JONAN MELAYANI PENUMPANG

Naik kereta api kini makin nyaman. Tidak ada penumpang berjejalan di KA jarak jauh. KA kelas ekonomi pun kini sejuk. Beli tiket bisa dari rumah via “online”. Itulah gebrakan Ignasius Jonan setelah menjadi Direktur Utama PT KAI sejak 2009. Kata Kuncinya hanya satu: melayani.

 

OLEH NAWA TUNGGAL / TRY HARIJONO / FRANS SARTONO

IGNASIUS JONAN

  • Lahir: 21 Juni 1963 di Singapura
  • Pendidikan:

-          2004-2005: MA dari Fletcher School of Law and Diplomacy, International Relations and Affairs

-          2000: Senior Managers di Government Program, Harvard Kennedy School of Government

-          1999: Senior Executive Program Columbia Business School, Columbia University

-          1982-1986: S-1 Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Airlangga.

  • Pekerjaan:

-          2009-kini: Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia

-          2006-2008: Managing Director and Head of Indonesia Investment Banking Citi

-          2001-2006: Direktur Utama PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (Persero)

-          1999-2001: Direktur Private Equity Citi

-          1986: Arthur Andersen

Ada yang berubah dalam layanan perkeretaapian pada lima tahun terakhir. Coba naik kereta api kelas ekonomi, katakanlah Kereta Api Serayu jurusan Jakarta Kota-Purwokerto lewat Bandung. Harga tiket Cuma Rp 35.000, kereta sudah dilengkapi penyejuk ruangan alias AC.

Tak ada lagi kata antre dalam pembelian tiket. Kita bisa beli tiket di warung waralaba yang banyak tersebar di wilayah pemukiman, seperti Indomaret atau Alfamart. Atau, kita bisa membeli secara daring (online), lalu membayar di ATM. Ignasius Jonan menerapkan Sistem Pertiketan Kereta Api (Rail Ticketing System) berbasis internet internet yang bisa dipesan dimana saja.

Jonan memastikan satu tiket satu tempat duduk untuk semua kelas kereta api. Ia mewajibkan penumpang membawa kartu identitas. Untuk kereta commuter line di Jakarta dan sekitarnya ia menerapkan tiket elektronik. Tidak ada lagi penumpang naik di atap-atap gebong. Ia memastikan stasiun menjadi tempat yang nyaman bagi calon penumpang.

Jonan melakukan inovasi teknologi untuk memodernisasi layanan yang memudahkan calon penumpang. Ke dalm, ia memperjuangkan setiap pegawai PT. Kereta Api Indonesia (KAI) memiliki kultur disiplin, kerja keras serta menjaga konsistensi layanan.

Deru kereta terdengar di atas kepala kami ketika Jonan menerima harian Kompas di ruang kepala stasiun, di Stasiun Gambir, Jakarta, April lalu.

 

Kultur pelayanan

Pegawai PT KAI mengatakan, Jonan sangat tegas, disiplin, dan tidak menoleransi kelalaian kerja. Terlebih pada kerja menyangkut keselamatan penumpang. Kelalaian, menurut Jonan, harus dihukum.

Apa kelalaian terbesar kita?

Kelalaian paling besar itu pada kultur pelayanan. Menurut saya, kita itu pada umumnya tidak memiliki kultur pelayanan yang konsisten. Kebanyakan orang itu bekerja lebih memikirkan dirinya sendiri daripada memikirkan output yang bisa diberikan sesuai dengan tugasnya. Ya, memang tidak ada orang yang tidak memikirkan dirinya sendiri, tetapi tugasnya itu, lho.

Kultur seperti itu lahir dari mana?

Dari kebiasaan.

Kebiasaan di perkeretaapian?

Apakah di luar kereta api tidak juga begitu? Ke depan, di samping saya membuat modernisasi terhadap pelayanan kereta api, saya juga menjaga konsistensi kultur pelayanan yang baik. Yang kedua ini jauh lebih berat. Kalau yang pertama ini gampang. Kalau punya plan, punya dukungan, punya uang, jadi. Wong mbangun stasiun itu bisa kapan saja. Memodernisasi, menambah kereta, itu bisa kapan saja. Bisa untung apa enggak, itu soal beda. Bisa baik atau enggak secara korporasi, itu beda. Itu perlu kesungguhan sendiri. Tapi, kultur pelayanan transportasi di kereta api itu, menurut saya harus dibikin dengan konsisten.

