ARTIKEL
My Business, My Contribution to the Nation

Kalau Petra Career Camp (PCC) tahun 2015 yang lalu mengusung tema “Many Dreams, One Team”, tahun 2017 ini Camp tersebut membawa tema yang berbeda yaitu “Your Business, Your Contribution to the Nation” dan akan banyak membahas hal mengenai sociopreneurship. Kali ini, PCC bahkan bekerja sama dengan Pusat Karir Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS). Ketertarikan saya dengan Career Camp ini sangatlah besar, walaupun saya masih belum mengetahui temanya, karena isu tempat pelaksanaannya sudah menarik perhatian saya, yaitu Bandung!

Briefing peserta dan pembagian kelompok adalah salah satu hal yang paling ditunggu-tunggu. Yang paling menyenangkan dari hal ini adalah karena panitia membagi kelompok secara acak sehingga bisa membuat peserta Career Camp dari UK Petra dan UKWMS bisa saling mengenal lebih dekat. Nama-nama kelompok yang digunakan pada acara ini disesuaikan dengan nama lembaga-lembaga sociopreneur yang akan dikunjungi. Kelompoknya dibagi menjadi 5 yang terdiri dari traditional games, drugs addiction, environmental issue, city heritage 1 dan 2. Kakak-kakak observer di acara PCC juga bisa mencairkan suasana “malu-malu” yang pastinya terjadi di setiap kelompok ketika pertama kali berkenalan. Rasanya sudah tidak sabar lagi untuk langsung berangkat ke Bandung dan belajar banyak hal mengenai sociopreneurship.

Time flies so fast, setelah menempuh perjalanan panjang selama kurang lebih 13 jam ke Bandung dengan Kereta Api, setibanya di kota ini, serangkaian acara sudah menanti. Sesi yang pertama yaitu “On Being Sociopreneur”, dibawakan oleh ibu Veronica Colondam sebagai Founder and CEO dari Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB). Beliau berbagi kisah tentang awal mulanya beliau menggeluti dunia social sekaligus entepreneurship ini, dikatakan social karena munculnya beberapa unit koperasi untuk membantu anak-anak putus sekolah. YCAB merupakan model bisnis yang berkelanjutan yang mampu menjangkau lebih dari tiga juta anak muda. Hal ini dicapai melalui pemberdayaan dalam bidang pendidikan dan ekonomi untuk anak kurang mampu dan keluarganya. Selain cantik, beliau juga sangat pintar bisa dilihat dari beberapa gelar yang beliau miliki di belakang namanya.

Setelah sesi 1 selesai peserta mendapat pengarahan tentang tantangan selama beberapa hari ke depan. Sebenarnya tantangan ini gampang-gampang susah bagi peserta yang baru pertama kali ikut, karena tantangan terbesarnya adalah mengatur keuangan kelompok. Jadi setiap kelompok diberikan sejumlah uang, lalu kelompok tersebut berhak untuk mengelola uang tersebut untuk kegiatan bersama selama di Bandung. Kelompok saya memutuskan untuk melakukan penghematan selama awal-awal perjalanan dengan makan makanan yang murah-murah, menaiki kendaraan dengan nominal yang semurah-murahnya. Di hari pertama, kelompok saya melakukan penghematan dengan menempuh jarak yang kira-kira 8 kilometer dengan jumlah 8 peserta, 1 observer dan 1 panitia yang mendokumentasikan semua aktifitas kami dengan menaiki hanya 1 mobil. Terbayang kan bagaimana jauhnya perjalanan yang ditempuh belum lagi dengan jalanan yang berkelok-kelok? Perjalanan pertama kami yaitu ke Komunitas Hong yang letaknya di daerah Dago Pakar.

Di Komunitas Hong, kami bertemu dengan founder-nya yaitu Kang Zaini Alif yang juga dijuluki Bapak Permainan Tradisional Indonesia. Di sini, kami disambut dengan musik khas Sunda dan suasana sejuk menyegarkan. Ternyata, masing-masing permainan tradisional Indonesia itu bermakna lho. Hompimpa, misalnya. Siapa yang tahu makna dibalik permainan sederhana ini adalah: Dari Tuhan Kembali ke Tuhan? Keren ya? Pantas saja Kang Zaini bilang yang seperti ini nih yang harus dilestarikan untuk generasi-generasi berikutnya

Setelah dari Komunitas Hong lanjutlah perjalanan yaitu ke Rumah Cemara. Rumah Cemara ini bukan hanya tempat bagi para pecandu narkoba tapi juga mereka yang pernah terlibat narkoba meski belum menjadi pecandu dan ingin dipulihkan. Disini mereka diberi kesempatan untuk mengembangkan bakat terpendam yang mereka punya, khususnya di bidang olahraga seperti tinju, sepakbola, dan masih banyak yang lainnya. Tim sepakbola dari Rumah Cemara ini bahkan pernah pergi ke luar negeri untuk bertanding dan menang lho!

Malam harinya sekembalinya dari Rumah Cemara, kami melanjutkan sesi bersama kak Tian yang merupakan Chief Environmental Officer of Greeneration Foundation. Greeneration Foundation yang merupakan bagian dari Greeneration Indonesia ini bergerak di bidang lingkungan yang mengkampanyekan pengurangan penggunaan kantong plastik dan diganti dengan tas ramah lingkungan. Selain itu, bisnis mereka juga berkecimpung pada pengelolaan limbah dan sampah. Sangat menginspirasi sekali ya?

Hari kedua adalah kunjungan ke Bandung Creative City Forum atau yang biasa dikenal dengan BCCF. BCCF ini merupakan forum komunitas-komunitas kreatif untuk mengembangkan identitas kota Bandung sehingga menjadi kota kreatif. BCCF bertujuan untuk menghasilkan hal-hal yang signifikan dan meninggalkan jejak sosial yang menjadi ruang model masyarakat bandung. Beberapa program utama mereka seperti Helar Fest, kampung kreatif dan design activity melibatkan anak-anak muda Bandung dan warga-warga kampung.

Di BCCF, kami berkenalan dengan Bu Tita Larasati, General Secretary of BCCF yang juga mengajar sebagai dosen di Institut Teknologi Bandung (ITB). Dalam sesinya, Bu Tita menjelaskan apa yang menjadi kebutuhan masyarakat dan masalah apa saja yang sedang dihadapi masyarakat terkait dengan pengembangan kota Bandung. Bagaimana menyediakan tempat sampah yang bagus setelah melalui proses diskusi dengan warga sekitar supaya menjaga kebersihan dan kerapian lingkungan mereka masing-masing.

Selain Ibu Tita Larasati, kami dapat banyak ilmu yang dikembangkan oleh Kang Fiki Satari, Chief of BCCF yang juga Founder of Airplane System Clothing dan dosen di Universitas Padjadjaran untuk mengembangkan kota Bandung menjadi lebih baik dan lebih indah lagi. Di BCCF ini, Kang Fiki menggantikan posisi Ridwan Kamil (walikota Bandung sekarang -Red) yang juga merupakan salah satu pendirinya. Mengutip dari perkataan Kang Fiki “Kunci utama dalam bisnis adalah kreativitas”, demikian juga bisnis sosial yang melibatkan masyarakat sekitar. Beliau juga mengatakan bahwa untuk menjaga kreativitas supaya tidak mati, perlu selalu membuka pintu kolaborasi dengan masyarakat. Maka jika ingin maju, kami harus mencari relasi sebanyak-banyaknya dan berjejaring. Yang tak kalah serunya waktu di BCCF, kita diberi tugas untuk bikin video seputar BCCF dan harus di-share di media sosial kami untuk dinilai oleh panitia.

Setelah kami berkegiatan di BCCF, kami berkunjung ke Kedai Preanger yang merupakan tempat untuk menikmati kopi dan teh dari berbagai penjuru nusantara. Disini juga lah komunitas Aleut biasa nongkrong. Komunitas Aleut adalah komunitas yang peduli terhadap tempat-tempat dan benda-benda bersejarah di Bandung dan sekitarnya. Kang Ridwan Hutagalung selaku pemilik dari Kedai Preanger dan juga pengurus komunitas Aleut berbagi pengalaman dengan kami. Selain memperkenalkan kopi dan teh nusantara yang memiliki cita rasa yang berbeda dari setiap daerah tempat kopi dan teh tersebut berasal, Kang Ridwan juga menyisihkan pendapatannya untuk membiayai kegiatan-kegiatan komunitas Aleut. Salah satu kegiatan yang sering diadakan adalah kelas literasi, dimana kegiatan ini merupakan wadah diskusi dalam banyak hal seperti pembahasan film-film yang terkait dengan sejarah bangsa kita, sejarah perkebunan teh, dll.

Pada hari ketiga di Bandung peserta Career Camp hanya mendengarkan sesi di hotel. Sesi pertama kami dapat dari Bapak Murpin Josua yang banyak berbagi tentang Financial Planning - dimana dalam menjalankan bisnis, dalam hal ini bisnis sosial, kami harus sangat memperhatikan hal tersebut supaya tidak terjadi kekeliruan dalam penyajian laporan keuangan yang berdampak dengan keberlanjutan bisnis yang dijalankan.

Sesi dari Pak Murpin dilanjutkan dengan sesi dari Brilliant Yotenega yang merupakan CEO & Co-Founder of Zeta Media Network. Beliau berkisah bagaimana beliau bisa jadi seperti sekarang tidak luput dari dukungan kawan-kawannya. Oleh karena itu, kami lagi-lagi diingatkan bahwa berjejaring dan menjalin relasi yang baik dengan kenalan-kenalan dan kawan-kawan itu sangat penting untuk menghindari kesan ‘hanya baik jika butuh’.

Dari awal, kami sudah diberitahu oleh panitia bahwa setiap kelompok akan membuat project untuk lembaga-lembaga dan komunitas yang dikunjungi. Setiap malam masing-masing kelompok diberi kesempatan untuk berkumpul dengan observer-nya untuk membahas project akhir apa yang akan dilakukan terhadap masing-masing lembaga yang memilik masalahnya sendiri. Keceriaan tidak bisa dipisahkan dari setiap individu dalam setiap kelompok. Walaupun baru pertama kali mengenal namun setiap kelompok selalu memiliki keceraian dan candaannya masing-masing ditiap sela diskusi dalam kelompok.

Melalui diskusi kelompok, setiap kelompok berusaha untuk memecahkan masalah/ tantangan setiap komunitas sehingga bisa membuat solusi project terbaik demi kemajuan komunitasnya. Pada hari terakhir setiap kelompok kembali menuju komunitas mereka masing-masing dan mempresentasikan hasil dari diskusi kelompok. Usulan, ide, dan teknis-teknis telah dibahas dengan matang oleh tiap kelompok sehingga setiap komunitas mendapatkan berbagai macam masukan. Presentasi ini juga dinilai oleh setiap komunitas sehingga panitia bisa mendapatkan kelompok dengan hasil ide yang terbaik. Kelompok City Heritage 2 akhirnya keluar sebagai pemenang dalam acara Career Camp.

Sampailah kami dihari terakhir, dimana kegiatan ini ditutup oleh closing ceremony, sebuah model penutupan yang unik dan keren buat kami peserta Career Camp. Waktu itu kami sempat bingung dengan adanya gelas sejumlah peserta Career Camp beserta air minum untuk dituangkan yang tertata di depan ruang pertemuan. Waktu itu kak Jessie menjelaskan makna closing ceremony tersebut, dimana ketika kami sama-sama berangkat dari Surabaya untuk kegiatan ini diibaratkan sebuah gelas kosong, dimana pengetahuan kami masih dangkal dengan apa itu Sociopreneur. Lalu air minum yang akan dituangkan ke dalam gelas merupakan ilmu beserta pengalaman-pengalaman berharga yang kami dapat selama berproses di Bandung. Oia, kami semua diminta agar menuangkan air minum ke dalam gelas yang tersedia dengan takaran yang sama loh tapi tidak boleh sampai penuh. Hal ini dimaksudkan bahwa kita sudah mendapatkan ilmu dan pengalaman selama di Bandung sebagai bekal untuk terjun langsung ke dalam bisnis Sociopreneur, oleh sebab itu air tidak diisi penuh. Tugas kita sebagai Sociopreneur mudahlah yang membuat gelas tersebut penuh, dengan terjun langsung membangun bisnis-bisnis sosial dengan memberdayakan masyarakat sekitar kita. Secara umum kegiatan Career Camp  membuat kami sadar, bahwa ketika kita semua membuat bisnis, buatlah bisnis yang memberdayakan masyarakat, bangunlah Indonesia menjadi lebih baik.

 

By : Yessy Elfira (32414059)

Visiting Day C2O Library & Collabtive

Berawal dari melihat postingan seorang teman di line, saya mengetahui jika Pusat Karir UK Petra mengadakan acara ‘Petra Goes To C2O Library & Collabtive’. Keingintahuan saya tentang perpustakaan ini semakin tinggi setelah salah satu dosen menceritakan tentang perpustakaan ini. Karena tertarik, saya segera mendaftarkan diri menjadi salah satu peserta. Bermodalkan browsingdi internet saya mendapatkan sedikit gambaran tentang C2O Library, karena saat awal mendengar istilah C2O saya merasa sedikit asing dan tidak menyangka bahwa perpustakaan ini sudah ada di Surabaya.

Jumat, 27 Mei 2016 saya beserta peserta lain sudah siap di selasar gedung P1 untuk berangkat bersama-sama ke C2O Library. Sesampainya disana, kami disambut hangat oleh Kak Yuli dari pihak C2O Library. Kami berkumpul di salah satu tempat seperti aula untuk mendengarkan penjelasan dansharing mengenai perpustakan tersebut. Banyak hal baru yang saya dapatkan dari cerita-cerita Kak Yuli. Berawal dari founder yang merelakan koleksi buku dan tempat tinggalnya untuk dinikmati oleh masyarakat umum, perpustakan ini didirikan. Seiring berjalannya waktu, perpustakan ini semakin dikenal dan dapat menyewa sebuah rumah yang lebih besar. Disana terdapat koleksi buku, jurnal baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris yang terfokus mengenai kebudayaan Indonesia, sejarah, seni dan sastra. Tak hanya menyediakan koleksi buku saja, perpustakaan ini juga menyediakan kegiatan-kegiatan yang menarik. Seperti pelatihan tentang seni, menilik sejarah yang ada di Surabaya, diskusi mengenai buku, musik, melakukan penelitian dan masih banyak lagi.

Setelah kami mendengar dan menanyakan berbagai seluk beluk dari C2O Library, kami diajak untuk berkeliling. Selain tempat untuk membaca buku, disana terdapat ruang meeting untuk disewakan. Suasana di perpustakaan ini sangat nyaman, terutama di lantai atas. Di perpustakaan ini juga menjual produk-produk titipan dari masyarakat umum, baik berupa buku, jurnal, kaos, makanan, maupun yang lainnya.

Saat siang menjelang kami pun kembali ke kampus. Menurut saya, kunjungan ini sangat menyenangkan. Selain saya menemukan tempat yang baru di Surabaya, saya juga mendapatkan banyak pengetahuan. Dari kunjungan ini saya menyadari bahwa hal kecil jika dimanfaatkan dengan sangat baik maka hasilnya menjadi luar biasa. Saya salut dengan pendiri C2O Library, mereka dengan ‘nekat’ mendirikan perpustakaan ini dengan bermodal buku yang dimiliki dan pendanaan yang berasal dari swadaya. Namun, mereka tetap semangat mengajak masyarakat untuk berkonstribusi dalam kegiatan mereka. Mereka memberikan kesempatan bagi kita yang memiliki hobi menulis, mendesain, fotografi untuk menyalurkan hobi kita. Dari C2O Library ini, banyak masyarakat terutama anak muda yang mengetahui jejak sejarah di Indonesia, serta dari kegiatannya dapat sekaligus membuka wisata baru bagi orang-orang yang berminat mengetahui sejarah, khususnya sejarah di Surabaya. Dari C2O Library juga saya belajar bahwa dalam membangun usaha tidak hanya memikirkan keuntungan semata, namun dengan usaha yang kita bangun seharusnya juga membangun masyarakat sekitar.

 

Ditulis oleh:
Wahyuning Dyah Puspitasari
21414195

One in a Million

            Terdapat banyak pengalaman yang dapat kita peroleh dari waktu ke waktu. Namun, beberapa pengalaman yang unik dan menarik, mungkin hanya akan dijumpai sekali seumur hidup. Salah satu pengalaman yang unik ini adalah saat saya mengikuti Creative Writing. Berawal dari rasa penasaran saya terhadap menulis dan dorongan dari teman saya untuk memperdalam keahlian menulis, saya pun mengikuti kegiatan ini. Tak disangka, kegiatan ini memberikan saya banyak inspirasi dan motivasi untuk lebih menjiwai menulis. Untuk mengetahui bahwa menulis bukan hanya merangkai huruf, namun lebih dari itu, menulis berarti menjiwai setiap kata dan memadu-madankannya sehingga menjadi sebuah kalimat yang utuh.

            Bersama dengan Ang Tek Khun, saya dan para peserta Creative Writing diajak menyusuri genre tulisan, setting, hingga karakter yang ada dalam sebuah tulisan. Tak lupa, plot yang membuat semuanya bergabung dan berjalan beriringan juga dijelaskan secara detail oleh beliau. “Ide itu tidak terlalu penting, eksekusinyalah yang penting,” sebut Ang Tek Khun. Memang patut disadari, bahwa beberapa orang memiliki ide fantastis, namun ketika dihadapkan pada realisasi, merekatidak dapat menghadapinya. Beberapa penggambaran yang dinyatakan oleh Ang Tek Khun cukup membuat kami berpikir kembali dan akhirnya mengangguk-angguk menyetujuinya. Beliau mengatakan, apabila Tukul Arwana dan Adam Levine dimasukkan dalam mesin X-Ray, maka yang terlihat hanyalah tulang-tulangnya saja dan mereka hampir tidak dapat dibedakan. Berbeda dengan melihat mereka tanpa mesin X-Ray, mereka akan terlihat dengan dagingnya, dan amatlah mudah membedakan mereka. Sama seperti tulisan, pembaca tidak butuh ‘tulang’ (ide, red) yang luar biasa, tapi yang dilihat adalah ‘daging’-nya (kata-kata, red). Itulah penggambaran yang disebutkan beliau dalam sesinya.

            Selain Ang Tek Khun, kegiatan ini juga mengundang seorang pembicara yang tak kalah hebatnya, dia adalah Brilliant Yotenaga,founder dari nulisbuku.com. Brilliant boleh dibilang sangat berpengalaman masalah online self publishing berikut tempat untuk self publishing itu sendiri. Mendengar beliau bercerita, membuat saya sadar, bahwa ketika jaman beralih ke era modern, ada banyak hal yang dapat dikembangkan, begitu pula dalam bidang menulis.

            Menulis bukan lagi hanya sekedar di atas kertas, namun menulis dapat dilakukan di media online juga. Banyak sekali hal yang lebih dipermudah dengan adanya media online ini. Ketika menulis sudah tidak berbatas pada media, terkadang kita sendirilah yang membatasinya. Oleh karena itu, menulis butuh passion dan kemauan yang kuat. Alasan Brilliant mulai menulis adalah agar tulisannya bisa diwariskan ke anak-cucunya. Supaya apa yang telah kita tulis, entah tentang masalah atau kesusahan, dapat menjadi saran untuk anak-cucu kita. Demikianlah sesi Creative Writing ditutup.

            Tak berakhir disana, saya dan para peserta diminta untuk membuat draft tentang tulisan yang ingin kami buat. Dari draft tersebut, sepuluh karya terbaik akan dipilih oleh para juri dan diterbitkan menjadi sebuah buku. Benar-benar kesempatan emas yang tidak boleh dilewatkan. Pengumuman kesepuluh pemenang mejadi puncak acara sekaligus akhir Creative Writing. Semoga menulis menjadi semangat dan kekuatan bagi orang-orang yang mendedikasikan diri padanya.

 

Ditulis: Felicia Yanto (25414015)

 

           

Creativity for MEA

Masyarakat Ekonomi ASEAN yang akrab disebut MEA adalah salah satu gerakan baru dalam sektor ekonomi yang mengintegrasikan negara-negara di Asia Tenggara dengan cara membentuk sistem perdagangan bebas atau free trade. Free trade yang kita bicarakan ini bukan sembarang pasar bebas, namun berupa pengurangan hambatan besar-besaran untuk lintas investasi dan perdagangan antar negara ASEAN. Beberapa perubahan yang diprediksi antara lain arus bebas tenaga kerja terampil, pariwisata, logistik, bahkan tenaga kesehatan. MEA akan menyulap kawasan ASEAN seakan menjadi suatu negara amat besar di mana penduduknya dapat pergi ke manapun tanpa halangan berarti. Bahkan perusahaan-perusahaan dapat dengan mudah membangun pabriknya di negara lain. Bayangkan, dengan adanya MEA ini anda bahkan tidak perlu passport atau segala jenis surat birokrasi lain untuk bisa bekerja di negara ASEAN seperti Malaysia atau Singapura. Sebaliknya, perusahaan-perusahaan besar di negara lain seperti pertanian Singapura bisa membuka lahannya dengan mudah di tanah Jawa. Seperti itulah gambaran MEA ke depannya

Nah, sebenarnya, mengapa MEA ini akhirnya harus dibentuk? Ada beberapa target atau tujuan utama dibentuknya MEA bagi para anggota negara ASEAN sendiri. Yang terutama adalah membentuk stabilitas ekonomi antar negara ASEAN dapat mengatasi kesenjangan pembangunan di berbagai daerah tertinggal seperti di kawasan Laos, Kamboja, dan Myanmar. Cara yang ditempuh oleh MEA tentunya dengan degradasi hambatan dalam sektor ekonomi yang memungkinkan perputaran ekonomi berlangsung secepat-cepatnya sehingga diharapkan stabilitas ekonomi dapat merambah ke daerah berkembang.

