Petra Career Center
preparing · coaching · connecting

TELUSURI LEBIH LANJUT
104
LOWONGAN KERJA
2.570
EMPLOYER
3.045
JOBSEEKER

TENTANG KAMI

Ditemukan pada tahun 2004 dan setelah diberikannya ijin dari TPSDP (Technological and Professional Skills Development Sector Project), Petra Career Center meluncurkan jasanya di Universitas Kristen Petra pada tanggal 3 Agustus di tahun yang sama. Layanan utama kami diperuntukkan kepada mahasiswa dan lulusan dari berbagai program studi yang berbeda. Mahasiswa kami difasilitasi untuk mempelajari soft skills melalui Petra Career Center Development Programs dengan pendekatan yang menarik dan kreatif, seperti Career Camp, talk-show, workshop, dan lain-lain. Petra Career Center juga memiliki koneksi dengan sejumlah perusahaan kelas atas di mana para lulusan kami memperoleh kesempatan untuk terhubung dengan mereka melalui acara tahunan Pre-Graduation-Day. Acara khusus ini terdiri atas Job Preparation Class, Career Assessment Class, Career Days, Petra Career Fair, Scholarship Days, dan Petra's Best Achievers.

Website kami yang interaktif dapat diakses sejak tahun 2005. Melalui website ini, informasi lowongan kerja dari berbagai perusahaan dipasang di sini, berbagai kegiatan Petra Career Center, dan juga beberapa tulisan dari mahasiswa kami untuk para pengunjung website.

Staff kami dapat dihubungi terkait pendaftaran career consulation baik melalui media online ataupun appointment.

Petra Career Center berharap untuk terus meningkatkan dan mengembangkan mutu layanan kami melalui program-program yang inovatif.

Tim kami

Dra. Lisa Narwastu, M.PSDM
Kepala Petra Career Center
narwastu@petra.ac.id
Jessie Monika, SS
Training Coordinator
jc@petra.ac.id
Dra. Magdalena Ratuhaba, M.PSDM
Employers Relations & Placement Staff
lena@petra.ac.id
Sastra Budiharja, S.Psi
Employers Relations & Placement Coordinator
sastrabs@petra.ac.id
Yulandari, A.Md
Administration
yulan@petra.ac.id
Alfan Stevano, S.Psi
Training Staff
alfan@petra.ac.id
FOKUS PELAYANAN PCC
Preparing
Mempersiapkan Anda memasuki dunia kerja melalui training-training keterampilan kerja dan wirausaha / enterpreneurship

Coaching
Membantu Anda mengenali dan mengembangkan potensi karir yang akan menjadi plus dalam persaingan di dunia kerja

Connecting
Menjembatani Anda dengan dunia Industri

ARTIKEL
AGAMA DAN DILEMA DUNIA KERJA

          Kebutuhan manusia akan agama adalah mutlak. Eksistensi Tuhan, kehidupan setelah kematian, dan kebutuhan spiritual lainnya hanya dapat dijawab oleh agama. Namun tidak hanya sampai disitu, seringkali kita juga menggunakan agama dalam berbagai segi kehidupan kita. Mungkin secara tidak sadar kita lebih memilih berteman dengan mereka yang seagama. Dalam hal memilih pemimpin, tentu kita tidak lupa kisah Ahok, Gubernur DKI Jakarta itu. Lalu bagaimana dengan dunia kerja yang seringkali kita dapati penerimaan karyawan dan penentuan jabatannya didasari oleh sebuah agama tertentu? Setuju kah kita?

          Maret 2015 lalu masyarakat heboh dengan lowongan kerja MNC Sky Vision Surabaya yang mengutamakan non-muslim dalam deskripsinya. Sempat ada demo yang memprotes hal ini. Kemudian di tahun yang sama PT. Sushantco Indonesia juga memberi syarat laki-laki muslim bagi para pelamar kerjanya. Tahun 2016 pemilik Hawaii Group menandatangani surat permohonan maaf atas iklan lowongan kerja yang diposting managementnya di Facebook. Pada iklan tersebut Hawaii Group memberi keterangan yang mengutamakan calon pekerja non-Hindu untuk posisi cook. Dan masih banyak lagi lowongan pekerjaan dengan syarat agama yang tidak diblow-up media.

