Petra Career Center
preparing · coaching · connecting

TELUSURI LEBIH LANJUT
68
LOWONGAN KERJA
2.478
EMPLOYER
2.873
JOBSEEKER

TENTANG KAMI

Ditemukan pada tahun 2004 dan setelah diberikannya ijin dari TPSDP (Technological and Professional Skills Development Sector Project), Petra Career Center meluncurkan jasanya di Universitas Kristen Petra pada tanggal 3 Agustus di tahun yang sama. Layanan utama kami diperuntukkan kepada mahasiswa dan lulusan dari berbagai program studi yang berbeda. Mahasiswa kami difasilitasi untuk mempelajari soft skills melalui Petra Career Center Development Programs dengan pendekatan yang menarik dan kreatif, seperti Career Camp, talk-show, workshop, dan lain-lain. Petra Career Center juga memiliki koneksi dengan sejumlah perusahaan kelas atas di mana para lulusan kami memperoleh kesempatan untuk terhubung dengan mereka melalui acara tahunan Pre-Graduation-Day. Acara khusus ini terdiri atas Job Preparation Class, Career Assessment Class, Career Days, Petra Career Fair, Scholarship Days, dan Petra's Best Achievers.

Website kami yang interaktif dapat diakses sejak tahun 2005. Melalui website ini, informasi lowongan kerja dari berbagai perusahaan dipasang di sini, berbagai kegiatan Petra Career Center, dan juga beberapa tulisan dari mahasiswa kami untuk para pengunjung website.

Staff kami dapat dihubungi terkait pendaftaran career consulation baik melalui media online ataupun appointment.

Petra Career Center berharap untuk terus meningkatkan dan mengembangkan mutu layanan kami melalui program-program yang inovatif.

Tim kami

Dra. Lisa Narwastu, M.PSDM
Kepala Petra Career Center
narwastu@petra.ac.id
Jessie Monika, SS
Training Coordinator
jc@petra.ac.id
Dra. Magdalena Ratuhaba, M.PSDM
Employers Relations & Placement Staff
lena@petra.ac.id
Sastra Budiharja, S.Psi
Employers Relations & Placement Coordinator
sastrabs@petra.ac.id
Yulandari, A.Md
Administration
yulan@petra.ac.id
Alfan Stevano, S.Psi
Training Staff
alfan@petra.ac.id
FOKUS PELAYANAN PCC
Preparing
Mempersiapkan Anda memasuki dunia kerja melalui training-training keterampilan kerja dan wirausaha / enterpreneurship

Coaching
Membantu Anda mengenali dan mengembangkan potensi karir yang akan menjadi plus dalam persaingan di dunia kerja

Connecting
Menjembatani Anda dengan dunia Industri

ARTIKEL
My Business, My Contribution to the Nation

Kalau Petra Career Camp (PCC) tahun 2015 yang lalu mengusung tema “Many Dreams, One Team”, tahun 2017 ini Camp tersebut membawa tema yang berbeda yaitu “Your Business, Your Contribution to the Nation” dan akan banyak membahas hal mengenai sociopreneurship. Kali ini, PCC bahkan bekerja sama dengan Pusat Karir Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS). Ketertarikan saya dengan Career Camp ini sangatlah besar, walaupun saya masih belum mengetahui temanya, karena isu tempat pelaksanaannya sudah menarik perhatian saya, yaitu Bandung!

Briefing peserta dan pembagian kelompok adalah salah satu hal yang paling ditunggu-tunggu. Yang paling menyenangkan dari hal ini adalah karena panitia membagi kelompok secara acak sehingga bisa membuat peserta Career Camp dari UK Petra dan UKWMS bisa saling mengenal lebih dekat. Nama-nama kelompok yang digunakan pada acara ini disesuaikan dengan nama lembaga-lembaga sociopreneur yang akan dikunjungi. Kelompoknya dibagi menjadi 5 yang terdiri dari traditional games, drugs addiction, environmental issue, city heritage 1 dan 2. Kakak-kakak observer di acara PCC juga bisa mencairkan suasana “malu-malu” yang pastinya terjadi di setiap kelompok ketika pertama kali berkenalan. Rasanya sudah tidak sabar lagi untuk langsung berangkat ke Bandung dan belajar banyak hal mengenai sociopreneurship.