Bagaimana kebebasan perdagangan ini dapat membantu ekonomi di suatu negara bertumbuh pesat dan signifikan? Misalkan saja ada sebuah industri lokal batik tulis di Solo biasanya mendapatkan orderan sebanyak 100 lembar baju per bulan dari seluruh pasar di Indonesia. Dengan keadaan demikian, industri kecil tersebut sudah mampu mempekerjakan 10 orang per bulan dengan gaji cukup. Nah, bayangkan jika pasar bagi industri lokal tersebut terbuka bebas bagi orang Malaysia, Filipina, Vietnam dan lain-lain. Permintaan yang diterima industri tersebut bisa naik hingga 3x lipat! Tentunya dengan permintaan yang naik 3x lipat, dibutuhkan pekerja lebih dari 10 orang, mungkin bisa 30 orang. Bayangkan! Bukan sekedar profit perusahaan saja yang bertambah, namun jumlah pekerja akan bertambah. Dengan demikian jumlah angka pengangguran akan semakin berkurang. Berkurangnya angka pengangguran tentunya ekuivalen dengan peningkatan kesejahteraan penduduk. Bayangkan jika hal tersebut diimplementasikan pada banyak perusahaan! Perubahan yang terjadi akan semakin drastis. Angka pengangguran semakin tertolong, dan pegawai lainnya pun sangat mungkin menerima kenaikan gaji hingga di atas batas UMR. Inilah yang diincar program MEA.

Negara Indonesia, selaku salah satu founder ASEAN, adalah bagian besar dari free trade MEA ini. Tentu saja output yang kita harapkan dengan tereksposnya negara kita dengan MEA adalah output yang positif bagi negara kita. Kalau bisa, pertumbuhan stabilitas ekonomi yang sepesat mungkin. Kalau bisa, daerah-daerah di Indonesia yang belum terlalu berkembangpun dapat merasakan dampaknya dan ikut berkembang juga. Namun yang menjadi pertanyaan besar adalah : sudah siapkah Indonesia mengahadapi MEA? Apakah pada akhirnya MEA ini akan membawa lebih banyak keuntungan daripada kerugian.

Menurut beberapa artikel dan berita, Indonesia sendiri masih terjangkit berbagai masalah yang berimbas pada ketidaksiapan menghadapi MEA. Beberapa masalah itu seperti rendahnya mutu pendidikan tenaga kerja manusia di Indonesia (berpendidikan SMP atau dibawahnya tercatat sebanyak 76,4 juta orang atau sekitar 64 persen dari total 118 juta pekerja di Indonesia). Juga kurangnya infrastruktur di Indonesia yang menyebabkan arus barang dan jasa terhambat. Lagi di bidang industri yang masih kekurangan pasokan energi atau bahan baku lain yang masih harus impor dan masih belum bisa menyaingi produk impor lain, seperti barang-barang murah dari Cina yang membanjiri pasar Indonesia sendiri.

Tentu berbagai masalah di atas tidak bisa dengan mudah diselesaikan. Kalaupun harus dituntaskan, tentu pihak yang bergerak adalah dari pemerintahan sendiri, di luar kapasitas kita selaku mahasiswa. Namun, sebagai mahasiswa yang dididik untuk berpikir kritis dan inovatif, tentunya masih ada banyak hal yang bisa kita perbuat dan persiapkan dalam menyikapi MEA ini, khususnya sebagai rakyat Indonesia dalam kondisi masalah sekarang.

Hal yang bisa mulai kita lirik adalah dunia industri kreatif. Mengapa industri kreatif adalah cara strategis untuk menjajaki persaingan MEA? Industri kreatif adalah industri yang berasal dari pemanfaatan kreativitas, keterampilan serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan dengan menghasilkan dan mengeksploitasi daya kreasi dan daya cipta individu tersebut. Industri kreatif bisa lahir dari segala aspek kehidupan dan tidak harus memerlukan banyak modal atau sumber daya untuk memulainya. Mengapa hal ini menguntungkan?

Mari kita analisa. Masalah yang membuat Indonesia seakan tidak siap menghadapi persaingan terbuka adalah kurangnya kualitas sumber daya manusia maupun kuantitas sumber daya lainnya seperti pasokan energi. Nah, dalam industri kreatif, kita sebenarnya tidak terikat dengan kebtuhan kualitas maupun kuantitas sumber daya. Kita bisa memakai hal-hal sederhana yang sebenarnya sudah ada di kehidupan sehari-hari lalu menyulapnya menjadi lahan bisnis.

Contohnya industri kreatif GO-JEK. Kita tahu cara kerja GO-JEK, perusahaan yang beregerak di bidang transportasi publik ini sama sekali tidak menyediakan kendaraan baru kan untuk memulai bisnisnya? Bahkan GO-JEK juga tidak perlu merekrut supir. GO-JEK hanya menyediakan platform berupa aplikasi yang memungkinkan pelanggan menghubungi sendiri ojek yang tersedia. Malahan ojek online yang disediakan GO-JEK ini jadi lebih efektif dan efisien daripada ojek konvensional. Karena melalui aplikasi GO-JEK yang bisa melakukan tracking lokasi, pelanggan bisa mendapatkan supir ojek terdekat sehingga waktu untuk menunggu kehadiran ojek bisa dipersingkat. Begitu pula hal ini menguntungkan supir karena menghemat bensin si supir kalau pelanggang yang dijemput tidak jauh dari lokasinya berada. Nah, yang dilakukan GO-JEK sebenarnya hanyalah menyediakan ide dan merealisasikannya. GO-JEK mempertemukan kebutuhan publik dengan ketersediaan yang ada dengan cara yang efektif, efisien, dan ekonomis. Itulah inti dari sebuah industri kreatif yang harus kita gali untuk mengatasi keterbatasan Indonesia mengahadapi MEA.

Mungkin untuk mulai membentuk sebuah company seperti GO-JEK masih terlalu dini untuk ukuran mahasiswa. Lalu sebagai mahasiswa, langkah realistis apa yang bisa kita ambil? Mari kita analisa. Dalam membentuk sebuah industri kreatif diperlukan kemampuan entrepreneurship yang tinggi. Untungnya, sebagai mahasiswa, kita memiliki kesempatan yang sangat luas untuk mengembangkan diri dalam bidang ini. Mengapa? Karena dalam universitas kita memiliki banyak kesempatan untuk belajar. Baik itu mengenai bisnis, ekonomi, teknik, maupun sosial. Terlebih lagi, kita memiliki kesempatan luas untuk berorganisasi atau tergabung dalam kepanitiaan. Dalam organisasi, kita belajar bekerja sama, berinteraksi dengan orang lain, dan merembuk ide untuk mewujudkan suatu kegiatan. Hal-hal mendasar yang amat diperlukan seorang entrepreneur. Khususnya yang akan memasuki ladang industri kreaitf.

Penting halnya bagi kita untuk mulai memaksimalkan diri dalam kegiatan seperti organisasi  dan kepanitiaan. Ketika memasuki kegiatan tersebut, kita dituntut untuk dapat berpikir kreatif, inovatif, dan bertindak cepat. Mengapa hal tersebut penting? Karena dalam membentuk usaha industri kreatif baru, kita akan memerlukan kepekaan tinggi dalam menemukan masalah dalam masyarakat. Begitu pula dengan solusi yang realistis. Ketika tergabung dalam panitia, kita akan terbiasa menghadapi masalah serta tantangan dan berusaha menyelesaikannya. Sehingga hal ini menjadi dasar memasuki dunia kerja nanti. Dalam kepanitiaan kita juga dituntut untuk bekerja sama dengan banyak orang yang memiliki karakteristik berbeda-beda. Kita dituntut untuk memahami perbedaan itu dan mencari celah agar tetap dapat optimal bekerja sama meski dengan kesenjangan sifat. Hal ini juga sangat penting bagi kita. Karena dalam ranah industri kreatif, kita harus bekerja sama dengan banyak jenis orang. Contohnya, orang yang ahli di bidangnya. Seperti GO-JEK company tadi. Satu orang yang berhasil menemukan ide tidak mungkin merealisasikan idenya sendiri. Ia akan dibantu oleh orang lain yang expert di bidangnya lalu membentuk tim. Mungkin dia harus bekerja sama dengan expert di bidang IT yang akan membuat aplikasi. Kemudian dia harus mengajak orang marketing untuk melakukan riset pasar. Kemudian dia harus lagi mencari orang design untuk memasarkan produknya. Bahkan dalam usahanya memfasilitasi calon GO-JEK driver, ia mungkin harus melobby perusahaan grosir jaket dan helm agar mau memberi harga murah. Di sini kemampuan sosial alias soft skill sangat diperlukan. Dalam menjalankan detail, kita perlu pengalaman yang banyak. Universitas atau kampus adalah lahan yang sangat baik untuk memulai. Karena sebagai mahasiswa yang belum berpengalaman, kita bisa ‘uji coba’ dengan mengikuti kegiatan dalam lingkup kampus di mana ketika kita melakukan kesalahan, masih ada mentor yang bsia membimbing. Daripada kita harus terjun dalam kehidupan nyata dengan tangan kosong.

Yang kedua, luaskan koneksi dan lingkar pertemanan kita. Hal ini sangat mungkin dilaukan di kampus mengingat banyaknya mahasiswa lain yang sebaya dengan kita. Jangan merasa gengsi untuk berkenalan. Dalam hal ini, mengikuti organisasi atau kepanitiaan sekali lagi bisa membantu karena kita dituntut untuk berkomunikasi dengan semua anggota.

Yang ketiga, penting bagi kita untuk membekali diri dengan beberapa teori bisnis dasar untuk mengurangi error ketika memulai usaha sendiri. kita bisa mulai mengikuti seminar industri kreatif ataupun bisnis yang diadakan di kampus. Biasanya seminar yang diadakan kampus tidak memungut biaya atau biayanya sangat murah. Ini kesempatan baik bagi mahasiswa, khususnya yang tidak mengambil fakultas ekonomi.

Yang keempat, kita bisa mulai mencoba bisnis kecil-kecilan yang tidak menyita banyak modal maupun waktu (karena tugas utama kita memang berkuliah). Usaha kecil itu bisa berupa online shop dengan metode dropship di mana kita hanya bertindak sebagai makelar untuk supplier kita sehingga kita tidak diribetkan lagi dengan stok barang dan pengiriman. Hal ini bisa menajamkan sense kita di bidang bisnis.

Yang kelima, mulai berintegritas dalam hal kejujuran dan kedisipilinan. Mungkin tidak nampak relevan dengan topik industri kreatif maupun MEA, namun sebenarnya penting untuk jangka panjang. Mengapa? Karena dibukanya MEA berarti kita akan bekerja dalam ranah internasional. Orang luar sangat menghargai kejujuran dan kedisiplinan. Orang Indonesia dikenal suka molor dan kadang kurang jujur dalam berbisnis. Jika kita tidak mematahkan stereotype ini, akan susah bagi Indonesia untuk melesat dalam kompetisi internasional.

Nah, di tengah berbagai tantangan (thread) yang dimunculkan MEA, tentunya ada banyak peluang (opportunity) yang bisa dikembangkan. Pilihan ada di tangan kita, apakah kita mau menjalankan strategi yang baik ataukah tidak. Sebagai mahasiswa, saatnya kita meningkatkan kualitas diri agar siap sedia menghadapi MEA.

 

Referensi

http://www.seputarukm.com/penjabaran-mengenai-mea-masyarakat-ekonomi-asean/

http://pengertian.website/pengertian-mea-dan-ciri-ciri-masyarakat-ekonomi-asean/

http://krjogja.com/liputan-khusus/analisis/2078/menyongsong-masyarakat-ekonomi-asean-2015.kr

 

https://id.wikipedia.org/wiki/Industri_kreatif

By: CLARENCE REBEKA( 21415078)

Jurusan Tidak Menentukan Pekerjaan

Setelah lulus dari dunia perkuliahan, para fresh graduate pasti akan menghadapi tiga pilihan yaitu lanjut sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, menikah, atau bekerja. Bekerja adalah salah satu dilemma yang dihadapi oleh fresh graduate. Banyak orang tua mendesak anaknya setelah lulus kuliah harus mencari pekerjaan. Namun, mencari pekerjaan juga tidaklah mudah, lagi pula jumlah lulusan lebih banyak daripada jumlah pekerjaan yang ada. Lagipula masih banyak fresh graduate yang masih bingung ingin mencari pekerjaan seperti apa. Hal ini dikarenakan mereka masih belum punya arah dan tujuan, mereka juga tidak tahu ingin mau jadi apa dimasa depan. Tentunya mereka akan dihadapkan oleh pekerjaan yang sesuai dengan jurusan atau mereka akan mencari kerja yang tidak sesuai dengan jurusan selama kuliah. Mencari pekerjaan yang tidak sesuai dengan latar belakang jurusan yang pernah diambil tentunya tidak salah.

            Mencari pekerjaan yang tidak sesuai dengan latar pendidikan dapat membuat fresh graduate belajar hal-hal baru. Semasa di bangku perkuliahan, mahasiswa pasti merasa bosan dengan kegiatan-kegiatan di kelas ataupun di luar kelas. Dengan bekerja yang tidak sesuai jurusan, fresh graduate akan mempelajari hal baru dengan semangat yang baru pula. Sebagai contoh, kuliah jurusan sastra inggris, lulusan sastra inggris tidaklah harus menjadi guru di sekolahan atau les-lesan. Bisa saja bekerja di perusahaan multinasional, bank, ataupun di hotel. Pada akhirnya, fresh graduate pasti semangat untuk mendapatkan hal-hal yang tidak pernah diajarkan selama di bangku kuliah. Para fresh graduate akan belajar mulai dari awal dan secara otomatis fresh graduate juga bisa menggali potensi yang ada pada dirinya dibidang pekerjaan yang baru.

Ilmu yang didapat semasa kuliah seringkali tidak dipakai lagi setelah bekerja. Dalam masa kuliah, mahasiswa mempelajari hardskill dan softskill. Hardskill merupakan pengetahuan yang didapat dari pendidikan formal selama kuliah, sedangkan softskill merupakan kemampuan dan keahlian yang didapat dari kegiatan-kegiatan informal semasa kuliah. Softskill inilah yang seringkali menjadi bekal dalam menjalani dunia kerja. Menurut Bambang Wibawarta, Wakil Rektor Universitas Indonesia, bekerja itu tidaklah harus sesuai dengan bidang yang sama ketika di perguruan tinggi. Sebab kerja dimanapun, yang diperlukan itu adalah pola pikir dan perspektif. Jika pekerjaan yang didapat tidak sama dengan jurusan di kuliah, bukan berarti ilmu yang didapatkan tidak dapat digunakan. Disamping itu, lapangan pekerjaan yang tersedia tidak sesuai dengan jurusan. Banyak perusahan yang tidak terlalu mementingkan spesifikasi khusus, sehingga fresh graduate bebas memilih pekerjaan yang dia inginkan walaupun tidak sesuai dengan jurusan. Meskipun bekerja mulai dari awal, ilmu yang didapatkan di bangku perkuliahan tidaklah sia-sia di dunia kerja.

Jurusan yang diambil semasa kuliah tidak sesuai dengan passion. Menurut Bernadia Arimurti, Kepala Seksi Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Univeristas Gadjah Mada, lebih baik fresh graduate bekerja sesuai dengan ilmunya. Dengan demikian, apa yang dipelajari selama kuliah akan lebih terasa manfaatnya. Terkadang ada yang memilih jurusan karena dorongan dari orang tua, bukan karena keinginannya sendiri. Walaupun mereka tidak kuliah sesuai dengan jurusan yang mereka inginkan, mereka tetap berusaha sebaik mungkin menjalaninya. Lalu, mereka akan lebih memilih bekerja yang tidak sesuai pendidikan agar tidak menjadi beban di hati dan pikiran. Jadi, tidak masalah jika bekerja tidak sesuai jurusan jika suka dan bisa menguasai bidang yang diminatinya.

Sebagai kesimpulan, pekerjaan yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan tidaklah salah. Fresh graduate yang bekerja tidak sesuai dengan jurusan sewaktu dibangku kuliah bisa mendapatkan pengalaman baru, ilmu yang dipelajari tidak semuanya sia-sia, dan kerja tidak akan menjadi beban.

 

Lia Margaretha

11411032

Tema: Pekerjaan sesuai dengan pendidikan atau mencari pengalaman baru

 

References

 
- Anwar Waliyudin (2015). 5 Keuntungan Yang Bisa Kamu Dapat Jika Bekerja Tidak Sesuai Jurusan Kuliah. Retrieved August 26, 2015, from https://kabardigital.com/613/5-keuntungan-yang-bisa-kamu-dapat-jika-bekerja-tidak-sesuai-jurusan-kuliah.html
- Ratih Wilda O. (2015) Karirku Beda dengan Jurusanku Dulu! So?. Retrieved August 26, 2015, from http://careernews.id/issues/view/2750-Karirku-Beda-dengan-Jurusanku-Dulu-So
- Sentraloker (2013). Cari Kerja Tidak Selalu Harus Sesuai Dengan Jurusan. Retrieved August 26, 2015, from http://sentraloker.net/cari-kerja-tidak-selalu-harus-sesuai-dengan-jurusan.html

PANDJI PRAGIWAKSONO

Karena keinginan saya untuk sukses lebih besar daripada ketakutan saya untuk gagal. Kalimat itu keluar dari seorang bernama Pandji Pragiwaksono seorang yang dulunya populer karena sebuah acara reality show berjudul “Kena Deh” pada sebuah stasiun TV swasta pada Tahun 2006. Tidak banyak orang tau bahwa Pandji memulai karir sebagai penyiar radio di Hard Rock FM pada tahun 2001 hingga 2003 bersama Tike Priatnakusumah, kemudian melanjutkan kembali masih sebagai penyiar radio di Hard Rock FM Jakarta selama tiga tahun Karirnya berjalan cukup menarik karena tidak hanya menggeluti bidang penyiaran dan presenter saja. Ia juga menggeluti bidang lain seperti sebagai illustrator di Kolamkomik.com dengan menghasilkan sebuah komik berjudul Degalings, menjadi penyanyi rap dengan mengeluarkan beberap album salah satunya berjudul Provoactive Proactive, Menjadi pembawa acara yang terbaru di Kompas TV “Sebelas Dua Belas”, dan sebuah bidang yang mulai menjadi popular saat ini ada “Stand Up Comedy”.

Berawal dari minat atau hobi di bidang basket, Pandji hanya bisa bermimpi menjadi pemain basket, semakin besar ia merasa main basket tidak terlalu bisa dipakai dan kemudian ia melihat Ary Sudarsono (presenter Olahraga RCTI saat itu), Dia pakai jas, rambut klimis, wangi, di ruangan ber AC, berbicara mengenai basket dan DIBAYAR. Menurut Pandji itu ada pekerjaan keren dan dari situ dia menetapkan mimpi dan cita-citanya. Bukan jalan yang mudah sampai dia mendapatkan cita-citanya itu, ikut casting dibanyak tempat, hingga kesempatan itu datang dan tantangan lain datang ketika ia sempat gagap dalam komunikasa, namun seiring kesempatan datang dan latian terus untuk mengurangi gagap tersebut, Pandji mulai terbiasa. Hal yang memotivasi dirinya untuk menjadi lebih baik di bidang presenter adalah pujian dari orang-orang disekitarnya. Pujian – pujian yang diperolehnya membuat ia menjadi semakin percaya diri. Hingga saat ini menjadi presenter yang memiliki program televise sendiri.

Berawal dari mimpi menjadi presenter olahraga tersebut. Pandji mulai memikirkan bidang lain yang dipandang “asing” bagi banyak orang. Bidang Rap, Membuat acara TV INDONESIA:, dan yang paling populer adalah Stand Up Comedy. Pandji Pragiwaksono adalah Satu-satunya Stand Up Comedy an atau biasa disebut Comic Indonesia yang telah mengadakan tur stand up keliling dunia yang bernama Mesakke Bangsaku World Tour. Melalui pertunjukan “Mesakke Bangsaku” World Tour 2014, Pandji membagikan hasil pengamatan maupun pengalamannya mengenai Indonesia untuk mengajak masyarakat Indonesia yang tinggal di luar negeri, baik dari kalangan pelajar maupun profesional, agar kembali peduli dengan situasi dan kondisi bangsa saat ini dengan cara yang jenaka. Pandji berharap tur keliling dunia ini dapat menjadi cara bagi Warga Negara Indonesia yang ada di luar negeri untuk mendapatkan update akan Indonesia. Lebih jauh, tur ini diharapkan dapat menjadi inspirasi untuk siapapun di Indonesia, bahwa dengan kerja keras dan dengan melewati proses yang benar, apa yang diimpikan bisa terwujud sebagaimana mimpi untuk melakukan tur keliling dunia ini dapat terwujud dengan dukungan sponsor terkait.

Sebuah pencapaian yang luar biasa dan belum bisa disamai oleh Comic Indonesia yang lain saat ini. Bisa dibilang Pandji adalah pelopor muncul dan populernya stand up comedy di Indonesia saat ini. Dia menggagas acara stand up comedy Indonesia atauyang  bisa dikenal dengan SUCI yang tanyang pada Kompas TV. Melalui acara itu muncul profesi baru di ranah hiburan Indonesia saat ini yaitu menjadi seorang stand up comedy an atau yang biasa disebut Comic. Nama baru mulai muncul mulai dari Ernest Prakarsa, Gee Pamungkas hingga Dodit Mulyanto, orang-orang ini yang dulunya mungkin tidak berpikir bahwa melalui stand up comedy ini bisa menjadi sebuah lahan untuk mencari rejeki. Pandji sadar bahwa bekerja di industri kreatif akan penuh tantangan terhadap perkembangan jaman saat ini. Maka dari itu ia sangat aktif melakukan tur stand up untuk memperkenalkan stand up ke tempat yang dia datangi. Dari tour tour yang sudah dia lakukan pandji yang juga memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi, menerbitkan sebuah buku yang berjudul NASIONAL.IS.ME. Sebuah buku yang menceritakan tentang pengalaman tentang tur stand up keliling nusantaranya di berbagai daerah di Indonesia dan juga berisi tulisan – tulisannya pada blog Pandji itu sendiri yaitu www.pandji.com.Dalam bukunya diceritakan tentang rasa optimistis tentang negeri Indonesia ini. Ketika orang lain berpikir bahwa negeri ini tidak punya harapan, Pandji berpikir lain, pandji menilai orang – orang hanya melihat Indonesia dari kacamata kecilnya saja, Indonesia itu luas dan terdiri dari ribuan pulau. Kalau mau menilai Indonesia itu seperti apa, maka kunjungilah semua pelosok negeri ini dan Pandji sadar bahwa negeri ini punya harapan dan masa depan yang cerah.

