Kisah Alumni: Berkarir di Negeri Orang

"Masa depan itu dimiliki oleh orang-orang yang percaya akan keindahan mimpi-mimpi mereka." -Eleanor Roosevelt

Sudahkah terpikir di benak anda pekerjaan apa yang akan anda geluti setelah menyelesaikan bangku perkuliahan? Sudah tahukah anda mimpi apa yang ingin digapai serta jalan mana yang sebaiknya anda lewati agar dapat meraih mimpi tersebut? Pernahkah anda memiliki visi besar guna meniti karir anda? Atau selama ini anda belum terbesit mengenai masa depan dan membiarkan waktu serta takdir yang menghanyutkan anda?

Mimpi serta harapan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Banyak kesuksesan besar yang terjadi dikarenakan harapan mereka untuk mendobrak suatu keadaan. Firman Tuhan juga telah mengatakan bahwa “Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang” – Amsal 23:18. Karena itu, hendaklah kita tidak berjalan tanpa memiliki arah serta tujuan yang jelas, bukankah harapan adalah rak tempat kita menggantungkan mimpi?

Sudarmono Tjiputra dan Wanda Chrisiana merupakan para alumni Universitas Kristen Petra yang telah melangkah melewati batas dimana orang mengatakan kabut terlalu tebal disana. Kerja keras, harapan, serta mimpi telah menghantar mereka ke gerbang menuju kesuksesan. Tidak cukup berkarya di dalam negeri, namun mereka telah mampu membuktikan kemampuan mereka di negeri lain. Jika mereka bisa, tidak ada alasan bagi kita tidak mampu. We’re all in the same boat, mereka, anda, dan saya memulai dari titik yang sama. Mereka mampu berayun keluar dari zona aman dan nyaman untuk mengeksplorasi dunia. Jika kita memiliki tekad yang sama sudah pasti kita juga akan dapat mengikuti jejak mereka. Dikatakan bahwa masa kini itu mengandung bayi masa depan" (Voltaire).

Sudarmono Tjiputra: Alumni UK Petra, Jurusan Teknik Informatika Angkatan 1998

Lahir di Surabaya pada bulan November tahun 1980 silam, saat ini Sudarmono Tjiputra yang kerap disapa Sud telah menjabat sebagai St.George Business Digital Sales Senior Manager di Westpac Group, Australia. Tentu jabatan tersebut tidak diperoleh dengan mudah. Bagi beliau ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam hidup, yaitu menjadi pelajar yang rajin, results driven, serta sangat penting untuk menjadi proactive change agent. Dan tiga hal itulah yang selalu menjadi pagarnya saat melangkah. Setelah menyelesaikan studinya pada jurusan Teknik Informatika UKPetra, ia memutuskan untuk melanjutkan belajar di University of New South Wales sebagai Master of Commerce in Information Systems.

Berbekal pengetahuan dan mengantongi ilmu, ia memutuskan untuk melamar pekerjaan di Westpac IT Grad Program. Untuk masuk ke Westpac Grad Program sangatlah sulit. Ia harus mengikuti banyak tes dan wawancara serta bersaing dengan pelamar lain sebanyak 7.000+ orang yang berkompetisi untuk meraih 200+ posisi yang ditawarkan, kurang dari 3% dari total peserta yang akan mendapatkan pekerjaan tersebut. Tak ayal Tuhan mengalirkan kasih karunia-Nya kepada Sud. Selama 2 tahun setelah itu ia berproses sebagai software developer, technical analyst, risk management consultant, hingga IT project manager. Akhir dari masa dua tahun tersebut, Sud memutuskan untuk keluar dari bidang IT dan mencoba mengejar mimpinya yang semula yaitu membangun bisnisnya sendiri.

Setelah menyelesaikan IT Grad Program  selama 2 tahun tersebut, Sud mendapat kesempatan bergabung dengan Westpac Online Banking team sebagai Capability & Performance Manager. Dalam team tersebut, ia tidak hanya menjajaki dunia bisnis namun juga kembali terjun dalam dunia IT yang bertugas memastikan ketersediaan dan kualitas dari website serta mobile banking perusahaan. Baginya itu adalah pekerjaan yang paling tepat, karena ia tidak hanya mengejar mimpinya dalam dunia bisnis namun juga dapat menerapkan pengalaman serta ilmunya dalam bidang IT.  