Butuh waktu panjang?

Teman senior saya di sini meminta saya sepuluh tahun di sini supaya kultur itu terjaga dengan baik (Jonan kembali diminta pemerintah untuk memimpin PT KAI periode 2014-2019)

Ketika membangun kultur melayani itu apakah ada resistensi dari pegawai Anda?

Mungkin bukan resistensi, tapi kaget. Kalau guyonannya anak-anak di kereta api, dulu itu penghasilannya kecil bisa santai, bisa liburan. Sekarang ini penghasilan besar, tapi enggak sempat mengonsumsi karena sibuk. Hidup itu ya begitu. Ya, tinggal milih. Lha kalau milih penghasilan besar, tapi santai, ya, bikin perusahaan saja sendiri.

Kultur kerja di KAI ini tampaknya dipengaruhi oleh kultur kerja Anda di pekerjaan sebelumnya.

Kultur yang saya bawa ke sini itu adalah setiap orang harus punya tanggung jawab dan passion untuk menghasilkan output yang terbaik sesuai yang ia bisa. Saya bilang ke teman-teman, okelah,  kamu perbaiki satu hal kecil dalam pekerjaan Anda, dalam satu hari satu saja. Itu dalam setahun, Anda akan menjadi orang yang berbeda, wong ada 365 hari dalam setahun. Memerbaiki 200 saja apapun bentuknya.

(Salah satu bentuk perbaikan diri adalah tidak ada lagi kultur gratisan naik kereta api, termasuk bagi karyawan PT KAI. Seperti pegawai PT KAI yang lain, Sugeng Priyono dari Huma PT KAI juga harus membayar dan ia bangga dengan kedisiplinan itu.)

“Kami itu naik kereta api bayar, lho. Memang, dari enak menjadi tidak enak, jika ada protes itu manusiawi. Tapi, kalau kita mau merenung dan berpikir, itu fair. Itu secara tidak langsung juga telah menertibkan masyarakat,” kata Sugeng Priyono.

 

Gaya kepemimpinan

Jonan memanggil pegawai KAI. Salah satunya Ade Kurnia Ayu (25), lulusan Jurusan Ilmu Politik Universitas Airlangga, Surabaya, yang bekerja sebagai koordinator layanan pelanggan (customer service) di Stasiun Gambir. Datang pula Ricka, kepala secretariat; serta seorang spesialis teknologi informasi dan anggota stafnya, Dessy, sarjana sastra Jerman dari Universitas Indonesia. Mereka adalah wajah-wajah muda di jajaran perkeretaapian. Ketika ditanya apa tugas dia di bagian tersebut, kata kuncinya sama, “pelayanan terbaik”.

Mereka semua mengenal Anda?

Coba saja tanya 3.000 masinis kenal saya enggak, pasti kenal walaupun saya pakai baju biasa. (Benar saja. Jonan berdiri di platform Stasiun Gambir. Ia menghadap lokomotif yang sedang melaju. Begitu melihat sosok Jonan, sang masinis membunyikan klakson, teeet…! Itu tanda salam persaudaraan sesame orang kereta api.)

Saya turun sendiri, ngajarin boarding, penertiban. Leadership itu yang penting ngasih contoh, kalau tidak, ya, tidak mungkin bisa. Tidak ada satu organisasi itu yang disebut leading terus diam. Organisasi itu harus dari waktu ke waktu memperbaiki diri karena semua orang itu berpacu.

Bagaimana Anda melihat SDM KAI?

Teman-teman saya di kereta api itu semangat juangnya tinggi. Ketahanan untuk menerima keadaan yang tidak terlalu positif itu tinggi. Ini modal besar. Tinggal pengerahannya harus sesuai dengan kebutuhan customer. Kerja di kereta api itu berat, lho.

Dukungan untuk mengembangkan perkeretapaian itu, kan, baru belakangan saja. Mereka ini daya juangnya tinggi. Lho kalau tidak tinggi, kan, sudah keluar.