Dalam melakukan stand up show nya, tidak semua orang dapat menerima materi yang dibicarakan oleh Pandji. Tak sedikit juga yang bilang bahwa stand up Pandji tidak lucu dan cenderung terlalu berat dibandingkan dengan comic yang lain. Materi Pandji memang kebanyakan berkaitan dengan isu sosial politik serta pengalaman kehidupan sehari – harinya. Bagi Pandji sendirisetiap kritik dan saran yang ditujukan kepadanya dianggap wajar mengingat berkarir didunia publik figur yang sering sekali muncul di layar kaca masyarakat. Pandji menegaskan bahwa yang membuat dia makin percaya diri dan berkembang hingga saat ini adalah kemampuan memotivasi diri yang dia dapat dari pujian yang sedikit demi sedikit meskipun tentunya kritik dan cacian sering datang menghampiri. Mampu mengontrol masukan yang datang membuat Pandji semakin percaya diri terhadap karirnya termasuk di dunia stand up comedy yang terbukti dari ajang kompetisi yang sekarang sudah memasuki musim ke lima.

Setiap melakukan show stand up di berbagai kota Pandji meyempatkan untuk sekedar berinteraksi dengan para penggemar atau fans nya melalui twitter dengan mengadakan sebuah acara yang unik yaitu olahraga bareng. Dalam hal ini olahraga yang dimaksud biasanya adalah sepakbola, basket, dan futsal, antusiasme dari para penggemar Pandji pun sangat tinggi hingga tidak semua yang mendaftar dapat ikut berolahraga bersama. Hal ini selain dimaksudkan untuk menjalin hubungan yang baik antara Pandji dengan penggemar, digunakan juga untuk mempromosikan kegiatan atau hal yang sedang Pandji lakukan saat ini, mulai dari show stand up, buku, album rap hingga kegiatan – kegiatan lainnya. Pandji menganggap dengan makin sering berinteraksi dengan banyak orang dapat membuka wawasan lebih jauh dan juga dapat menemukan materi baru yang dapat ia gunakan sebagai bahan tambahan dalam show stand up maupun tulisan yang nanti akan dimasukkan kedalam blog atau bukunya. Banyak hal menarik yang ia temui selama berinteraksi dengan banyak orang tersebut, mulai dari banyak yang tidak tahu nama Pandji itu sendiri, hingga ada yang menyebut dirinya dengan nama artis lain. Namun yang paling melekat pada diri seorang Pandji adalah trademark pembawa acara “Kena Deh”, banyak orang lebih mengenal Pandji dari acara tersebut dan setiap kali bertemu sering sekali Pandji hanya dipanggil dengan nama “Kena Deh” tanpa tau nama asli Pandji itu siapa. Hal ini sering ia utarakan sebagai bahan stand up comedynya yang tentunya mengundan tawa bagi yang mendengarkan. Hal – hal yang terjadi di sekitar diolah menjadi sedemikian rupam oleh Pandji yang secara tidak langsung menjadi pundi – pundi uang bagi diri dan karirnya kedepan.

Alm. Ayah Pandji pernah bilang, jangan pernah membunuh mimpi, karena mimpi nggak pernah mati. If you will stay on the back, you will stay on your mind. Waktu itu Pandji pernah tinggal sama orang yang kerjanya hanya menyesal. Membayangkan hidup dengan orang yang tiap hari nyesel terus.Dulu kalau om gini, mungkin udah kayak gini, dulu kalau om gitu, mungkin udah kayak gitu, dst. Hal itu menempel terus di benak Pandji.Dari hal itu Pandjitidak mau jadi orang yang kayak seperti itu (suka menyesal). “Gue harus lakukan sesuatu. So i have a large of dream, i don’t to kill it. I go for it. Karena keinginan saya untuk sukses lebih besar daripada ketakutan saya untuk gagal” ucap Pandji.

 

Penulis ,

Gaby

Kerja Tidak Sesuai dengan Jurusan?

Setelah lulus dari dunia perkuliahan, para fresh graduate pasti akan menghadapi tiga pilihan yaitu lanjut sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, menikah, atau bekerja. Bekerja adalah salah satu dilemma yang dihadapi oleh fresh graduate. Banyak orang tua mendesak anaknya setelah lulus kuliah harus mencari pekerjaan. Namun, mencari pekerjaan juga tidaklah mudah, lagi pula jumlah lulusan lebih banyak daripada jumlah pekerjaan yang ada. Lagipula masih banyak fresh graduate yang masih bingung ingin mencari pekerjaan seperti apa. Hal ini dikarenakan mereka masih belum punya arah dan tujuan, mereka juga tidak tahu ingin mau jadi apa dimasa depan. Tentunya mereka akan dihadapkan oleh pekerjaan yang sesuai dengan jurusan atau mereka akan mencari kerja yang tidak sesuai dengan jurusan selama kuliah. Mencari pekerjaan yang tidak sesuai dengan latar belakang jurusan yang pernah diambil tentunya tidak salah.

Mencari pekerjaan yang tidak sesuai dengan latar pendidikan dapat membuat fresh graduate belajar hal-hal baru. Semasa di bangku perkuliahan, mahasiswa mungkin merasa bosan dengan kegiatan-kegiatan di kelas ataupun di luar kelas. Dengan bekerja yang tidak sesuai jurusan, fresh graduate akan mempelajari hal baru dengan semangat yang baru pula. Sebagai contoh, kuliah jurusan sastra inggris, lulusan sastra inggris tidaklah harus menjadi guru di sekolahan atau les-lesan. Bisa saja bekerja di perusahaan multinasional, bank, ataupun di hotel. Pada akhirnya, fresh graduate pasti semangat untuk mendapatkan hal-hal yang tidak pernah diajarkan selama di bangku kuliah. Para fresh graduate akan belajar mulai dari awal dan secara otomatis fresh graduate juga bisa menggali potensi yang ada pada dirinya dibidang pekerjaan yang baru.

Ilmu yang didapat semasa kuliah bisa diarahkan untuk pekerjaan yang kelihatannya tidak sesuai dengan jurusan. Dalam masa kuliah, mahasiswa mempelajari hardskill dan softskill. Hardskill merupakan pengetahuan yang didapat dari pendidikan formal selama kuliah, contohnya kemampuan dibidang desain, informatika, atau robotik. Sedangkan softskill merupakan kemampuan dan keahlian yang didapat dari kegiatan-kegiatan informal semasa  kuliah, contohnya kemampuan komunikasi, kepemimpinan, atau kerjasama tim.  Softskill Inilah yang seringkali menjadi bekal dalam menjalani dunia kerja. Menurut Bambang Wibawarta, Wakil Rektor Universitas Indonesia, bekerja itu tidaklah harus sesuai dengan bidang yang sama ketika di perguruan tinggi, karena kerja dimanapun yang diperlukan itu adalah pola pikir dan perspektif1. Jadi, pekerjaan yang didapat tidak sama dengan jurusan di kuliah itu bukan berarti ilmu yang didapatkan tidak dapat digunakan. Disamping itu, lapangan pekerjaan yang tersedia tidak sesuai dengan jurusan. Banyak perusahan yang tidak terlalu mementingkan spesifikasi khusus, sehingga fresh graduate bebas memilih pekerjaan yang dia inginkan walaupun tidak sesuai dengan jurusan. Meskipun bekerja mulai dari awal, ilmu yang didapatkan di bangku perkuliahan tidaklah sia-sia di dunia kerja.

Salah satu alasan mencari pekerjaan yang tidak sesuai pendidikan adalah jurusan yang diambil semasa kuliah tidak sesuai dengan passion. Menurut Bernadia Arimurti, Kepala Seksi Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Univeristas Gadjah Mada, lebih baik fresh graduate bekerja sesuai dengan ilmunya. Dengan demikian, apa yang dipelajari selama kuliah akan lebih terasa manfaatnya. Terkadang ada yang memilih jurusan karena dorongan dari orang tua, bukan karena keinginannya sendiri2. Jadi, tidak semua mahasiswa memilih jurusan yang ia sukai. Walaupun mereka tidak kuliah sesuai dengan jurusan yang mereka inginkan, mereka tetap berusaha sebaik mungkin menjalaninya. Lalu, mereka akan lebih memilih bekerja yang tidak sesuai pendidikan agar tidak menjadi beban di hati dan pikiran. Jadi, tidak masalah jika bekerja tidak sesuai jurusan jika suka dan bisa menguasai bidang yang diminatinya

Sebagai kesimpulan, pekerjaan yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan tidaklah salah. Fresh graduate yang bekerja tidak sesuai dengan jurusan sewaktu dibangku kuliah bisa mendapatkan pengalaman baru. Belajar mulai dari awal juga tidak masalah, asalakan mau belajar semuanya pasti bisa dilalui. Kemudian, ilmu yang dipelajari tidak semuanya sia-sia, lagipula ilmu yang didapatkan semasa kuliah bisa diterapkan diluar pekerjaan seperti diwaktu luang atau hobi. Yang terakhir, kerja tidak akan menjadi beban jika memang suka dalam bidang pekerjaan yang digeluti atau memang menguasai bidang tersebut.


Ditulis oleh :
Lia Margaretha
11411032

 

References

 
Anwar Waliyudin (2015). 5 Keuntungan Yang Bisa Kamu Dapat Jika Bekerja Tidak Sesuai Jurusan Kuliah. Retrieved August 26, 2015, from https://kabardigital.com/613/5-keuntungan-yang-bisa-kamu-dapat-jika-bekerja-tidak-sesuai-jurusan-kuliah.html
 
2Ratih Wilda O. (2015) Karirku Beda dengan Jurusanku Dulu! So?. Retrieved August 26, 2015, from http://careernews.id/issues/view/2750-Karirku-Beda-dengan-Jurusanku-Dulu-So
 
1Sentraloker(2013).Cari Kerja Tidak Selalu Harus Sesuai Dengan Jurusan. Retrieved August 26, 2015, from http://sentraloker.net/cari-kerja-tidak-selalu-harus-sesuai-dengan-jurusan.html

AGUSTINUS WIBOWO: "TURIS" SEBAGAI PILIHAN KARIR

Selimut Debu, Garis Batas, dan Titik Nol adalah sebuah karya yang hadir dari seorang Agustinus Wibowo, seorang travel-writer dan fotografer dari Indonesia yang telah menjelajah dari Afghanistan, Central Asia, dan China. Destinasi-destinasi yang tidak umum dikunjungi orang kebanyakan hanya untuk mewujudkan mimpinya keliling dunia dan berbagi cerita-cerita inspiratif ke semua orang. Semua hal yang ia alami selama perjalanan itu ia tulis dengan lengkap disertai beberapa foto didalam buku-buku yang telah ia tulis.

Laksana kepompong yang keluar dari perlindungannya usai tidur panjang, seperti itulah hidup Agustinus Wibowo sejak 10 tahun silam. Kutubuku canggung yang jarang keluar rumah dan takut panas, kini telah berkelana ke negara-negara yang  mungkin luput dari daftar tujuan traveler kebanyakan. Agustinus kecil bercita-cita menjadi seorang turis. Bukan polisi, dokter, atau profesi-profesi lain yang dianggap mulia dan menjadi tolak ukur kesuksesan. Ia rela melepaskan modal masa depan sebagai lulusan universitas terbaik di Beijing, Cina, demi mengunjungi negara-negara yang dulu hanya bisa ia intip dari koleksi perangkonya.

Semua berawal ketika Agustinus menjadi sukarelawan tsunami di Aceh pada Januari 2005. Di daerah yang luluh lantak akibat terjangan gelombang dahsyat tersebut, ia justru melihat semangat warga yang kuat untuk bangkit kembali. Agustinus yang saat itu baru lulus dari jurusan Komputer, bertekad banting setir menjadi seorang jurnalis. Tujuannya hanya satu, bisa mengunjungi tempat-tempat yang tak biasa dikunjungi, untuk menyebarkan cerita-cerita inspiratif.

Rencana perjalanannya jelas, bahwa ia akan melakukan perjalanan dari Beijing hingga ke Afrika Selatan dengan menggunakan jalur darat. Yang cukup mengejutkan dari perjalanan yang ia lakukan ini ialah tidak mendapat restu dari orang tua sehingga ia membiayai semua perjalanan ini dengan uang pribadinya. Perjalanan akbarnya dimulai dari Stasiun Kereta Api Beijing, Cina, pada bulan Juli 2005. Dari sana, ia menanjak ke Tibet, menyeberang ke Nepal, lalu menuju India, kemudian menembus Pakistan, Afghanistan, Iran, hingga akhirnya masuk ke negeri-negeri ‘Stan’ di Asia Tengah, yaitu Tajikistan, Kyrgyzstan, Kazakhstan, hingga asmpai Uzbekistan dan Turkmenistan. Ada kepuasan tersendiri yang ia peroleh saat ia sukses “menaklukan” Tibet, menaklukan perasaaan takutnya sendiri. Ia merasa apabila bisa menaklukan sebuah tempat dengan budget seminim mungkin, itu adalah sebuah kebanggaan. 

Menurutnya, yang paling penting dari sebuah perjalanan adalah sejauh mana kita terhubung dengan tempat itu. Itu sebabnya ia tidak mengejar destinasi, apalagi menghitung jumlah negara yang ia kunjungi. Pria kelahiran Lumajang, Jawa Timur, ini pun berteori bahwa seseorang baru dapat dikatakan sudah melebur dengan masyarakat lokal jika bisa tertawa mendengar joke mereka. Dan hal yang menarik lain dari perjalanannya adalah demi berpindah dari satu tempat ke tempat lain, Agustinus menggunakan berbagai macam alat transportasi, mulai dari kereta api, bus, truk, hingga menumpang kuda dan keledai, dan diselingi dengan berjalan kaki.

Berkelana ke banyak negara selama bertahun-tahun membuatnya tidak cuma sekali dua kali mengalami kejadian-kejadian naas. Berbagai marabahaya pernah ia hadapi, mulai dari ditangkap polisi, dirampok, dipukul preman, ditahan agen rahasia, dan kelaparan. Belum lagi perasaan rindu pulang ke rumah. Seperti pada saat di Tibet, titik awal perjalanannya, dia masuk ke negeri atap dunia dengan cara menyelundup karena tak mengantongi izin masuk yang biayanya tentu saja dia tidak sanggup membayarnya. Satu bulan di Tibet dijalanni dengan penuh rasa takut akan diciduk polisi, dipenjara dan lain – lain. Tetapi meskipun sempat bertemu polisi berkali-kali dengan keberuntungan setinggi Tibet itu ia berhasil lolos dari semua polisi yang ada. Namun menurut dia kesulitan yang dirasa paling mengganggu adalah soal birokrasi. Berkaitan dengan masa visa yang habis dan belum mendapat kepastian visa untuk negara selanjutnya. Contohnya ketika ia menanti kepastian di India untuk mendapatkan visa perjalanan selanjutnya menuju Pakistan, ia berkali-kali ditolak oleh pihak imigrasi. Tapi ia tetap dengan gigih memperjuangkan kelanjutan perjalanannya itu. Dan akhirnya ia pun mendapatkan kesempatan untuk mengurus visanya tersebut meskipun harus menanti berminggu – minggu. Ia berada di India dengan berjuta masalah sosial lingkungan disekitar tempat ia menginap – menanti kepastian dan harapan untuk melanjutkan perjalanannya menuju Afrika Selatan yang masih sangat jauh.  Keadaan terkatung-katung tanpa kepastian ini yang paling ditakutkan oleh Agustinus. Dari hal ini Agustinus sadar bahwa pilihan hidup yang ia ambil bukan tanpa halangan atau resiko. Semua hal yang bisa dibilang hampir merenggut nyawa dan masa depannya telah ia alami tetapi ia yakin akan tujuannya untuk terus melanjutkan perjalanan keliling dunia sebagai jalan hidupnya. 

Kisah perjalanan dari negeri Tibet hingga Iran tersebut diterbitkan menjadi sebuah buku berjudul Titik Nol. Penerbitnya sama dengan yang menerbitkan dua buku terdahulunya, Selimut Debu dan Garis Batas. Dimana kedua buku sebelum Titik Nol tersebut adalah kelanjutan perjalanannya ke negeri “Stan”. Versi buku setebal 552 halaman ini berbeda dengan versi artikel berseri terdahulu. Agustinus menambahkan kisah personal antara ia dan sang ibu, yang saat itu tengah berjuang melawan penyakit. Baginya, ini adalah buku paling personal yang pernah ia buat. Di dalamnya terdapat momen saat ia kembali ke wajah-wajah familiar setelah belasan tahun meninggalkan rumah.

Agustinus saat ini menetap di Ibukota untuk sementara. Tapi bagi dia, ia takkan tinggal diam karena perjalanan bukan sekedar liburan untuk melarikan diri sejenak dari rutinitas, perjalanan sudah menjadi hidup itu sendiri. Seperti yang ia tuliskan dalam Titik Nol:, “‘Rumah’-ku sekarang adalah jalanan yang membentang. Aku adalah nomad, napasku adalah perpindahan.”. 

Hidup itu adalah pilihan menjadi manusia pada umumnya atau memilih jalan yang berbeda dimana orang lain menganggap bahwa hidupnya sangat penuh resiko seperti Agustinus Wibowo. Tapi setiap profesi akan selalu memiliki resiko dan akibat yang akan kita terima. Karena sukses bukan sekedar berbicara tentang materi atau uang tetapi juga pengalaman,meskipun pengalaman tersebut tidak semuanya pengalaman baik seperti yang kita harapkan. Dan dari banyak pengalaman yang Agustinus peroleh, bisa dibilang ia sukses dengan buku-buku yang telah ia hasilkan yang telah menginspirasi banyak orang.

Oleh karena itu pilihlah jalan hidupmu sendiri, tapi bersiaplah juga dengan semua resiko dan kesuksesan didalamnya, karena yang menjalani kamu.

 

Referensi

http://www.wego.co.id/berita/agustinus-wibowo-pengelana-negeri-tak-terjamah/

Ditulis oleh :

Gabriel Rizkiawan / 26410114

GALAILA KAREN AGUSTIAWAN: SRIKANDI INDONESIA DI KANCAH DUNIA

Sosoknya yang ramah dan lembut tak menjadikan beliau terlihat lemah saat mengerjakan tugas-tugasnya, meskipun, beliau bekerja di bidang industri migas yang katanya merupakan pekerjaan para pria. Galaila Karen Agustiawan, yang akrab di sapa Karen, merupakan salah satu lulusan perguruan tinggi Institut Teknologi Bandung, yang berhasil menduduki jabatan nomor satu di perusahaan BUMN PT. Pertamina. Dia adalah perempuan pertama yang berhasil meraih posisi tertinggi dalam perusahaan milik negara tersebut. Karen yang lulus pada tahun 1983 dari jurusan teknik fisika, memulai karirnya sejak beliau lulus.

Tempat pertama yang menjadi pilihannya adalah PT. Mobil Oil Indonesia hingga tahun 1986, sebagai analis dan programmer dalam pemetaan sistem eksplorasi. Melalui kemampuan dan kecerdasannya, Karen berpindah posisi menjadi seismic processor and quality controlle rselama 2 tahun dan dipercaya menangani beberapa proyek seismik di Rokan, Sumatera Utara dan Madura. Prestasi Karen terus menanjak hingga beliau pernah bekerja pada beberapa perusahaan seperti CGG Petrosystems Indonesia, Landmark Concurrent Solusi Indonesia, dan Halliburton Indonesia.

Berkat pengalamannya yang baik, pemerintah Indonesia mulai melirik dan meminta Karen bekerja di PT. Pertamina pada tahun 2006 sebagai staf ahli direktur utama bidang hulu. Dua tahun berselang, Karen pun menaiki tangga karir yang lebih tinggi, sebagai Direktur Hulu PT PERTAMINA (PERSERO), periode Maret 2008 – 5 Februari 2009. Puncaknya adalah ketika Pertamina memilih Karen sebagai pengganti Ari H. Soemarno, Dirut Pertamina periode sebelumnya.

            Sepenggal kisah di atas mencerminkan bahwa sebenarnya wanita juga memiliki kemampuan yang sama dengan kaum pria. Sayangnya pandangan masyarakat menjadikan wanita kurang mendapat kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya dalam bidang pekerjaan yang identic dengan para pria. Sosok Galaila Karen Agustiawan mewakili wanita yang mampu mematahkan pandangan bahwa wanita hanya berperan sebagai ibu rumah tangga saja dan tidak mampu bekerja secara profesional. Dengan rekam jejaknya yang begitu baik, beliau dapat menjadi panutan bagi banyak wanita di luar sana yang belum mendapatkan kesempatan bekerja.