Wanda Chrisiana: Alumni UK Petra, Jurusan Teknik Industri Angkatan 2000

Perjalanan hidup kadang harus melewati kerikil tajam dan tebing curam, namun percayalah bahwa usaha yang anda berikan akan menghasilkan buah yang nikmat pula. Setali tiga uang pula dengan Wanda Chrisiana. Datang ke Belanda pada Agustus 2006 untuk studi lanjut S2 di Technical University of Eindhoven (TU/e) pada jurusan Master of Science Operation Management & Logistics, ternyata dapat menuntunnya pada jenjang karir yang menawan. Setelah 2 tahun menimba ilmu, Wanda kemudian melamar pada perusahaan YER yang merupakan perusahaan untuk graduate recruitment. Selanjutnya ia dipanggil untuk interview untuk perusahaan Philips guna mengisi posisi Junior SAP Functional Business Analyst.

Datang ke interview dengan misi yang jelas serta tekad yang kuat, menjadi perisai tersendiri bagi Wanda untuk menghadapi ketatnya persaingan. Ditambah dengan stereotype negatif yang menempel pada mayarakat Asia yang dianggap “kurang berkompeten”, untuk mendapatkan posisi tersebut tidaklah mudah.

Kesetiaan dapat diukur dari seberapa besar pengorbanan. Saat kita dengan perkara yang kecil, maka Tuhan akan memberikan kita perkara yang lebih besar. Demikian hal yang dialami oleh Wanda. Akhirnya ia dapat menggapai posisi sebagai Supply Chain Planning. Berkarya selama 2 tahun di sana, kemudian ia mencoba pengalaman baru pula pada bagian Consumer Lifestyle sebagai performance manager untuk Customer Collaboration department di Central Supply organization. Hingga saat ini, sudah 4 tahun yang ia lewati dengan posisi tersebut.

Pekerjaan yang baik adalah pekerjaan yang membawa kebahagiaan bagi pelakunya, bukan malah sebagai beban. Yang wanita kelahiran 26 Januari 1982 silam ini sukai dari pekerjaannya adalah karena dapat membuka banyak  wawasan dan knowledge, melatih manajerial skills karena kontak dengan operasional level dan top manajemen, menantang dengan adanya target driven, serta dapat  provide expertise dan knowledge untuk pihak-pihak lain.

“Pantang menyerah kalau punya cita-cita ingin studi lanjut, kumpulkan informasi dan perbanyak koneksi. Jangan pernah sepelekan kuliah, waktu, dan keluargamu. Kalau ada kesempatan studi/ kerja di luar negeri, percayalah pada dirimu dan punyai tekad yang kuat dengan pikiran yang terbuka. Jangan memilih/melakukan sesuatu karena nurutin orang lain, terutama ketika hal tersebut bertolak belakang dengan keinginanmu. Kamulah yang memiliki hidupmu, jadi ambilah keputusan berdasarkan dirimu bukan orang” pesan Wanda bagi seluruh mahasiswa UKPetra.

“Memang tidak selalu mudah untuk meniti karir apalagi di negeri orang”, ungkap Sudarmono. “Hidup saya ini merupakan kasih karunia dari Tuhan dan semangat dari lingkungan saya serta kesempatan yang diberikan oleh orang-orang disekitar saya. Tips buat rekan-rekan mahasiswa, saya percaya bahwa sangatlah penting untuk memiliki visi/mimpi, mengetahui apa yang ingin kita capai dan kapan serta untuk mengerti apa yang memotivasi kita. Orang yang paling beruntung adalah orang yang dibayar dari melakukan apa yang mereka cintai. Tetapi untuk mereka yang kurang beruntung, kuncinya adalah adalah belajar untuk mencintai apa yang kita lakukan, lakukan yang terbaik setiap saat dan bersiaplah saat kesempatan datang” tambahnya.

