Petra Career Center
preparing · coaching · connecting

TELUSURI LEBIH LANJUT
87
LOWONGAN KERJA
2.115
EMPLOYER
1.816
JOBSEEKER

TENTANG KAMI

Ditemukan pada tahun 2004 dan setelah diberikannya ijin dari TPSDP (Technological and Professional Skills Development Sector Project), Petra Career Center meluncurkan jasanya di Universitas Kristen Petra pada tanggal 3 Agustus di tahun yang sama. Layanan utama kami diperuntukkan kepada mahasiswa dan lulusan dari berbagai program studi yang berbeda. Mahasiswa kami difasilitasi untuk mempelajari soft skills melalui Petra Career Center Development Programs dengan pendekatan yang menarik dan kreatif, seperti Career Camp, talk-show, workshop, dan lain-lain. Petra Career Center juga memiliki koneksi dengan sejumlah perusahaan kelas atas di mana para lulusan kami memperoleh kesempatan untuk terhubung dengan mereka melalui acara tahunan Pre-Graduation-Day. Acara khusus ini terdiri atas Job Preparation Class, Career Assessment Class, Career Days, Petra Career Fair, Scholarship Days, dan Petra's Best Achievers.

Website kami yang interaktif dapat diakses sejak tahun 2005. Melalui website ini, informasi lowongan kerja dari berbagai perusahaan dipasang di sini, berbagai kegiatan Petra Career Center, dan juga beberapa tulisan dari mahasiswa kami untuk para pengunjung website.

Staff kami dapat dihubungi terkait pendaftaran career consulation baik melalui media online ataupun appointment.

Petra Career Center berharap untuk terus meningkatkan dan mengembangkan mutu layanan kami melalui program-program yang inovatif.

Tim kami

Dra. Lisa Narwastu, M.PSDM
Kepala Petra Career Center
narwastu@petra.ac.id
Jessie Monika, SS
Training Coordinator
jc@petra.ac.id
Dra. Magdalena Ratuhaba, M.PSDM
Employers Relations & Placement Staff
lena@petra.ac.id
Sastra Budiharja, S.Psi
Employers Relations & Placement Coordinator
sastrabs@petra.ac.id
Yulandari, A.Md
Administration
yulan@petra.ac.id
Alfan Stevano, S.Psi
Training Staff
alfan@petra.ac.id
FOKUS PELAYANAN PCC
Preparing
Mempersiapkan Anda memasuki dunia kerja melalui training-training keterampilan kerja dan wirausaha / enterpreneurship

Coaching
Membantu Anda mengenali dan mengembangkan potensi karir yang akan menjadi plus dalam persaingan di dunia kerja

Connecting
Menjembatani Anda dengan dunia Industri

ARTIKEL
Creativity for MEA

Masyarakat Ekonomi ASEAN yang akrab disebut MEA adalah salah satu gerakan baru dalam sektor ekonomi yang mengintegrasikan negara-negara di Asia Tenggara dengan cara membentuk sistem perdagangan bebas atau free trade. Free trade yang kita bicarakan ini bukan sembarang pasar bebas, namun berupa pengurangan hambatan besar-besaran untuk lintas investasi dan perdagangan antar negara ASEAN. Beberapa perubahan yang diprediksi antara lain arus bebas tenaga kerja terampil, pariwisata, logistik, bahkan tenaga kesehatan. MEA akan menyulap kawasan ASEAN seakan menjadi suatu negara amat besar di mana penduduknya dapat pergi ke manapun tanpa halangan berarti. Bahkan perusahaan-perusahaan dapat dengan mudah membangun pabriknya di negara lain. Bayangkan, dengan adanya MEA ini anda bahkan tidak perlu passport atau segala jenis surat birokrasi lain untuk bisa bekerja di negara ASEAN seperti Malaysia atau Singapura. Sebaliknya, perusahaan-perusahaan besar di negara lain seperti pertanian Singapura bisa membuka lahannya dengan mudah di tanah Jawa. Seperti itulah gambaran MEA ke depannya

Nah, sebenarnya, mengapa MEA ini akhirnya harus dibentuk? Ada beberapa target atau tujuan utama dibentuknya MEA bagi para anggota negara ASEAN sendiri. Yang terutama adalah membentuk stabilitas ekonomi antar negara ASEAN dapat mengatasi kesenjangan pembangunan di berbagai daerah tertinggal seperti di kawasan Laos, Kamboja, dan Myanmar. Cara yang ditempuh oleh MEA tentunya dengan degradasi hambatan dalam sektor ekonomi yang memungkinkan perputaran ekonomi berlangsung secepat-cepatnya sehingga diharapkan stabilitas ekonomi dapat merambah ke daerah berkembang.