Tak hanya, kemampuan, Galaila Karen Agustiawan juga memiliki kepribadian yang baik dan dapat menginspirasi semua kaum wanita yang bekerja secara profesional dan juga memiliki tanggung jawab untuk mengurus keluarga. Meskipun beliau bekerja di perusahaan pemerintah, tak pernah sedikitpun beliau melupakan tugasnya sebagai seorang istri dan seorang ibu. Tentunya tidak mudah menjadi seorang wanita yang harus bekerja dan melakukan kewajiban sebagai seorang istri dan ibu. Ada pengorbanan yang harus dilakukan. Pada saat anak pertama dan keduanya masih kecil, Galaila Karen Agustiawan harus menitipkan mereka kepada saudara dan babysitter. Tetapi ketika anak ketiga lahir, beliau merawatnya sendiri dan memutuskan berhenti bekerja. Setelah anak bungsunya masuk taman kanak-kanak, barulah Karen kembali bekerja. Adanya pengalaman mengasuh anak, membuat Karen berpendapat bahwa pekerjaan sebagai ibu rumah tangga tak kalah berat dengan pekerjaan di kantor. Sebagai istri, Karen menjadi seorang istri yang taat dan menjadikan suaminya sebagai pemimpin keluarga. Tidak pernah ada keluhan dari suaminya tentang pekerjaannya yang banyak didominasi oleh kaum pria. Sang suami, Prof. Dr. Herman Agustiawan memberikan dukungan penuh terhadap pekerjaan yang dipilih olehnya. Sejak mereka berdua berkuliah di Institut Teknologi Bandung, sang suami sudah mengenal dan mengerti kondisi pekerjaan Karen. Bahkan adanya anggapan bahwa Karen memiliki karier yang lebih berhasil daripada suaminya, tidak membuatnya mundur dari pekerjaannya. Sang suami, yang bekerja sebagai anggota Dewan Energi Nasional, berpendapat mereka berdua memiliki kelebihan di bidang masing-masing, sehingga tidak perlu ada yang dipersoalkan.

            Sebagai seorang istri dan ibu, Karen benar-benar harus mengatur waktu yang dimilikinya. Beliau selalu mengutamakan keluarga daripada pekerjaannya dan juga berusaha menghabiskan waktu bersama keluarga bila memiliki waktu kosong. Bahkan sesaat sebelum mengikuti meeting di Arab Saudi, Karen menyempatkan diri untuk menaikan ibadah umrah bersama anak-anaknya. Prinsip yang diajarkan kepada anak-anaknya yaitu kualitas pertemuan dalam sebuah keluarga. Oleh karena itu, Karen berusaha untuk masuk ke dalam kesibukan ketiga anaknya dan begitu pula sebaliknya. Ketiga anaknya kini telah memilih bidangnya masing-masing karena sejak awal Karen tidak menginginkan anak-anaknya mengikuti jejak orangtua. “Kamu akan menjadi orang yang sukses saat kamu menjadi dirimu sendiri” adalah kalimat yang diajarkan kepada ketiga anaknya saat mereka masih kecil.

            Ketika wanita menjadi pemimpin dalam bidang yang didominasi kaum pria, itu bukanlah hal yang mudah untuk dijalankan. Kejadian tak mengenakkan pun tak dapat dihindari oleh Karen. Beliau harus memikul beban yang berat sebagai pimpinan perusahaan milik negara, yang seringkali dijadikan kambing hitam atas semua masalah yang terjadi di Indonesia. Mulai dari banyaknya kasus tabung elpiji 3 kilogram yang meledak hingga proses distribusi solar dan bensin yang seringkali macet dan langka di pasaran. Cercaan dan serangan secara verbal sudah menjadi makanan sehari-hari baginya. Bukan pekerjaan mudah menjadi pemegang kekuasaan tertinggi di Pertamina, tetapi Karen terus berusaha dan melakukan yang terbaik sehingga beliau mampu menjadi The Most Achievement Inspiring Woman in BUMN 2013. Banyak hal yang dilakukan Karen agar dapat membawa Pertamina mencapai prestasi hingga saat sebelum dirinya mengundurkan diri. Memiliki visi dan misi yang terarah bagi Pertamina adalah salah satu hal yang ditunjukkan Karen. Tetapi hal ini tidak hanya membawa kebanggaan bagi Karen, tetapi juga banyaknya kesulitan yang dihadapi. Selain adanya tekanan politik, beliau juga harus mampu membagi waktunya dengan keluarga. Menjadi ibu, istri, dan pimpinan tertinggi dalam perusahaan pemerintah bukanlah hal yang mudah.

Masyarakat umumnya masih memandang bahwa wanita hanya bisa menjadi ibu rumah tangga, mengurus rumah dan anak-anak, melayani suami, dan sebagainya. Tetapi di zaman sekarang, peran wanita tidak hanya sebagai ibu rumah tangga saja melainkan juga sebagai wanita yang bekerja atau memiliki karier. Adanya tuntutan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang semakin besar dalam sebuah keluarga, mau tidak mau wanita juga harus membantu suami dalam bekerja. Terlebih jika bidang pekerjaan yang digeluti adalah bidang yang didominasi kaum pria menjadikan wanita seringkali diragukan kemampuannya. Tetapi kisah sukses Galaila Karen Agustiawan, yang juga mendapat penghargaan sebagai wanita paling berpengaruh ke-6 di dunia versi majalah Fortune, di atas dapat menjadi inspirasi bagi kita kaum wanita yang saat ini sedang bekerja atau para mahasiswi yang akan memasuki dunia bekerja. Tak ada yang tak bisa kita lakukan meskipun kita adalah kaum wanita. Tak ada hal yang mustahil bagi kita kaum wanita dan tak ada perbedaan yang signifikan antara kita kaum wanita dan pria. Raihlah apa yang menjadi impianmu, berusahalah untuk mencapainya, dan tetaplah menjadi dirimu.

Maju terus wanita Indonesia, hidup wanita Indonesia!

 

Ditulis oleh:
Vania Christiana Lie
31411074

Siapkan Mimpi Melalui Personal Brand Petra Career Camp 2015

Ada ungkapan bijak, pengalaman adalah guru terbaik dalam kehidupan. Namun, apabila pengalaman tidak dibekali dengan ilmu yang memadahi, masa depan akan berlalu sia-sia. Pada 19-24 Juni 2015 lalu, Pusat Karir Universitas Kristen (UK) Petra mempersembahkan sebuah kegiatan pelatihan yang ditujukan untuk mahasiswa. Kegiatan yang bertajuk “Many Dreams, One Team: Welcoming The New Brand Of You,” ini merupakan suatu wadah bagi mahasiswa untuk mendapatkan materi sekaligus pengalaman berharga yang kelak dapat direalisasikan selepas lulus dari bangku kuliah.

Career Camp 2015 berlangsung selama satu hari di Surabaya dan selama lima hari di Bali. Seluruh materi yang dipersiapkan selama kurang lebih satu tahun oleh tim Pusat Karir UK Petra diselaraskan dengan topik “Making Your Own Personal Branding.” Personal Branding merupakan aspek penting dalam setiap pribadi yang dapat menentukan kesuksesan seseorang. Menurut Jessie Monika, Training Coordinator Pusat Karir UK Petra, tujuan awal Career Camp adalah untuk memberi pelatihan dalam satu rangkaian kegiatan besar dengan materi yang mumpuni. Awalnya, pelatihan-pelatihan serupa acap kali diadakan sebulan satu hingga dua kali. Seiring berjalannya waktu, Career Camp diadakan untuk memfasilitasi beragam materi dalam satu kesempatan bersama.

Sementara itu, selama berada di Surabaya, para peserta diberi bekal ilmu mengenai personal branding yang kemudian akan dipraktikkan ketika berada di Pulau Dewata. Hari pertama diawali dengan adanya sesi Self Identifying dimana seluruh peserta mengikuti tes pengenalan Multiple Intelligence beserta arahan dan penjelasan oleh Magdalena Ratuhaba. Sesi penting selanjutnya adalah sesi “Marketing and Personal Branding” oleh Stephen Ng, pendiri sekolah brand communication pertama di Indonesia.

Beberapa poin penting pada kedua sesi ini adalah mengenai pentingnya personal branding dalam setiap orang serta langkah-langkah untuk membangun personal brand tersebut. Setiap orang harus mempunyai personal branding dikarenakan adanya kebutuhan akan kepercayaan dan pengakuan dari orang lain, serta kebutuhan untuk memasarkan produk atau jasa yang nantinya akan dijual ketika bekerja. How you look + how you speak + how you act = your personal brand.

Sesi yang tak kalah penting lainnya adalah sesi mengenai legalitas bisnis muda pada zaman ini di Indonesia yang dibawakan oleh Hans Edward Hehakaya, pengacara di Surabaya. Pada sesi tersebut, Hans Edward, memberi informasi seputar bisnis yang membutuhkan legalitas di tengah maraknya plagiarisme produk maupun jasa. Selain itu Hans juga memberi tips-tips kepada peserta yang ingin membuka bisnis baru, seperti adanya unsur konten lokal pada produk atau jasa, kreativitas serta peluang kerja sama dari berbagai pihak. Setelah Sesi usai, para peserta bersiap-siap untuk keberangkatan ke Bali menggunakan bus.

Keesokan harinya, seluruh peserta beserta panitia telah sampai di Hotel Puri Nusa Indah, Sanur, Bali. Peserta yang mengikuti Career Camp berjumlah 43 orang dan sudah dibagi menjadi lima kelompok besar yang terdiri dari tujuh hingga delapan orang. Nantinya tim tersebut akan selalu bersama hingga penghujung acara. Setelah itu, acara dimulai kembali dengan kegiatan Clash of Sandwich pada pukul 19.00-21.00 WITA. Pada kegiatan ini, setiap tim diwajibkan membuat menu sandwich inovatif dengan cita rasa yang lezat. Setiap tim juga wajib untuk membuat perencanaan keuangan serta perencanaan bahan makanan yang akan dibeli. Kemudian, hasil makanan yang dibuat akan dipresentasikan di hadapan juri.

Hari ketiga dan keempat merupakan puncak acara pada Petra Career Camp 2015 ini. Panitia menerapkan konsep amazing race agar para peserta memperoleh pengalaman baru sekaligus hiburan keliling kota. Selanjutnya, setiap tim diberi modal sebesar Rp. 700.000,00 untuk membeli barang-barang yang kemudian akan dijual langsung di Pantai Kuta, Bali pada esok harinya. Setelah diberi modal, setiap tim harus memanajemen uang tersebut agar modal tersebut kembali alih-alih mendapat keuntungan. Setiap tim juga akan berkeliling ke lima pos berbeda dengan titik kumpul serta titik kembali di Terminal Batubulan, Bali. Peserta diberi kebebasan untuk mengatur segala sesuatu mulai dari transportasi, konsumsi hingga keuangan untuk membeli barang-barang yang akan dijual kembali.

Rute beserta pos yang akan disinggahi diantaranya adalah Wisata Agrokopi, Pasar Seni Sukowati, Pusat Kerajinan Tenun dan Songket Putri Ayu, Pusat Kerajinan Lontar Pucuk Lontar Mas, dan Pusat Kerajinan Baju Barong Desa Beng. Pos-pos tersebut mempunyai permainan-permainan yang menguji kekompakan tim. Di lokasi Wisata Agrokopi, terdapat tantangan untuk menebak jenis minuman yang tersedia. Bila dapat menjawab tantangan itu, tim akan mendapat tambahan uang. Di pos Pasar Seni Sukowati, tim harus membeli tiga buah canang yang berisi sesajen untuk berdoa dan tim tersebut harus mengambil foto di tempat-tempat yang telah ditentukan.

Pada pos pusat kerajinan tenun dan songket, tim harus memecahkan sandi bertuliskan aksara Bali. Di tempat ini, peserta dapat berinteraksi langsung dengan ibu-ibu yang sedang memintal benang dan menenun kain khas pulau seribu Pura itu. Pada pos kerajinan lontar, peserta diajak untuk belajar membuat anyaman dari daun lontar. Kemudian, tim diberi kesempatan untuk memilih barang yang akan dijual. Pada pos pusat kerajinan baju barong, tim diberi tantangan untuk mengumpulkan baju barong dengan warna dan ukuran sama. Setiap tempat yang dikunjungi selama City Adventure hari pertama itu akan memberi wawasan dan pengalaman baru kepada setiap individu maupun kelompok.

Hari keempat, kelompok menjual barang-barang yang telah dibeli di Pantai Kuta, Bali dan harus mengembalikan modal yang telah dipinjamkan. Lagi-lagi, kekompakan dari tim yang ada diuji dengan proses penjualan yang cukup berat dikarenakan tim harus bekerja sama dengan penjual setempat. Kendala lain yang menjadi polemik seperti yang diungkapkan oleh Stefanus Kevin selaku Ketua Panitia, adalah adanya keengganan pedagang di Pantai Kuta menerima ‘pedagang’ lain yang baru datang. Disinilah kemampuan bernegosiasi tiap peserta diuji. Syukur, tidak ada pertikaian ataupun kesalahpahaman dengan warga setempat, bahkan para peserta membaur dengan para pedagang lokal untuk menjualkan barang-barang mereka dengan syarat dan ketentuan yang mereka rundingkan sendiri.

Hari keempat merupakan hari yang cukup padat karena setiap kelompok berjualan barang dari pukul 10.00-17.00 WITA. Awalnya, setiap kelompok memiliki semangat dan daya juang tinggi, namun lama kelamaan semangat itu pudar. Sore menjelang, banyak anggota kelompok yang merasa lelah kemudian menyerah. Malam terakhir, terdapat sesi sharing mengenai apa yang telah didapat selama City Adventure dalam kurun waktu dua hari tersebut. Peserta-peserta membentuk sebuah lingkaran berukuran besar dan beberapa perwakilan kelompok mengungkapkan pengalaman yang telah didapat. Kegiatan di malam terakhir ditutup dengan unjuk bakat peserta serta panitia dan pool party.

Dari seluruh peserta yang mengikuti kegiatan ini, ada beberapa yang berasal dari universitas lain. Salah satunya adalah Kensa Felin yang berasal dari Maluku dan kini tengah melanjutkan studi di Universitas Atmajaya, Yogyakarta. Menurutnya, Petra Career Camp ini sangat bermanfaat dan ia merasa mendapat banyak pelajaran berharga. Awalnya, perempuan ini diajak ikut oleh saudaranya yang bersekolah di UK Petra. Seiring berjalannya waktu, Felin, panggilan akrabnya, merasa mendapat banyak pelajaran dari seluruh rangkaian kegiatan Career Camp 2015. “Ya, kegiatannya jangan cuma lima hari dan City Adventure-nya juga jangan dua hari,” harapnya.

Lain halnya dengan Kensa Felin, Kevin Vielden, mahasiswa Ilmu Komunikasi UK Petra, merasa tertarik mengikuti kegiatan tersebut dikarenakan untuk mengisi waktu libur semester. “Seru dan tidak membosankan, apalagi kegiatan yang paling asyik adalah City Adventure hari pertama,” kesannya terhadap kegiatan dua tahunan ini. Serupa dengan Kevin Vielden, Yessy Elfira Latutjiu, mahasiswi Akuntansi Bisnis UK Petra ini memiliki motif mengisi liburan untuk mengikuti kegiatan ini. “Bikin nagih, berfungsi banget buat belajar jadi entrepreneur,” ujarnya mengenai keseluruhan acara Career Camp 2015. Untuk acara Career Camp dua tahun lagi, Yessy berharap dapat mengikuti kegiatan ini untuk memperbanyak teman dan pengalaman.

Menurut Yosua Divers Parulian, Career Camp 2015 memberi banyak manfaat dalam diri pribadinya. Ia ingin mengerti bagaimana dunia wirausaha dan ternyata dapat terealisasi pada acara ini. Kegiatan yang paling menarik minatnya adalah ketika memulai perjalanan bisnis. Dimulai dari membeli sampai menjual kembali.Mahasiswa UK Petra asal Palangkaraya, Kalimantan Tengah ini  merasa bahwa Career Camp dapat memenuhi kebutuhannya akan ilmu serta pengalaman.

Sementara itu, Stefanus Kevin, Ketua Panitia Career Camp 2015 berharap agar seluruh mahasiswa yang berminat untuk mengikuti kegiatan ini tidak berorientasi pada kredit poin (KP) semata. “Ikut Career Camp ini jangan karena KP-nya. Ke depannya camp  ini bisa mempersiapkan mahasiswa setelah lulus kuliah. Mindset diubah dan akan dibekali dengan materi yang tidak murahan istilahnya,” harapannya untuk kegiatan Career Camp selanjutnya. Kendati mengalami berbagai kendala, Stefanus dan rekan-rekan panitia dapat mengatasi permasalahan yang ada dengan baik.

Baik peserta maupun panitia, Career Camp 2015 tentu memiliki kesan yang beragam di benak masing-masing. Suka, duka, telah dilalui untuk suatu tujuan bersama, memproses diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan derdampak untuk orang lain.

 

*Keep holding on pada mimpimu, terus kejar tanpa kau ragu. Keep moving on, biarkan yang berlalu, sambut hari baru.. (Ran, Hari Baru)

 

-Beata Anandika/51412062-

Kisah Alumni: Berkarir di Negeri Orang

"Masa depan itu dimiliki oleh orang-orang yang percaya akan keindahan mimpi-mimpi mereka." -Eleanor Roosevelt

Sudahkah terpikir di benak anda pekerjaan apa yang akan anda geluti setelah menyelesaikan bangku perkuliahan? Sudah tahukah anda mimpi apa yang ingin digapai serta jalan mana yang sebaiknya anda lewati agar dapat meraih mimpi tersebut? Pernahkah anda memiliki visi besar guna meniti karir anda? Atau selama ini anda belum terbesit mengenai masa depan dan membiarkan waktu serta takdir yang menghanyutkan anda?

Mimpi serta harapan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Banyak kesuksesan besar yang terjadi dikarenakan harapan mereka untuk mendobrak suatu keadaan. Firman Tuhan juga telah mengatakan bahwa “Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang” – Amsal 23:18. Karena itu, hendaklah kita tidak berjalan tanpa memiliki arah serta tujuan yang jelas, bukankah harapan adalah rak tempat kita menggantungkan mimpi?

Sudarmono Tjiputra dan Wanda Chrisiana merupakan para alumni Universitas Kristen Petra yang telah melangkah melewati batas dimana orang mengatakan kabut terlalu tebal disana. Kerja keras, harapan, serta mimpi telah menghantar mereka ke gerbang menuju kesuksesan. Tidak cukup berkarya di dalam negeri, namun mereka telah mampu membuktikan kemampuan mereka di negeri lain. Jika mereka bisa, tidak ada alasan bagi kita tidak mampu. We’re all in the same boat, mereka, anda, dan saya memulai dari titik yang sama. Mereka mampu berayun keluar dari zona aman dan nyaman untuk mengeksplorasi dunia. Jika kita memiliki tekad yang sama sudah pasti kita juga akan dapat mengikuti jejak mereka. Dikatakan bahwa masa kini itu mengandung bayi masa depan" (Voltaire).

Sudarmono Tjiputra: Alumni UK Petra, Jurusan Teknik Informatika Angkatan 1998

Lahir di Surabaya pada bulan November tahun 1980 silam, saat ini Sudarmono Tjiputra yang kerap disapa Sud telah menjabat sebagai St.George Business Digital Sales Senior Manager di Westpac Group, Australia. Tentu jabatan tersebut tidak diperoleh dengan mudah. Bagi beliau ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam hidup, yaitu menjadi pelajar yang rajin, results driven, serta sangat penting untuk menjadi proactive change agent. Dan tiga hal itulah yang selalu menjadi pagarnya saat melangkah. Setelah menyelesaikan studinya pada jurusan Teknik Informatika UKPetra, ia memutuskan untuk melanjutkan belajar di University of New South Wales sebagai Master of Commerce in Information Systems.

Berbekal pengetahuan dan mengantongi ilmu, ia memutuskan untuk melamar pekerjaan di Westpac IT Grad Program. Untuk masuk ke Westpac Grad Program sangatlah sulit. Ia harus mengikuti banyak tes dan wawancara serta bersaing dengan pelamar lain sebanyak 7.000+ orang yang berkompetisi untuk meraih 200+ posisi yang ditawarkan, kurang dari 3% dari total peserta yang akan mendapatkan pekerjaan tersebut. Tak ayal Tuhan mengalirkan kasih karunia-Nya kepada Sud. Selama 2 tahun setelah itu ia berproses sebagai software developer, technical analyst, risk management consultant, hingga IT project manager. Akhir dari masa dua tahun tersebut, Sud memutuskan untuk keluar dari bidang IT dan mencoba mengejar mimpinya yang semula yaitu membangun bisnisnya sendiri.

Setelah menyelesaikan IT Grad Program  selama 2 tahun tersebut, Sud mendapat kesempatan bergabung dengan Westpac Online Banking team sebagai Capability & Performance Manager. Dalam team tersebut, ia tidak hanya menjajaki dunia bisnis namun juga kembali terjun dalam dunia IT yang bertugas memastikan ketersediaan dan kualitas dari website serta mobile banking perusahaan. Baginya itu adalah pekerjaan yang paling tepat, karena ia tidak hanya mengejar mimpinya dalam dunia bisnis namun juga dapat menerapkan pengalaman serta ilmunya dalam bidang IT.  


Wanda Chrisiana: Alumni UK Petra, Jurusan Teknik Industri Angkatan 2000

Perjalanan hidup kadang harus melewati kerikil tajam dan tebing curam, namun percayalah bahwa usaha yang anda berikan akan menghasilkan buah yang nikmat pula. Setali tiga uang pula dengan Wanda Chrisiana. Datang ke Belanda pada Agustus 2006 untuk studi lanjut S2 di Technical University of Eindhoven (TU/e) pada jurusan Master of Science Operation Management & Logistics, ternyata dapat menuntunnya pada jenjang karir yang menawan. Setelah 2 tahun menimba ilmu, Wanda kemudian melamar pada perusahaan YER yang merupakan perusahaan untuk graduate recruitment. Selanjutnya ia dipanggil untuk interview untuk perusahaan Philips guna mengisi posisi Junior SAP Functional Business Analyst.