"Masa depanku berada di genggamanku sendiri; namun genggamanku masih saja dikendalikan kuasa Tuhan. Saya akan berusaha sekuat tenaga menciptakan masa depanku sembari berdoa semoga Tuhan menguatkan genggamanku."
(Anonim)

 

ditulis oleh:
Elvany Suryadinata (51412009)


ARTIKEL LAIN

Antonius Widjaya: Fotografer Arsitektur yang Masih Mencari Kesempurnaan

Antonius Widjaya mungkin nama yang masih terdengar asing di telinga kita namun terkenal di kalangan Architecture Photographer di Surabaya. Lulus menyandang gelar S. Ds. dari Universitas Kristen Petra pada 2006, ia langsung membuka konsultan desain interior bersama dengan beberapa teman. Seiring waktu berjalan, mereka menyadari bahwa konsultan desain yang mereka dirikan bukanlah jalan terbaik, melihat kurangnya pengalaman bekerja yang mereka miliki sebagai fresh graduate.

Pria asal Surabaya ini kemudian memfokuskan diri dalam dunia 3D rendering yang telah dikuasainya sejak lama. 3D rendering sendiri merupakan proses menghasilkan gambar berdasar gambar 3 dimensi yang mirip dengan fotografi atau sinematografi. Karirnya berjalan cukup baik dengan klien dari luar negeri yang merupakan pelanggannya saat masih bekerja sebagai konsultan. Namun, ia menyadari bahwa tidak dapat terus berada di zona nyaman dan bergantung hanya pada klien yang sama. Mendapat inspirasi saat mengerjakan 3D rendering dan berbekal hobi fotografi dan ilmu interior yang dimilikinya, pria kelahiran 21 Januari 1984 ini kemudian memberanikan diri masuk ke dalam dunia fotografi sebagai architecture and interior photographer pada 2014.

Berjuang dengan sangat keras, Antonius mulai membeli tutorial online dan bahkan rela memfotokan teman dengan harga hampir gratis di awal karirnya. Bukan usaha yang sia-sia, ia sekarang menjadi salah satu architecture photographer yang dicari. Beberapa klien yang telah memakai jasanya antara lain, PT Sinar Galaxy dan Indonesia Design Magazine. Berbicara mengenai apakah bakat fotografi menjadi salah satu kunci kesuksesannya, mantan ketua Persekutuan Program Studi ini menjawab, “Bagi saya, bakat itu tidak ada; yang ada itu passion. (Saya) menghabiskan banyak waktu di bidang tersebut sampai menjadi bakat. Passion pasti membuka banyak jalan,” tegasnya.

Ketika diitanya mengenai suka duka dalam bidang pekerjaannya, pemilik studio Arch-viz ini mengatakan bahwa pekerjaan ini tidak seperti bekerja karena merupakan hobinya. Di sisi lain, pekerjaan ini juga merupakan bidang pekerjaan baru sehingga belum banyak saingan. Meski demikian, terdapat pula tantangan-tantangan yang berat seperti harus membangun brand sendiri dan banyak orang awam yang kurang paham mengenai dunia architecture photography. “Banyak orang Surabaya yang sulit menerima hal baru. Mereka berpikir kenapa foto arsitektur dan interior harus pakai jasa orang. Difoto sendiri kan bisa,” jelasnya.

Memperluas koneksi melalui teman dan kenalan dari bidang interior merupakan salah satu cara yang ditempuh oleh mantan ketua hima ini. Salah satunya didapat dari melakukan barter dengan temannya, yaitu ia memfotokan dengan cuma-cuma dan hasil fotonya dapat digunakannya untuk promosi. Di sisi lain, memperkuat branding dengan membuat portofolio dan melakukan seminar juga dilakukannya. Salah satu seminarnya adalah seminar workshop fotografi arsitektur yang bekerjasama dengan Vasa Hotel dan Sony.