Yang kedua, mereka itu tahan susah. Kondisi tidak favorable itu mereka tahan. Orang begini kita tinggal dorong supaya mereka punya kreasi karena daya tahan itu suatu modal yang besar. Akhirnya, begitu didorong maju dan penghasilannya sesuai dengan kondisi pasar, perbaikannya ada. Kasih leadership yang baik, nah, mereka jadi. Yang bisa mempertahankan mereka itu daya juang. Itu yang saya pakai. Ayo, kita maju sama-sama.

Gaya kepemimpinan Anda memberi warna dalam PT KAI.

Saya menyiapkan supaya struktur organisasi itu bisa self-sustain, tapi apapun itu omong kosong. Tidak mungkin. Setiap pemimpin itu pasti warnanya besar terhadap organisasi yang dipimpin walaupun perangkatnya sudah fixed.

Di kereta api, saya hamper tidak pernah memberhentikan orang karena orang itu tidak mampu bekerja dengan baik. Paling saya pindahkan ke pekerjaan yang lebih cocok.

Mengapa?

Karena orang tidak mampu itu bukan karena kehendak sendiri tapi sudah dari lahir begitu . Tapi, kalau orang itu malas atau berbuat curang, nah itu beda. Makanya, saya kalau cari anggota direksi, saya cari orang yang kompetensinya tidak saya punya sehingga saling melengkapi. Jadi, akan lebih sempurna. Kalau saya cari orang yang sama dengan saya, ya, buat apa.

Gaya manajemen saya terhadap direksi itu seperti libero, playmaker. Saya mengoper bola, yang kosong saya isi. Orang jadi libero itu tidak boleh punya ego karena yang mengegolkan pasti bukan dia. Dia, kan, cuma playmaker, tapi biasanya dia itu kapten.

Harapan

Apa mimpi tentang perkeretaapian masa depan?

Kami akan tumbuh bersama kebutuhan masyarakat. Itu yang paling penting. KAI akan berkembang sesuai dengan kebutuhan masyarakat akan transportasi perkeretaapian. Tahun lalu ada 221 juta penumpang. Saya berharap pemerintah menghidupkan jalur mati. Kalau dulu di jaman Belanda ada 8.000 kilometer, sekarang yang jalan baru lebih kurang 5.000 kilometer.

Ketika pertama kali masuk ke KAI itu seperti apa? Dari nol atau ada pengalaman?

KAI itu perusahaan teknik atau jasa?

Jasa?

Ya, saya berangkat dari situ. Yang penting dalam perusahaan itu adanya pelayanan yang lebih baik. Pemahaman teknis sangat membantu. Waktu saya masuk, saya tidak paham teknik sama sekali, tapi pelayanan kereta api jauh lebih baik dalam lima tahun terakhir ini.

Pemahanan teknik itu membantu, tapi itu bukan main (utama). Kalau Anda jadi pemimpin, yang penting soul-nya, yang penting itu customer­-nya, bukan proses produksinya. Proses produksi itu kewajiban. Kalau anda tidak memahami kemauan customer, lha proses produksinya itu mau sepinter apa pun, maka Anda hanya akan memahami seperti tukang. Soul-nya enggak ada.

Saya bilang kepada teman-teman, kita ini customer oriented. Kita lihat customer maunya apa, kita layani asal harganya cocok. Kalau dulu enggak. Dulu adanya begini, kalau enggak mau, ya, enggak. Sampean mau begini, kalau enggak mau, ya, tidak. Lho, yang seperti ini enggak bisa. Kalau kerja kayak gitum, itu bukan kerja sebagai profesi.

Bagaimana Anda membangun passion itu pada teman yang sudah lama kerja dalam kultur lama?

Semua profesi itu passion harus ada. Passion yang paling utama itu adalah output yang membuat pelanggan tersenyum. Itu yang penting. Mbok sampean itu profesor doctor, pinter, tapi kalau customer Anda tidak happy, ya, selesai sudah.

Anda dulu sudah mapan, mengapa mau pindah ke kereta api?

Kenapa harus tidak mau? Ini, kan, manfaatnya banyak buat masyarakat kalau ada perbaikan layanan. Bekerja untuk perbaikan orang lain itu adalah ibadah yang amat mulia. Itu alasan saya. Boleh, kan?