Datang ke interview dengan misi yang jelas serta tekad yang kuat, menjadi perisai tersendiri bagi Wanda untuk menghadapi ketatnya persaingan. Ditambah dengan stereotype negatif yang menempel pada mayarakat Asia yang dianggap “kurang berkompeten”, untuk mendapatkan posisi tersebut tidaklah mudah.

Kesetiaan dapat diukur dari seberapa besar pengorbanan. Saat kita dengan perkara yang kecil, maka Tuhan akan memberikan kita perkara yang lebih besar. Demikian hal yang dialami oleh Wanda. Akhirnya ia dapat menggapai posisi sebagai Supply Chain Planning. Berkarya selama 2 tahun di sana, kemudian ia mencoba pengalaman baru pula pada bagian Consumer Lifestyle sebagai performance manager untuk Customer Collaboration department di Central Supply organization. Hingga saat ini, sudah 4 tahun yang ia lewati dengan posisi tersebut.

Pekerjaan yang baik adalah pekerjaan yang membawa kebahagiaan bagi pelakunya, bukan malah sebagai beban. Yang wanita kelahiran 26 Januari 1982 silam ini sukai dari pekerjaannya adalah karena dapat membuka banyak  wawasan dan knowledge, melatih manajerial skills karena kontak dengan operasional level dan top manajemen, menantang dengan adanya target driven, serta dapat  provide expertise dan knowledge untuk pihak-pihak lain.

“Pantang menyerah kalau punya cita-cita ingin studi lanjut, kumpulkan informasi dan perbanyak koneksi. Jangan pernah sepelekan kuliah, waktu, dan keluargamu. Kalau ada kesempatan studi/ kerja di luar negeri, percayalah pada dirimu dan punyai tekad yang kuat dengan pikiran yang terbuka. Jangan memilih/melakukan sesuatu karena nurutin orang lain, terutama ketika hal tersebut bertolak belakang dengan keinginanmu. Kamulah yang memiliki hidupmu, jadi ambilah keputusan berdasarkan dirimu bukan orang” pesan Wanda bagi seluruh mahasiswa UKPetra.

“Memang tidak selalu mudah untuk meniti karir apalagi di negeri orang”, ungkap Sudarmono. “Hidup saya ini merupakan kasih karunia dari Tuhan dan semangat dari lingkungan saya serta kesempatan yang diberikan oleh orang-orang disekitar saya. Tips buat rekan-rekan mahasiswa, saya percaya bahwa sangatlah penting untuk memiliki visi/mimpi, mengetahui apa yang ingin kita capai dan kapan serta untuk mengerti apa yang memotivasi kita. Orang yang paling beruntung adalah orang yang dibayar dari melakukan apa yang mereka cintai. Tetapi untuk mereka yang kurang beruntung, kuncinya adalah adalah belajar untuk mencintai apa yang kita lakukan, lakukan yang terbaik setiap saat dan bersiaplah saat kesempatan datang” tambahnya.

"Masa depanku berada di genggamanku sendiri; namun genggamanku masih saja dikendalikan kuasa Tuhan. Saya akan berusaha sekuat tenaga menciptakan masa depanku sembari berdoa semoga Tuhan menguatkan genggamanku."
(Anonim)

 

ditulis oleh:
Elvany Suryadinata (51412009)


Agustinus Wibowo: "TURIS" SEBAGAI PILIHAN KARIR

Selimut Debu, Garis Batas, dan Titik Nol adalah sebuah karya yang hadir dari seorang Agustinus Wibowo, seorang travel-writer dan fotografer dari Indonesia yang telah menjelajah dari Afghanistan, Central Asia, dan China. Destinasi-destinasi yang tidak umum dikunjungi orang kebanyakan hanya untuk mewujudkan mimpinya keliling dunia dan berbagi cerita-cerita inspiratif ke semua orang. Semua hal yang ia alami selama perjalanan itu ia tulis dengan lengkap disertai beberapa foto didalam buku-buku yang telah ia tulis.

Laksana kepompong yang keluar dari perlindungannya usai tidur panjang, seperti itulah hidup Agustinus Wibowo sejak 10 tahun silam. Kutubuku canggung yang jarang keluar rumah dan takut panas, kini telah berkelana ke negara-negara yang  mungkin luput dari daftar tujuan traveler kebanyakan. Agustinus kecil bercita-cita menjadi seorang turis. Bukan polisi, dokter, atau profesi-profesi lain yang dianggap mulia dan menjadi tolak ukur kesuksesan. Ia rela melepaskan modal masa depan sebagai lulusan universitas terbaik di Beijing, Cina, demi mengunjungi negara-negara yang dulu hanya bisa ia intip dari koleksi perangkonya.

Semua berawal ketika Agustinus menjadi sukarelawan tsunami di Aceh pada Januari 2005. Di daerah yang luluh lantak akibat terjangan gelombang dahsyat tersebut, ia justru melihat semangat warga yang kuat untuk bangkit kembali. Agustinus yang saat itu baru lulus dari jurusan Komputer, bertekad banting setir menjadi seorang jurnalis. Tujuannya hanya satu, bisa mengunjungi tempat-tempat yang tak biasa dikunjungi, untuk menyebarkan cerita-cerita inspiratif.

Rencana perjalanannya jelas, bahwa ia akan melakukan perjalanan dari Beijing hingga ke Afrika Selatan dengan menggunakan jalur darat. Yang cukup mengejutkan dari perjalanan yang ia lakukan ini ialah tidak mendapat restu dari orang tua sehingga ia membiayai semua perjalanan ini dengan uang pribadinya. Perjalanan akbarnya dimulai dari Stasiun Kereta Api Beijing, Cina, pada bulan Juli 2005. Dari sana, ia menanjak ke Tibet, menyeberang ke Nepal, lalu menuju India, kemudian menembus Pakistan, Afghanistan, Iran, hingga akhirnya masuk ke negeri-negeri ‘Stan’ di Asia Tengah, yaitu Tajikistan, Kyrgyzstan, Kazakhstan, hingga sampai Uzbekistan dan Turkmenistan. Ada kepuasan tersendiri yang ia peroleh saat ia sukses “menaklukan” Tibet, menaklukan perasaaan takutnya sendiri. Ia merasa apabila bisa menaklukan sebuah tempat dengan budget seminim mungkin, itu adalah sebuah kebanggaan. 

Menurutnya, yang paling penting dari sebuah perjalanan adalah sejauh mana kita terhubung dengan tempat itu. Itu sebabnya ia tidak mengejar destinasi, apalagi menghitung jumlah negara yang ia kunjungi. Pria kelahiran Lumajang, Jawa Timur, ini pun berteori bahwa seseorang baru dapat dikatakan sudah melebur dengan masyarakat lokal jika bisa tertawa mendengar joke mereka. Dan hal yang menarik lain dari perjalanannya adalah demi berpindah dari satu tempat ke tempat lain, Agustinus menggunakan berbagai macam alat transportasi, mulai dari kereta api, bus, truk, hingga menumpang kuda dan keledai, dan diselingi dengan berjalan kaki.

Berkelana ke banyak negara selama bertahun-tahun membuatnya tidak cuma sekali dua kali mengalami kejadian-kejadian naas. Berbagai marabahaya pernah ia hadapi, mulai dari ditangkap polisi, dirampok, dipukul preman, ditahan agen rahasia, dan kelaparan. Belum lagi perasaan rindu pulang ke rumah. Seperti pada saat di Tibet, titik awal perjalanannya, dia masuk ke negeri atap dunia dengan cara menyelundup karena tak mengantongi izin masuk yang biayanya tentu saja dia tidak sanggup membayarnya. Satu bulan di Tibet dijalanni dengan penuh rasa takut akan diciduk polisi, dipenjara dan lain – lain. Tetapi meskipun sempat bertemu polisi berkali-kali dengan keberuntungan setinggi Tibet itu ia berhasil lolos dari semua polisi yang ada. Namun menurut dia kesulitan yang dirasa paling mengganggu adalah soal birokrasi. Berkaitan dengan masa visa yang habis dan belum mendapat kepastian visa untuk negara selanjutnya. Contohnya ketika ia menanti kepastian di India untuk mendapatkan visa perjalanan selanjutnya menuju Pakistan, ia berkali-kali ditolak oleh pihak imigrasi. Tapi ia tetap dengan gigih memperjuangkan kelanjutan perjalanannya itu. Dan akhirnya ia pun mendapatkan kesempatan untuk mengurus visanya tersebut meskipun harus menanti berminggu – minggu. Ia berada di India dengan berjuta masalah sosial lingkungan disekitar tempat ia menginap – menanti kepastian dan harapan untuk melanjutkan perjalanannya menuju Afrika Selatan yang masih sangat jauh.  Keadaan terkatung-katung tanpa kepastian ini yang paling ditakutkan oleh Agustinus. Dari hal ini Agustinus sadar bahwa pilihan hidup yang ia ambil bukan tanpa halangan atau resiko. Semua hal yang bisa dibilang hampir merenggut nyawa dan masa depannya telah ia alami tetapi ia yakin akan tujuannya untuk terus melanjutkan perjalanan keliling dunia sebagai jalan hidupnya. 

Kisah perjalanan dari negeri Tibet hingga Iran tersebut diterbitkan menjadi sebuah buku berjudul Titik Nol. Penerbitnya sama dengan yang menerbitkan dua buku terdahulunya, Selimut Debu dan Garis Batas. Dimana kedua buku sebelum Titik Nol tersebut adalah kelanjutan perjalanannya ke negeri “Stan”. Versi buku setebal 552 halaman ini berbeda dengan versi artikel berseri terdahulu. Agustinus menambahkan kisah personal antara ia dan sang ibu, yang saat itu tengah berjuang melawan penyakit. Baginya, ini adalah buku paling personal yang pernah ia buat. Di dalamnya terdapat momen saat ia kembali ke wajah-wajah familiar setelah belasan tahun meninggalkan rumah.

Agustinus saat ini menetap di Ibukota untuk sementara. Tapi bagi dia, ia takkan tinggal diam karena perjalanan bukan sekedar liburan untuk melarikan diri sejenak dari rutinitas, perjalanan sudah menjadi hidup itu sendiri. Seperti yang ia tuliskan dalam Titik Nol:, “‘Rumah’-ku sekarang adalah jalanan yang membentang. Aku adalah nomad, napasku adalah perpindahan.”. 

Hidup itu adalah pilihan menjadi manusia pada umumnya atau memilih jalan yang berbeda dimana orang lain menganggap bahwa hidupnya sangat penuh resiko seperti Agustinus Wibowo. Tapi setiap profesi akan selalu memiliki resiko dan akibat yang akan kita terima. Karena sukses bukan sekedar berbicara tentang materi atau uang tetapi juga pengalaman,meskipun pengalaman tersebut tidak semuanya pengalaman baik seperti yang kita harapkan. Dan dari banyak pengalaman yang Agustinus peroleh, bisa dibilang ia sukses dengan buku-buku yang telah ia hasilkan yang telah menginspirasi banyak orang.

Oleh karena itu pilihlah jalan hidupmu sendiri, tapi bersiaplah juga dengan semua resiko dan kesuksesan didalamnya, karena yang menjalani kamu.

 

Referensi
http://www.wego.co.id/berita/agustinus-wibowo-pengelana-negeri-tak-terjamah/

Ditulis oleh:
Gabriel Rizkiawan
26410114

JONAN MELAYANI PENUMPANG

Naik kereta api kini makin nyaman. Tidak ada penumpang berjejalan di KA jarak jauh. KA kelas ekonomi pun kini sejuk. Beli tiket bisa dari rumah via “online”. Itulah gebrakan Ignasius Jonan setelah menjadi Direktur Utama PT KAI sejak 2009. Kata Kuncinya hanya satu: melayani.

 

OLEH NAWA TUNGGAL / TRY HARIJONO / FRANS SARTONO

IGNASIUS JONAN

  • Lahir: 21 Juni 1963 di Singapura
  • Pendidikan:

-          2004-2005: MA dari Fletcher School of Law and Diplomacy, International Relations and Affairs

-          2000: Senior Managers di Government Program, Harvard Kennedy School of Government

-          1999: Senior Executive Program Columbia Business School, Columbia University

-          1982-1986: S-1 Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Airlangga.

  • Pekerjaan:

-          2009-kini: Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia

-          2006-2008: Managing Director and Head of Indonesia Investment Banking Citi

-          2001-2006: Direktur Utama PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (Persero)

-          1999-2001: Direktur Private Equity Citi

-          1986: Arthur Andersen

Ada yang berubah dalam layanan perkeretaapian pada lima tahun terakhir. Coba naik kereta api kelas ekonomi, katakanlah Kereta Api Serayu jurusan Jakarta Kota-Purwokerto lewat Bandung. Harga tiket Cuma Rp 35.000, kereta sudah dilengkapi penyejuk ruangan alias AC.

Tak ada lagi kata antre dalam pembelian tiket. Kita bisa beli tiket di warung waralaba yang banyak tersebar di wilayah pemukiman, seperti Indomaret atau Alfamart. Atau, kita bisa membeli secara daring (online), lalu membayar di ATM. Ignasius Jonan menerapkan Sistem Pertiketan Kereta Api (Rail Ticketing System) berbasis internet internet yang bisa dipesan dimana saja.

Jonan memastikan satu tiket satu tempat duduk untuk semua kelas kereta api. Ia mewajibkan penumpang membawa kartu identitas. Untuk kereta commuter line di Jakarta dan sekitarnya ia menerapkan tiket elektronik. Tidak ada lagi penumpang naik di atap-atap gebong. Ia memastikan stasiun menjadi tempat yang nyaman bagi calon penumpang.

Jonan melakukan inovasi teknologi untuk memodernisasi layanan yang memudahkan calon penumpang. Ke dalm, ia memperjuangkan setiap pegawai PT. Kereta Api Indonesia (KAI) memiliki kultur disiplin, kerja keras serta menjaga konsistensi layanan.

Deru kereta terdengar di atas kepala kami ketika Jonan menerima harian Kompas di ruang kepala stasiun, di Stasiun Gambir, Jakarta, April lalu.

 

Kultur pelayanan

Pegawai PT KAI mengatakan, Jonan sangat tegas, disiplin, dan tidak menoleransi kelalaian kerja. Terlebih pada kerja menyangkut keselamatan penumpang. Kelalaian, menurut Jonan, harus dihukum.

Apa kelalaian terbesar kita?

Kelalaian paling besar itu pada kultur pelayanan. Menurut saya, kita itu pada umumnya tidak memiliki kultur pelayanan yang konsisten. Kebanyakan orang itu bekerja lebih memikirkan dirinya sendiri daripada memikirkan output yang bisa diberikan sesuai dengan tugasnya. Ya, memang tidak ada orang yang tidak memikirkan dirinya sendiri, tetapi tugasnya itu, lho.

Kultur seperti itu lahir dari mana?

Dari kebiasaan.

Kebiasaan di perkeretaapian?

Apakah di luar kereta api tidak juga begitu? Ke depan, di samping saya membuat modernisasi terhadap pelayanan kereta api, saya juga menjaga konsistensi kultur pelayanan yang baik. Yang kedua ini jauh lebih berat. Kalau yang pertama ini gampang. Kalau punya plan, punya dukungan, punya uang, jadi. Wong mbangun stasiun itu bisa kapan saja. Memodernisasi, menambah kereta, itu bisa kapan saja. Bisa untung apa enggak, itu soal beda. Bisa baik atau enggak secara korporasi, itu beda. Itu perlu kesungguhan sendiri. Tapi, kultur pelayanan transportasi di kereta api itu, menurut saya harus dibikin dengan konsisten.

Butuh waktu panjang?

Teman senior saya di sini meminta saya sepuluh tahun di sini supaya kultur itu terjaga dengan baik (Jonan kembali diminta pemerintah untuk memimpin PT KAI periode 2014-2019)

Ketika membangun kultur melayani itu apakah ada resistensi dari pegawai Anda?

Mungkin bukan resistensi, tapi kaget. Kalau guyonannya anak-anak di kereta api, dulu itu penghasilannya kecil bisa santai, bisa liburan. Sekarang ini penghasilan besar, tapi enggak sempat mengonsumsi karena sibuk. Hidup itu ya begitu. Ya, tinggal milih. Lha kalau milih penghasilan besar, tapi santai, ya, bikin perusahaan saja sendiri.

Kultur kerja di KAI ini tampaknya dipengaruhi oleh kultur kerja Anda di pekerjaan sebelumnya.

Kultur yang saya bawa ke sini itu adalah setiap orang harus punya tanggung jawab dan passion untuk menghasilkan output yang terbaik sesuai yang ia bisa. Saya bilang ke teman-teman, okelah,  kamu perbaiki satu hal kecil dalam pekerjaan Anda, dalam satu hari satu saja. Itu dalam setahun, Anda akan menjadi orang yang berbeda, wong ada 365 hari dalam setahun. Memerbaiki 200 saja apapun bentuknya.

(Salah satu bentuk perbaikan diri adalah tidak ada lagi kultur gratisan naik kereta api, termasuk bagi karyawan PT KAI. Seperti pegawai PT KAI yang lain, Sugeng Priyono dari Huma PT KAI juga harus membayar dan ia bangga dengan kedisiplinan itu.)

“Kami itu naik kereta api bayar, lho. Memang, dari enak menjadi tidak enak, jika ada protes itu manusiawi. Tapi, kalau kita mau merenung dan berpikir, itu fair. Itu secara tidak langsung juga telah menertibkan masyarakat,” kata Sugeng Priyono.

 

Gaya kepemimpinan

Jonan memanggil pegawai KAI. Salah satunya Ade Kurnia Ayu (25), lulusan Jurusan Ilmu Politik Universitas Airlangga, Surabaya, yang bekerja sebagai koordinator layanan pelanggan (customer service) di Stasiun Gambir. Datang pula Ricka, kepala secretariat; serta seorang spesialis teknologi informasi dan anggota stafnya, Dessy, sarjana sastra Jerman dari Universitas Indonesia. Mereka adalah wajah-wajah muda di jajaran perkeretaapian. Ketika ditanya apa tugas dia di bagian tersebut, kata kuncinya sama, “pelayanan terbaik”.

Mereka semua mengenal Anda?

Coba saja tanya 3.000 masinis kenal saya enggak, pasti kenal walaupun saya pakai baju biasa. (Benar saja. Jonan berdiri di platform Stasiun Gambir. Ia menghadap lokomotif yang sedang melaju. Begitu melihat sosok Jonan, sang masinis membunyikan klakson, teeet…! Itu tanda salam persaudaraan sesame orang kereta api.)

Saya turun sendiri, ngajarin boarding, penertiban. Leadership itu yang penting ngasih contoh, kalau tidak, ya, tidak mungkin bisa. Tidak ada satu organisasi itu yang disebut leading terus diam. Organisasi itu harus dari waktu ke waktu memperbaiki diri karena semua orang itu berpacu.

Bagaimana Anda melihat SDM KAI?

Teman-teman saya di kereta api itu semangat juangnya tinggi. Ketahanan untuk menerima keadaan yang tidak terlalu positif itu tinggi. Ini modal besar. Tinggal pengerahannya harus sesuai dengan kebutuhan customer. Kerja di kereta api itu berat, lho.

Dukungan untuk mengembangkan perkeretapaian itu, kan, baru belakangan saja. Mereka ini daya juangnya tinggi. Lho kalau tidak tinggi, kan, sudah keluar.

Yang kedua, mereka itu tahan susah. Kondisi tidak favorable itu mereka tahan. Orang begini kita tinggal dorong supaya mereka punya kreasi karena daya tahan itu suatu modal yang besar. Akhirnya, begitu didorong maju dan penghasilannya sesuai dengan kondisi pasar, perbaikannya ada. Kasih leadership yang baik, nah, mereka jadi. Yang bisa mempertahankan mereka itu daya juang. Itu yang saya pakai. Ayo, kita maju sama-sama.

Gaya kepemimpinan Anda memberi warna dalam PT KAI.

Saya menyiapkan supaya struktur organisasi itu bisa self-sustain, tapi apapun itu omong kosong. Tidak mungkin. Setiap pemimpin itu pasti warnanya besar terhadap organisasi yang dipimpin walaupun perangkatnya sudah fixed.

Di kereta api, saya hamper tidak pernah memberhentikan orang karena orang itu tidak mampu bekerja dengan baik. Paling saya pindahkan ke pekerjaan yang lebih cocok.

Mengapa?

Karena orang tidak mampu itu bukan karena kehendak sendiri tapi sudah dari lahir begitu . Tapi, kalau orang itu malas atau berbuat curang, nah itu beda. Makanya, saya kalau cari anggota direksi, saya cari orang yang kompetensinya tidak saya punya sehingga saling melengkapi. Jadi, akan lebih sempurna. Kalau saya cari orang yang sama dengan saya, ya, buat apa.

Gaya manajemen saya terhadap direksi itu seperti libero, playmaker. Saya mengoper bola, yang kosong saya isi. Orang jadi libero itu tidak boleh punya ego karena yang mengegolkan pasti bukan dia. Dia, kan, cuma playmaker, tapi biasanya dia itu kapten.

Harapan

Apa mimpi tentang perkeretaapian masa depan?

Kami akan tumbuh bersama kebutuhan masyarakat. Itu yang paling penting. KAI akan berkembang sesuai dengan kebutuhan masyarakat akan transportasi perkeretaapian. Tahun lalu ada 221 juta penumpang. Saya berharap pemerintah menghidupkan jalur mati. Kalau dulu di jaman Belanda ada 8.000 kilometer, sekarang yang jalan baru lebih kurang 5.000 kilometer.

Ketika pertama kali masuk ke KAI itu seperti apa? Dari nol atau ada pengalaman?

KAI itu perusahaan teknik atau jasa?

Jasa?

Ya, saya berangkat dari situ. Yang penting dalam perusahaan itu adanya pelayanan yang lebih baik. Pemahaman teknis sangat membantu. Waktu saya masuk, saya tidak paham teknik sama sekali, tapi pelayanan kereta api jauh lebih baik dalam lima tahun terakhir ini.