 Suka duka dan tantangan-tantangan telah dilaluinya dengan berbagai cara hingga sukses. Namun, meskipun telah sukses di usianya yang masih muda, tidak ada sedikitpun rasa sombong dan puas diri. “Selalu rendah hati dan mau belajar, karena saya percaya dalam mencari kesempurnaan merupakan sesuatu yang never ending (tak pernah berakhir –red),” tutupnya saat ditanya mengenai moto hidup.

 

Ditulis oleh :

Maria Cornelia Susanto (22416053)

Maria Olivia Budiman : Penukar Budaya Indonesia dan Korea Selatan

Siapa yang tidak menggemari budaya pop Korea Selatan saat ini? Dari film drama, musik Kpop, dan makanan sudah menjadi hal yang sangat digemari oleh masyarakat Indonesia dari berbagai kalangan. Dapat dipastikan dari semua penggemar Kpop ingin bertemu dengan idolanya. Tetapi sedikit yang membayangkan untuk bisa menjadi seorang idola itu sendiri. Lalu bagaimana jika kita benar-benar bisa menjadi idola?

Belajar kebudayaan lain merupakan hal yang disukai Maria Olivia Budiman, atau yang akrab disapa Maria, alumni Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) UK Petra tahun 2007. Ia pernah menjadi leader salah satu girlband Korea pada tahun 2013 yang bernama Sensation of Stage (S.O.S). Wanita asal Surabaya ini dikenal dengan nama Mary ketika menjadi leader di girlband tersebut.

Awalnya, menjadi seorang idola bukanlah karir yang terpikirkan oleh Maria. Perjalanan karirnya dimulai saat Maria bekerja pada sebuah Advertising Agency di Jakarta. Setelah lima bulan bekerja, seorang teman mengajaknya untuk mengikuti audisi idola K-Pop yang diadakan oleh salah satu stasiun TV ternama. Berkat bujukan temannya, Maria mendaftarkan dirinya untuk mengikuti audisi. “Kesempatan tidak datang dua kali, makanya harus digunakan sebaik mungkin,” terangnya. Maria lolos hingga seleksi di Jakarta dan terpilih menjadi bagian dalam 12 finalis acara tersebut.

Kesempatan tersebut benar-benar tidak disia-siakan oleh Maria. Kesukaannya untuk belajar budaya lain membuatnya menandatangani kontrak dengan pihak penyelenggara acara. Maria lantas mendapatkan banyak pengalaman dan wawasan dari perjalanannya di Korea. Setelah mendapatkan pelatihan selama enam bulan, para finalis yang berangkat ke Korea pun dibuatkan girlgroup dan album sesuai dengan kesepakatan awal. Akhirnya pada 2013, S.O.S memulai debutnya dengan status sebagai bintang internasional dibawah Sony Music South Korea.

Tidak hanya menjadi personil sebuah girlband, Maria juga terpilih menjadi Korean Tourism Ambassador perwakilan Indonesia menggantikan Sandra Dewi. Tugas utamanya saat itu adalah memperkenalkan budaya Indonesia sebagai bentuk pertukaran budaya Indonesia dengan budaya Korea. “Dari beberapa hal yang saya jalani di Korea, banyak budaya yang saya pelajari seperti contohnya kedisiplinan, persepsi tentang waktu dan stereotip yang ada tentang masyarakat Korea,” tukasnya. Maria mengaku juga senang bisa belajar budaya dengan masyarakat Korea secara langsung dan dapat membagikannya kepada masyarakat Indonesia.

Hingga pada 2015, Maria memutuskan untuk keluar dari S.O.S karena mulai merasakan ketidakpastian pada masa depannya. Meskipun sudah keluar dari S.O.S, Maria tetap melanjutkan tugasnya sebagai Korean Tourism Ambassador hingga 2016. Setelah Maria melanjutkan karirnya sebagai Social Media Manajer di IDN Media selama dua tahun, ia sekarang merupakan Project Manajer di IDN Media.