Time flies so fast, setelah menempuh perjalanan panjang selama kurang lebih 13 jam ke Bandung dengan Kereta Api, setibanya di kota ini, serangkaian acara sudah menanti. Sesi yang pertama yaitu “On Being Sociopreneur”, dibawakan oleh ibu Veronica Colondam sebagai Founder and CEO dari Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB). Beliau berbagi kisah tentang awal mulanya beliau menggeluti dunia social sekaligus entepreneurship ini, dikatakan social karena munculnya beberapa unit koperasi untuk membantu anak-anak putus sekolah. YCAB merupakan model bisnis yang berkelanjutan yang mampu menjangkau lebih dari tiga juta anak muda. Hal ini dicapai melalui pemberdayaan dalam bidang pendidikan dan ekonomi untuk anak kurang mampu dan keluarganya. Selain cantik, beliau juga sangat pintar bisa dilihat dari beberapa gelar yang beliau miliki di belakang namanya.

Setelah sesi 1 selesai peserta mendapat pengarahan tentang tantangan selama beberapa hari ke depan. Sebenarnya tantangan ini gampang-gampang susah bagi peserta yang baru pertama kali ikut, karena tantangan terbesarnya adalah mengatur keuangan kelompok. Jadi setiap kelompok diberikan sejumlah uang, lalu kelompok tersebut berhak untuk mengelola uang tersebut untuk kegiatan bersama selama di Bandung. Kelompok saya memutuskan untuk melakukan penghematan selama awal-awal perjalanan dengan makan makanan yang murah-murah, menaiki kendaraan dengan nominal yang semurah-murahnya. Di hari pertama, kelompok saya melakukan penghematan dengan menempuh jarak yang kira-kira 8 kilometer dengan jumlah 8 peserta, 1 observer dan 1 panitia yang mendokumentasikan semua aktifitas kami dengan menaiki hanya 1 mobil. Terbayang kan bagaimana jauhnya perjalanan yang ditempuh belum lagi dengan jalanan yang berkelok-kelok? Perjalanan pertama kami yaitu ke Komunitas Hong yang letaknya di daerah Dago Pakar.

Di Komunitas Hong, kami bertemu dengan founder-nya yaitu Kang Zaini Alif yang juga dijuluki Bapak Permainan Tradisional Indonesia. Di sini, kami disambut dengan musik khas Sunda dan suasana sejuk menyegarkan. Ternyata, masing-masing permainan tradisional Indonesia itu bermakna lho. Hompimpa, misalnya. Siapa yang tahu makna dibalik permainan sederhana ini adalah: Dari Tuhan Kembali ke Tuhan? Keren ya? Pantas saja Kang Zaini bilang yang seperti ini nih yang harus dilestarikan untuk generasi-generasi berikutnya

Setelah dari Komunitas Hong lanjutlah perjalanan yaitu ke Rumah Cemara. Rumah Cemara ini bukan hanya tempat bagi para pecandu narkoba tapi juga mereka yang pernah terlibat narkoba meski belum menjadi pecandu dan ingin dipulihkan. Disini mereka diberi kesempatan untuk mengembangkan bakat terpendam yang mereka punya, khususnya di bidang olahraga seperti tinju, sepakbola, dan masih banyak yang lainnya. Tim sepakbola dari Rumah Cemara ini bahkan pernah pergi ke luar negeri untuk bertanding dan menang lho!