Pemahanan teknik itu membantu, tapi itu bukan main (utama). Kalau Anda jadi pemimpin, yang penting soul-nya, yang penting itu customer­-nya, bukan proses produksinya. Proses produksi itu kewajiban. Kalau anda tidak memahami kemauan customer, lha proses produksinya itu mau sepinter apa pun, maka Anda hanya akan memahami seperti tukang. Soul-nya enggak ada.

Saya bilang kepada teman-teman, kita ini customer oriented. Kita lihat customer maunya apa, kita layani asal harganya cocok. Kalau dulu enggak. Dulu adanya begini, kalau enggak mau, ya, enggak. Sampean mau begini, kalau enggak mau, ya, tidak. Lho, yang seperti ini enggak bisa. Kalau kerja kayak gitum, itu bukan kerja sebagai profesi.

Bagaimana Anda membangun passion itu pada teman yang sudah lama kerja dalam kultur lama?

Semua profesi itu passion harus ada. Passion yang paling utama itu adalah output yang membuat pelanggan tersenyum. Itu yang penting. Mbok sampean itu profesor doctor, pinter, tapi kalau customer Anda tidak happy, ya, selesai sudah.

Anda dulu sudah mapan, mengapa mau pindah ke kereta api?

Kenapa harus tidak mau? Ini, kan, manfaatnya banyak buat masyarakat kalau ada perbaikan layanan. Bekerja untuk perbaikan orang lain itu adalah ibadah yang amat mulia. Itu alasan saya. Boleh, kan?

Sebelumnya Anda, kan, juga bekerja untuk orang banyak?

Oh, itu lain. Itu saya lebih banyak kerja untuk diri sendiri.

Cari duit, ya?

Lho, lha iya. Di sini (KAI), saya juga dapat gaji yang layak, tapi saya yakin manfaatnya lebih banyak.

Ada dorongan nasionalisme begitu?

Saya khawatir kalau dikaitkan dengan nasionalisme, kok, itu hanya akan jadi slogan. Lebih baik saya kerjakan apa yang saya bisa saya kerjakan dengan baik dan ada manfaatnya serta ada buktinya. Orang bilang demi nasionalisme, tapi gak kerjo opo-opo, yak opo (Tapi tidak bekerja sedikitpun, bagaimana itu)?

 

Diambil dari Harian Kompas, Minggu, 18 Mei 2014 bag. Persona hal. 12

Cara Berbisnis dengan Modal Minim

Mengurungkan niat berbisnis karena modal minim, tidak berlaku di era globalisasi seperti sekarang ini. Menurut Hermas Puspito dari Ednovate Marketing, untuk memulai bisnis tidak melulu harus memiliki modal dalam bentuk uang. Setidaknya, bisa dimulai dengan memiliki keyakinan yang kuat akan bisnisnya.

Untuk anda yang ingin memulai berbisnis, ada tiga cara yang bisa dilakukan untuk menjadi modal pengganti uang. anda bisa meraih sukses jika menjalankannya dengan tekun.

Reseller

Peran anda di sini adalah sebagai penjual produk orang lain. Biasanya para pemilik produk akan menawarkan sistem ini setelah anda mendapat kepercayaan dari pemilik produk bahwa anda tepat menjadi reseller.

Dropship

Pada prinsipnya dropship hampir sama dengan reseller. Perbedaannya adalah anda cukup membantu mempromosikan produk hingga barang tersebut terjual  tanpa perlu memegang atau memiliki produknya. anda cukup melakukan transaksi, untuk proses pengemasan dan distribusi barang menjadi tanggungjawab pemilik produk. anda akan mendapatkan fee marketing sesuai kesepakatan dengan pemilik produk. 

Bisnis Jasa

Pernahkah anda memikirkan apakah modal yang diperlukan oleh seorang fotografer sukses? Tentusaja keahliannya dalam dunia fotografi. Dari sini anda perlu menyadari bahwa anda bisa menggunakan keahlian anda sebagai modal untuk memulai bisnis. Perancang baju, penulis, fotografer adalah beberapa contoh bisnis jasa yang selalu dibutuhkan. (Wiko Rahardjo)

Sumber Dana untuk Modal Usaha

Sumber dana ada di sekeliling kita, jadi jangan takut kekurangan dana untuk modal usaha.

Ketika jenis usaha yang ingin dijalankan sudah anda tentukan, perhitungan tentang rugi laba sudah matang, dan analisa pasar sudah siap, anda juga sudah menghitung berapa investasi yang diperlukan, maka anda hanya perlu memikirkan bagaimana cara mendapatkan dana untuk modal usaha.

Jika anda memerlukan modal berupa uang, anda bisa mendapatkannya dari berbagai sumber. Di sini ada beberapa sumber yang mungkin bisa anda pelajari.

Tabungan atau investasi pribadi

Sumber dana berupa uang, cara memperolehnya mungkin terlihat mudah. Namun kenyataannya tidak semudah dikatakan. Kadang di saat anda tidak memiliki dana, keinginan dan semangat untuk berbisnis datang.

Pinjaman

Bank, pegadaian, atau fasilitas program pembiayaan yang diberikan oleh pihak Badan Usaha Milik Negara (BUMN), seperti program kemitraan dan bina lingkungan. Kementerian Pertanian, misalnya, memiliki program pembiayaan untuk usaha skala kecil menengah. anda juga bisa melirik program pemerintah, seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri, yang sering memberikan bantuan pinjaman berupa uang. 

Kemitraan. Atau sering disebut juga dengan angel investor. Untuk menjalankan ide-ide yang anda, anda perlu mencari mitra pemilik modal. Mitra ini bisa dari teman atau keluarga anda, bahkan orang asing sekalipun. Asalkan, anda memiliki business plan yang menarik dan memiliki prospek yang besar. (Wiko Rahardjo)

10 Tips Sukses dalam Memulai Usaha Kecil

Apakah anda tergiur dengan kekayaan yang luar biasa seperti Bill Gates atau Mark Zuckerberg? Perlu anda ketahui bahwa semuanya dimulai dari usaha kecil, bahkan Bill Gates atau Mark  Zuckerberg pun memulainya dari 0 tanpa menduga bahwa mereka akan meraih kesuksesan seperti sekarang.  

Seorang pemula yang bisa memiliki bisnis sukses yang bernilai miliaran bahkan triliunan, dalam dunia bisnis bisa disamakan dengan pemenang lotere. Dengan harapan mendapatkan jackpot, anda meletakkan semua uang anda, atau bisa saja anda justru bakalan terpuruk karena kehilangan semua uang anda.

Untuk memulai usaha kecil, ada 10 aturan untuk memulainya dan anda akan menyadari kenyataan yang ada, ketimbang gila-gilaan mengejar impian terdahsyat anda dalam berbisnis.

Lebih realistis

Cobalah untuk melihat ke sekeliling kemudian cari dan pelajari contoh sukses dari model bisnis yang anda kehendaki sebelum membuat model bisnis,

Jangan menginvestasikan uang sendiri

Carilah partner ketika memulai berbisnis karena kebanyakan bisnis adalah perjalanan yang berisiko. Hal ini untuk mengantisipasi apabila ada yang tidak berjalan sesuai dengan perencanaan awal, maka anda tidak bakal bangkrut karena dana start-up tadi, dan tidak dikejar utang.

Pekerjakan diri sendiri

Lupakan impian anda menjadi seorang wirausaha jika anda tidak bersedia bekerja keras, lembur, melupakan keuntungan pribadi dan kesehatan. Awalnya, anda tidak akan mampu menggaji karyawan sekalipun dengan harga yang murah sekalipun, jadi mau tidak mau anda sendirilah yang akan menjadi karyawan.

Hargai waktu

Kita sering mendengar ungkapan time is money. Kita perlu menerapkan ungkapan tersebut. Beri nilai uang pada waktu anda, ini akan membantu saat anda harus mengambil keputusan. Misalnya anda menghargai waktu anda Rp 10.000,00 per jam, dalam simulasi proses mengirimkan suatu barang, sebuah perusahaan mengenakan biaya Rp5.000,00 untuk pengiriman tersebut, sedangkan anda membutuhkan waktu 4 jam untuk pergi ke toko tersebut sendiri, maka sebaiknya anda anda menggunakan jasa perusahaan tersebut, karena lebih murah. Tips ini mungkin bertentangan dengan tips ke-3, tapi bahkan budak sekalipun juga memiliki nilai ekonomi.

Rekrut karyawan dengan baik

Lakukan proses rekrutmen dengan hati-hati, tanpa tergesa-gesa, dan perlakukan hal tersebut sepenting saat anda memulai usaha karena pada akhirnya anda akan merekrut karyawan dari luar. Jangan sampai anda merekrut karyawan yang justru menghalangi anda meraih visi usaha yang telah anda miliki sebelumnya.

Jual kelebihannya, bukan harganya

Saat awal memulai usaha hal yang paling membuat anda frustasi adalah bagaimana cara memasarkannya. Namun, jika anda berfokus pada harga, akhirnya anda hanya akan menjual dengan harga pas-pasan, atau bahkan menjual rugi. Yang perlu anda lakukan adalah keahlian berkomunikasi dengan pelanggan untuk menjelaskan bahwa harga produk anda lebih tinggi karena memiliki nilai yang lebih baik.


Ketahui angka dasar

Sebelum memulai usaha, anda perlu mengetahui berapa banyak uang yang anda butuhkan untuk menjalani usaha, mulai dari sewa toko, listrik, asuransi karyawan, sampai harga tinta printer, kertas, dan pajak. Setelah menemukan jumlahnya kita perlu membagi angka tersebut dengan jumlah hari dalam setahun anda akan buka. Hasilnya adalah angka dasar atau jumlah minimum pendapatan yang harus anda peroleh setiap harinya.

Gunakan teknologi terbaru

Teknologi mutakhir seperti aplikasi dan penyimpaanan data dengan cloud technology sangat murah dan membuat perusahaan kecil dapat bersaing dengan perusahaan besar. Manfaatkan teknologi maju dan murah yang ada di pasaran.

Perlakukan vendor dengan baik

Anda perlu memperlakukan vendor dan suplier anda sebaik mungkin, selayaknya anda memperlakukan para pelanggan. Demi menjaga hubungan baik, dan harapan akan adanya peningkatan volume di masa mendatang, mereka bisa saja memberikan diskon berdasarkan besarnya volume pemesanan anda. Selain itu dengan hubungan yang baik, bisa membuat mereka juga dapat mentolerir keterlambatan pembayaran, bahkan pengiriman gratis.

Be the best!

Jangan setengah-setengah. Lakukan yang terbaik untuk setiap hal yang anda buat, anda jual, dan anda lakukan untuk Klien. Hal tersebut harus dilakukan terus-menerus, dengan demikian akan memunculkan Word of Mouth yang positif yang akan menyebar ke masyarakat luas. (Sumber: The Washington Post/Slate Magazine)

Belajar Falsafah Hidup dari Dua Sisi, Pitoyo Amrih

Seorang penulis dan praktisi bisnis di Internet yang juga telah menerbitkan 8 novel dunia wayang, Pitoyo Amrih. Lahir di Semarang tanggal 13 mei 1970 dan dibesarkan oleh keluarga Jawa.  Ia menyelesaikan pendidikan sarjana Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung pada tahun 1993.

Hampir setiap bulan ia menyaksikan pagelaran wayang kulit rutin di kota Semarang.  Dari sanalah ia belajar mengenai kisah-kisah dan model karakter tokoh pewangan, seperti wisanggeni, Antasena, dan juga Sadewa yang mengilhami cara dia berpikir dan bertindak.  Dari kegemarannya membaca buku, dimulai pada tahun 1997 ia mulai untuk menuangkan ide, pikiran  dan gagasan dalam artikel yang juga dimuat di harian lokal kota Solo, mengisi kolom dua mingguan di website www.pembelajar.com milik Andrias Harefa dan www.andriewongso.com milik Andrie.  Artikel yang telah ditulisnya lebih banyak bertema mengenai pemberdayaan diri terutama dalam lingkup diri dan keluarga.

Tahun 2006, Pitoyo mulai mencoba menulis buku dan mengangkat kembali falsafah serta nilai kearifan budaya Jawa yang terkandung dalam kisah-kisah Dunia Wayang.  Ia mendapati bahwa ilmu pengembangan diri modern seharusnya menjadi pelengkap bagi nilai-nilai kearifan local. Sedang nilai budaya kearifan local itu sendiri yang kemudian seharusnya menjadi hal utama dalam pengembangan diri. Nilai kearifan local itu saat ini seperti hal asing di negeri sendiri.

Pitoyo kembali menggali ingatannya akan falsafah Jawa yang diperolehnya dari kisah wayang di masa kecil dulu, ketika mendapati bahwa ilmu pengembangan diri modern, seharusnya hanya menjadi pelengkap bagi nilai-nilai kearifan lokal.

Pitoyo terobsesi untuk menulis sequel kisah dunia wayang versi Yogyakarta-Surakarta dalam bentuk novel secara lengkap.  Tidak hanya mengambil cerita mengenai karakter dunia wayang namun di dalam novelnya ia juga memberikan inspirasi bagi kehidupan manusia.  Berikut novel yang diterbitkan oleh Pitoyo Amrih :

1.      Antareja-Antasena, Jalan Kematian Para Ksatria (Pinus, 2007)

2.      Narasoma, Ksatria Pembela Kurawa (Pinus, 2008)

3.     The Darkness of Gatotkaca (DivaPress, 2009)

4.     Pertempuran 2 Pemanah Arjuna-Karna (DivaPress, 2009)

5.     Perjalanan Sunyi Bisma Dewabrata (DivaPress, 2010)

6.     Resi Durna, Sang Guru Sejati (DivaPress, 2010)

7.     Memburu Kurawa (DivaPress, 2011)

8.     Pandawa Tu7uh (DivaPress, 2012)

Pitoyo mengangkat cerita pada zaman para dewa, masa Harjunasasra, kejayaan Sri Rama, kisah Mahabarata, hingga perang besar Baratayudha, kejayaan dan keruntuhan Parikesit. Melalui novelnya ini Ia berharap agar kisah-kisah tersebut tetap lestari dan nilai falsafah Jawa dapat tersampaikan ke generasi selanjutnya.

 

Bagi Pitoyo, kisah inspiratif tidak harus dari perjalanan tokoh protagonist dengan watak baiknya yang memang dapat menjadi teladan hidup, namun juga pada tokoh antagonis.  Dari kekeliruan jalan hidup tokoh antogonis, masyarakat dapat belajar memetik hikmah pelajaran dan inspirasi agar tidak melakukan kesalahan yang sama.

Sebuah ‘Panggilan’ untuk Seorang Pengusaha , Julianto Eka Putra

Julianto Eka Putra lahir di Surabaya pada 8 Juli 1972. Beliau adalah seorang eksekutif yang tidak terlihat seperti eksekutif dan seorang salesman berbakat yang memiliki energy besar untuk menembus batas dan menghilangkan skeptisisme.

Sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar di SD Aloysius Surabaya, beliau sudah memulai usaha dagang berjualan kelereng untuk menambah uang sakunya. Ketika masuk SMP Katolik Angelus Custos, Julianto dan pacarnya, Yenny Tantomo bersama menjalankan usaha sederhana. Julianto berjualan pita rajutan sang pacar, yang tak disangka-sangka sangat disukai oleh teman-temannya.

Saat ia menjabat sebagai ketua Pecinta Alam SMPK Angelus Custos, beliau berhasil mengumpulkan 450 anggota pecinta alam. Dari situ, jiwa bisnis Julianto semakin berkobar. Beliau mendapat dukungan dari guru-gurunya karena mereka juga mendapatkan upah yang sama besarnya dengan gaji mereka sebulan. Saat SMA dan kuliah beliau berusaha mengubah dan menghilangkan rasa malasnya.

"Dulu, sewaktu masih di sekolah, saya layaknya seekor itik buruk rupa," katanya. "Saya merasa sulit mendapatkan perhatian dari teman-teman perempuan. Saya berkulit gelap di sekitar leher saya saya dianggap kotor oleh teman-teman. Saya pun kerap terjerumus ke dunia perkelahian. Saat itu, saya menyadari bahwa saya menuju ke arah yang salah. Seiring dengan penemuan diri, saya menetapkan tujuan diri dan melakukan yang lebih baik dari yang lain. Sejak itu, saya menemukan kepercayaan diri saya. "

Usaha keras Julianto menghasilkan IP cumlaude di Fakultas Ekonomi Untag dalam waktu 3.5 tahun.  

Berbagai kendala dialami oleh Julianto selepas kuliah. Beliau menjalankan MLM (Multilevel Marketing) High Dessert bersamaan dengan bekerja menjadi sales vacuum cleaner, agen asuransi, hingga menjual kripik kentang. Secara perlahan usahanyapun semakin berkembang.

Tahun 1996, kantor cabang MLM-HD di Surabaya akan ditutup, saat itulah beliau bersama keempat rekannya, Ino, Tony, Chandra, dan Alex, berusaha mempertahankan dan mengembangkan MLM-HD sebagai Stokist. Tekad tersebut berbuah hasil yang sangat baik. Saat ini Julianto memiliki jaringan bisnis yang tersebar di kota-kota besar Indonesia melalui bendera MIC (Menuju Insan Cemerlang). Selain itu beliau juga menjadi pembicara dan trainer tingkat nasional pada training pengembangan diri.

Pada pencapaian karirnya yang cemerlang ini, muncul suatu pemikiran yang kemudian menjadi perenungannya.

"Suatu saat ketika saya berdoa,  tiba-tiba saya menyadari  bahwa Tuhan telah memberi saya hampir semua yang saya minta, namun saya belum membalasnya. Saya merasa sangat berdosa, " katanya.

"Karenanya, saat memberi sesi motivasi di hadapan sekitar 2000 orang di Surabaya, saya mengumumkan bahwa dalam waktu 10 tahun saya akan mendirikan sebuah sekolah gratis. Saya tidak tahu mengapa saya mengatakan hal itu. Padahal, kata-kata itu tidak ada dalam teks pidato saya. Waktu itu, istri dan staf-staf saya marah dan mengatakan bahwa saya harus menjaga kata-kata saya. "

Keinginan untuk mendirikan sebuah sekolah gratis itupun menjadi panggilannya. Beliau mengumpulkan Rp 10 miliar untuk membangun asrama dan sekolah. Juianto  mendirikan perusahaan yang berbasis pada pelatihan swadaya bagi anak-anak yang kurang beruntung, yaitu dari keluarga miskin dan yatim piatu.

Dengan persiapan yang matang, berdirilah Kampoeng Kids, tempat dimana siswa setaraf SMA yang kurang beruntung, mendapat kesempatan untuk bersekolah dan mempraktikkan ilmunya melalui berbagai kegiatan produktif.  Julianto menyadari bahwa tetap ada beberapa siswa yang memang tidak akan pernah menjadi pengusaha. Namun tujuan dari sekolah ini adalah agar melatih siswanya untuk merefleksikan kehidupan mereka dan menyadari potensi mereka.

Beliau pun meminta para siswa untuk bersosialisasi dan berdiskusi dengan para pelaku bisnis agar mereka dapat belajar dari ahlinya. Hal ini bukanlah eksploitasin, melainkan membantu memberikan para siswa rasa percaya diri, bahwa mereka dapat melakukan apapun serta dapat menjadi berkat bagi banyak orang.

Yoris Sebastian, “Scream without raising your voice, scream with innovation!”

Lahir di Ujung Pandang 41 tahun yang lalu, Yoris Sebastian adalah seorang pengusaha Indonesia yang bergerak dalam bidang industry kreatif.

Pada usia 19, selepas kuliah di SMA Pangudi Luhur, ia magang di Majalah Hai. Di sanalah Yoris mulai berkecimpung dalam dunia kreatif. Kemudian ia meneruskan kariernya di Hard Rock Café Jakarta sebagai General Manager pada usia 26 tahun, Ia dinobatkan sebagai GM Hard Rock Café termuda di Asia dan termuda kedua di dunia.

 

Yoris memperkenalkan program I like Monday di Hard Rock Café Jakarta pada 2003. Ketika semua tempat hiburan menitikberatkan pengadaan acara pada hari libur dan akhir minggu, Yoris mengadakan acara musik di hari Senin yang merupakan hari paling sepi kunjungan. 

Yoris juga membuat program bertajuk Destination Nowhere , juga pada 2003. Sebuah acara jalan-jalan yang jadwalnya tidak disampaikan pada pesertanya. Suatu kali didalam pesawat saat berada diudara, acara ini membawa Band Cokelat yang juga melakukan peluncuran album di atas ketinggian 30.000 kaki. Hal ini kemudian diabadikan oleh MURI (Museum Rekor Indonesia).

 

Yoris sekarang memimpin OMG (Oh My Goodness) Creative consulting yang berdiri pada 1 April 2007. OMG telah menjadi konsultan pengembangan bisnis konsep ruang rapat fPod di fX Jalan Sudirman, Jakarta; kreatif konseptor Rasuna Epicentrum yang mengusung konsep The Creative Capital of Jakarta; event consultant Black Innovation Award 2009 dan International Young Creative Entrepreneur Award British Council Indonesia; pemasaran dengan konsep word of mouth untuk XL dan kosmetik Caring Colours; konsultan pemasaran kreatif film remaja Queen Bee (2009) dan Ketika Cinta Bertasbih (2009); sampai konsep bisnis inovatif untuk Avia Tour.

 

 

Yoris telah menunjukkan bahwa ide adalah hal yang perlu apresiasi. Menurutnya, ide kreatif tidak datang begitu saja. Akan tetapi harus dilatih dan dikembangkan. Creatif is a habit not genetic. Begitu Yoris mendefinisikan kreatifitas. 