Bagaimana kebebasan perdagangan ini dapat membantu ekonomi di suatu negara bertumbuh pesat dan signifikan? Misalkan saja ada sebuah industri lokal batik tulis di Solo biasanya mendapatkan orderan sebanyak 100 lembar baju per bulan dari seluruh pasar di Indonesia. Dengan keadaan demikian, industri kecil tersebut sudah mampu mempekerjakan 10 orang per bulan dengan gaji cukup. Nah, bayangkan jika pasar bagi industri lokal tersebut terbuka bebas bagi orang Malaysia, Filipina, Vietnam dan lain-lain. Permintaan yang diterima industri tersebut bisa naik hingga 3x lipat! Tentunya dengan permintaan yang naik 3x lipat, dibutuhkan pekerja lebih dari 10 orang, mungkin bisa 30 orang. Bayangkan! Bukan sekedar profit perusahaan saja yang bertambah, namun jumlah pekerja akan bertambah. Dengan demikian jumlah angka pengangguran akan semakin berkurang. Berkurangnya angka pengangguran tentunya ekuivalen dengan peningkatan kesejahteraan penduduk. Bayangkan jika hal tersebut diimplementasikan pada banyak perusahaan! Perubahan yang terjadi akan semakin drastis. Angka pengangguran semakin tertolong, dan pegawai lainnya pun sangat mungkin menerima kenaikan gaji hingga di atas batas UMR. Inilah yang diincar program MEA.

Negara Indonesia, selaku salah satu founder ASEAN, adalah bagian besar dari free trade MEA ini. Tentu saja output yang kita harapkan dengan tereksposnya negara kita dengan MEA adalah output yang positif bagi negara kita. Kalau bisa, pertumbuhan stabilitas ekonomi yang sepesat mungkin. Kalau bisa, daerah-daerah di Indonesia yang belum terlalu berkembangpun dapat merasakan dampaknya dan ikut berkembang juga. Namun yang menjadi pertanyaan besar adalah : sudah siapkah Indonesia mengahadapi MEA? Apakah pada akhirnya MEA ini akan membawa lebih banyak keuntungan daripada kerugian.

Menurut beberapa artikel dan berita, Indonesia sendiri masih terjangkit berbagai masalah yang berimbas pada ketidaksiapan menghadapi MEA. Beberapa masalah itu seperti rendahnya mutu pendidikan tenaga kerja manusia di Indonesia (berpendidikan SMP atau dibawahnya tercatat sebanyak 76,4 juta orang atau sekitar 64 persen dari total 118 juta pekerja di Indonesia). Juga kurangnya infrastruktur di Indonesia yang menyebabkan arus barang dan jasa terhambat. Lagi di bidang industri yang masih kekurangan pasokan energi atau bahan baku lain yang masih harus impor dan masih belum bisa menyaingi produk impor lain, seperti barang-barang murah dari Cina yang membanjiri pasar Indonesia sendiri.

Tentu berbagai masalah di atas tidak bisa dengan mudah diselesaikan. Kalaupun harus dituntaskan, tentu pihak yang bergerak adalah dari pemerintahan sendiri, di luar kapasitas kita selaku mahasiswa. Namun, sebagai mahasiswa yang dididik untuk berpikir kritis dan inovatif, tentunya masih ada banyak hal yang bisa kita perbuat dan persiapkan dalam menyikapi MEA ini, khususnya sebagai rakyat Indonesia dalam kondisi masalah sekarang.

