Siapkan Mimpi Melalui Personal Brand Petra Career Camp 2015

Ada ungkapan bijak, pengalaman adalah guru terbaik dalam kehidupan. Namun, apabila pengalaman tidak dibekali dengan ilmu yang memadahi, masa depan akan berlalu sia-sia. Pada 19-24 Juni 2015 lalu, Pusat Karir Universitas Kristen (UK) Petra mempersembahkan sebuah kegiatan pelatihan yang ditujukan untuk mahasiswa. Kegiatan yang bertajuk “Many Dreams, One Team: Welcoming The New Brand Of You,” ini merupakan suatu wadah bagi mahasiswa untuk mendapatkan materi sekaligus pengalaman berharga yang kelak dapat direalisasikan selepas lulus dari bangku kuliah.

Career Camp 2015 berlangsung selama satu hari di Surabaya dan selama lima hari di Bali. Seluruh materi yang dipersiapkan selama kurang lebih satu tahun oleh tim Pusat Karir UK Petra diselaraskan dengan topik “Making Your Own Personal Branding.” Personal Branding merupakan aspek penting dalam setiap pribadi yang dapat menentukan kesuksesan seseorang. Menurut Jessie Monika, Training Coordinator Pusat Karir UK Petra, tujuan awal Career Camp adalah untuk memberi pelatihan dalam satu rangkaian kegiatan besar dengan materi yang mumpuni. Awalnya, pelatihan-pelatihan serupa acap kali diadakan sebulan satu hingga dua kali. Seiring berjalannya waktu, Career Camp diadakan untuk memfasilitasi beragam materi dalam satu kesempatan bersama.

Sementara itu, selama berada di Surabaya, para peserta diberi bekal ilmu mengenai personal branding yang kemudian akan dipraktikkan ketika berada di Pulau Dewata. Hari pertama diawali dengan adanya sesi Self Identifying dimana seluruh peserta mengikuti tes pengenalan Multiple Intelligence beserta arahan dan penjelasan oleh Magdalena Ratuhaba. Sesi penting selanjutnya adalah sesi “Marketing and Personal Branding” oleh Stephen Ng, pendiri sekolah brand communication pertama di Indonesia.

Beberapa poin penting pada kedua sesi ini adalah mengenai pentingnya personal branding dalam setiap orang serta langkah-langkah untuk membangun personal brand tersebut. Setiap orang harus mempunyai personal branding dikarenakan adanya kebutuhan akan kepercayaan dan pengakuan dari orang lain, serta kebutuhan untuk memasarkan produk atau jasa yang nantinya akan dijual ketika bekerja. How you look + how you speak + how you act = your personal brand.

Sesi yang tak kalah penting lainnya adalah sesi mengenai legalitas bisnis muda pada zaman ini di Indonesia yang dibawakan oleh Hans Edward Hehakaya, pengacara di Surabaya. Pada sesi tersebut, Hans Edward, memberi informasi seputar bisnis yang membutuhkan legalitas di tengah maraknya plagiarisme produk maupun jasa. Selain itu Hans juga memberi tips-tips kepada peserta yang ingin membuka bisnis baru, seperti adanya unsur konten lokal pada produk atau jasa, kreativitas serta peluang kerja sama dari berbagai pihak. Setelah Sesi usai, para peserta bersiap-siap untuk keberangkatan ke Bali menggunakan bus.

Keesokan harinya, seluruh peserta beserta panitia telah sampai di Hotel Puri Nusa Indah, Sanur, Bali. Peserta yang mengikuti Career Camp berjumlah 43 orang dan sudah dibagi menjadi lima kelompok besar yang terdiri dari tujuh hingga delapan orang. Nantinya tim tersebut akan selalu bersama hingga penghujung acara. Setelah itu, acara dimulai kembali dengan kegiatan Clash of Sandwich pada pukul 19.00-21.00 WITA. Pada kegiatan ini, setiap tim diwajibkan membuat menu sandwich inovatif dengan cita rasa yang lezat. Setiap tim juga wajib untuk membuat perencanaan keuangan serta perencanaan bahan makanan yang akan dibeli. Kemudian, hasil makanan yang dibuat akan dipresentasikan di hadapan juri.