 

Berpikir out of the box, Yoris  mengajak kita untuk berpikir diluar mainstream. Ketika ide itu berbeda, maka itulah berpikir out of the box. Berpikir seperti ini bukan berarti harus benar-benar berbeda dan baru. Ide-ide yang sudah ada bisa dikembangkan dan dimodifikasi.  Akan tetapi, dalam ekseskusi ide, Yoris menegaskan bahwa penting untuk berpikir inside the box.  Menurutnya, eksekusi model ini memberikan gambaran akan batasan-batasan yang harus dimengerti. Artinya, suatu ide yang akan dieksekusi jangan sampai keluar dari karakteristik dasarnya

 

Ide bisa berasal dari mana saja, bisa dari internet, majalah, koran, tv, radio atau apapun. Baginya, kunci memunculkan sebuah ide kretaif yang inovatif adalah membiasakan diri berpikir kreatif, Ia selalu berpijak pada sebuah visi: Passion for knowledge, passion for innovation, and passion for achievement.

HOBBY YANG JADI BISNIS? MENGAPA TIDAK? Berawal dari Hobi, Ryan Kini "Raja" Cajon Beromzet Belasan Juta
  • Penulis : Sakina Rakhma Diah Setiawan
  • Sumber: Kompas.com Selasa, 23 Juli 2013 | Rubrik Ekonomi

Memulai bisnis kadang didasari oleh hal sederhana, hobi misalnya. Hobi bermusik dapat menjadi inspirasi untuk memulai usaha. Koning Percussion adalah salah satu contoh wirausaha yang didirikan atas dasar hobi. Ryan Ade Pratama telah lama menjadi bagian dunia musik, khususnya drum.

Tahun 2008, cajon, yang merupakan alat musik instrumen perkusi, mulai populer di Indonesia. Namun, harga cajon selangit. Barangnya pun sulit diperoleh. "Kalaupun ada ya impor. Teman-teman saya di kursus dan komunitas (drumer) mengeluh tingginya harga cajon. Rata-rata harganya Rp 2 juta sampai Rp 5 juta atau Rp 6 jutaan. Dari situ, saya mulai coba belajar kreatif untuk membuat cajon sendiri," kata pria yang akrab dipanggil Ryan ini, di kediaman sekaligus kantornya di kawasan Kalibata, Jakarta, akhir pekan lalu. 

Nama Koning dipilih Ryan karena latar belakang pendidikannya kuliah di program studi Belanda. Koning dalam bahasa Belanda berarti "raja". Tahun 2010, Ryan yang waktu itu masih mahasiswa memulai usahanya dengan modal dari uang sakunya sendiri.

"Waktu itu bikin karena harus beli bahan dengan jumlah banyak. Tripleks kan harus dibeli selembar besar itu. Jadi, saya sekali bikin bisa 4, 2 untuk saya dan teman, sisanya dijual. Dijualnya pun ke komunitas sendiri. Ternyata responsnya bagus, jadi ya diteruskan sampai sekarang," ungkap Ryan.

Koning Percussion disebut Ryan tak hanya perajin. Ia mengarahkan usahanya ini untuk industri. Karenanya, ia tak main-main dalam hal produksi. Ia pun tak gentar dengan bermunculan usaha serupa.  Menurutnya, usaha cajon yang benar-benar serius dikembangkan bisa dihitung jari. 

Ryan mengaku selain melakukan riset, ia pun terus berinovasi dalam mengembangkan usaha. Saat ini, ia sudah memproduksi 11 tipe cajon. "Itu semua untuk memenuhi segala genre musik. Kita bikin (cajon) untuk semua aliran musik," katanya.

Selain cajon, Ryan juga memproduksi gig bag atau softcase dengan merk Carney. Softcase produksinya ini juga diperuntukkan untuk segala alat musik. 

Awalnya, ia mengaku agak kesulitan untuk memasarkan produknya secara luas karena alat musik ini waktu itu masih "barang baru" yang belum banyak dikenal orang. "Saat pertama kali produksi, banyak orang yang tanya 'Mas, bikin salon (speaker) ya Mas?' Karena terdapat lubang pada cajon jadi dikira speaker. Drumer-drumer juga enggak banyak yang tahu cajon itu alat musik ritmik.  Kendala kedua, pemasaran. Awalnya promosi cuma dari mulut ke mulut, tetapi kemudian pakai media online, jadi lumayan terbantu," ujar dia.

Sarjana lulusan Universitas Indonesia ini pun memanfaatkan media sosial dengan promosi di Twitter, Facebook, dan pasang iklan berbayar di internet untuk memperluas pemasaran produknya. Selain itu, ia juga promosi ke stasiun radio, mengikuti bazar, mensponsori acara musik, dan meng-endorse beberapa musisi, seperti Deni "Hijau Daun" dan Andi "Seventeen". 

Ia juga membuka diri bagi reseller yang ingin bekerja sama. Saat ini, ada sekitar 15 titik penjualan yang tersebar di Jabodetabek, Bandung, dan Surabaya. Tahun ini ia akan memperluas jaringan produksinya di Jawa dan Bali. 

Sebagai pelayanan, Ryan juga memberikan potongan ongkos kirim dan delivery jika area kirim masih terjangkau. Ia pun melayani cash on delivery (COD). 

Ryan, yang kini mempunyai empat karyawan, dalam sebulan dapat memproduksi 50 sampai 60 unit cajon dengan harga Rp 600.000 hingga Rp 1,2 juta. Dalam sebulan, ia bisa menjual antara 30 hingga 35 unit cajon sehingga ia pun bisa meraup omzet mencapai Rp 18 juta sebulan. 

Anak muda ini pun berbagi tips untuk yang ingin berwirausaha. Menurutnya, yang paling penting adalah jangan takut untuk memulai.  

"Memulai usaha itu susah-susah gampang. Susah kalau kita kebanyakan mikir, gampang kalau kita enggak pakai mikir dan langsung mulai. Sekarang banyak pengusaha muda, tapi mau enaknya saja, mau langsung sukses. Yang terpenting adalah mulai dulu, apa pun usahanya berapa pun modalnya. Kedua, tahan mental. Kalau rugi, jangan stuck, karena sebenarnya kita mendapat modal baru. Bukan uang, tapi pengetahuan dan pengalaman," tandasnya.

Pierre Coffin, Sutradara Hollywood Keturunan Indonesia

Sumber: life.viva.co.id l RABU, 3 JULI 2013 tulisan Maya Sofia; tempo.co l JuM'AT, 05 JuLI 2013; Karo Cyber Community. 

Nama sutradara Hollywood Pierre Coffin hangat dibicarakan akhir-akhir ini. Selain karena film garapannya berjudul Despicable Me 2, latar belakang Pierre mampu menyita perhatian publik Tanah Air.

Pria bernama lengkap Pierre-Louis Padang Coffin itu ternyata masih memiliki darah Indonesia. Lahir di Perancis pada 1 November 1967, Ayahnya adalah seorang diplomat Perancis, Yves Coffin, sementara ibunya Nh. Dini, yaitu seorang novelis dan feminis Indonesia yang bernama asli Nurhayati Srihardini Siti Nukatin. Seperti diketahui novel-novel torehan sang ibunda dianggap sebagai pendahulu bagi karya sejumlah penulis perempuan.

Semasa kecilnya, Pierre Coffin telah tinggal dibanyak negara untuk mengikuti ayahnya berpindah tugas, mulai dari negara seperti Jepang, Perancis, Amerika Serikat dan lain-lain.

Pada tahun 1984, kedua orang tua Pierre memutuskan untuk bercerai.  Saat itu, sang ibu pun memutuskan kembali ke Indonesia, sementara Coffin ikut ayahnya menetap di Prancis.

Setelah menjalani pelatihan di Gobelin, Paris, Pierre mengawali kariernya di studio khusus animasi Amblimation. Ia lalu mendapat kesempatan untuk bekerja dalam film yang diproduseri Steven Spielberg, "We're Back! A Dinosaur's Story" di 1993. Kariernya pun beranjak dari seorang animator, animation supervisor, hingga akhirnya menjadi sutradara.

Proyek pertamanya yang mampu memukau percinta film adalah Despicable Me. Film animasi yang dirilis pada tahun 2010 itu menuai ulasan positif dari para kritikus film dan meraih pendapatan sebesar US$543 juta di seluruh dunia. Dalam menggarap film ini, Pierre tidak sendiri. Ia berkolaborasi dengan sutradara asal Amerika, Chris Renaud.

Sukses dengan Despicable Me yang diliris pada 2010 , film produksi Illumination Picture dengan Universal Studio yang disutradarai oleh Pierre Coffin ini juga telah merilis sekuel keduanya pada tanggal 3 Juli 2013. Dibandingkan dengan film sebelumnya, Despicable Me 2 menunjukkan beberapa adegan dan aksi yang lebih menonjol dari para pemainnya

Beberapa film animasi yang pernah melibatkan Pierre Coffin, diantaranya adalah We're Back! A Dinosaur's Story (1993), Despicable Me (2010),  Despicable Me 2, Minions (2014), dan Flanimals. Pierre juga diketahui pernah membesut film pendek berjudul Brad & Gary serta Gary's Day.

Keberadaan Pierre Coffin sebagai sutradara film animasi terkenal Hollywood yang masih berdarah asli Indonesia, tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi warga Indonesia. 

 

CINTAPUN BISA BERKEMBANG MENJADI BISNIS Niluh Djelantik: Sepatu Lokal yang Dipakai Selebritas Dunia

SUMBER: http://indonesiaproud.wordpress.comI NOVEMBER 19, 2012

Bagi para wanita penggemar sepatu, nama Niluh Djelantik berarti sebuah kenyamanan. Sebuah merek sepatu produk dalam negeri yang telah berkiprah di industri mode dunia.

Cinta Ni Luh Putu Ary Pertami Djelantik terhadap sepatu, terutama hak tinggi alias high heels membuat karyanya mendapat tempat istimewa.

Semua berawal dari cinta. Sejak kecil, Niluh memang menaruh perhatian lebih pada alas kaki karena Niluh kecil tak penah mendapat sepatu yang pas. Sebagai orangtua tunggal, ibu Niluh berjuang agar bisa menyekolahkan putrinya di tempat terbaik.

“Mama lebih fokus pada pendidikan, jadi [sepatu] harus diganjel sama kain karena dua atau tiga ukuran lebih besar,” kenang Niluh.

Kadang, sepatu Niluh keburu rusak atau berlubang saat ukuran mulai pas di kaki. Kesederhanaan itulah yang membuat Niluh berangan-angan untuk memiliki sepatu yang pas di kaki.

“Ma, nanti kalau aku sudah gede, sudah bisa kerja sendiri, aku beli sepatu yang pas deh,” ungkap Niluh kepada sang ibu.

 

Setamat SMA,  Niluh meneruskan pendidikan di Jakarta sesuai dengan keinginan ibunya. Ia kuliah di manajemen keuangan Universitas Gunadarma mulai 1994.

Setahun di Jakarta, Niluh belajar mencari kerja agar bisa mandiri. Pekerjaan pertamanya adalah operator telepon di sebuah perusahaan tekstil asal Swiss.

Mulai berpenghasilan, Niluh teringat hasratnya memiliki sepatu yang pas di kaki. Gaji pertama didapat, ia langsung membeli sepatu di kawasan Blok M, Jakarta.

Sepatu bertumit tinggi menjadi pilihan karena Niluh bekerja kantoran. Harganya Rp 15.000 disesuaikan dengan kantong Niluh saat itu. “Sepatu pertama saya yang pas di kaki, gak nyaman dipakai,” ungkapnya.

Seiring membaiknya kondisi keuangan, Niluh mampu mendapatkan sepatu impian yang nyaman di kaki dan pas di hati.

Kemesraan Niluh di Jakarta buyar pada akhir 2001. Garangnya kriminalitas Ibu Kota menyergap perempuan kelahiran 15 Juni 1975 ini pada suatu senja di Bilangan Senen. “Nggak diapa-apain sih, cuma rasa takut itu sangat ada,” ujar Niluh.

Rasa takut yang membuat Niluh meninggalkan karier di Jakarta. Apalagi sang Ibu juga memintanya untuk kembali ke tanah kelahiran.

Di Bali, Niluh kembali mendapatkan pekerjaan di perusahaan fashion milik pengusaha Amerika Serikat, Paul Ropp. Niluh dipercaya  untuk memegang kendali sebagai Direktur Marketing. Kerja kerasnya berbuah sukses, Paul Ropp berkembang pesat. Di tahun pertama yakni 2002, penjualan naik hingga 330%. Butik bertambah hingga 10 lokasi.

Tapi, hasrat pembaca setia novel-novel karya John Grisham ini tak pernah lepas dari alas kaki. Terlebih saat ibunya menawarkan sebuah pabrik kecil milik temannya yang hendak bangkrut. “Kenapa kamu nggak bantu Bapak ini memasarkan sandal beliau,” jelas Niluh menirukan permintaan Ibu.

Namun, Niluh terpaksa menolak karena ingin lebih berkonsentrasi bersama Paul Ropp. “Rencana itu tertunda.”

Perjalanan bersama Paul Ropp tak berlangsung lama. Pekerjaan marketing harus ditinggalkan karena Niluh jatuh sakit saat tengah berada di New York pada awal 2003.

Dokter meminta Niluh tak berpergian jauh sekurangnya dalam enam bulan. Padahal, profesinya menuntut Niluh untuk terbang ke sejumlah negara. “Dibuat mikir lagi,”lanjut Niluh, “Harus memutuskan tinggal di Bali atau New York.”

Niluh memutuskan kembali ke Bali, Niluh benar-benar terobsesi oleh “kekurangan” dia  di masa lalu. Pada saat itu pula, Niluh bertemu Cedric Cador. “Kita bertemu, jatuh cinta.” Peluang pun tercipta karena Cedric memang terbiasa memasarkan produk Indonesia di Eropa.

Prinsipnya bahwa tiap perempuan seharusnya bisa memakai sepatu dengan tumit setinggi 12 cm dengan nyaman akhirnya melahirkan produk sepatu bernama Nilou, yang tak lain adalah slang lafal Niluh di lidah bule. “Otomatis lahirnya dari cinta.”

Niluh fokus mendesain sepatu-sepatu cantik berbahan dasar kulit. Semua dikerjakan tangan agar kualitas tetap terjaga.

Di awal pendirian, Niluh membutuhkan waktu hingga 2 bulan untuk menyelesaikan satu desain sepatu. Alokasi waktu paling lama untuk berdiskusi dengan pengrajin. Biasanya, Niluh menunjukkan sepatu mahal koleksinya ke tukang. “Saya tanya ke mereka, bisa nggak bikin yang lebih bagus dari ini,” kata penggemar alas kaki karya Manolo Blahnik dan Christian Louboutin ini.

Untuk membedakan dengan produsen sepatu lainnya, Nilou fokus ke pembuatan sepatu dengan tumit antara 10 cm hingga 12 cm. Menurut Niluh, sepatu tumit tinggi yang baik adalah sepatu yang tetap nyaman dipakai meski sudah dipakai selama 8 jam, bukan 10 menit.

Itu sebabnya, Niluh begitu peduli pada proses pembuatan. Satu tukang, jelas dia, bertanggung jawab untuk menyelesaikan sepasang sepatu. Dari memotong bahan, menjahit, hingga membentuk hak sepatu. Tak masalah jika dalam satu hari workshop-nya hanya bisa memproduksi satu pasang sepatu. Sebab, kualitas produk jauh di atas kuantitas.

“Kalau saya melihat lima pasang sepatu yang berjajar di etalase, saya tahu siapa pembuat masing-masing sepatu itu,” kata Niluh. Sebab, antara satu tukang dan tukang lain memiliki gaya yang berbeda, meski hal itu hanya akan tampak di mata Niluh seorang.

Tak disangka, koleksi pertama Nilou langsung booming di Prancis. Pesanan pun membanjir. Hingga 4.000 pasang. Pada 2004, Ni Luh mendapatkan kontrakoutsource dari jaringan ritel Topshop yang berpusat di Inggris. Pintu perdagangan ke Eropa kian terbuka lebar.

Di tahun yang sama, seorang perempuan berkewarganegaraan Australia berkunjung ke gerai Nilou di kawasan Seminyak, Bali. Perempuan yang kemudian dikenal dengan nama Sally Power ini mengaku terkesan dengan sepatu Nilou dan menawarkan diri untuk menjadi distributor di Negeri Kanguru.

Nilou semakin tenar. Pada saat bersamaan, desainer-desainer internasional yang berproduksi atau mencari inspirasi di Bali ikut memakai produk Nilou. Dari situlah Niluh memulai hubungan profesional mendesainkan sepatu untuk perancang-perancang busana dunia seperti Nicola Finetti, Shakuhachi, Tristanblair, dan Jessie Hill.

Sejumlah selebriti Hollywood papan atas, seperti Uma Thurman, supermodel Gisele Bundchen dan Tara Reid, dan Robyn Gibson (mantan istri Mel Gibson) merupakan sebagian perempuan yang fanatik memakai sepatu Nilou.

Sepatu made in Bali ini kini dipajang di ratusan etalase di 20 negara di dunia, selain di kantor pusat Nilou di Denpasar. “Kalau Uma beli sepatu Nilou di Saint Barth.” bisik Ni Luh, merujuk ke sebuah pulau kecil di Kepulauan Karibia.

Kalau di awal pendirian Niluh hanya mampu memproduksi 3 pasang sepatu, itupun hanya barang pajangan, Nilou memiliki kapasitas produksi hingga 200 pasang sepatu per bulan.

Dahulu, hanya memiliki dua karyawan, Nilou dibantu 22 karyawan dan 3 asisten kepercayaan. Jika toko pertamanya jauh dari kesan eksklusf dengan tembok kusam, dan berdinding anyaman bambu (gedhek), Nilou telah membuka 36 butik di 20 negara.

Niluh mengakui inspirasi merancang sepatu didapat dari mana saja, baik pada saat sedang membaca buku favorit yang membahas arsitektur dan interior desain maupun ketika berada di Niluh Djelantik atelier bersama para pembuat sepatu.

Ide-ide yang muncul ini biasanya langsung Niluh berikan konsepnya kepada sang shoes maker dan mereka langsung menerjemahkannya menjadi sepasang sepatu yang cantik.

Sepatu-sepatunya kebanyakan memakai bahan baku kulit asli, dikombinasikan dengan karung goni, kuningan, kayu, hingga manik-manik. Atas nama eksklusivitas, Nilou menghargai sepasang sepatunya hingga Rp 4 juta. Omzet perusahaan yang diraih pun terbilang besar, mencapai Rp 800 juta untuk setiap bulan.

Di tengah kesuksesan, cobaan kembali datang. Pada 2007, Niluh mendapat tawaran dari agen di Australia dan Prancis untuk melebarkan sayap. Nilou diproduksi secara massal di Cina dengan iming-iming sejumlah besar saham.

Dengan tegas, Niluh menolak. Dia tak ingin cintanya yang melekat setiap pasang sepatu yang dihasilkan dari workshopnya tergantikan oleh mesin atas nama kapitalisme. “Saya tak mau apa yang dibina dari nol dibawa ke luar negeri. Berkah dari Tuhan kembali ke anak-anak [pengrajin],” kilas Niluh.

Namun, keputusan itu harus menjadi pil pahit. Nilou yang sudah mendunia ternyata sudah didaftarkan pihak lain. Penolakan Niluh tak membuat bergeming. Kongsi pecah. “Mereka tetap jalan dengan mass production bermerek Nilou berbasis di Cina,” ujar Niluh.

Karena alasan itu pula, dia terpaksa membunuh Nilou, brand yang lahir dan tumbuh dari cintanya. Niluh kembali ke belakang layar dengan berkonsentrasi memproduksi sepatu untuk desainer asing. “Yang penting mesin jahit tetap jalan, anak-anak tetap bareng aku, kita gak misah.”

 Tak ingin terlalu lama tenggelam dalam kegamangan, Niluh kembali mencoba peruntungan di bisnis sepatu. Kali ini ia berjuang sendiri.

Awal 2008, pecinta shopping dan travelling ini kembali membangun usahanya dengan memproduksi sepatu bermerek “Niluh Djelantik”. Agar tak terulang, brand Niluh Djelantik langsung dipatenkan.

Setahun kemudian high heels buatannya sudah melanglang buana kembali di berbagai negara Eropa, Australia dan Selandia Baru. “Julia Robert memakai produk saya, ketika pembuatan film ‘Eat Pray Love’ di Bali kemarin,” ujar Niluh.

Label baru ini bahkan telah menembus Globus Switzerland pada 2011, yang merupakan salah satu retailer terkemuka di Eropa. Sepatu-sepatu ini mulai dipasarkan pada musim panas 2012. Niluh belum lama ini juga bekerja sama dengan retailer terkemuka untuk membuka Niluh Djelantik di Rusia.

Atas kerja kerasnya, Niluh meraih Best Fashion Brand & Designer The Yak Awards in 2010. Dinominasikan sebagai Ernst & Young for Ernst & Young Entrepreneurial Winning Women 2012 Awards. Sebagai persembahan bagi pecinta high heels, Niluh membuka butik Niluh Djelantik seluas 250 meter persegi di Bali pada pertengahan Maret 2012.

Kisah jatuh bangun bersama high heels dikubur dalam-dalam dan menjadi pembelajaran untuk bangkit bersama Niluh Djelantik. Dia tak pernah menyesali keputusan menolak dan membenamkan Nilou. Keputusan yang memiliki dua konsekuensi, yakni bangkrut karena melawan perusahaan yang lebih besar atau justru berhasil.

“Meski keberhasilan itu tidak semata-mata dinilai dengan uang,” tegas Niluh. Tak terbilang siapa saja pesohor dunia yang memakai Niluh Djelantik, “Karena semua wanita pemakai [sepatu] Niluh Djelantik adalah selebritis buat saya,”

Niluh Djelantik, bagi ibu satu anak ini, bukan lagi sekadar sebuah merek atau butik. Keseharian di factory, butik, hingga hubungan klien sudah seperti keluarga besar. Ada kebahagiaan saat seorang wanita merasa nyaman memakai Niluh Djelantik.