Malam harinya sekembalinya dari Rumah Cemara, kami melanjutkan sesi bersama kak Tian yang merupakan Chief Environmental Officer of Greeneration Foundation. Greeneration Foundation yang merupakan bagian dari Greeneration Indonesia ini bergerak di bidang lingkungan yang mengkampanyekan pengurangan penggunaan kantong plastik dan diganti dengan tas ramah lingkungan. Selain itu, bisnis mereka juga berkecimpung pada pengelolaan limbah dan sampah. Sangat menginspirasi sekali ya?

Hari kedua adalah kunjungan ke Bandung Creative City Forum atau yang biasa dikenal dengan BCCF. BCCF ini merupakan forum komunitas-komunitas kreatif untuk mengembangkan identitas kota Bandung sehingga menjadi kota kreatif. BCCF bertujuan untuk menghasilkan hal-hal yang signifikan dan meninggalkan jejak sosial yang menjadi ruang model masyarakat bandung. Beberapa program utama mereka seperti Helar Fest, kampung kreatif dan design activity melibatkan anak-anak muda Bandung dan warga-warga kampung.

Di BCCF, kami berkenalan dengan Bu Tita Larasati, General Secretary of BCCF yang juga mengajar sebagai dosen di Institut Teknologi Bandung (ITB). Dalam sesinya, Bu Tita menjelaskan apa yang menjadi kebutuhan masyarakat dan masalah apa saja yang sedang dihadapi masyarakat terkait dengan pengembangan kota Bandung. Bagaimana menyediakan tempat sampah yang bagus setelah melalui proses diskusi dengan warga sekitar supaya menjaga kebersihan dan kerapian lingkungan mereka masing-masing.

Selain Ibu Tita Larasati, kami dapat banyak ilmu yang dikembangkan oleh Kang Fiki Satari, Chief of BCCF yang juga Founder of Airplane System Clothing dan dosen di Universitas Padjadjaran untuk mengembangkan kota Bandung menjadi lebih baik dan lebih indah lagi. Di BCCF ini, Kang Fiki menggantikan posisi Ridwan Kamil (walikota Bandung sekarang -Red) yang juga merupakan salah satu pendirinya. Mengutip dari perkataan Kang Fiki “Kunci utama dalam bisnis adalah kreativitas”, demikian juga bisnis sosial yang melibatkan masyarakat sekitar. Beliau juga mengatakan bahwa untuk menjaga kreativitas supaya tidak mati, perlu selalu membuka pintu kolaborasi dengan masyarakat. Maka jika ingin maju, kami harus mencari relasi sebanyak-banyaknya dan berjejaring. Yang tak kalah serunya waktu di BCCF, kita diberi tugas untuk bikin video seputar BCCF dan harus di-share di media sosial kami untuk dinilai oleh panitia.

Setelah kami berkegiatan di BCCF, kami berkunjung ke Kedai Preanger yang merupakan tempat untuk menikmati kopi dan teh dari berbagai penjuru nusantara. Disini juga lah komunitas Aleut biasa nongkrong. Komunitas Aleut adalah komunitas yang peduli terhadap tempat-tempat dan benda-benda bersejarah di Bandung dan sekitarnya. Kang Ridwan Hutagalung selaku pemilik dari Kedai Preanger dan juga pengurus komunitas Aleut berbagi pengalaman dengan kami. Selain memperkenalkan kopi dan teh nusantara yang memiliki cita rasa yang berbeda dari setiap daerah tempat kopi dan teh tersebut berasal, Kang Ridwan juga menyisihkan pendapatannya untuk membiayai kegiatan-kegiatan komunitas Aleut. Salah satu kegiatan yang sering diadakan adalah kelas literasi, dimana kegiatan ini merupakan wadah diskusi dalam banyak hal seperti pembahasan film-film yang terkait dengan sejarah bangsa kita, sejarah perkebunan teh, dll.