Hari ketiga dan keempat merupakan puncak acara pada Petra Career Camp 2015 ini. Panitia menerapkan konsep amazing race agar para peserta memperoleh pengalaman baru sekaligus hiburan keliling kota. Selanjutnya, setiap tim diberi modal sebesar Rp. 700.000,00 untuk membeli barang-barang yang kemudian akan dijual langsung di Pantai Kuta, Bali pada esok harinya. Setelah diberi modal, setiap tim harus memanajemen uang tersebut agar modal tersebut kembali alih-alih mendapat keuntungan. Setiap tim juga akan berkeliling ke lima pos berbeda dengan titik kumpul serta titik kembali di Terminal Batubulan, Bali. Peserta diberi kebebasan untuk mengatur segala sesuatu mulai dari transportasi, konsumsi hingga keuangan untuk membeli barang-barang yang akan dijual kembali.

Rute beserta pos yang akan disinggahi diantaranya adalah Wisata Agrokopi, Pasar Seni Sukowati, Pusat Kerajinan Tenun dan Songket Putri Ayu, Pusat Kerajinan Lontar Pucuk Lontar Mas, dan Pusat Kerajinan Baju Barong Desa Beng. Pos-pos tersebut mempunyai permainan-permainan yang menguji kekompakan tim. Di lokasi Wisata Agrokopi, terdapat tantangan untuk menebak jenis minuman yang tersedia. Bila dapat menjawab tantangan itu, tim akan mendapat tambahan uang. Di pos Pasar Seni Sukowati, tim harus membeli tiga buah canang yang berisi sesajen untuk berdoa dan tim tersebut harus mengambil foto di tempat-tempat yang telah ditentukan.

Pada pos pusat kerajinan tenun dan songket, tim harus memecahkan sandi bertuliskan aksara Bali. Di tempat ini, peserta dapat berinteraksi langsung dengan ibu-ibu yang sedang memintal benang dan menenun kain khas pulau seribu Pura itu. Pada pos kerajinan lontar, peserta diajak untuk belajar membuat anyaman dari daun lontar. Kemudian, tim diberi kesempatan untuk memilih barang yang akan dijual. Pada pos pusat kerajinan baju barong, tim diberi tantangan untuk mengumpulkan baju barong dengan warna dan ukuran sama. Setiap tempat yang dikunjungi selama City Adventure hari pertama itu akan memberi wawasan dan pengalaman baru kepada setiap individu maupun kelompok.

Hari keempat, kelompok menjual barang-barang yang telah dibeli di Pantai Kuta, Bali dan harus mengembalikan modal yang telah dipinjamkan. Lagi-lagi, kekompakan dari tim yang ada diuji dengan proses penjualan yang cukup berat dikarenakan tim harus bekerja sama dengan penjual setempat. Kendala lain yang menjadi polemik seperti yang diungkapkan oleh Stefanus Kevin selaku Ketua Panitia, adalah adanya keengganan pedagang di Pantai Kuta menerima ‘pedagang’ lain yang baru datang. Disinilah kemampuan bernegosiasi tiap peserta diuji. Syukur, tidak ada pertikaian ataupun kesalahpahaman dengan warga setempat, bahkan para peserta membaur dengan para pedagang lokal untuk menjualkan barang-barang mereka dengan syarat dan ketentuan yang mereka rundingkan sendiri.