Jauh di lubuk hati, cita-cita untuk terus mengibarkan Niluh Djelantik di kancah internasional terus dipupuk, namun dengan tetap menjaga eksklusivitas. Yang pasti, ekspansi ke negara lain tak akan mengubah prinsip awal Niluh Djelantik yakni ‘dibuat dengan cinta’.

Sumber: sosialbudaya.tvonenews.tv

“Do it Your Way” in Career Camp 2013

Setelah sukses diadakan dua kali di kota Jogja dan Bali, Pusat Karir kembali menggelar rangkaian pelatihan karir untuk mempersiapkan mahasiswa menghadapi dunia kerja dalam acara Career Camp 2013. Acara yang diadakan setiap dua tahun sekali tersebut kali ini bertempat di Surabaya dan Jogja mulai dari tanggal 20 - 23 Juni 2013 dengan mengangkat tema “Kreatif Bisnis”. Setelah ketua panitia, Luna Persis Lambogia memberikan kata sambutan, rangkaian kegiatan Career Camp 2013 diawali dengan pemberian berbagai materi mengenai kreatif bisnis kepada para peserta.

 

Sesi pertama diisi oleh bapak Brilliant Yotenega, founder dari nulisbuku.com. Sesi ini merupakan introduction mengenai bisnis kreatif serta peluang  dan prospek yang ada di Indonesia. Pria yang biasa disapa Ega ini memaparkan berbagai jenis bisnis kreatif yang ada di Indonesia dan saat ini tengah berkembang dengan pesat. Beliau juga menantang para peserta untuk berani memulai bisnis kreatif mereka masing-masing.

 

Sesi kedua mengangkat tema mengenai regulasi dan kode etik dalam bisnis kreatif. Pada sesi ini dibahas mengenai seluk beluk bisnis keratif dilihat dari segi hukum serta norma-norma yang berlaku di Indonesia. Meskipun materi ini terkesan berat, namun pembicara kedua, bapak Hans Hehakaya, S.H mampu membawakannya dengan santai dan jenaka. Tidak jarang peserta dibuat terpingkal-pingkal dengan aksi guyonan ala pak Hans. Di akhir sesi beliau menekankan pentingnya mendaftarkan hak paten untuk setiap inovasi dari produk kreatif yang kita hasilkan.

 

Sesi berikutnya membahas mengenai marketing dan personal branding. Sesi ini dibawakan oleh bapak Sutanto Harsono, salah satu ikon pengusaha bisnis kreatif di Surabaya. Dalam sesi ini pak Tanto banyak membahas mengenai pengalamannya melakukan branding pada usaha-usaha kreatif miliknya, diantaranya adalah Class 5 Indoor Climbing, yang merupakan satu-satunya tempat climbing dalam ruangan di Indonesia.

 

Setelah rehat sejenak untuk makan malam, Sesi terakhir hari pertama Career Camp segera dimulai. Kali ini membahas tentang pembiayaan, penyusunan anggaran dan penggalangan modal. Tidak tanggung-tanggung, pembicara yang membawakan materi ini adalah Head, SME kredit region VII & VIII PT. Permata Bank, Tbk. Bapak Andi Hartadi Sukiman. Dalam sesi ini peserta diberikan pengetahuan ekonomi dasar mengenai kredit di bank, serta langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan ketika melakukan pengajuan kredit.

         

         Tanpa terasa 4 sesi di hari pertama Career Camp 2013 sudah dilewati. Meskipun para peserta sudah mulai terlihat lelah, namun sebagian besar dari mereka tidak dapat menyembunyikan rasa antusias mereka untuk memulai perjalanan menuju Jogja. Panitia pun segera mengarahkan peserta untuk menuju bus yang telah disediakan. Perjalanan menuju babak berikutnya di Career Camp 2013 pun segera dimulai. Jogjakarta, Here we come! 

 

Muda, kreatif dan sukses, Yoris Sebastian merupakan nama yang sudah sangat dikenal luas dalam dunia industri kreatif di Indonesia. Seorang creativepreneur, konsultan kreatif, serta pembicara yang sudah mendapatkan banyak sekali penghargaan ditingkat nasional maupun internasional. Yang terakhir beliau menang dalam Asia Paciffic Entrepreneur Award for Most Promising Entrepreneur Award pada tahun 2008.

 

         9 jam perjalanan menggunakan bus, tidak membuat antusiasme peserta berkurang. Memang sesi creativity dan business plan yang akan dibawakan oleh Yoris Sebastian merupakan sesi puncak dari acara Career Camp 2013 dan yang paling dinanti oleh semua peserta. Di sesi tersebut, Yoris memberikan materi mengenai  bagaimana menjadi orang yang kreatif dan menjadikan kreatifitas sebagai gaya hidup. Ia mendorong para peserta untuk memulai bisnis kreatif pribadi mereka dengan modal seminim mungkin.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  

Pada sesi berikutnya Yoris memberikan pelatihan bagaimana membuat business plan dalam industri kreatif. Dalam pelatihan ini, Yoris menggunakan metode 5W 1H. Secara khusus beliau memantau  business plan setiap peserta dan pada akhir acara Yoris memilih beberapa peserta untuk mempresentasikan business plan nya.

 

Hari kedua ditutup dengan acara sandwich market, dimana setiap kelompok harus membuat sandwich dengan kreatifitas mereka sendiri sehingga bisa dijual dan menghasilkan keuntungan. Game ini merupakan sebuah simulasi bisnis dimulai dari proses produksi sampai dengan penjualan yang bertujuan untuk mengajarkan pada para peserta mengenai strategi kelompok dalam melihat fluktuasi harga,belajar bernegosiasi, dan pentingnya kerjasama serta pembagian tugas dalam timnya.

 

Pada hari ketiga di Jogja, berbeda dengan sebelumnya, kali ini peserta diajak untuk berkeliling di jantung kota Jogjakarta. Bukan  sekedar jalan-jalan biasa, tapi tiap kelompok harus berkeliling kota Jogja tanpa membawa uang pribadi dan alat komunikasi apapun. Mereka harus bertahan melewati setiap pos serta membeli makan siang dengan uang seratus ribu rupiah yang diberikan panitia untuk tiap kelompok, dimana pada akhirnya modal seratus ribu ini pun harus dikembalikan utuh kepada panitia. Hal ini membuat peserta mau tidak mau harus berusaha untuk mencari uang dengan berbagai cara selama perjalanan.

 

Start City Race dimulai dari lapangan mandala krida. Tiap kelompok diberikan teka teki untuk menuju  ke pos pertama yang bertempat di ROEMI x-traordinary ice cream. Di tempat ini peserta mendapatkan sharing dari Bapak Arif mengenai sejarah dari ROEMI, branding produk yang dilakukan Roemi sehingga dikenal hampir seluruh masyarakat Jogja.  Pos lain yang tidak kalah pentingnya adalah Bentara Budaya. Bentara budaya merupakan suatu gedung pameran yang menampung produk-produk hasil kreatiftas para seniman di kota Jogja.

 

Papermoon Puppet Theatre merupakan pos terakhir yang dikunjungi oleh peserta dalam rangkai City Race kali ini. Tak kalah menarik dengan pos-pos sebelumnya, disini kami bertemu dengan kak Ria dan suaminya, kak Iwan yang merupakan pendiri dari Papermoon Puppet Theatre. Mereka bedua bercerita mengenai bagaimana awal mula berdirinya Papermoon dimulai dari pertunjukan jalanan secara gratis sampai mereka sukses menggelar pertunjukan di luar negeri.

 

Minggu, 23 Juni 2013, tidak terasa ini adalah hari terakhir dari rangkaian kegiatan acara Career Camp di Jogjakarta. Setelah selama tiga hari berturut-turut peserta dibekali  berbagai pelatihan dan kegiatan untuk menggali sisi kreatifitas mereka, kali ini mereka akan mempresentasikan business plan yang telah disusun selama acara. Pada hari terakhir ini juga diumumkan para pemenang, mulai dari kelompok terbaik sampai peserta terbaik.

   

           Pada akhirnya, sebelum rangkaian kegiatan Career  Camp 2013 resmi ditutup oleh ibu Lisa Narwastu, para peserta diberikan kertas kosong untuk menuliskan tentang apa rencana serta mimpi mereka berkaitan dengan bisnis kreatif yang kelak akan mereka bangun. Surat ini ditujukan kepada diri mereka sendiri dan akan dikirimkan satu tahun kemudian dari tanggal surat tersebut dibuat.

 

Ketika semua persiapan untuk pulang kembali ke Surabaya sudah selesai, dan semua peserta sudah naik di atas bus, tidak banyak dari peserta yang mengetahui bahwa keseruan dari Career Camp masih jauh dari berakhir. Ada satu acara kejutan yang telah disiapkan oleh panita untuk para peserta Career Camp kali ini. Dari hotel WismaAji di Ring Road utara Jogjakarta, bus segera bertolak ke Selatan, tepatnya ke daerah Wonokitri, kecamatan Gunung Kidul. Kali ini peserta diajak untuk berekreasi ke kawasan wisata Goa Pindul. Di tempat ini para peserta akan diajak beraktifitas river tubing, yaitu menyusuri sungai menggunakan Ban serta pelampung. Selain keseruan serta pemandangan indah yang disuguhkan, kegiatan ini bertujuan mengajak peserta untuk berani mencoba suatu yang baru dalam hidup mereka. Karena seringkali banyak dari kita yang tidak berani terjun serta menekuni bisnis kreatif bukan karena tidak mampu, namun karena takut mencoba hal yang baru dan belum populer di masyarakat. Puncaknya adalah ketika menyusuri sungai, para peserta dihadapkan dengan sebuah tebing setinggi 12 meter. Di tebing ini para peserta ditantang untuk mengalahkan rasa takutnya dan melompat  ke bawah. Tanpa diduga ternyata sebagian besar peserta memilih untuk mencoba melompat. Secara tidak sadar, melalui kegiatan ini sebenarnya peserta sedang dipaksa untuk mengaplikasikan materi yang telah didapat sebelumnya. Dalam dunia industri kreatif seringkali langkah awal adalah yang paling sulit, pengambilan resiko dengan perhitungan yang matang adalah suatu keharusan untuk berbisnis. Sekali lagi Career Camp membuktikan bahwa sekalipun berwisata, setiap acara yang ada di dalam Career Camp bukan sekedar acara kosong tanpa makna, namun memiliki nilai-nilai yang akan membantu para peserta untuk siap dan mampu bersaing menghadapi dunia kerja. Bravo Career Camp 2013, sampai bertemu lagi dalam Career Camp 2015.

 

 

Helen Christiana Wijaya

51409045

Mahasiswa UK Petra Jurusan Ilmu Komunikasi

Self Leadership

Gimana caranya bisa memimpin orang lain kalau memimpin diri sendiri aja nggak bisa?

Pernahkah kita mendengar pertanyaan tersebut dilontarkan orang-orang di keseharian kita? Pada umumnya, kesuksesan seseorang dinilai apabila ia berhasil menjadi pimpinan perusahaan atau minimal manajer suatu perusahaan, di mana salah satu karakteristiknya adalah memimpin orang lain. Tak heran apabila kata-kata mengenai pimpin-memimpin sudah sering berseliweran di telinga kita, yang berujung pada pertanyaan mengenai kepemimpinan pada diri sendiri atau dikenal dengan self leadership.

Apa sih self leadership?

Buat apa sih self leadership?

Gimana caranya supaya bisa memiliki self leadership ?

Self leadership berarti responsible of ourselves atau tanggung jawab terhadap diri sendiri. Terdapat tiga faktor inti dalam pencapaian self leadership, yaitu: self awareness, self determination, dan terakhir adalah self discipline.

Faktor pertama adalah self awareness. Self awareness memiliki arti kesadaran terhadap diri sendiri. Sayangnya, hal ini sulit dilakukan karena sering kali kita tidak memiliki waktu untuk diri sendiri. Terkadang kita membutuhkan feedback dari orang lain untuk lebih memahami diri sendiri. Dalam hal ini, pepatah “no-one knows me better than me” tidak sepenuhnya benar, karena pengetahuan mengenai diri kita terbagi menjadi empat bagian, yaitu public self, private self, hidden self, dan unknown self.

 

What I dont know

Hidden Self (orang lain)

Unknown Self (tidak keduanya)

What I know

Public Self (diri sendiri dan orang lain)

Private Self (diri sendiri)

 

What others know

What others dont know

 

 

Adanya hidden self dan private self menandakan bahwa perlu adanya feedback dan komunikasi antara kita dengan orang lain untuk lebih mendapatkan pemahaman diri.

Setelah kita menjadi lebih self aware, maka kita mulai membentuk self determination, yaitu bagaimana kita merespon situasi yang kita hadapi. Kita selalu memiliki pilihan yang harus diambil untuk menyelesaikan permasalahan dalam setiap situasi, baik di sekolah, kuliah, terlebih di dunia kerja. Pilihan yang kita pilih merupakan tanggung jawab (responsibility) kita terhadap hasilnya nanti. Responsibility berasal dari kata response-ability, yang artinya adalah kemampuan merespon. Responsible di sini berarti bagaimana kita merespon pada situasi yang ada.

Terakhir adalah self discipline. Di setiap aspek kehidupan, kita memiliki target-target tertentu yang harus bisa dicapai. Sejauh mana target itu tercapai ditentukan dari kedisiplinan kita terhadap diri sendiri dalam proses pencapaian target tersebut.

So, take the first step to reach your dream by leading yourself!

 

 

Kezia Arya

Head of Learning and Development

PT PermataBank, Tbk.

PAHLAWANKU, SUMBER INSPIRASI KARIRKU

PEMENANG WRITING ON THE WEB NOV 2012

AGNES YUSTIVANI DE SIRAT (TEKNIK INFORMATIKA angkatan 2011)

============================================================

 

“Pahlawanku”, mungkin ketika mendengar kata itu,yang terlintas di pikiran kita adalah para pahlawan yang dulu membela bangsa kita dari penjajah. Atau mungkin ketika bertanya “siapa pahlawanmu?” pada anak kecil, dengan lugu dan polos mereka berteriak “superman”, “spiderman” dan beberapa dereatan nama tokoh kartun idolanya. Ya, mungkin terlalu sempit pengertian pahlawan di jaman sekarang ini. Atau mungkin sudah menipisnya, tokoh – tokoh yang berjiwa pahlawan. Menjadi seorang pahlawan sendiri, mempunyai arti yang luas. Bukan saat kita diakui oleh pemerintah dan disahkan menjadi seorang pahlawan. Tetapi lebih dari itu ialah jiwa yang mau menolong dan berkorban.

Kata pahlawan sendiri, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) artinya “orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran”. Bukan saja membela kebenaran, tapi juga dapat menginspirasi banyak orang.  Menjadi idola banyak orang, dan bukan sekedar idola, tetapi melakukan sesuatu yang terpuji. Tidak hanya itu, tetapi seorang pahlawan adalah seseorang yang mau berkorban dengan ikhlas dan tulus, tanpa pamrih.

Berbicara mengenai pahlawan, ada seorang sosok pahlawan yang sangat menginspirasi impianku. Walau beliau tidak dikenal oleh banyak orang tetapi beliau layak disebut sebagai pahlawan. Mengapa demikian? Karena beliau berani dan berkorban demi aku. Pengorbanannya untuk melindungiku dan membesarkanku. Ya, dia adalah sosok yang selalu tersenyum ketika aku pulang sekolah, sosok yang selalu sabar mengejarku ketika aku tidak mau makan siang, dan sosok yang selalu mendoakanku. Dialah, ibuku, pahlawanku.

Bagi sebagian orang, sosok ibu mungkin adalah sosok yang biasa saja, atau mungkin juga seorang ibu yang sibuk dengan karirnya. Entahlah, semuanya pasti memiliki pendapat yang berbeda – beda tentang ibu. Tapi, sosok yang juga dipanggil mama ini, tetaplah menjadi yang terbaik bagi hidupku. Walau aku masih sering menyakitinya, beliau tak pernah marah, tekun dan sabar mengajari untuk lebih baik lagi. Mengapa aku menyebutnya, sebagai sumber inspirasi impianku?

Walau hanya berprofesi sebagai ibu rumah tangga, itu tak mematahkan paradigmaku melihat ibuku. Perjuangannya untuk melahirkanku di dunia ini begitu gigih. Rela pertaruhkan nyawanya demi aku. Bahkan ketika melahirkan adikku, dia rela berjuang hingga titik terakhir. Masih menjadi yang terbaik ketika dia dengan tekun, mengajariku mengucapkan “mama”. Masih dengan semangat ketika mengajariku langkah demi langkah. Juga masih terekam jelas saat dia menggendongku dan melantunkan lagu “nina bobo” untuk menidurkanku.

Beliau sumber inspirasi impianku, mengapa? Karena impianku begitu simple, bahkan tak banyak dari generasi sekarang yang memikirkan hal itu. Dapat dikatakan, kalaupun terlintas ide ini dipikiran generasi sekarang, pasti mereka juga tidak akan melakukan apa – apa bahkan ogah –ogahan. Merantau dan menjelajah pulau demi pulau untuk mengajar banyak anak indonesia diluar sana yang belum pernah tersentuh oleh kasih sayang seorang GURU. Memang menjadi seorang pengajar, adalah impian ibuku sejak kecil yang tak sempat dia wujudkan. Akan tetapi, bagiku dia adalah pengajar terhebat yang pernah kumiliki. Pendidikan akhir di SMA tidak menghalanginya untuk tetap menunjukan kualitasnya dalam mengajariku banyak hal. Tak pernah mengeluh, senyum diwajah yang tak pernah pudar.

Ketidakberadaan sosok ibu ketika aku beranjak dewasa membuatku semakin sadar dan semakin kuat menjalani hidup ini. Ditempa menjadi seorang gadis yang gigih untuk mencapai cita – cita, walau ‘pengajar’ku telah tiada. Ini membuatku membuka mata semakin lebar. Apalagi melihat realita di daerah yang dulu kudiami sebelum aku merantau, banyak sekali yang membutuhkan pertolongan. Melihat anak kecil di pelosok yang berlari, tertawa lepas malah membuatku meneteskan air mata. Tak tahan hatiku, ketika mereka membutuhkan seorang kakak pembimbing, seorang guru, seorang pengajar dan tidak ada yang peduli. Aku bisa merasakannya ketika kehilangan ibu. Kehilangan seorang pengajar yang hebat, yang membuatku berjalan tanpa arah tujuan. Belajar seadanya, tanpa ada yang membimbing. Dan kini, aku tak mau, apa yang kualami terjadi bagi sahabat - sahabatku di pelosok negeri ini. Sudah terlalu lama aku hanya berdiri, terpaku dan terdiam. Sekaranglah waktunya, aku harus berdiri, berjalan dan memulai kegerakan ini. Tak boleh hanya sebatas ide, haruslah sebuah movement. Pahlawanku, ibuku yang selalu jadi sumber inspirasiku. Begitu mulia cita – cita ini, tapi tak banyak orang yang terpanggil. Dan bagi mereka yang terpanggil, segeralah melakukannya, jangan hanya diam dan tidak peka dengan panggilan tersebut. Menjadi sumber inspirasi bukanlah hal yang mudah. Kita harus berintegritas dan memiliki kasih. Kelak, aku ingin sahabat - sahabatku disana juga bisa merasakan kasih yang sama, seperti yang Tuhan telah berikan untukku. Sekarang, tugasku tetaplah harus menuntut ilmu di perguruan tinggi. Aku yakin, dengan jembatan seperti ini, tanpa membuat tanganku semakin panjang untuk menolong mereka. Bukanlah menjadi penghalang, tetapi akan lebih baik dari ini semua.

Jika sampai kini, aku masih bersemangat mengejar impianku, itu karena selalu ada pahlawan -yang sekarang berada di hatiku- yang selalu menginspirasiku. Sebuah impian yang begitu sederhana, tapi mengubahkan nasib anak – anak sebagai pemegang tongkat estafet bangsa ini. Mereka adalah generasi yang akan melanjutkan kehidupan ini. Apa jadinya bila mereka dibiarkan terpuruk dengan keadaan pendidikan yang sangat minim tersebut? Lantas, sebagai generasi yang telah terlebih dahulu ada, apa yang kita lakukan? Hanya duduk diam dan melihat? Biarlah itu menjadi refleksi pribadi generasi sekarang. Kita dapat melakukan lebih banyak lagi dari apa yang telah dilakukan sekarang. Tanpa banyak yang tahu, di balik ini, dibalik besar impianku ini, semua ada sosok pahlawan perkasa yang kuat menginspirasiku. Terlebih, ada Tuhan yang selalu menyertaiku. Bangsa ini membutuhkan banyak lagi orang yang berhati mulia untuk melakukan tugas yang mulia juga. Inilah waktunya untuk kita bukan saja memperhatikan jiwa, tapi menjawab kebutuhan mereka yang menangis kelaparan, menjerit kesakitan dan berteriak ingin menuntut ilmu.

Ditengah banyak tantangan global dan permasalahan bangsa yang semakin rumit, masalah pendidikan mulai disepelekan. Hal itu menyebabkan lebih banyak mereka yang terlantar karena kekurangan guru. Pendidikan yang terlalu terpusat pada daerah perkotaan sehingga mengabaikan daerah pelosok. Sekali lagi, ingin kukatakan, ayo, sudah cukup kita hanya melihat, sudah cukup untuk kita dengar saja. Ini waktu yang tepat untuk kita berdiri, melangkah maju, bergandeng tangan, menciptakan generasi bangsa yang lebih baik lagi. Berawal dari kisah hidup yang sederhana, dari sosok pahlawan yang selalu menginspirasikan, dari kemauan yang keras untuk indonesia yang lebih baik.