Pada hari ketiga di Bandung peserta Career Camp hanya mendengarkan sesi di hotel. Sesi pertama kami dapat dari Bapak Murpin Josua yang banyak berbagi tentang Financial Planning - dimana dalam menjalankan bisnis, dalam hal ini bisnis sosial, kami harus sangat memperhatikan hal tersebut supaya tidak terjadi kekeliruan dalam penyajian laporan keuangan yang berdampak dengan keberlanjutan bisnis yang dijalankan.

Sesi dari Pak Murpin dilanjutkan dengan sesi dari Brilliant Yotenega yang merupakan CEO & Co-Founder of Zeta Media Network. Beliau berkisah bagaimana beliau bisa jadi seperti sekarang tidak luput dari dukungan kawan-kawannya. Oleh karena itu, kami lagi-lagi diingatkan bahwa berjejaring dan menjalin relasi yang baik dengan kenalan-kenalan dan kawan-kawan itu sangat penting untuk menghindari kesan ‘hanya baik jika butuh’.

Dari awal, kami sudah diberitahu oleh panitia bahwa setiap kelompok akan membuat project untuk lembaga-lembaga dan komunitas yang dikunjungi. Setiap malam masing-masing kelompok diberi kesempatan untuk berkumpul dengan observer-nya untuk membahas project akhir apa yang akan dilakukan terhadap masing-masing lembaga yang memilik masalahnya sendiri. Keceriaan tidak bisa dipisahkan dari setiap individu dalam setiap kelompok. Walaupun baru pertama kali mengenal namun setiap kelompok selalu memiliki keceraian dan candaannya masing-masing ditiap sela diskusi dalam kelompok.

Melalui diskusi kelompok, setiap kelompok berusaha untuk memecahkan masalah/ tantangan setiap komunitas sehingga bisa membuat solusi project terbaik demi kemajuan komunitasnya. Pada hari terakhir setiap kelompok kembali menuju komunitas mereka masing-masing dan mempresentasikan hasil dari diskusi kelompok. Usulan, ide, dan teknis-teknis telah dibahas dengan matang oleh tiap kelompok sehingga setiap komunitas mendapatkan berbagai macam masukan. Presentasi ini juga dinilai oleh setiap komunitas sehingga panitia bisa mendapatkan kelompok dengan hasil ide yang terbaik. Kelompok City Heritage 2 akhirnya keluar sebagai pemenang dalam acara Career Camp.

Sampailah kami dihari terakhir, dimana kegiatan ini ditutup oleh closing ceremony, sebuah model penutupan yang unik dan keren buat kami peserta Career Camp. Waktu itu kami sempat bingung dengan adanya gelas sejumlah peserta Career Camp beserta air minum untuk dituangkan yang tertata di depan ruang pertemuan. Waktu itu kak Jessie menjelaskan makna closing ceremony tersebut, dimana ketika kami sama-sama berangkat dari Surabaya untuk kegiatan ini diibaratkan sebuah gelas kosong, dimana pengetahuan kami masih dangkal dengan apa itu Sociopreneur. Lalu air minum yang akan dituangkan ke dalam gelas merupakan ilmu beserta pengalaman-pengalaman berharga yang kami dapat selama berproses di Bandung. Oia, kami semua diminta agar menuangkan air minum ke dalam gelas yang tersedia dengan takaran yang sama loh tapi tidak boleh sampai penuh. Hal ini dimaksudkan bahwa kita sudah mendapatkan ilmu dan pengalaman selama di Bandung sebagai bekal untuk terjun langsung ke dalam bisnis Sociopreneur, oleh sebab itu air tidak diisi penuh. Tugas kita sebagai Sociopreneur mudahlah yang membuat gelas tersebut penuh, dengan terjun langsung membangun bisnis-bisnis sosial dengan memberdayakan masyarakat sekitar kita. Secara umum kegiatan Career Camp  membuat kami sadar, bahwa ketika kita semua membuat bisnis, buatlah bisnis yang memberdayakan masyarakat, bangunlah Indonesia menjadi lebih baik.

 

By : Yessy Elfira (32414059)