Hari keempat merupakan hari yang cukup padat karena setiap kelompok berjualan barang dari pukul 10.00-17.00 WITA. Awalnya, setiap kelompok memiliki semangat dan daya juang tinggi, namun lama kelamaan semangat itu pudar. Sore menjelang, banyak anggota kelompok yang merasa lelah kemudian menyerah. Malam terakhir, terdapat sesi sharing mengenai apa yang telah didapat selama City Adventure dalam kurun waktu dua hari tersebut. Peserta-peserta membentuk sebuah lingkaran berukuran besar dan beberapa perwakilan kelompok mengungkapkan pengalaman yang telah didapat. Kegiatan di malam terakhir ditutup dengan unjuk bakat peserta serta panitia dan pool party.

Dari seluruh peserta yang mengikuti kegiatan ini, ada beberapa yang berasal dari universitas lain. Salah satunya adalah Kensa Felin yang berasal dari Maluku dan kini tengah melanjutkan studi di Universitas Atmajaya, Yogyakarta. Menurutnya, Petra Career Camp ini sangat bermanfaat dan ia merasa mendapat banyak pelajaran berharga. Awalnya, perempuan ini diajak ikut oleh saudaranya yang bersekolah di UK Petra. Seiring berjalannya waktu, Felin, panggilan akrabnya, merasa mendapat banyak pelajaran dari seluruh rangkaian kegiatan Career Camp 2015. “Ya, kegiatannya jangan cuma lima hari dan City Adventure-nya juga jangan dua hari,” harapnya.

Lain halnya dengan Kensa Felin, Kevin Vielden, mahasiswa Ilmu Komunikasi UK Petra, merasa tertarik mengikuti kegiatan tersebut dikarenakan untuk mengisi waktu libur semester. “Seru dan tidak membosankan, apalagi kegiatan yang paling asyik adalah City Adventure hari pertama,” kesannya terhadap kegiatan dua tahunan ini. Serupa dengan Kevin Vielden, Yessy Elfira Latutjiu, mahasiswi Akuntansi Bisnis UK Petra ini memiliki motif mengisi liburan untuk mengikuti kegiatan ini. “Bikin nagih, berfungsi banget buat belajar jadi entrepreneur,” ujarnya mengenai keseluruhan acara Career Camp 2015. Untuk acara Career Camp dua tahun lagi, Yessy berharap dapat mengikuti kegiatan ini untuk memperbanyak teman dan pengalaman.

Menurut Yosua Divers Parulian, Career Camp 2015 memberi banyak manfaat dalam diri pribadinya. Ia ingin mengerti bagaimana dunia wirausaha dan ternyata dapat terealisasi pada acara ini. Kegiatan yang paling menarik minatnya adalah ketika memulai perjalanan bisnis. Dimulai dari membeli sampai menjual kembali.Mahasiswa UK Petra asal Palangkaraya, Kalimantan Tengah ini  merasa bahwa Career Camp dapat memenuhi kebutuhannya akan ilmu serta pengalaman.

Sementara itu, Stefanus Kevin, Ketua Panitia Career Camp 2015 berharap agar seluruh mahasiswa yang berminat untuk mengikuti kegiatan ini tidak berorientasi pada kredit poin (KP) semata. “Ikut Career Camp ini jangan karena KP-nya. Ke depannya camp  ini bisa mempersiapkan mahasiswa setelah lulus kuliah. Mindset diubah dan akan dibekali dengan materi yang tidak murahan istilahnya,” harapannya untuk kegiatan Career Camp selanjutnya. Kendati mengalami berbagai kendala, Stefanus dan rekan-rekan panitia dapat mengatasi permasalahan yang ada dengan baik.

Baik peserta maupun panitia, Career Camp 2015 tentu memiliki kesan yang beragam di benak masing-masing. Suka, duka, telah dilalui untuk suatu tujuan bersama, memproses diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan derdampak untuk orang lain.