Dari berbagai pengalaman jatuh bangun yang ia jalani, Maria menyadari satu hal. Ia mengutip dari Steve Jobs “Connecting the dots”, yang berarti hidup kita adalah titik-titik hitam yang perlu disambung menjadi sebuah gambar besar. Mantan wakil ketua BEM UK Petra periode 2010/2011 ini pun berpesan kepada teman-teman mahasiswa UK Petra untuk meyakini bahwa Tuhan pasti sudah menyiapkan rencana yang baik untuk kita semua.

 

Ditulis oleh :

Hans Christian (51415007)

Natalia Tanan : Menjadi PNS yang Melayani

Tidak tebersit dalam bayangan Natalia Tanan, atau yang akrab disapa Lia untuk menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS). Salah satu alumni Program Studi Teknik Sipil Universitas Kristen Petra tahun 1996 ini awalnya sangat ingin bercita-cita untuk menjadi seorang misionaris. Namun ternyata Tuhan punya rencana lain menempatkan Lia dalam dunia yang lebih sekuler. Lia berhasil menyelesaikan gelar masternya tepat pada saat sedang dibuka kembali lowongan menjadi PNS setelah sekian lama mengalami moratorium. Lia pun mendaftar, mengikuti tes, dan akhirnya diterima sebagai PNS.

Pekerjaan yang diambil oleh Lia sebenarnya tidak sesuai dengan cita-cita awalnya yaitu menjadi misionaris. Namun, wanita kelahiran Makalela, Sulawesi Selatan ini tetap sejalan dengan mimpinya untuk melayani masyarakat, meskipun di bidang yang berbeda. Saat ini Lia ditugaskan di Pusat Jalan dan Jembatan (PUSJATAN) Bandung dan menjabat sebagai Kepala Seksi Layanan di Balai Sistem dan Teknik Lalu Lintas. Sebagai pusat Penelitian dan Pengembangan (Litbang), pekerjaan utama Lia adalah memantau perkembangan dari penelitian peneliti-peneliti yang ada di Balai Sistem dan Teknik Lalu Lintas. Hobinya membaca membantunya dalam menyelesaikan penelitiannya selama bekerja. Selain itu, Lia juga bertugas menjadi konsultan untuk daerah-daerah yang membutuhkan bantuan. Oleh karena itu Lia seringkali berkeliling Indonesia untuk memantau kebutuhan pembangunan di daerah-daerah dari Sabang sampai Merauke.

Selama bekerja, Lia masih memiliki sesuatu yang ingin segera ia wujudkan. Lia ingin membangun kota yang ramah anak. Menurutnya, saat ini rawan untuk anak bisa berada di jalan sendiri melihat kondisi jalan yang tidak kondusif. Banyak pengendara yang membahayakan dan tidak menghargai hak pejalan dan pengguna non-kendaraan bermotor. Padahal, ketika dirinya masih berusia muda, ia bisa berjalan di jalan tanpa takut sesuatu terjadi padanya. Maka dari itu, Lia ingin memanusiakan lalu lintas dengan menertibkan jalan agar semua pengguna jalan termasuk anak-anak dapat menikmati fasilitas jalan dengan tenang dan tidak khawatir bahaya. Bagi Lia, jika kota tersebut ramah anak, pastilah akan ramah dengan semua pihak.

Berkat kerja kerasnya, Lia meraih penghargaan peneliti terbaik 2013 dalam internal PUSJATAN, dan menjadi peneliti terbaik 2015 se-Kementerian Pekerjaan Umum karena menggugat hak pejalan kaki. Lia berharap mahasiswa UK Petra tidak lagi takut untuk masuk dalam ranah pemerintahan. Terlepas dari stereotip yang ada, bidang yang ditekuni Lia saat ini masih dapat mempertahankan idealismenya tanpa terkena KKN dan pikiran kotor lainnya. “Selama bekerja d isini, saya tetap diberikan kesempatan untuk mempertahankan idealisme saya agar tidak terpengaruh hal yang buruk,” pungkasnya. “Ketika pertama kali masuk ke dunia yang heterogen dari tempat yang homogen memang tidak mudah. Tetapi Puji Tuhan tidak ada teman-teman disini yang mendiskriminasi saya,” tuturnya.

 

Ditulis oleh:

Hans Christian (51415007)