Sebelumnya Anda, kan, juga bekerja untuk orang banyak?

Oh, itu lain. Itu saya lebih banyak kerja untuk diri sendiri.

Cari duit, ya?

Lho, lha iya. Di sini (KAI), saya juga dapat gaji yang layak, tapi saya yakin manfaatnya lebih banyak.

Ada dorongan nasionalisme begitu?

Saya khawatir kalau dikaitkan dengan nasionalisme, kok, itu hanya akan jadi slogan. Lebih baik saya kerjakan apa yang saya bisa saya kerjakan dengan baik dan ada manfaatnya serta ada buktinya. Orang bilang demi nasionalisme, tapi gak kerjo opo-opo, yak opo (Tapi tidak bekerja sedikitpun, bagaimana itu)?

 

Diambil dari Harian Kompas, Minggu, 18 Mei 2014 bag. Persona hal. 12

ARTIKEL LAIN

Antonius Widjaya: Fotografer Arsitektur yang Masih Mencari Kesempurnaan

Antonius Widjaya mungkin nama yang masih terdengar asing di telinga kita namun terkenal di kalangan Architecture Photographer di Surabaya. Lulus menyandang gelar S. Ds. dari Universitas Kristen Petra pada 2006, ia langsung membuka konsultan desain interior bersama dengan beberapa teman. Seiring waktu berjalan, mereka menyadari bahwa konsultan desain yang mereka dirikan bukanlah jalan terbaik, melihat kurangnya pengalaman bekerja yang mereka miliki sebagai fresh graduate.

Pria asal Surabaya ini kemudian memfokuskan diri dalam dunia 3D rendering yang telah dikuasainya sejak lama. 3D rendering sendiri merupakan proses menghasilkan gambar berdasar gambar 3 dimensi yang mirip dengan fotografi atau sinematografi. Karirnya berjalan cukup baik dengan klien dari luar negeri yang merupakan pelanggannya saat masih bekerja sebagai konsultan. Namun, ia menyadari bahwa tidak dapat terus berada di zona nyaman dan bergantung hanya pada klien yang sama. Mendapat inspirasi saat mengerjakan 3D rendering dan berbekal hobi fotografi dan ilmu interior yang dimilikinya, pria kelahiran 21 Januari 1984 ini kemudian memberanikan diri masuk ke dalam dunia fotografi sebagai architecture and interior photographer pada 2014.

Berjuang dengan sangat keras, Antonius mulai membeli tutorial online dan bahkan rela memfotokan teman dengan harga hampir gratis di awal karirnya. Bukan usaha yang sia-sia, ia sekarang menjadi salah satu architecture photographer yang dicari. Beberapa klien yang telah memakai jasanya antara lain, PT Sinar Galaxy dan Indonesia Design Magazine. Berbicara mengenai apakah bakat fotografi menjadi salah satu kunci kesuksesannya, mantan ketua Persekutuan Program Studi ini menjawab, “Bagi saya, bakat itu tidak ada; yang ada itu passion. (Saya) menghabiskan banyak waktu di bidang tersebut sampai menjadi bakat. Passion pasti membuka banyak jalan,” tegasnya.

Ketika diitanya mengenai suka duka dalam bidang pekerjaannya, pemilik studio Arch-viz ini mengatakan bahwa pekerjaan ini tidak seperti bekerja karena merupakan hobinya. Di sisi lain, pekerjaan ini juga merupakan bidang pekerjaan baru sehingga belum banyak saingan. Meski demikian, terdapat pula tantangan-tantangan yang berat seperti harus membangun brand sendiri dan banyak orang awam yang kurang paham mengenai dunia architecture photography. “Banyak orang Surabaya yang sulit menerima hal baru. Mereka berpikir kenapa foto arsitektur dan interior harus pakai jasa orang. Difoto sendiri kan bisa,” jelasnya.

Memperluas koneksi melalui teman dan kenalan dari bidang interior merupakan salah satu cara yang ditempuh oleh mantan ketua hima ini. Salah satunya didapat dari melakukan barter dengan temannya, yaitu ia memfotokan dengan cuma-cuma dan hasil fotonya dapat digunakannya untuk promosi. Di sisi lain, memperkuat branding dengan membuat portofolio dan melakukan seminar juga dilakukannya. Salah satu seminarnya adalah seminar workshop fotografi arsitektur yang bekerjasama dengan Vasa Hotel dan Sony.

