411084
  40. NATALI DEVIANA SUTANTO - 41411032
  41. BRIAN SURYANATA - 41410064
  42. STELLA FRANCISS MULIANTO - 32411053
  43. ROSELINEE NATHANIA HALIM - 42411103
  44. ESTEFAN JUNAYDI WICAKSONO - 32411105
  45. AGNES YUSTIVANI DE SIRAT - 26411145
  46. KLEMENS PRAMUDITA - 42411053
  47. STEVEN GUNAWAN - 42411081
  48. TOMMY PRAYOGO - 22410036
  49. JOVITA KOLIN SETIADI - 41411038
  50. RENATA ODILIA HANDOJO - 22410053

 

Pusat Karir akan menghubungi para pemenang untuk menanyakan alamat pengiriman souvenir dan segera mengirimkan souvenir kepada yang bersangkutan.

Selamat untuk para pemenang undian, dan terimakasih atas partisipasinya dalam Tracer Study 2017.