 

*Keep holding on pada mimpimu, terus kejar tanpa kau ragu. Keep moving on, biarkan yang berlalu, sambut hari baru.. (Ran, Hari Baru)

 

-Beata Anandika/51412062-

ARTIKEL LAIN

Antonius Widjaya: Fotografer Arsitektur yang Masih Mencari Kesempurnaan

Antonius Widjaya mungkin nama yang masih terdengar asing di telinga kita namun terkenal di kalangan Architecture Photographer di Surabaya. Lulus menyandang gelar S. Ds. dari Universitas Kristen Petra pada 2006, ia langsung membuka konsultan desain interior bersama dengan beberapa teman. Seiring waktu berjalan, mereka menyadari bahwa konsultan desain yang mereka dirikan bukanlah jalan terbaik, melihat kurangnya pengalaman bekerja yang mereka miliki sebagai fresh graduate.

Pria asal Surabaya ini kemudian memfokuskan diri dalam dunia 3D rendering yang telah dikuasainya sejak lama. 3D rendering sendiri merupakan proses menghasilkan gambar berdasar gambar 3 dimensi yang mirip dengan fotografi atau sinematografi. Karirnya berjalan cukup baik dengan klien dari luar negeri yang merupakan pelanggannya saat masih bekerja sebagai konsultan. Namun, ia menyadari bahwa tidak dapat terus berada di zona nyaman dan bergantung hanya pada klien yang sama. Mendapat inspirasi saat mengerjakan 3D rendering dan berbekal hobi fotografi dan ilmu interior yang dimilikinya, pria kelahiran 21 Januari 1984 ini kemudian memberanikan diri masuk ke dalam dunia fotografi sebagai architecture and interior photographer pada 2014.

Berjuang dengan sangat keras, Antonius mulai membeli tutorial online dan bahkan rela memfotokan teman dengan harga hampir gratis di awal karirnya. Bukan usaha yang sia-sia, ia sekarang menjadi salah satu architecture photographer yang dicari. Beberapa klien yang telah memakai jasanya antara lain, PT Sinar Galaxy dan Indonesia Design Magazine. Berbicara mengenai apakah bakat fotografi menjadi salah satu kunci kesuksesannya, mantan ketua Persekutuan Program Studi ini menjawab, “Bagi saya, bakat itu tidak ada; yang ada itu passion. (Saya) menghabiskan banyak waktu di bidang tersebut sampai menjadi bakat. Passion pasti membuka banyak jalan,” tegasnya.

Ketika diitanya mengenai suka duka dalam bidang pekerjaannya, pemilik studio Arch-viz ini mengatakan bahwa pekerjaan ini tidak seperti bekerja karena merupakan hobinya. Di sisi lain, pekerjaan ini juga merupakan bidang pekerjaan baru sehingga belum banyak saingan. Meski demikian, terdapat pula tantangan-tantangan yang berat seperti harus membangun brand sendiri dan banyak orang awam yang kurang paham mengenai dunia architecture photography. “Banyak orang Surabaya yang sulit menerima hal baru. Mereka berpikir kenapa foto arsitektur dan interior harus pakai jasa orang. Difoto sendiri kan bisa,” jelasnya.

Memperluas koneksi melalui teman dan kenalan dari bidang interior merupakan salah satu cara yang ditempuh oleh mantan ketua hima ini. Salah satunya didapat dari melakukan barter dengan temannya, yaitu ia memfotokan dengan cuma-cuma dan hasil fotonya dapat digunakannya untuk promosi. Di sisi lain, memperkuat branding dengan membuat portofolio dan melakukan seminar juga dilakukannya. Salah satu seminarnya adalah seminar workshop fotografi arsitektur yang bekerjasama dengan Vasa Hotel dan Sony.

 Suka duka dan tantangan-tantangan telah dilaluinya dengan berbagai cara hingga sukses. Namun, meskipun telah sukses di usianya yang masih muda, tidak ada sedikitpun rasa sombong dan puas diri. “Selalu rendah hati dan mau belajar, karena saya percaya dalam mencari kesempurnaan merupakan sesuatu yang never ending (tak pernah berakhir –red),” tutupnya saat ditanya mengenai moto hidup.