Hal yang bisa mulai kita lirik adalah dunia industri kreatif. Mengapa industri kreatif adalah cara strategis untuk menjajaki persaingan MEA? Industri kreatif adalah industri yang berasal dari pemanfaatan kreativitas, keterampilan serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan dengan menghasilkan dan mengeksploitasi daya kreasi dan daya cipta individu tersebut. Industri kreatif bisa lahir dari segala aspek kehidupan dan tidak harus memerlukan banyak modal atau sumber daya untuk memulainya. Mengapa hal ini menguntungkan?

Mari kita analisa. Masalah yang membuat Indonesia seakan tidak siap menghadapi persaingan terbuka adalah kurangnya kualitas sumber daya manusia maupun kuantitas sumber daya lainnya seperti pasokan energi. Nah, dalam industri kreatif, kita sebenarnya tidak terikat dengan kebtuhan kualitas maupun kuantitas sumber daya. Kita bisa memakai hal-hal sederhana yang sebenarnya sudah ada di kehidupan sehari-hari lalu menyulapnya menjadi lahan bisnis.

Contohnya industri kreatif GO-JEK. Kita tahu cara kerja GO-JEK, perusahaan yang beregerak di bidang transportasi publik ini sama sekali tidak menyediakan kendaraan baru kan untuk memulai bisnisnya? Bahkan GO-JEK juga tidak perlu merekrut supir. GO-JEK hanya menyediakan platform berupa aplikasi yang memungkinkan pelanggan menghubungi sendiri ojek yang tersedia. Malahan ojek online yang disediakan GO-JEK ini jadi lebih efektif dan efisien daripada ojek konvensional. Karena melalui aplikasi GO-JEK yang bisa melakukan tracking lokasi, pelanggan bisa mendapatkan supir ojek terdekat sehingga waktu untuk menunggu kehadiran ojek bisa dipersingkat. Begitu pula hal ini menguntungkan supir karena menghemat bensin si supir kalau pelanggang yang dijemput tidak jauh dari lokasinya berada. Nah, yang dilakukan GO-JEK sebenarnya hanyalah menyediakan ide dan merealisasikannya. GO-JEK mempertemukan kebutuhan publik dengan ketersediaan yang ada dengan cara yang efektif, efisien, dan ekonomis. Itulah inti dari sebuah industri kreatif yang harus kita gali untuk mengatasi keterbatasan Indonesia mengahadapi MEA.

Mungkin untuk mulai membentuk sebuah company seperti GO-JEK masih terlalu dini untuk ukuran mahasiswa. Lalu sebagai mahasiswa, langkah realistis apa yang bisa kita ambil? Mari kita analisa. Dalam membentuk sebuah industri kreatif diperlukan kemampuan entrepreneurship yang tinggi. Untungnya, sebagai mahasiswa, kita memiliki kesempatan yang sangat luas untuk mengembangkan diri dalam bidang ini. Mengapa? Karena dalam universitas kita memiliki banyak kesempatan untuk belajar. Baik itu mengenai bisnis, ekonomi, teknik, maupun sosial. Terlebih lagi, kita memiliki kesempatan luas untuk berorganisasi atau tergabung dalam kepanitiaan. Dalam organisasi, kita belajar bekerja sama, berinteraksi dengan orang lain, dan merembuk ide untuk mewujudkan suatu kegiatan. Hal-hal mendasar yang amat diperlukan seorang entrepreneur. Khususnya yang akan memasuki ladang industri kreaitf.