 Suka duka dan tantangan-tantangan telah dilaluinya dengan berbagai cara hingga sukses. Namun, meskipun telah sukses di usianya yang masih muda, tidak ada sedikitpun rasa sombong dan puas diri. “Selalu rendah hati dan mau belajar, karena saya percaya dalam mencari kesempurnaan merupakan sesuatu yang never ending (tak pernah berakhir –red),” tutupnya saat ditanya mengenai moto hidup.

 

Ditulis oleh :

Maria Cornelia Susanto (22416053)

Maria Olivia Budiman : Penukar Budaya Indonesia dan Korea Selatan

Siapa yang tidak menggemari budaya pop Korea Selatan saat ini? Dari film drama, musik Kpop, dan makanan sudah menjadi hal yang sangat digemari oleh masyarakat Indonesia dari berbagai kalangan. Dapat dipastikan dari semua penggemar Kpop ingin bertemu dengan idolanya. Tetapi sedikit yang membayangkan untuk bisa menjadi seorang idola itu sendiri. Lalu bagaimana jika kita benar-benar bisa menjadi idola?

Belajar kebudayaan lain merupakan hal yang disukai Maria Olivia Budiman, atau yang akrab disapa Maria, alumni Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) UK Petra tahun 2007. Ia pernah menjadi leader salah satu girlband Korea pada tahun 2013 yang bernama Sensation of Stage (S.O.S). Wanita asal Surabaya ini dikenal dengan nama Mary ketika menjadi leader di girlband tersebut.

Awalnya, menjadi seorang idola bukanlah karir yang terpikirkan oleh Maria. Perjalanan karirnya dimulai saat Maria bekerja pada sebuah Advertising Agency di Jakarta. Setelah lima bulan bekerja, seorang teman mengajaknya untuk mengikuti audisi idola K-Pop yang diadakan oleh salah satu stasiun TV ternama. Berkat bujukan temannya, Maria mendaftarkan dirinya untuk mengikuti audisi. “Kesempatan tidak datang dua kali, makanya harus digunakan sebaik mungkin,” terangnya. Maria lolos hingga seleksi di Jakarta dan terpilih menjadi bagian dalam 12 finalis acara tersebut.

Kesempatan tersebut benar-benar tidak disia-siakan oleh Maria. Kesukaannya untuk belajar budaya lain membuatnya menandatangani kontrak dengan pihak penyelenggara acara. Maria lantas mendapatkan banyak pengalaman dan wawasan dari perjalanannya di Korea. Setelah mendapatkan pelatihan selama enam bulan, para finalis yang berangkat ke Korea pun dibuatkan girlgroup dan album sesuai dengan kesepakatan awal. Akhirnya pada 2013, S.O.S memulai debutnya dengan status sebagai bintang internasional dibawah Sony Music South Korea.

Tidak hanya menjadi personil sebuah girlband, Maria juga terpilih menjadi Korean Tourism Ambassador perwakilan Indonesia menggantikan Sandra Dewi. Tugas utamanya saat itu adalah memperkenalkan budaya Indonesia sebagai bentuk pertukaran budaya Indonesia dengan budaya Korea. “Dari beberapa hal yang saya jalani di Korea, banyak budaya yang saya pelajari seperti contohnya kedisiplinan, persepsi tentang waktu dan stereotip yang ada tentang masyarakat Korea,” tukasnya. Maria mengaku juga senang bisa belajar budaya dengan masyarakat Korea secara langsung dan dapat membagikannya kepada masyarakat Indonesia.

Hingga pada 2015, Maria memutuskan untuk keluar dari S.O.S karena mulai merasakan ketidakpastian pada masa depannya. Meskipun sudah keluar dari S.O.S, Maria tetap melanjutkan tugasnya sebagai Korean Tourism Ambassador hingga 2016. Setelah Maria melanjutkan karirnya sebagai Social Media Manajer di IDN Media selama dua tahun, ia sekarang merupakan Project Manajer di IDN Media.