 

Ditulis oleh :

Maria Cornelia Susanto (22416053)

Maria Olivia Budiman : Penukar Budaya Indonesia dan Korea Selatan

Siapa yang tidak menggemari budaya pop Korea Selatan saat ini? Dari film drama, musik Kpop, dan makanan sudah menjadi hal yang sangat digemari oleh masyarakat Indonesia dari berbagai kalangan. Dapat dipastikan dari semua penggemar Kpop ingin bertemu dengan idolanya. Tetapi sedikit yang membayangkan untuk bisa menjadi seorang idola itu sendiri. Lalu bagaimana jika kita benar-benar bisa menjadi idola?

Belajar kebudayaan lain merupakan hal yang disukai Maria Olivia Budiman, atau yang akrab disapa Maria, alumni Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) UK Petra tahun 2007. Ia pernah menjadi leader salah satu girlband Korea pada tahun 2013 yang bernama Sensation of Stage (S.O.S). Wanita asal Surabaya ini dikenal dengan nama Mary ketika menjadi leader di girlband tersebut.

Awalnya, menjadi seorang idola bukanlah karir yang terpikirkan oleh Maria. Perjalanan karirnya dimulai saat Maria bekerja pada sebuah Advertising Agency di Jakarta. Setelah lima bulan bekerja, seorang teman mengajaknya untuk mengikuti audisi idola K-Pop yang diadakan oleh salah satu stasiun TV ternama. Berkat bujukan temannya, Maria mendaftarkan dirinya untuk mengikuti audisi. “Kesempatan tidak datang dua kali, makanya harus digunakan sebaik mungkin,” terangnya. Maria lolos hingga seleksi di Jakarta dan terpilih menjadi bagian dalam 12 finalis acara tersebut.

Kesempatan tersebut benar-benar tidak disia-siakan oleh Maria. Kesukaannya untuk belajar budaya lain membuatnya menandatangani kontrak dengan pihak penyelenggara acara. Maria lantas mendapatkan banyak pengalaman dan wawasan dari perjalanannya di Korea. Setelah mendapatkan pelatihan selama enam bulan, para finalis yang berangkat ke Korea pun dibuatkan girlgroup dan album sesuai dengan kesepakatan awal. Akhirnya pada 2013, S.O.S memulai debutnya dengan status sebagai bintang internasional dibawah Sony Music South Korea.

Tidak hanya menjadi personil sebuah girlband, Maria juga terpilih menjadi Korean Tourism Ambassador perwakilan Indonesia menggantikan Sandra Dewi. Tugas utamanya saat itu adalah memperkenalkan budaya Indonesia sebagai bentuk pertukaran budaya Indonesia dengan budaya Korea. “Dari beberapa hal yang saya jalani di Korea, banyak budaya yang saya pelajari seperti contohnya kedisiplinan, persepsi tentang waktu dan stereotip yang ada tentang masyarakat Korea,” tukasnya. Maria mengaku juga senang bisa belajar budaya dengan masyarakat Korea secara langsung dan dapat membagikannya kepada masyarakat Indonesia.

Hingga pada 2015, Maria memutuskan untuk keluar dari S.O.S karena mulai merasakan ketidakpastian pada masa depannya. Meskipun sudah keluar dari S.O.S, Maria tetap melanjutkan tugasnya sebagai Korean Tourism Ambassador hingga 2016. Setelah Maria melanjutkan karirnya sebagai Social Media Manajer di IDN Media selama dua tahun, ia sekarang merupakan Project Manajer di IDN Media.

Dari berbagai pengalaman jatuh bangun yang ia jalani, Maria menyadari satu hal. Ia mengutip dari Steve Jobs “Connecting the dots”, yang berarti hidup kita adalah titik-titik hitam yang perlu disambung menjadi sebuah gambar besar. Mantan wakil ketua BEM UK Petra periode 2010/2011 ini pun berpesan kepada teman-teman mahasiswa UK Petra untuk meyakini bahwa Tuhan pasti sudah menyiapkan rencana yang baik untuk kita semua.