Penting halnya bagi kita untuk mulai memaksimalkan diri dalam kegiatan seperti organisasi  dan kepanitiaan. Ketika memasuki kegiatan tersebut, kita dituntut untuk dapat berpikir kreatif, inovatif, dan bertindak cepat. Mengapa hal tersebut penting? Karena dalam membentuk usaha industri kreatif baru, kita akan memerlukan kepekaan tinggi dalam menemukan masalah dalam masyarakat. Begitu pula dengan solusi yang realistis. Ketika tergabung dalam panitia, kita akan terbiasa menghadapi masalah serta tantangan dan berusaha menyelesaikannya. Sehingga hal ini menjadi dasar memasuki dunia kerja nanti. Dalam kepanitiaan kita juga dituntut untuk bekerja sama dengan banyak orang yang memiliki karakteristik berbeda-beda. Kita dituntut untuk memahami perbedaan itu dan mencari celah agar tetap dapat optimal bekerja sama meski dengan kesenjangan sifat. Hal ini juga sangat penting bagi kita. Karena dalam ranah industri kreatif, kita harus bekerja sama dengan banyak jenis orang. Contohnya, orang yang ahli di bidangnya. Seperti GO-JEK company tadi. Satu orang yang berhasil menemukan ide tidak mungkin merealisasikan idenya sendiri. Ia akan dibantu oleh orang lain yang expert di bidangnya lalu membentuk tim. Mungkin dia harus bekerja sama dengan expert di bidang IT yang akan membuat aplikasi. Kemudian dia harus mengajak orang marketing untuk melakukan riset pasar. Kemudian dia harus lagi mencari orang design untuk memasarkan produknya. Bahkan dalam usahanya memfasilitasi calon GO-JEK driver, ia mungkin harus melobby perusahaan grosir jaket dan helm agar mau memberi harga murah. Di sini kemampuan sosial alias soft skill sangat diperlukan. Dalam menjalankan detail, kita perlu pengalaman yang banyak. Universitas atau kampus adalah lahan yang sangat baik untuk memulai. Karena sebagai mahasiswa yang belum berpengalaman, kita bisa ‘uji coba’ dengan mengikuti kegiatan dalam lingkup kampus di mana ketika kita melakukan kesalahan, masih ada mentor yang bsia membimbing. Daripada kita harus terjun dalam kehidupan nyata dengan tangan kosong.

Yang kedua, luaskan koneksi dan lingkar pertemanan kita. Hal ini sangat mungkin dilaukan di kampus mengingat banyaknya mahasiswa lain yang sebaya dengan kita. Jangan merasa gengsi untuk berkenalan. Dalam hal ini, mengikuti organisasi atau kepanitiaan sekali lagi bisa membantu karena kita dituntut untuk berkomunikasi dengan semua anggota.

Yang ketiga, penting bagi kita untuk membekali diri dengan beberapa teori bisnis dasar untuk mengurangi error ketika memulai usaha sendiri. kita bisa mulai mengikuti seminar industri kreatif ataupun bisnis yang diadakan di kampus. Biasanya seminar yang diadakan kampus tidak memungut biaya atau biayanya sangat murah. Ini kesempatan baik bagi mahasiswa, khususnya yang tidak mengambil fakultas ekonomi.

Yang keempat, kita bisa mulai mencoba bisnis kecil-kecilan yang tidak menyita banyak modal maupun waktu (karena tugas utama kita memang berkuliah). Usaha kecil itu bisa berupa online shop dengan metode dropship di mana kita hanya bertindak sebagai makelar untuk supplier kita sehingga kita tidak diribetkan lagi dengan stok barang dan pengiriman. Hal ini bisa menajamkan sense kita di bidang bisnis.

Yang kelima, mulai berintegritas dalam hal kejujuran dan kedisipilinan. Mungkin tidak nampak relevan dengan topik industri kreatif maupun MEA, namun sebenarnya penting untuk jangka panjang. Mengapa? Karena dibukanya MEA berarti kita akan bekerja dalam ranah internasional. Orang luar sangat menghargai kejujuran dan kedisiplinan. Orang Indonesia dikenal suka molor dan kadang kurang jujur dalam berbisnis. Jika kita tidak mematahkan stereotype ini, akan susah bagi Indonesia untuk melesat dalam kompetisi internasional.

Nah, di tengah berbagai tantangan (thread) yang dimunculkan MEA, tentunya ada banyak peluang (opportunity) yang bisa dikembangkan. Pilihan ada di tangan kita, apakah kita mau menjalankan strategi yang baik ataukah tidak. Sebagai mahasiswa, saatnya kita meningkatkan kualitas diri agar siap sedia menghadapi MEA.

 

Referensi

http://www.seputarukm.com/penjabaran-mengenai-mea-masyarakat-ekonomi-asean/

http://pengertian.website/pengertian-mea-dan-ciri-ciri-masyarakat-ekonomi-asean/

http://krjogja.com/liputan-khusus/analisis/2078/menyongsong-masyarakat-ekonomi-asean-2015.kr

 

https://id.wikipedia.org/wiki/Industri_kreatif

By: CLARENCE REBEKA( 21415078)