          Sebelum kita mulai menghakimi para pemilik usaha dan managementnya atas syarat agama dalam lowongan pekerjaan mereka ada baiknya kita merenungkan ini. Cara hidup seseorang ditentukan oleh lingkungan, latar belakang suku, budaya dan tidak terkecuali agama. Muslim melakukan shalat sebanyak lima kali dalam sehari, Kristen pergi ke gereja setiap hari Minggu. Umat Hindu sembahyang Trisandya yaitu sebanyak tiga kali pada pagi, siang, dan sore. Tiap agama memiliki waktu dan intensitas yang berbeda dalam beribadah. Maka dalam bekerja pun agama juga punya pengaruh karena merupakan gaya hidup seseorang, setidaknya dalam hal waktu.

          Secara hukum di Indonesia, menggunakan agama sebagai syarat penerimaan pegawai merupakan sebuah pelanggaran. Pasal 5 UU Ketenagakerjaan (UU no.13 tahun 2003) mengatakan “Setiap tenaga kerja memiliki kesempatan yang sama tanpa diskriminasi untuk memperoleh pekerjaan”. Tetapi beberapa perkecualian seharusnya bisa kita buat. Bukankah sebuah restoran masakan China yang mengandung babi tak sepantasnya mempekerjakan seorang muslim untuk memasak? Tentu saja hal ini bukan sebuah tindakan diskriminatif karena seorang muslim diharamkan mengkonsumsi dan bahkan menyentuh babi.

          Pasal 6 UU Ketenagakerjaan juga menjamin para pegawai untuk mendapat hak dan kewajiban yang sama tanpa melihat jenis kelamin, suku, warna kulit, dan lain sebagainya termasuk agama. Promosi dan jabatan adalah hak semua pegawai yang bekerja keras dan kompeten. Namun bukan berarti kita tidak boleh membuat perkecualian dengan syarat agama untuk jabatan tertentu. Karena tiap agama berbeda pengajarannya dalam doktrin, konsep teologis maupun praktis. Kita tentu patut bertanya jika sebuah universitas Kristen dengan visi, misi, dan nilai-nilainya yang Alkitabiah dipimpin oleh seorang rektor beragama Buddha.

          Bukan berarti UU Ketenagakerjaan Pasal 5 dan 6 itu salah. Aturan itu perlu ada untuk meminimalisir hal-hal seperti “Aku bosnya, aku Kristen, karena kamu Konfusian tidak bisa kerja disini” , atau “kamu kurang cantik jadi aku tidak bisa angkat kamu jadi head manager” dan semacamnya. Meskipun pada dasarnya memang itu adalah hak dari para pemilik usaha atau pihak lain yang berwenang. Tapi tanpa alasan yang logis, kuat, dan benar maka para pemilik usaha sebenarnya telah melanggar hak para pegawai atau calon pegawai.

          Dilema agama dalam dunia kerja harus dilihat dari kacamata yang baru dan berbeda. Mulailah dari bertanya apakah pekerjaan atau jabatan itu baik dan benar untuk saya sebagai penganut agama ini? Ketika saya menganut agama Hindu maka lebih baik saya tidak menjadi juru masak sebuah restoran yang menyediakan daging sapi. Atau saya muslim seharusnya saya tidak bekerja di sebuah restoran yang menyediakan daging babi. Ada restoran lain yang tepat buat saya sebagai juru masak untuk bekerja tanpa melanggar ajaran agama saya. Bukan salah restorannya jika mereka memberi syarat non-Hindu dan menolak saya penganut Hindu jika mereka menyediakan hidangan daging sapi. Lain cerita jika saya ditolak jadi dosen seni lukis oleh sebuah universitas Kristen karena saya seorang Buddhis. Tapi tidak tau diri namanya ketika saya seorang Kristen mengajukan diri sebagai rektor di sebuah universitas Islam.

          Maka sejatinya boleh saja menjadikan agama sebagai syarat diterima atau tidaknya seseorang dalam pekerjaan atau jabatan. Selama itu sebenarnya bertujuan untuk kebaikan bersama. Jangan kita mudah menghakimi meskipun banyak ketidakadilan atas nama agama yang memang terjadi di dunia kerja. Lebih penting bagi kita mempersiapkan diri dan bekerja sebaik-baiknya. Tuhan tidak tidur, jika kita setia dan bersungguh-sungguh maka pekerjaan yang baik dan jabatan yang kita impikan akan diberikan juga pada kita.

 

Referensi :

http://candrawiguna.com/komentar-kasus-diskriminasi-lowongan-kerja-di-mnc/

http://www.jogjakarir.com/2015/03/lowongan-kerja-di-pt-sushantco.html

https://student.unud.ac.id/febiani98/news/4690

 

Oleh :

Hendro Richard (42416052)