 

Ditulis oleh :

Hans Christian (51415007)

Natalia Tanan : Menjadi PNS yang Melayani

Tidak tebersit dalam bayangan Natalia Tanan, atau yang akrab disapa Lia untuk menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS). Salah satu alumni Program Studi Teknik Sipil Universitas Kristen Petra tahun 1996 ini awalnya sangat ingin bercita-cita untuk menjadi seorang misionaris. Namun ternyata Tuhan punya rencana lain menempatkan Lia dalam dunia yang lebih sekuler. Lia berhasil menyelesaikan gelar masternya tepat pada saat sedang dibuka kembali lowongan menjadi PNS setelah sekian lama mengalami moratorium. Lia pun mendaftar, mengikuti tes, dan akhirnya diterima sebagai PNS.

Pekerjaan yang diambil oleh Lia sebenarnya tidak sesuai dengan cita-cita awalnya yaitu menjadi misionaris. Namun, wanita kelahiran Makalela, Sulawesi Selatan ini tetap sejalan dengan mimpinya untuk melayani masyarakat, meskipun di bidang yang berbeda. Saat ini Lia ditugaskan di Pusat Jalan dan Jembatan (PUSJATAN) Bandung dan menjabat sebagai Kepala Seksi Layanan di Balai Sistem dan Teknik Lalu Lintas. Sebagai pusat Penelitian dan Pengembangan (Litbang), pekerjaan utama Lia adalah memantau perkembangan dari penelitian peneliti-peneliti yang ada di Balai Sistem dan Teknik Lalu Lintas. Hobinya membaca membantunya dalam menyelesaikan penelitiannya selama bekerja. Selain itu, Lia juga bertugas menjadi konsultan untuk daerah-daerah yang membutuhkan bantuan. Oleh karena itu Lia seringkali berkeliling Indonesia untuk memantau kebutuhan pembangunan di daerah-daerah dari Sabang sampai Merauke.

Selama bekerja, Lia masih memiliki sesuatu yang ingin segera ia wujudkan. Lia ingin membangun kota yang ramah anak. Menurutnya, saat ini rawan untuk anak bisa berada di jalan sendiri melihat kondisi jalan yang tidak kondusif. Banyak pengendara yang membahayakan dan tidak menghargai hak pejalan dan pengguna non-kendaraan bermotor. Padahal, ketika dirinya masih berusia muda, ia bisa berjalan di jalan tanpa takut sesuatu terjadi padanya. Maka dari itu, Lia ingin memanusiakan lalu lintas dengan menertibkan jalan agar semua pengguna jalan termasuk anak-anak dapat menikmati fasilitas jalan dengan tenang dan tidak khawatir bahaya. Bagi Lia, jika kota tersebut ramah anak, pastilah akan ramah dengan semua pihak.

Berkat kerja kerasnya, Lia meraih penghargaan peneliti terbaik 2013 dalam internal PUSJATAN, dan menjadi peneliti terbaik 2015 se-Kementerian Pekerjaan Umum karena menggugat hak pejalan kaki. Lia berharap mahasiswa UK Petra tidak lagi takut untuk masuk dalam ranah pemerintahan. Terlepas dari stereotip yang ada, bidang yang ditekuni Lia saat ini masih dapat mempertahankan idealismenya tanpa terkena KKN dan pikiran kotor lainnya. “Selama bekerja d isini, saya tetap diberikan kesempatan untuk mempertahankan idealisme saya agar tidak terpengaruh hal yang buruk,” pungkasnya. “Ketika pertama kali masuk ke dunia yang heterogen dari tempat yang homogen memang tidak mudah. Tetapi Puji Tuhan tidak ada teman-teman disini yang mendiskriminasi saya,” tuturnya.

 

Ditulis oleh:

Hans Christian (51415007)