Dari berbagai pengalaman jatuh bangun yang ia jalani, Maria menyadari satu hal. Ia mengutip dari Steve Jobs “Connecting the dots”, yang berarti hidup kita adalah titik-titik hitam yang perlu disambung menjadi sebuah gambar besar. Mantan wakil ketua BEM UK Petra periode 2010/2011 ini pun berpesan kepada teman-teman mahasiswa UK Petra untuk meyakini bahwa Tuhan pasti sudah menyiapkan rencana yang baik untuk kita semua.

 

Ditulis oleh :

Hans Christian (51415007)

Natalia Tanan : Menjadi PNS yang Melayani

Tidak tebersit dalam bayangan Natalia Tanan, atau yang akrab disapa Lia untuk menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS). Salah satu alumni Program Studi Teknik Sipil Universitas Kristen Petra tahun 1996 ini awalnya sangat ingin bercita-cita untuk menjadi seorang misionaris. Namun ternyata Tuhan punya rencana lain menempatkan Lia dalam dunia yang lebih sekuler. Lia berhasil menyelesaikan gelar masternya tepat pada saat sedang dibuka kembali lowongan menjadi PNS setelah sekian lama mengalami moratorium. Lia pun mendaftar, mengikuti tes, dan akhirnya diterima sebagai PNS.

Pekerjaan yang diambil oleh Lia sebenarnya tidak sesuai dengan cita-cita awalnya yaitu menjadi misionaris. Namun, wanita kelahiran Makalela, Sulawesi Selatan ini tetap sejalan dengan mimpinya untuk melayani masyarakat, meskipun di bidang yang berbeda. Saat ini Lia ditugaskan di Pusat Jalan dan Jembatan (PUSJATAN) Bandung dan menjabat sebagai Kepala Seksi Layanan di Balai Sistem dan Teknik Lalu Lintas. Sebagai pusat Penelitian dan Pengembangan (Litbang), pekerjaan utama Lia adalah memantau perkembangan dari penelitian peneliti-peneliti yang ada di Balai Sistem dan Teknik Lalu Lintas. Hobinya membaca membantunya dalam menyelesaikan penelitiannya selama bekerja. Selain itu, Lia juga bertugas menjadi konsultan untuk daerah-daerah yang membutuhkan bantuan. Oleh karena itu Lia seringkali berkeliling Indonesia untuk memantau kebutuhan pembangunan di daerah-daerah dari Sabang sampai Merauke.

Selama bekerja, Lia masih memiliki sesuatu yang ingin segera ia wujudkan. Lia ingin membangun kota yang ramah anak. Menurutnya, saat ini rawan untuk anak bisa berada di jalan sendiri melihat kondisi jalan yang tidak kondusif. Banyak pengendara yang membahayakan dan tidak menghargai hak pejalan dan pengguna non-kendaraan bermotor. Padahal, ketika dirinya masih berusia muda, ia bisa berjalan di jalan tanpa takut sesuatu terjadi padanya. Maka dari itu, Lia ingin memanusiakan lalu lintas dengan menertibkan jalan agar semua pengguna jalan termasuk anak-anak dapat menikmati fasilitas jalan dengan tenang dan tidak khawatir bahaya. Bagi Lia, jika kota tersebut ramah anak, pastilah akan ramah dengan semua pihak.

Berkat kerja kerasnya, Lia meraih penghargaan peneliti terbaik 2013 dalam internal PUSJATAN, dan menjadi peneliti terbaik 2015 se-Kementerian Pekerjaan Umum karena menggugat hak pejalan kaki. Lia berharap mahasiswa UK Petra tidak lagi takut untuk masuk dalam ranah pemerintahan. Terlepas dari stereotip yang ada, bidang yang ditekuni Lia saat ini masih dapat mempertahankan idealismenya tanpa terkena KKN dan pikiran kotor lainnya. “Selama bekerja d isini, saya tetap diberikan kesempatan untuk mempertahankan idealisme saya agar tidak terpengaruh hal yang buruk,” pungkasnya. “Ketika pertama kali masuk ke dunia yang heterogen dari tempat yang homogen memang tidak mudah. Tetapi Puji Tuhan tidak ada teman-teman disini yang mendiskriminasi saya,” tuturnya.

 

Ditulis oleh:

Hans Christian (51415007)